Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
58. Mau Apa Kamu Kesini?


__ADS_3

Balin duduk di samping Alexa yang sedang membaca buku resep masakan. Kegelisahan ada pada dirinya belum sirna sempurna.


Bayangan akan sosok Hardi Russell terus menghantui pikiran Balin. 


Dia pun menghempaskan punggung ke sandaran sofa, menarik nafas panjang, dan memejamkan mata sejenak.


Lalu dia membuka matanya lagi, dan menggeser posisi duduknya untuk menatap sang istri.


“Alexa, apakah kamu tahu siapa saja anggota keluarga Harsa yang masih hidup?”


Alexa mengernyit. Ditutupnya buku resep masakan, membalas tatapan Balin, dan menggelengkan kepala.


“Setahuku Harsa sudah tidak punya kerabat lagi. Kenapa kamu tanya begitu?”


“Orang yang selama ini mengincar kematianku adalah Hardi Russell. Dia ayah dari Clara,” ungkap Balin to the point.


“Hardi Russell?” ulang Alexa. “Mungkinkah dia…”


Balin mengangguk. Tanpa Alexa meneruskan ucapannya, Balin tahu apa yang ada di benak sang istri.


“Mulai hari ini, kita tidak boleh membiarkan Kirana keluar dari rumah,” ucap Balin dengan nada cepat dan bola mata yang bergerak gelisah.


“Tapi Balin mau sampai kapan kita akan menyimpan rahasia ini. Kirana sudah tumbuh dewasa, dia harus tahu siapa ayah kandungnya.”


Balin beranjak berdiri menepi ke jendela. Dari tempatnya berdiri di lantai dua, Balin melihat mobil Raka yang masih terparkir di halaman.


Balin tahu ada Raka dan Kirana di dalam mobil itu dan dapat dipastikan mereka tengah bersitegang.


“Aku akan memberitahu Kirana di saat yang tepat.”


***


Malam hari.


Tap. Tap. Tap.


Sepatu heel berwarna hitam yang digenakan Kirana menimbulkan bunyi derap langkah saat beradu di lantai marmer.


Kirana memakai gaun hitam panjang dengan belahan yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Dia berjalan menuruni anak tangga dan saat itu juga dia mendengar suara deheman keras.


“Mau pergi kemana kamu?” Balin melempar tatapan tajam di bawah anak tangga.


“Aku mau pergi pergi sebentar.”


“Kamu tidak boleh pergi kemana-mana. Tetap berada di rumah,” titah Balin tegas.


“Tapi, Pa,”


“Tidak ada bantahan.”

__ADS_1


Kirana menghela nafas, berbalik dan kembali menaiki tangga. Dia masuk ke dalam kamarnya tapi bukan untuk beranjak tidur, tapi dia membuka jendela.


Kirana mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Ken. Meminta agar pengawal itu membawakan tangga ke bawah jendela kamarnya.


“Bagaimana kalau Tuan Balin tahu dan memecat saya, Nona?” terdengar suara Ken ketakutan.


“Aku pastikan kau tidak akan dipecat. Bahkan kau akan mendapat bonus jika membantuku kabur dari rumah. Sekarang cepat laksanakan perintahku!”


“B-baik, Nona. Tapi hanya membawa tangga saja kan?” 


Firasat Ken tidak enak. Dia yakin Nona Kirana tidak hanya akan menyuruhnya membawa tangga


Bisa saja dia menolak, dan lebih menuruti Tuan Balin, tapi otaknya tak sejalan dengan tubuh. Dia tetap membawakan tangga ke bawah jendela kamar Kirana, meski mulutnya menggerutu pelan.


“Kenapa wajahmu seperti itu? Tidak ikhlas?” Kirana bertanya setelah kedua kakinya menapaki rerumputan.


“I-ikhlas, Nona,” jawab Ken dengen senyum terpaksa.


“Sekarang antar aku ke ruamah Raka,” Kirana mengeluarkan kunci mobil dan melemparkannya pada Ken.


Ken mendesah pasrah. Dugaannya benar. Kirana tidak hanya menyuruh membawa tangga tapi juga mengantarkannya ke rumah Raka.


Mereka berjalan berhati-hati melintasi halaman depan, lalu menuju bagasi yang memamerkan deretan puluhan mobil.


Dan diantara mobil-mobil itu, Ken bingung harus membawa mobil yang mana. Maka dia mengecek lagi kunci yang diberikan Nona Kirana. 


Ternyata itu adalah kunci mobil limousine kesayangan Tuan Balin.


Ken menelan salivanya dengan susah payah.


“Kenapa dari begitu banyak mobil, Nona Kirana memilih mobil yang satu ini. Sudah pasti aku akan dipecat,” gumam Ken yang membeku di tempat.


Melihat Ken yang hanya diam di tempat, membuat Kirana menepuk bahu pria itu.


“Ayo, Ken!”


“T-tapi Nona.”


Tiba-tiba terdengar suara siulan yang membuat Kirana dan Ken menoleh. 


Kirana berkacak pinggang melihat Nakula dan sadewa yang sudah berdiri di samping mobil limousine memakai setelan jas hitam.


“Kalian bilang akan menaruh obat tidur di makan malam Papa. Tapi kenapa tadi aku tetap kepergok juga?”


“Setalah dipikir-pikir, daripada obat tidur lebih baik menaruh obat perangsang,” sahut Nakula sambil merapihkan dasi kupu-kupunya.


“Jadi, bisa dipastikan semalaman Papa dan Mama akan sibuk membuat adonan adik bayi,” imbuh Sadewa.


“Dan para penjaga?”

__ADS_1


“Tenang. Para penjaga kini sedang antri di toilet.” Sadewa mengedipkan sebelah mata. “Kau tahu maksudku kan, Kak.”


Kirana mengangguk.


“Kalau begitu ayo kita pergi.”


Mereka berempat masuk ke dalam mobil yang kemudian melaju kencang keluar dari rumah besar keluarga Mahendra.


Di tengah perjalanan, Kirana meminta Ken menghentikan mobil saat melihat ada mobil lain terparkir di tepi jalanan.


Tampaknya mobil itu mogok. Seorang pria sedang menunduk memeriksa mesin, dan tak jauh darinya ada seorang wanita memakai gaun berbulu memasang wajah cemberut.


Kirana turun dari mobil. Lalu menyapa sang wanita.


“Madam Marleen, sepertinya Anda sedang mengalami kesulitan.”


Madam Marleen terperangah sekaligus lega bertemu dengan Kirana. Bibirnya yang tadi manyun seketika berubah tersenyum.


“Iya, Kirana. Mobilku mogok. Lalu aku memanggil montir tapi dia payah sekali,” Madam Marleen melirik sinis pada montir yang ternyata adalah Daniel.


Kirana tersenyum, rencananya berjalan sesuai ekspetasi.


“Kebetulan tujuan kita sama kan? Bagaimana kalau Madam Marleen ikut ke mobilku saja.”


Madam Marleen melirik mobil limousine limited edition dengan mata berbinar. Tentu saja dia senang hati menumpang di mobil Kirana.


“Hai, tampan,” Madam Marleen menyapa Nakula dan Sadewa, sengaja duduk di tengah-tengah pria kembar itu.


Dan mobil pun kembali melaju. Hingga tibalah mereka di depan rumah keluarga Abimanyu.


Rumah besar itu ramai dihadiri oleh para tamu dari kalangan atas. Halaman depan di dekor dengan sangat indah oleh hiasan lampu kelap-kelip.


Pesta pertunangan Raka dan Clara mengusung konsep garden party, sehingga pesta akan diadakan di halaman depan rumah keluarga Abimanyu yang cukup luas menampung semua tamu.


Kedatangan mobil limousine mengundang perhatian semua orang. Termasuk Amanda yang menjulurkan leher agar dapat melihat dengan jelas diantara kerumunan orang.


Satu per satu penumpang mobil limousine keluar. Dimulai dari Madam Marleen yang langsung melambaikan tangan pada kumpulan geng bunder.


Di susul oleh Nakula dan Sadewa yang disambut teriakan histeris oleh para gadis, dan terakhir Kirana.


Semua tamu undangan. Baik laki-laki maupun perempuan terperangah melihat sosok Kirana. 


Tanpa bertanya pun, mereka langsung tahu jika wanita yang bersama Nakula dan Sadewa pastilah Nona Kirana yang selama ini tak pernah diliput oleh media.


“Rupanya rumah sekretaris Raka tak kalah bagusnya dengan rumah kita,” Sadewa mendongak dengan bola mata meneliti setiap sudut bangunan di depannya.


“Ini hanya tampak luar. Coba kita ke dalam, aku penasaran seperti apa interioirnya,” Nakula mengajak Sadewa menyelinap masuk ke dalam rumah.


Amanda yang melihat Kirana datang ke pesta, segera menghampiri. Dia melipat tangan saat menghadang Kirana, dan memasang wajah permusuhan.

__ADS_1


“Mau apa kamu ke sini?”


__ADS_2