
“Nona Kirana,” panggil si pria sembari merintih kesakitan.
Raya mengenali suara pria itu. Lantas dia pun menyipitkan mata, mencondongkan badan agar dapat melihat wajahnya.
“Ken,”
Ternyata pria yang baru saja mendapatkan bogem mentah dari Raya adalah Ken. Pengawal pribadi keluarga Mahendra.
“Astaga. Aku pikir kamu orang jahat. Maafkan aku,” kata Raya mengulurkan tangan untuk membantu Ken berdiri.
Ken menyeka ujung bibirnya yang mengeluarkan darah. Menjadikan Raya semakin merasa berdosa telah memukul sang pengawal.
“Sakit ya? Sekali lagi, aku minta maaf,” ucap Raya penuh penyesalan.
Sebelum bekerja pada keluarga Mahendra, beberapa kali Ken pernah bekerja pada keluarga kaya raya lain.
Tapi hanya keluarga Mahendra yang memperlakukan pelayan dengan baik. Terbukti nona muda keluarga Mahendra tidak gengsi meminta maaf.
Itulah yang menyebabkan Ken betah bekerja melayani Raya dan juga seluruh anggota keluarganya.
“Tidak apa-apa, Nona. Saya yang salah telah membuat Nona takut,” kata Ken menunduk.
“Lagipula, kenapa kamu bisa berada di sini?” tanya Raya.
“Kami ditugaskan Tuan Balin untuk memantau Nona Kirana selama tinggal di apartemen.”
Raya mengangguk paham. Namun, dia langsung terlonjak kaget saat menyadari Ken mengucapkan kata ‘kami’.
Yang mana itu artinya, bukan Ken saja yang mendapatkan tugas.
“Apa katamu, Ken? Kami?”
“Ya, Nona Kirana. Saya, seorang koki rumah, beserta pelayan lain diperintahkan Tuan Balin untuk tinggal di sebelah apartemen Nona Kirana.”
“Hah? Apa?” Raya terperangah akan penuturan Ken.
Ken melanjutkan ceritanya, bahwa mulai dari kemarin mereka telah memantau pergerakan Raya dan Raka selama berada di apartemen.
Balin telah menyewa unit apartemen yang satu lantai dengan apartemen milik Raya. Tujuannya agar para pengawal mudah dalam melakukan pemantauan.
Kemudian, Ken menunjukan apartemen yang mereka sebut sebagai markas.
Dan benar saja, begitu Ken membuka pintu, beberapa pelayan yang biasa bekerja di rumah, kini ada di apartemen. Serempak mereka menunduk memberikan hormat.
“Nona Kirana, Apakah Nona ingin segelas jus? Nona pasti lelah setelah seharian bekerja,” ucap seorang pelayan.
Raya mengangguk. “Boleh juga. Aku mau jus stroberi.”
Raya menghempaskan diri di sofa, dan tak sampai tiga menit, jus stroberi segar pesanan Raya telah siap diminum.
__ADS_1
“Ken, katakan! Apa saja yang telah kamu laporkan pada Papa?” tanya Raya setelah meneguk jus.
“Tuan Balin telah mengetahui bahwa sekarang Nona Kirana dan Sekretaris Raka tinggal satu apartemen.”
Raya membuang nafas kasar.
“Apakah itu sebabnya Papa memberi banyak tugas ke Raka? Supaya kami tidak punya banyak waktu bersama?”
Ken mengangguk. “Iya, benar, Nona. Selain itu, kami juga telah menyadap CCTV di apartemen Nona Kirana. Sehingga kami akan tahu aktivitas Nona Kirana bersama Sekretaris Raka.”
Jus di tangan Raya nyaris tumpah, sebab dia kaget akan menuturan Ken.
“Apa?”
***
Malam hari, Raya berada di kamarnya, tengah duduk selonjor di atas kasur sambil membaca buku.
Kemudian, Raya melempar pandangan ke luar jendela, teringat akan Raka yang belum pulang.
Pikirannya sudah tidak fokus lagi untuk membaca, dia pun menutup buku, turun dari tempat tidur, dan memutuskan menunggu Raka di ruang tamu.
Lama Raya menunggu, hingga akhirnya dia tertidur di sofa.
Waktu telah menunjukkan hampir tengah malam ketika Raka sampai di apartemen. Dia menghela nafas panjang melihat Raya yang tertidur di sofa.
“Maafkan aku. Kamu pasti menungguku sejak tadi,” ucap Raka lirih pada tubuh gadis yang terpejam di hadapannya.
“Berat badanmu naik berapa kilo sih?” keluh Raka yang menyadari Raya bertambah berat.
Raka hendak menaruh tubuh Raya, namun, mendadak jari kakinya membentur kaki meja. Menyebabkan tubuh Raka oleng, dan berakhir kedua orang itu terjerembab di atas kasur.
Jatuhnya mereka berdua, berhasil membuat Raya terbangun. Dia terkesiap, sekujur tubuhnya membeku, mendapati Raka berada di atasnya dengan jarak wajah yang hanya beberapa senti.
Begitu pula Raka yang pandangan matanya tertuju pada bibir ranum Raya. Perlahan dia menurunkan kepala ingin mendaratkan satu kecupan.
Jantung keduanya berdegup kencang. Mereka saling dapat merasakan hembusan nafas yang menggebu seiring jarak mereka berdua yang menipis.
Sementara itu, di ruangan berbeda, Ken membelalakan mata menyaksikan detik-detik adegan tabrakan bibir antara Raya dan Raka yang terekam di layar komputer.
Dia panik layaknya seorang kapten menyaksikan tabrakan kapal Titanic dengan gunung es.
“Keadaan darurat. Siaga satu. Cepat gedor pintu apartemen Nona Kirana!” perintah Ken pada seorang teman pengawalnya.
Pria yang mendapat perintah dari Ken langsung berlari, menggedor pintu tidak sabar seperti orang kebelet boker tapi harus antri.
Suara gaduh di pintu depan, menghentikan pergerakan Raka yang hanya satu senti lagi mencium Raya. Dia mengangkat kepala, menghela nafas panjang, dan bangkit berdiri.
“Aku coba lihat dulu ke depan,” kata Raka.
__ADS_1
Raya mengangguk canggung, meskipun dia dapat menebak, Ken dan kawan-kawannya lah yang mengetuk pintu.
Tak berselang lama, Raka kembali lagi dengan wajah berkerut kebingungan.
“Aneh. Tidak ada siapa-siapa di luar.”
“Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Mungkin ada orang yang iseng. Sebaiknya kamu mandi dulu, Raka.”
Raka menunduk memandangi penampilannya yang kusut dan acak-acakan.
“Ya, kamu benar. Aku perlu mandi.”
Pandangan mata Raya mengikuti langkah Raka yang berjalan ke kamar mandi. Sesaat dia berpikir, mungkinkah Ken menaruh kamera pengawas di kamar mandi?
Rasanya tidak mungkin. Tapi bisa saja kan?
Pikiran itu mengganggu Raya. Sehingga dia menelepon Ken selagi Raka masih berada di dalam kamar mandi.
“Halo, Ken.”
“Ya, Nona Kirana, maafkan saya atas gangguan kecil tadi. Itu adalah salah satu tugas kami. Memastikan sekretaris Raka tidak melakukan sesuatu yang melanggar batas hehehe,” tutur Ken sambil terkekeh.
Ken menduga, Raya menelepon pasti karena ingin memarahinya. Tapi Raya hanya berdecak dan memijat pangkal hidung.
“Apakah kamu memasang kamera pengawas di kamar mandi?” tanya Raya to the point.
“Hah? Mana mungkin, Nona Kirana. Kami hanya menyadap kamera CCTV di apartemen Nona Kirana. Tidak memasang kamera pengawas, apalagi di kamar mandi,” jelas Ken.
Raya sedikit lega. Bertepatan dengan Raya yang menutup telepon, dia mendengar Raka berteriak dari kamar mandi.
Sontak Raya masuk ke kamar mandi tanpa lebih dulu mengetuk pintu, dan tentu saja Ken yang melihatnya dari layar komputer, menjadi gundah gundala.
“Aduh, kenapa Nona Kirana masuk ke kamar mandi? Apa yang mereka lakukan di dalam sana? Mana tidak ada kamera di kamar mandi lagi,” Ken bermonolog cemas.
Di dalam kamar mandi, tatapan Raya langsung tertuju pada Raka yang tubuhnya telah diselimuti busa sabun.
“Raka, ada apa?” tanya Raya khawatir.
“Tidak apa-apa. Tadi aku menjerit karena mataku perih terkena shampo.”
Raya mengangguk, dia belum sadar akan kondisi Raka yang tak memakai sehelai benang pun.
“Raya, kenapa kamu masuk ke kamar mandi?” tanya Raka yang membuat Raya menegang.
“Iya, ya, kenapa aku masuk ke kamar mandi?” Raya malah balik bertanya pada dirinya sendiri.
Tubuh Raya menegang, ingin sekali dia berbalik keluar, sambil otaknya menyuruh mata agar jangan menundukkan pandangan.
Mata, jangan melihat ke bawah! Jangan lihat ke bawah! Kalau menurunkan pandangan ke bawah maka kamu akan melihat anak gajah sedang tidur.
__ADS_1
Sekilas mata tak dapat berkompromi dengan otak. Tetap saja melihat ke bawah, yang pada akhirnya Raya pun menjerit.
“Aaaa…”