
“Apa maksudmu, Amanda?” tanya Madam Marleen terheran. Kedua matanya membelalak membalas tatapan Amanda.
“Wanita ini seorang pembohong, Madam. Dia mengaku menjadi Nona Kirana, dan sekarang tanpa wajah bersalah datang ke pesta pertunangan anakku,” Amanda menatap sinis pada Kirana.
Madam Marleen terkekeh, rautnya menunjukan bahwa dia tak percaya omongan Amanda. Bahkan terkesan mengejek.
“Amanda, jika kamu tak menginginkan Kirana sebagai calon mantu, bilang saja. Biarkan Kirana yang jadi calon mantuku. Tidak perlu sampai mefitnahnya segala.”
“Aku tidak memfitnah. Dia hanya seorang office girl yang bekerja di Irawan Group.”
Tawa Madam Marleen pecah seketika.
“Amanda, Amanda,” Madam Marleen berdecak mengejek.
“Coba kamu pikir dengan otakmu yang dangkal itu. Mana ada office girl yang datang ke pesta membawa mobil limousine.”
“Kamu bilang otakku dangkal? Marleen, jangan sembarangan kalau bicara!” pekik Amanda.
Dia tak peduli akan sorot para tamu undangan yang menonton adu mulut dua wanita paruh baya.
Sedangkan Kirana berjalan santai menerobos keramain. Inilah tujuan dia membawa Madam Marleen, agar dia tak perlu repot-repot beradu mulut dengan Amanda.
Karena yang ingin dia temui sekarang adalah Hardi Russell.
Kirana mengedarkan padangan ke sekeliling mencari keberadaan ayah Clara. Lalu bibir Kirana melengkungkan senyuman saat melihat Hardi sedang mengobrol bersama beberapa lelaki.
Mungkin mereka merupakan mitra bisnis Hardi Russell. Begitulah pemikiran Kirana.
Namun, belum sampai Kirana menghampiri Hardi, dia dicegat oleh Clara yang mendadak berdiri menghalangi jalannya.
“Mau apa kamu ke sini?” Clara bertanya sambil menampilkan wajah sok berkuasa.
“Aku sudah bilang kan? Kalau aku akan datang ke pesta pertunanganmu dengan membawa hadiah yang tak mungkin bisa kamu lupakan seumur hidup.”
“Oh, ya? Lalu mana hadiahnya?”
“Kau sepertinya sangat menanti hadiah dariku?” tanya Kirana menyeringai. Dia menepuk bahu Clara. “Sabarlah. Nanti juga kamu tahu.”
“Kau dikeluarkan dari anggota geng bunder, Amanda!” teriakan Madam Marleen terdengar membahana.
Menjadikan Clara dan Kirana menoleh. Mereka dapat melihat Madam Marleen keluar dari area pesta, meninggalkan Amanda yang mengepal tangan dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Ada marah, malu, dan perasaan tidak terima bercampur menjadi satu.
Sepeninggalan Madam Marleen, sisa anggota geng bunder yang lain juga turut meniggalkan Amanda.
“Wah, wah, wah, belum juga pesta dimulai, tamu undangan sudah pergi,” Kirana menyindir sembari melipat tangan di depan dada.
Saat itu juga, Amanda berjalan tergesa-gesa ke arah Clara.
“Clara, kita langsung saja ke acara inti. Cepat kamu panggil Raka!” Amanda memerintah dengan suara seperti membentak.
__ADS_1
Amarah yang ada pada diri Amanda belum hilang. Sehingga seolah dia terlihat memarahi Clara.
Dan Clara yang terbiasa dimanja, merasa tidak terima dibentak seperti itu.
“Kenapa harus aku, Tante? Tanganku kan masih sakit?” Clara merengek.
“Apa hubungannya tangan sakit dengan memanggil Raka? Cepat! Kamu mau tunangan atau tidak!” Amanda berkacak pinggang makin dibuat geram oleh tingkah Clara.
“Atau aku saja yang panggil Raka,” Kirana menyela.
“Tidak,” seru Clara. Dia menghela nafas kasar. “Oke, aku akan panggil Raka.”
***
Di dalam rumah keluarga Abimanyu, Nakula dan Sadewa berada di salah satu sudut yang di sana tersimpan banyak sekali lukisan.
Dua saudara kembar itu memandang lukisan satu per satu, dan perhatian mereka berhenti pada lukisan yang menggambarkan potret wajah Amanda.
Sadewa mengambil kuas dan cat akrilik berwarna hitam, lalu dia menambahkan sebuah kumis di lukisan wajah Amanda.
Sedangkan Nakula yang melihat keusilan Sadewa hanya bisa berdecak.
“Ini lebih bagus,” kata Sadewa memandang potret Amanda berkumis baplang.
“Akan lebih bagus jika ditambah jerawat,” tambah Nakula meraih cat air berwarna merah.
Namun, tampaknya Nakula sedikit kesusahan membuka tutup cat air yang pada akhirnya…
Yang dilakukan Nakula malah menekan cat air hingga muncrat ke wajah Sadewa. Kini wajah tampan itu terlumuri cat air berwarna merah darah.
“Dasar Kakak lucknut! Rasakan ini!”
Sadewa yang merasa tidak terima, akhirnya merebut cat air di tangan Nakula dan menyemprotkannya ke wajah sang kakak.
Sadewa tertawa puas melihat raut kesal Nakula yang terlihat jelas meski wajahnya ternodai cat air.
“Oh, tidak! Wajah tampanku…” raung Nakula.
Dia mendengus kesal. Karena sudah terlanjur kotor, sekalian saja Nakula menuangkan cait air merah itu hingga habis dan mengoleskannya ke wajah, rambut, serta leher Sadewa.
Sadewa pun tak mau kalah, sisa cat air yang ada di tangannya dilumuri ke jas Nakula.
Pergulatan Nakula dan Sadewa berhenti seketika saat mendengar suara derap langkah. Mereka merapatkan diri ke tembok, dan menoleh ke sosok orang yang sedang berjalan di lorong.
Orang itu ialah Clara.
Wanita itu berjalan tergesa-gesa sambil memberengut.
Melihat Clara yang berjalan sendirian, membuat Nakula dan Sadewa memiliki ide untuk menjahili Clara.
Kebetulan tak jauh dari mereka berdiri, ada saklar lampu. Nakula memencet tombol on dan off secara cepat.
__ADS_1
Menjadikan lampu di lorong yang sedang dilewati Clara menyala berkedip-kedip.
Sontak Clara menghentikan langkahnya, dia membeku tak dapat menggerakan kaki dan seluruh anggota tubuhnya.
Suasana berubah mencekam dengan lampu yang mati dan menyala seperti di film-film horor. Tepat saat itu juga, Clara merasakan ada yang sosok hitam yang lewat di belakangnya.
Menjadikan Clara memutar badan melihat ke belakang.
“Halo, apakah ada orang di sana?” Clara berterik takut.
Sunyi. Tak ada sahutan dari ujung lorong.
Clara mengusap tengkuknya yang meremang. Dia harus cepat pergi dari lorong ini, untuk menemui Raka.
Dan saat Clara berbalik, di depannya sudah ada Nakula dengan wajah penuh cat air merah darah.
Tubuh Clara menegang, matanya membelalak seperti mau copot, dan perlahan dia mundur satu langkah.
“Aaaaa Claaaraaa aaa,” Nakula merentangkan tangannya yang juga kotor oleh cat air, berlagak seperti zombie.
“Aaaaaarrgghhh,”
Clara tersentak.Jantungnya berdegup kencang di atas batas normal. Dia amat ketakutan melihat wajah pria yang ada di depannya. Mengingatkan Clara akan wajah Ray saat malam tabrakan itu.
Kemudian, Clara berniat memutar arah. Namun, ketika dia berbalik ke arah yang satu lagi, dia juga dihadang oleh Sadewa yang merangkak di lantai.
“Aaarrgghhh,”
“Claaraaaa,” panggil Sadewa dengan nada merintih.
Sadewa benar-benar menirukan gaya zombie di film yang pernah dia tonton. Dia bahkan mengulurkan tangan yang berlumuran cat air untuk mencekal kaki Clara yang ingin kabur.
Seluruh tubuh Clara bergemetar hebat, dia berusaha memberontak agar terlepas dari cengkraman Sadewa.
Kejadian ini mirip seperti mimpi buruk Clara yang selalu datang menghantuinya setiap malam.
“Lepaskan aku! Lepaskan aku, Ray!” Clara berterik ketakukan, mengira pria yang mencekal tangannya pasti arwah Ray yang gentayangan.
Dikarenakan mereka berada di lorong gelap, serta wajah Nakula dan Sadewa yang terlumuri cat air merah darah, membuat Clara tak dapat mengenali dua pria yang ada di depannya.
Clara menggelengkan kepala di saat dirinya berusaha memberontak. Sekelebat bayangan wajah Ray berlumuran darah merasuki benaknya.
“Jangan ganggu aku, Ray! Pergi kamu!”
Begitu kaki Clara terlepas, dia berlari secepat mungkin tak peduli langkah kakinya menuntun entah kemana.
"Hanya begitu saja dia ketakutan sekali," Nakula terheran.
“Kenapa dia menyebut kita Ray? Memangnya ada jenis hantu bernama Ray?” tanya Sadewa selepas kepergian Clara.
“Entah. Aku juga tidak tahu,” jawab Nakula mengangkat bahu.
__ADS_1