
Raka menarik lengan Raya ke sudut kantor yang sepi. Dia menyudutkan tubuh Raya ke tembok, menguncinya agar tak dapat kabur, dan menatap gadis itu penuh damba.
Raya sendiri yang tadinya tertawa, kini terdiam seribu bahasa. Dia gugup saat Raka memandangnya.
“Apa yang kamu lakukan ke Mae?” tanya Raka.
“A-aku hanya menghipnotis dia saja,” jawab Raya gugup.
Bukan gugup karena dia mengakui ulah jahilnya, melainkan gugup karena pandangan Raka tak pernah lepas darinya.
“Hipnotis?” ulang Raka.
Raya mengangguk sebagai jawaban.
“Mae lah yang menyuruh Neneng menaruh racun di kopi Tuan Balin. Jadi, aku jahili saja dia, supaya tahu rasa.”
Raka terkekeh mendengar penuturan Raya.
“Raya, kamu gadis yang nakal,” ucap Raka lalu buru-buru menambahkan, “Tapi aku suka.”
Mereka tersenyum, tapi sejenak saling terdiam.
Raka membuang nafas kasar. Untuk beberapa hari kedepan, dia akan disibukkan dengan banyak sekali tugas dari Balin.
Mungkin Raka akan banyak menghabiskan waktu di kantor. Namun, sisi baiknya, dia akan jarang berduaan bersama Raya di apartemen.
Hal itu baik, demi menjaga hasrat yang kadang muncul tanpa diminta.
“Kamu tidak apa-apa pulang sendirian, kan? Tuan Balin memberikan aku tugas tambahan,” kata Raka sedikit agak menyesal.
“Jangan khawatir! Aku bisa pulang sendiri, kok. Memangnya aku anak kecil, tidak bisa pulang sendiri.”
“Soalnya kamu kan sering sekali menghilang secara misterius.”
“Oh, kalau masalah itu… sebenarnya…a-aku..”
Raka menaikan alis menunggu jawaban dari Raya.
“Apa?”
“Sebenarnya aku punya jubah ajaibnya Harry Potter,” celetuk Raya melantur entah kemana.
Raka tak begitu merespon ucapan Raya, tahu bahwa gadis di hadapannya hanya sekedar bergurau.
Tidak mungkin Raya memiliki jubah ajaib yang bila ada orang yang memakainya, tak akan dapat terlihat oleh mata telanjang.
Raka tak sebodoh itu dibohongi. Akan tetapi, Raka juga tidak terlalu menuntut agar Raya berkata jujur.
__ADS_1
Jika Raya tulus mencintai Raka, seharusnya tak ada kebohongan diantara mereka. Begitulah prinsip yang ada di dalam diri Raka.
Raka dan Raya serempak menoleh ke arah Clara yang keluar dari ruang rapat sambil mulutnya terus memaki Mae.
Tak lama, Mae pun menyusul keluar dengan wajah seperti orang kebingungan.
Sepertinya rapat akan segera dilanjutkan. Raka pun menyudahi pertemuan singkat dengan Raya. Dia berbalik, tapi tangan Raya menahan supaya dia jangan dulu pergi.
“Semangat bekerja, Sayang,” ucap Raya secepat kilat melabuhkan kecupan di pipi kanan Raka.
Sejenak Raka diam mematung, tak menyangka Raya akan mengecupnya terlebih dahulu tanpa diminta.
Biasanya Raya selalu kesal jika Raka menggunakan waktu kerja untuk bermesraan.
Begitu Raka tersadar, dia terkekeh pelan, mengacak gemas rambut Raya, kemudian barulah masuk kembali ke ruang rapat.
***
“Hai, Raya sialan,” teriak Mae saat bertemu Raya di pantry.
Raya memutarkan bola matanya malas menanggapi Maesaroh. Dengan santai Raya membalas tatapan tajam wanita gendut itu.
“Apa?” jawab Raya tak kalah sinis.
“Tadi itu hipnotis kan? Kamu menghipnotis aku?” tanya Mae garang.
“Kurang ajar kamu ya? Tunggu pembalasanku nanti.”
“Oke, aku tunggu,” tantang Raya sambil bibirnya melengkungkan seringai.
Kemudian, Raya berjalan melewati Mae. Bahkan Raya sengaja menyikut keras Mae hingga wanita gendut itu terjatuh.
Mae mengaduh kesakitan, tapi tentu saja Raya sudah tak ada lagi rasa kasihan pada Mae. Dia meneruskan langkah kakinya.
Mae pun tak akan tinggal diam. Dia berdecih, bangkit berdiri, lalu berjalan cepat menuju toilet wanita. Di sana ada Clara yang sedang membersihkan badan.
“Ini semua ulah Raya, Bos,” lapor Mae.
Dia telah mengabdikan diri menjadi anak buah Clara saat di kantor, jadi dia memanggil Clara dengan sebutan ‘bos’.
Clara menggeram kesal, kedua tangannya mengepal kuat, dan menatap bayangan dirinya sendiri di cermin wastafel.
“Awas kamu, Raya. Jangan sok berlagak berkuasa!” desis Clara seolah bayangan yang terpantul di cermin adalah Raya.
Clara ingat saat dia mempermalukan Raya di restoran, gadis itu tak dapat berkutik di hadapan Amanda.
Ya, kali ini Clara akan menggunakan Amanda untuk membalas ulah jahil Raya, sekaligus agar Amanda semakin membenci Raya, dan memisahkannya dengan Raka.
__ADS_1
Segera Clara menghubungi Amanda melalui panggilan video. Tujuannya, agar Amanda melihat sendiri tubuh Clara yang kotor akibat tingkah Raya.
“Tante, lihat! Badan aku kotor disiram pakai air comberan,” rengak Clara sengaja melebihkan-lebihkan cerita.
“Bos, itu air bekas mengepel. Bukan air comberan,” bisik Mae dari samping.
Secepat kilat Clara menekan jari telunjuk ke bibir, memberi isyarat agar Mae diam saja, tidak perlu banyak bicara.
“Psstt, aku juga tahu. Ini supaya Tante Amanda kasihan sama aku, Bodoh,” bisik Clara.
“Astaga, siapa yang berani menyiram calon menantuku pakai air comberan?” tanya Amanda di seberang sana tampak sedang meluapkan amarah.
“Raya, Tante. Padahal aku hanya menasehati Raya agar jangan lagi memanfaatkan uang Raka,” ucap Clara dibuat sendu plus cerita palsu untuk mengundah belas kasih dari Amanda.
Amanda berdecak kesal. Tak mengira Raya yang dikenal anggun pada awal pertemuan, ternyata cukup berandal juga.
Patut dia bertingkah seperti itu. Dia kan gadis rendahan. Sangat tidak pantas dia bersanding dengan Raka. Batin Amanda dalam hati.
“Sekarang, badan aku kotor dan bau gara-gara Raya, Tante,” rengek Clara seperti anak kecil.
“Raya, benar-benar wanita itu kurang ajar sekali,” Amanda menggeram.
Clara tersenyum tipis, melihat Amanda terpancing emosi, dan kini pandangan Amanda terhadap Raya semakin buruk.
“Kamu tenang, Clara. Tante yang akan beri pelajaran pada Raya.”
***
Sore hari, ketika Raya pulang dari kantor, dan kini sedang berjalan di lorong apartemen. Dia berjalan santai sendirian.
Namun, insting Raya dapat merasakan ada seseorang yang sedang membuntutinya.
Semula, Raya tak ambil pusing. Dia tetap melangkahkan kaki menuju unit apartemennya. Namun, bayangan orang asing di belakang sana terus mengekor.
Lantas Raya memutar badan secepat mungkin. Dahi Raya mengkerut saat mendapati tak ada seorang pun di belakang sana.
Padahal Raya yakin sekali sejak tadi ada orang yang sedang menguntit. Langkah kaki Raya perlahan menelusuri kembali lorong sepi itu.
Dia sengaja mempercepat langkah untuk memancing sang penguntit agar melakukan hal yang sama.
Dan benar saja, Raya bisa merasakan ada orang di belakang yang juga mempercepat langkah.
Kemudian, dengan gerakan secepat kilat, Raya memutar badan sekaligus melayangkan bogem mentah ke arah orang asing itu.
Bugh.
Seketika seorang pria berpakaian serba hitam jatuh tersungkur ke lantai
__ADS_1