Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
49. Aku Nona Kirana


__ADS_3

Sebuah mobil hitam berhenti tak jauh dari mobil Raka, dua pria yang menjadi penumpang mobil itu segera turun begitu melihat Nona Kirana ditodong oleh seorang pemuda asing.


Mereka adalah Ken dan Daniel. Pengawal pribadi keluarga Mahendra yang ditugaskan untuk mengawasi sang nona muda.


Sesaat mereka saling tatap, mengangguk, dan serempak berlari mendekati si pemuda bertato yang kini meminta Kirana untuk turun dari mobil.


“Woy, mau apa kamu?” tanya Ken galak.


Tak diduga si pemuda itu memanggil komplotannya yang berjumlah lima orang. Mereka muncul secara tiba-tiba dari balik pohon rindang, mengerubungi Ken dan Daniel, sambil tertawa dingin.


“Hajar mereka!” perintah si pemuda kepada teman-temannya.


Seketika terjadi baku hantam dua lawan lima pria di pinggir jalan.


Kirana diam tak bergerak. Sejak tadi dia memang memilih untuk diam. Bukan karena takut, melainkan menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.


Mengingat pemuda itu membawa senjata tajam, jadi Kirana harus ekstra hati-hati.


“Ayo, Cantik! Kita bersenang-senang di balik po…”


Bugh


Tiba-tiba saja Kirana meninju hidung si pemuda hingga mengeluarkan darah. Secepat mungkin dia memelintir tangan yang menggenggam celurit, supaya benda tajam itu terjatuh ke tanah.


Tiga kali Kirana meninju area wajah si pemuda yang langsung terbaring pingsan.


“Cih, segitu saja sudah pingsan.”


Kirana berlari bergabung ke dalam gerombolan pria yang sedang berkelahi untuk membantu Ken dan Daniel.


Dia menendang perut satu orang pria yang hendak memukul kepala Ken dari belakang. Lalu berputar badan beralih meninju ke pria lain.


“Nona Kirana menepi saja. Biar kami tangani mereka,” kata Daniel disaat dirinya berhasil menjatuhkan satu preman.


Bukannya mendengarkan anjuran dari sang pengawal, Kirana justru menarik bahu Daniel ke bawah.


“Menunduk!” perintah Kirana.


Ternyata dari arah belakang, pria lain hendak mengayunkan sebuah balok kayu yang untung saja dapat dihindari Daniel berkat bantuan Kirana.


Di puncak perkelahian, Raka keluar dari pintu restoran. Satu tangan menggenggam kantong berisi makanan yang akan dia santap bersama Raya saat berada di apartemen nanti.


Akan tetapi, langkah kaki Raka tercekat saat menyaksikan perkelahian di dekat mobilnya, dan lebih parah lagi, Raya ada di tengah-tengah kerusuhan.


Tepat saat itu juga, pemuda bertato yang tadi pingsan telah sadarkan diri.


Dia mengambil lagi celurit yang tergeletak di tanah, diam-diam dia menghampiri Raya, dan mengayunkan tangan hendak menebas tubuh gadis itu.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Raka menjatuhkan kantong makanan, berlari sekencangnya untuk menarik Raya.


“Raka,” seru Raya yang terkejut saat pria itu memeluknya.


Beruntung Raka dapat menarik tubuh Raya tepat pada waktunya. Sehingga dia terhindar dari tebasan celurit.


Tak terima wanitanya diserang, Raka maju memukul si pemuda dengan membabi-buta. Rasa marah telah membuat Raka mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghabisi pemuda itu.


Menjadikan nyali si pemuda dan komplotannya menciut, dan kabur lari terbirit-birit.


“Kamu tidak apa-apa, Sayang?” tanya Raka dengan dada naik turun sebab nafasnya terengah.


Segera dia memeluk Raya, menarik nafas panjang untuk menetralkan pikirannya. Tadi dia benar-benar hampir gila saat melihat Raya berkelahi.


“A-a aku sesak nafas,” sahut Raya terbata-bata.


Raka melepas pelukan. Tersadar jika pelukannya terlalu erat.


“Aku tidak apa-apa. Untung saja, ada mereka yang menolongku.”


Raya menunjuk Ken dan Daniel yang mengangguk pelan. Lantas Raka pun membalas anggukan mereka.


“Terima kasih telah menolong pacar saya.”


“Oh, tidak masalah. Itu memang tugas kami,” jawab Ken sambil tersenyum lebar.


Namun senyum itu segera menghilang begitu melirik Raya yang memberinya kode untuk diam.


“I-iya maksud kami. Itu memang tugas kami sebagai warga negara yang baik harus tolong menolong. Iya kan, Ken?” Daniel yang gugup menyikut Ken.


“I-iya, betul itu,” sahut Ken tak kalah gugup.


***


Di apartemen, Raka dan Raya sudah membersihkan diri dan menyantap makan malam sambil mengobrol ringan. Sama sekali tak ada pembahasan tentang komplotan preman tadi.


Seakan itu tak pernah terjadi.


Setelah selesai makan malam, Raka memutuskan untuk masuk ke kamar menyelesaikan pekerjaannya.


Sementara, Raya diam-diam menuju balkon ingin menghubungi Ken.


“Halo, Ken. Kamu sudah melacak mereka?” tanya Raya begitu telepon tersambung.


“Sudah, Nona Kirana. Preman-preman yang tadi menyerang Nona Kirana telah tertangkap polisi. Ternyata mereka disuruh oleh seseorang bernama Maesaroh,” jelas Ken.


“Sudah kuduga. Lalu bagaimana dengan Mae?”

__ADS_1


“Mae juga telah ditahan polisi, Nona.”


“Bagus. Terima kasih untuk kerja keras kalian hari ini. Sekarang kalian bisa beristirahat.”


Raya menutup telepon, sejenak menatap kosong pada gedung-gedung tinggi di langit malam, semilir angin menerpa rambut lurusnya.


Lalu dia menarik nafas panjang. Dia telah membulatkan tekad untuk menyatakan jati dirinya yang asli pada Raka sekarang juga.


Raya pun mengangguk kecil, dan berjalan ke kamar Raka.


Dia menyembulkan kepala di pintu kamar, melihat Raka duduk di atas ranjang dengan beberapa lembar kertas berserakan di sana.


Sejenak perhatian Raka yang sedang mengetik di laptop teralihkan akan kedatangan Raya. Dia menoleh sebentar, tapi detik berikutnya menunduk lagi pada kertas laporan.


“Masih belum beres?” tanya Raya sambil menghempaskan diri di ranjang.


“Sedikit lagi,” jawab Raka tanpa mengalihkan pandangan.


Posisi saat ini, Raya menelungkupkan badan di samping Raka. Dia ikut melirik pada layar laptop, ambil bertopang dagu.


“Calon menantu Tuan Balin giat sekali bekerja,” ucap Raya tersenyum.


Raya sengaja memakai kalimat sindiran untuk mengungkapkan bahwa Balin adalah ayahnya. Namun, sepertinya Raka salah dalam memahami perkataan Raya.


Raka mengerutkan dahi, lalu seketika tertawa.


“Calon menantu Tuan Balin? Maksudmu aku akan menikah dengan Nona Kirana? Aku tidak mau.”


“Kenapa tidak mau?”


“Bisa saja dia jelek,” jawab Raka dengan nada santai yang dimaksudkan hanya sekedar candaan.


Akan tetapi Raya tersulut emosi, dia duduk mensejajarkan pandangan lurus pada Raka, dan memanyunkan bibir.


Bugh.


Satu pukulan bantal mendarat di punggung Raka. Pria itu mengernyitkan wajah tak mengerti akan tingkah Raya yang tiba-tiba saja ngambek.


Detik selanjutnya, Raka menarik tubuh Raya ke dalam pelukan. Tangan yang kekar itu mengusap lembut rambut Raya.


“Aku hanya menginginkan kamu, Raya. Aku tak mau menikahi wanita lain. Bahkan Nona Kirana sekalipun.”


Kepala Raya mendongak, melihat keseriusan di wajah Raka. Lalu membuka bibir untuk mengatakan dia adalah Kirana.


Namun, Raka lebih dulu ******* bibir Raya sebelum mengeluarkan kata-kata. Mereka berciuman sambil membaringkan tubuh ke tempat tidur.


Setelah melepas pagutan bibir, Raka membenamkan kepala Raya ke dadanya.

__ADS_1


Sesaat keraguan merasuk ke dalam diri Raya, namun, akhirnya dia tetap memutuskan untuk mengungkap jati dirinya.


“Raka, sebenarnya aku itu Nona Kirana.”


__ADS_2