Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
11. Gosip


__ADS_3

Sudah hampir satu minggu Kirana bekerja sebagai office girl di perusahaan Irawan Group. Selama satu bulan itu juga dia telah memiliki daftar nama pegawai yang memakan gaji buta.


Clara, Mae, dan Neneng ada di dalam daftar itu beserta pegawai lainnya. 


Soal Raka. Kirana sendiri tidak tahu harus memasukan nama pria itu atau tidak. 


Selama pengamatannya, Raka bekerja dengan sangat bagus, tapi dia adalah pria paling misterius yang ada di perusahaan. Kirana tidak tahu, apakah Raka memiliki dendam tersembunyi pada ayahnya?


Kirana juga jarang memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Raka.


Mae dan Neneng sengaja melimpahkan semua tugas mereka pada Kirana. Mereka berdua telah mengabdi sebagai antek-anteknya Clara yang akan membantu untuk menghalangi Kirana bertemu Raka.


“Raya, sekalian buatkan kopi untuk Bu Clara!” perintah Neneng begitu melihat Raya sedang menyiapkan kopi untuk para karyawan.


Neneng sendiri duduk santai bersama Mae, bergosip ria bersama kumpulan office girl.


“Kapan Tuan Balin kembali lagi ke kantor ya? Semoga saja agak lama,” kata Mae sambil bermain handphone.


“Memangnya kenapa, Mae?” tanya salah satu rekan office girl.


“Biar aku bisa lihat Tuan Nakula terus,” Mae terkikik pelan membayangkan pria tampan idolanya itu.


Lalu Mae ditertawakan oleh semua rekannya, terlebih Neneng yang bersorak paling keras karena iri tidak bisa melihat Tuan Sadewa-nya.


“Eh, ngomong-ngomong, kalian ada yang pernah ketemu sama Nona Kirana tidak?” celetuk seorang office boy yang ikut berghibah.


Kirana yang mendengar percakapan mereka, hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada pekerjaannya.


“Tidak pernah. Katanya Nona Kirana itu CEO perusahaan di Jepang kan?”


“Iya, katanya dia itu cantik. Tapi sayang Tuan Balin tidak pernah memperkenalkan Nona Kirana ke hadapan publik juga media.”


“Ya, mungkin, karena Nona Kirana satu-satunya anak perempuan di keluarga Mahendra, jadi harus dijaga sebaik-baiknya,” ucap Neneng asal menebak.


“Alah, itu mah Tuan Balinnya saja yang lebay,” sahut Mae dengan nada mencemooh.


Detik berikutnya, satu gelas pecah jatuh ke lantai. Semua orang menoleh pada Raya yang telah memecahkan gelas itu, dia berdiri menatap dingin Mae.


“Hai, cewek genit, kerja yang benar dong,” cibir Mae yang membalas tatapan dingin Raya.


Selama ini, Raya diam saja jika ada orang yang mengejek atau merendahkannya. Raya tidak peduli dan tidak pernah menggubris.

__ADS_1


Namun, jika ada orang yang menjelekkan ayahnya, apalagi di hadapan langsung, dia tidak terima.


Tangan Raya terkepal kuat, dan semua orang di sana yang melihat perubahan mimik wajah Raya hanya bisa saling lirik ketakutan. Tidak biasanya Raya bisa semarah itu. 


Mae yang mendapatkan lirikan dari Raya merasa tertantang.  Dia maju sambil melipat lengan bajunya. 


"Apa kamu lihat-lihat? Mengajak berkelahi? Ayo! Aku dulu preman pasar," seru Mae membusungkan dada sombong. 


"Cih, jadi preman pasar saja bangga," cemooh Raya yang telah siap dengan sikap kuda-kudanya. 


Bugh. 


Tanpa aba-aba, Raya sudah mencuri start meninju hidung Mae. 


Wanita bertubuh gendut itu pun mengusap hidung yang kini mengalirkan darah. 


"Kurang ajar. Aku akan buat kamu dipecat, Raya," seru Mae. 


"Coba saja kalau bisa," jawab Raya santai. 


Lalu dia pun pergi untuk mengedarkan kopi para karyawan.


Setelah semua kopi diantar ke meja, hanya tinggal satu cangkir lagi, yaitu milik Clara.


Clara hanyut dalam keseruan menonton film dewasa di saat jam kerjanya. Dia sesekali mengulum senyum dengan pandangan mata yang tak lepas dari layar ponsel.


“Apa itu pekerjaan seorang karyawan di bagian keuangan, Clara?” ucap Raya sengaja dengan suara yang keras, agar Clara tersadar.


Clara pun menoleh, segera menyembunyikan ponsel keluaran terbaru itu.


“Mau apa kau ke sini? Pergi sana!” bentak Clara.


“Aku hanya mengantarkan kopi,” Raya menunjuk kopi yang telah berada di meja.


Kebetulan sekali, Clara memang menunggu kopi itu datang. Dia langsung menyambar cangkir  kopi dan meneguknya. Namun, segera dia menyemburkan apa yang baru saja dia minum.


“Kopi apa ini? Rasanya kok asin?” seru Clara yang mengerutkan wajah dan bergidik merasakan kopi yang rasanya aneh itu.


"Itu kopi dengan campuran upil di dalamnya," canda Raya. Sebenarnya dia hanya menaruh garam pada kopi.


Dia terkekeh puas, yang seketika mendapatkan tatapan tajam dari Clara. Dia segera menunduk ketika Clara menyiramkan kopi panas itu ke arahnya. 

__ADS_1


Lalu, Raya menjulurkan lidah mengejek Clara yang salah sasaran dalam menyiram kopi.


“Weee tidak kena,” kata Raya dan berlalu pergi.


“Cih, awas kamu Raya. Akan aku pastikan kamu dipecat oleh Tuan Balin.”


Raya yang terus berlari sambil tertawa perlahan memperlambat langkahnya. Dia menghela napas lelah, ingin sekali dia istirahat sejenak. Tapi tugasnya masih menumpuk.


Di saat Raya berjalan sambil menundukkan kepala, tiba-tiba dia menabrak seseorang, lalu dia pun mendongak untuk melihat siapa orang yang ada di depannya.


Raka.


Pria itu melayangkan pandangan sedingin es pada Raya yang menunduk hormat.


Ini pertama kali mereka bertemu lagi setelah kejadian terakhir kaburnya Raya dari klinik. 


Sebelumnya, mereka memang berpapasan sekilas di jam kerja, tapi saat keduanya sibuk sehingga tidak ada perbincangan di antara Raka dan Raya.


“Ke mana kamu pergi waktu itu?”


“Maaf, Tuan.”


“Kalau tidak ingin makan siang bersamaku bilang saja, tidak perlu berpura-pura sakit,” kata Raka sambil terus memberikan tatapan intimidasi pada Raya.


Sekali lagi, Raya hanya menunduk meminta maaf.


Kemudian tangan Raka menarik dagu Raya agar gadis itu membalas tatapannya, dan bola mata Raka meneliti setiap lekuk wajah Raya.


Raka menyadari bahwa Raya tampak kelelahan. Dilihat dari kantung mata yang menghitam dan tatapan yang sayu.


“Kamu lelah?”


Raya memang kelelahan akhir-akhir ini. Mengurus dua perusahaan tidak semudah yang dia duga. Meskipun ada Nakula dan Sadewa yang membantu.


Belum lagi, penyamarannya menjadi office girl. Sungguh sangat menguras tenaga.


Di saat jarak mereka berdua begitu dekat, entah apa yang membuat Raka memajukan kepalanya dengan menatap kosong bibir ranum milik Raya.


Raka mendekat mengikis jarak yang ada sehingga Raya pun dibuat membisu.


Dan kemudian…

__ADS_1


“Raka, Raya, sedang apa kalian?”


__ADS_2