
Matahari terlihat tua, malas dan lesu bersinar, di langit berwarna merah, yang membuat mata lelah menatap nya. Langit pun memantulkan cahaya merah muda, warna yang aneh menyelimuti dunia menambah perasaan hampa dan sepi. Bahkan tanaman menjadi kuning, hewan-hewan tak lagi ceria, lesu seolah-olah sebentar lagi akan mati.
Burung-burung terbang lambat, cerminan sinar Matahari yang redup melambat di pandangan mata. Tiada lagi embun yang mengkristal. Semua pudar seiring energi melayu dari dunia yang mulai menua.
Di bawah bayang matahari yang muram bersinar dan dunia yang bergerak letih, diatas sana, di Langit terlihat dua sosok manusia setengah dewa melayang dan saling menyerang satu sama lain. Langit menyeruak dengan kilauan terang ketika kilat dan petir efek benturan dua kekuatan dahsyat, manusia setengah dewa.
Nangong Rong mengayunkan pedang nya dengan tiba-tiba, api menyala seperti cakar raksasa, meluap dan menyambar ganas ke arah Yong-yong.
Anak muda itu sadar, ini adalah kekuatan maha dahsyat. Seluruh energi matahari dan dunia dimanfaatkan. Tersisa mengandalkan Teknik Pedang Tanpa Tanding, langkah kedelapan yang menjadi harapannya.
"Empat puluh Lima Gerakan Pedang Tak Tertandingi !"
Yong-yong mengiris pedang di angkasa, lalu energi meluap dari tangannya, suatu energi yang berbau harum bunga, Bunga Meihua.
Duar !
Badai benturan terlihat mengerikan di langit. Menyusul angin raksasa yang ditimbulkan benturan menghantam Benua Silver, sebagian ke Benua Penyaringan Dewa di bagian Selatan, menimbulkan kerusakan dimana mana. Gurun Terkutuk terbentuk lubang besar akibat hawa benturan dua immortal itu.
Nangong Rong terlempar mundur, tapi dia tidak terluka sedikitpun. Memang energi raksasa yang dipaksa keluar dengan memanfaatkan kekuatan Pedang Matahari berakibat fatal.
"Haha... manusia Fana..
Kamu adalah semut di depan dewa-dewa dari Wonderland, Negeri Ajaib kami.
Tidak ada jalan keluar bagi kamu. Pedang Matahari ini adalah pedang maha dahsyat, kreasi awal-awal sejak dunia ini tercipta. Aku kan menggores pedang sekali lagi dan kamu akan menghilang selamanya.." keji terdengar suara Nangong Rong.. meledak kemana mana- di Benua Silver maupun Benua Penyaringan Dewa.
Yong-yong anak muda itu terbatuk-batuk. Darah merembes dari bibirnya. Kekuatan Pedang Matahari yang menyerap kekuatan Matahari dan makhluk hidup adalah kekuatan yang absolut. Bahkan teknik pedang terhebat pun terjungkal melawan kekuatan dunia.
"Nangong Rong.. kamu adalah manusia terkutuk.
Demi egoismu itu, kamu bahkan akan menghancurkan dunia, merusak harmonisasi tiga alam ini.
__ADS_1
Apa maksud kamu memaksa menyerap energi matahari dan energi dari makhluk hidup, berniat menghancurkan Alam Fana ini?
Kamu biadab ! Ketika Alam Fana ini rusak, jangan kamu kira dunia tempat kamu berasal juga tidak ikut-ikutan rusak. Heaven Realm kamu di Negeri Wonderland itu akan ikut-ikutan terganggu kesimbangannya, jika Alam Fana kami ini hancur !"
Keras kata-kata Yong-yong anak muda itu. Perlu di ketahui di dalam kisah-kisah Xianxia seperti ini, ada tiga alam yang semuanya saling melengkapi, mengisi kekosongan satu dengan lain.
Ketika satu alam terganggu, maka alam yang lain juga pasti akan terganggu. Kesembangan Yin dan Yang harus terus terjaga. Pembahasan ini telah dibahas pada bab sebelumnya "Bab Dunia Merah" bahwa keseimbangan Alam terbagi tiga : Alam Ajaib Negri Wonderland, Alam Dunia / Fana dan Alam Bawah Tanah / Neraka Dunia Orang Mati.
Akan tetapi Nangong Rong justru bertambah marah. Dia memaki..
"Tutup mulutmu manusia fana !
Tidak ada yang dapat menghalangiku kesayangan Wonderland. Kamu telah membangkitkan kemarahanku.
Pedang Matahari ini menjadi saksi bahwa tidak ada kekuatan di dunia fana ini yang tidak bertekuk lutut di bawah pedang ku" Seram terdengar suara Nangong Rong. Nangong Rong menggerakkan pedang, Matahari bergoyang pelan, bertambah letih ketika energi besar kembali terserap ke pedang di tangannya.
Seiring dengan hentakan pedangnya, suara jetita terdengar dari bawah. Banyak orang yang lemah kekuatannya, langsung tewas, kehabisan energi. Kejam.. tidak ada rasa belas kasihan sedikitpun.
Pedang Tak Berwujud, langkah kedelapan !
Kembali getaran mengguncang dunia, kepanikan terjadi. Ini rasanya seperti gelombang besar menghantam kapal di tengah lautan. Jeritan kembali terdengar di bawah sana. Rasa takut, putus asa melanda dunia.
"Ini tak bisa dibiarkan.
Manusia sombong itu akan merusak dunia kami. Seseorang harus berkorban, atau kita semua lenyap tak bersisa, tak ada lagi warisan untuk anak cucu di masa datang" bergetar suara Baron Wei. Dia meraba kotak Pedang Rembulan. Tangannya bergetar hebat. Galau, bimbang melanda hatinya.
Fenying menahan gerak Baron Wei ketika gadis itu memperhatikan gerakan di tangan Elf tua itu..
"Tuanku.. jangan menjadi gegabah.
Anda akan berubah menjadi debu ketika memaksakan diri menjadi pengantar pedang" kata Fenying gemetar.
Sage lainnya juga menahan gerak Baron Wei. Semua tak ingin Elf tua itu mati menjadi pengantar pedang, di tengah pertempuran dua manusia setengah dewa.
__ADS_1
Angin berhembus.. bukan lagi angin sejuk melainkan angin yang berhawa panas. Hewan-hewan hutan mulai gelisah. Mahluk-mahluk hutan menjadi panik keluar dari hutan. Semua gelisah, merasa seakan-akan dunia akan tamat.
Baron Wei berdiri pelan, tangannya erat memegang kotak pedang. Berlatar belakang dunia yang terlihat letih, dia berkata..
"Hidupku sudah terlalu lama di dunia fana. Mungkin ini saatnya aku untuk pergi. Dan lagi, tidak ada yang memiliki kepandaian tinggi diantara kami semua. Aku satu-satunya pilihan pengantar pedang.
Dunia Fana ini akan hancur, lalu pintu pembatas antar Tiga Alam akan terbuka. Ini tak baik. Semua penghuni dunia bawah sana akan berpesta, ketika mereka akan terbebaskan dari penjara abadi. Dan keseimbanga Tiga Dunia menjadi hancur. Tidak. Ini tak boleh terjadi.
Kalian semua masih muda. Masih banyak hal penting yang dapat dilakukan. Maka biarkan Elf tua ini menjadi pembawa pedang. Tolong jangan halangi aku" Baron Wei menghela nafas panjang.
Semua terdiam. Sepuluh Sage itu tak dapat berkata-kata lagi, membantah keinginan Sang Elf tua.
Baron Wei memekik keras, dengan ssa kekuatan yang ada. Kemudian dari balik awan gelap berwarna biru kehitaman satu makhluk besar muncul. Makhluk bersisik berbadan panjang. Naga.
"Mari kita pergi mahluk abadi" Elf tua itu berbicara pada Sang Naga.
"Mari kita menjadi pengantar pedang biar anak muda itu mendapatkan pedang yang pantas untuk bertempur" itu kata-kata Baron Wei yang tak akan pernah di lupakan 10 Sage Sekte Pedang Terbang.
Semua ahli Sekte Pedang Terbang menatap kelu, diam membisu dengan mata yang basah ketika melihat Naga itu terbang membawa Elf tua itu terbang membelah angkasa yang berbahaya, pergi ke langit merah tempat dua manusia setengah dewa bertempur saling memusnahkan.
Lalu.. samar-samar bayangan Baron wei memudar bersama Sang Naga, kabur di telan udara yang tua. Semua merasa lehernya tercekat dalam rasa sedih. Sepuluh Sage itu ingat jelas pesan Elf tua itu sebelum pergi.
"Ketika aku mati nanti, ...
Ingat-ingatlah kamu. Meskipun jenazah ku lenyap menjadi debu.. jangan lupakan meminta penatua-penatua di Domain Elf Pulau Es, untuk melakukan upacara simbolis melepaskan tubuhku dengan perahu di sungai domain.
Semoga aku memperoleh tubuh baru di Negeri Ajaib nanti" bisik Baron wei nyaris tak terdengar. Air mata mengalir membasahi pipi Fenying.
Bersambung
Dear pembaca, mohon untuk dukungan memberi like dan auto favorit novel ini agak membuat author meneruskan berkarya dengan novel lanjutan RDRP ini. Terima kasih <3
__ADS_1