
"Biarkan aku menikmati tubuh gadis itu sebelum kita menyantapnya" suara dari salah satu sosok dari tiga figur bertudung itu menyeramkan. Sorot matanya terlihat buas menatap bahu Sumniang yang terbuka - putih mulus.
Suara ejekan terdengar dari figur yang bertubuh paling kecil diantara mereka bertiga. Sepertinya dia adalah pemimpin kelompok itu.
"Aku memberi kalian waktu untuk mencicipi gadis itu, sebelum ku sembelih dia" katanya . Suaranya meski lembut, namun terdengar seperti suara iblis.
Sumniang dan orang-orang Kelompok Seni Kembara Dunia itu menggigil. Suara itu mengingatkan akan iblis perempuan yang gemar memangsa anak-anak bayi.
Kelompok tersisa dari Kelompok Seni Kembara Dunia tidak berdaya sama sekali. Kepandaian mereka dalam seni beladiri peringkat rata-rata yaitu hanya berada di ranah Alam Spirit Agung belaka. Peringkat seperti itu jika di adu di daerah-daerah terpencil, mungkin masih dapat dianggap tinggi. Tapi ini? Baru saja berhadapan dengan ahli pinggiran Gurun Walapra, kepandaian mereka terlihat seperti debu.
Jelas-jelas mereka semua bergabung sekalipun, bukanlah tandingan tiga sosok bertudung hitam itu. Ibaratnya seperti memberikan nyawa secara cuma-cuma untuk dicabut, jika melawan kultivator di ranah Alam Tanpa Batas. Mereka cukup tahu diri sebagai praktisi kelas bawah ini di area Kota Perdamaian ini.
"A-apa maksud kau ?" kata Sumniang panik. Gadis Kinnari itu merapatkan kain penutup bahu putihnya, dia merasa jijik dengan mata buas laki-laki yang bertudung itu.
"Buka baju kau perempuan !
Kita akan melakukannya dengan cepat, setelah itu aku akan mencabut nyawamu tanpa rasa sakit" Sumniang semakin menggigil. Dia belum ingin mati. Gadis Kinnari ini masih ingin menjemput impian-impian indahnya di dunia ini.
"A-aku tidak mau" jawab Kinnari berusaha terlihat tabah.
Seketika suara tawa keras, meringkik seperti kuda terdengar dari tiga sosok itu. Pemimpin mereka yang perempuan terdengar mencibir,
"Kau seharusnya bersyukur. Ada seseorang yang ingin menikmati kecantikanmu sebelum kau mati. Sudah seharusnya kau banggu, jika kau di pilih seperti ini, itu berarti kau jauh lebih menarik dibanding yang lainnya" dingin suara perempuan itu.
Sementara itu diam-diam beberapa perempuan lain dari ras avianse itu merasa lega. Mereka berpikir bahwa sosok bertudung itu hanya menargetkan Sumniang.
"Mungkin itu adalah takdir Sumniang. Sudah sepatutnya dia mati. Aku lama-kelamaan menjadi muak melihat kesombongannya" batin salah satu penyanyi dari Kelompok seni yang keturunan ras Burung Bulbul bernama Yoshodevi culas. Telah lama gadis bernama Yoshodevi ini cemburu dengan ketenaran Sumniang.
Rupa-rupanya pemimpin penjahat, perempuan yang bernama Astishti itu membaca gelagat dari air muka si Bulbul Yoshodevi. Dengan tawa menyeramkan, dia berkata..
"Hei kau..!" Astishti menunjuk ke arah Yoshodevi.
"A-aku? a-ada apa tuan?" tanya si Bulbul takut-takut.
"Kemarilah gadis cantik" kata Astishti lembut kepada Yoshodevi.
__ADS_1
Gadis Bulbul itu tentu saja ketakutan. Dia melihat tadi ketika menyelesaikan pertempuran, perempuan bernama aneh Astishti itu mengunyah jantung salah satu pengawal mereka mentah-mentah.
"A-aku tidak mau" kata si Bulbul memberanikan diri.
Wush !
Yoshodevi si gadis Bulbul terdiam seketika, tatkala tanpa disangka-sangka sama sekali, Astishti lenyap menjadi bayangan, tahu-tahu telah berada di depannya.
"Tolong.. jangan aku, aku masih ingin.." suara Yoshodevi terhenti, ketika tangan pucat seperti bulan milik Astishti menembus dadanya, lalu merogoh paksa jantungnya keluar dari tempatnya di dada.
Gadis malang keturunan Bulbul itu tewas tanpa sadar. Sementara Sumniang menjerit menangisi kematian kawannya Yoshodevi.
Bagaimana dengan Baroma Lam pemimpin grup kesenian itu? Nasibnya tidak lebih baik lagi. Saat ini nasib Baroma Lam tidak lebih beruntung dibanding yang lain. Dada Baroma Lam, Kinnara laki-laki itu kini telah di elus-elus oleh Astishti, siap-siap merogoh jantungnya.
"Untukku jantung pria ini. Aku yakin, kultivasi sihirku akan meningkat setelah mengkonsumsi makhluk surgawi ini.
Jantung Kinnari perempuan itu kuberikan kepada kalian berdua. Selamat menikmati !" kata Astishti seram. Dia menutup sikap menyeramkannya secara dramatis, dengan mengeluarkan suara tawa yang terdengar memuakkan.
Sekonyong-konyong...
'Tring - tring - tring'
"Siapa itu !" bentak Astishti berusaha membuyarkan ketakutan yang melanda benaknya.
Tidak ada jawaban apa-apa, selain desir angin yang tadinya lembut, kini berubah menjadi dingin. Lalu sebuah suara terdengar berdendang, suaranya amat jernih, terdengar seperti seruling,
(ini adalah lirik orang bersenandung)
Musim Dingin di Tebing Fairy Cliff.
Ketika Naga Es bangkit dan menari,
Ketika musim bunga tinggal menunggu waktu,
Aku termenung di kolam es, merenungi keajaiban ketika bintang-bintang memberkati Arda..
(arda adalah bumi, bintang-bintang konon adalah pencipta kaum Elf).
__ADS_1
Suara semerdu seruling itu terdengar seperti bisikan di telinga semua orang. Astishti dan kawan-kawannya menjadi menggigil ketakutan. Ini adalah suara yang mengandung kekuatan jiwa amat tinggi.
"Siapa orang itu?" desis Astishti penasaran. Pelan-pelan di melepaskan Baroma Lam, siap-siap melarikan diri jika hal buruk terjadi.
Belum lagi jawaban pertanyaan nya terjawab, mendadak udara di Gurun Walapra berubah lebih extreme lagi. Baroma Lam, Sumniang beserta semua orang baik dari kelompok pekerja seni atau tiga makhluk mengerikan itu menganga dengan mulut terbuka lebar.
"Mustahil " desis Astishti ketakutan.
"B-bagaimana mungkin ini terjadi" kata Yalem.
"Ini sihir tingkat mahir" bisik Odun mencoba melarikan diri.
Saat itu semua menyaksikan jelas. Butir-butir salju pelan-pelan turun dari langit, jatuh dan mulai mencair di pasir Gurun Walapra. Akan tetapi tidak menunggu terlalu lama, ketika sepuluh tarikan nafas lewat.. butiran es salju bukan lagi dalam bentuk butir-butir kecil.
"I-ini badai salju"kata Baroma Lam terbata-bata.
"Salju tidak turun di wilayah selatan sini. Bagaimana mungkin ini terjadi?" tanya Sumniang heran. Seketika ketakutannya akan Astishti hilang. Kekuatan menciptakan salju di padang gurun seperti ini, bukanlah kelas yang dapat dicapai oleh kawanan perampok seperti Astishti.
Lalu makin lama satu sosok pria muncul dari kehampaan, tepat sepuluh tombak dari kumpulan orang-orang ketakutan itu. Pria yang muncul ini adalah seorang pria usia empat puluh tahun, terlihat gagah dalam busana serba gelap nya. Penampilannya begitu kontras dibanding warna putih salju yang kini telah menjadi tebal memenuhi Gurun Walapra, tempat dimana Kelompok Seni dan tiga perampok itu berada.
"Aku mencium aroma sihir.. " kata pria yang baru muncul itu.
Dia memandang orang-orang itu satu demi satu. Semua yang ditatap oleh pria yang baru muncul ini, merasa seperti tenggelam di danau dingin gelap yang tak terukur, ketika mata mereka bertemu dengan mata pria yang baru muncul ini. Katanya melanjutkan dengan ringan..
"Siapa yang melakukan sihir ini?" wajahnya ramah sekali. Namun mendengar suara ramah ini, entah kenapa Astishti dan dua kawannya merasa tidak nyaman dengan keramahan itu.
"Hmm, aura yang tercium ini adalah sihir hitam yang dilakukan oleh orang-orang keturunan ras iblis" mata pria itu terpejam seperti menikmati sesuatu yang hampa. Lanjutnya..
"Tidak tahukah kamu? ras iblis dilarang menggunakan sihir?" suaranya terdengar lebih ramah lagi. Namun tatapan matanya mengunci kerah Ashtisti dan dua kawannya. Lutut Astishti dan dua kawannya terasa lemas tak bertenaga ketika pria itu mengunci mereka bertiga.
Pelan-pelan tangan pria itu melambai, lalu kembali semua di buat terbelalak, ketika satu pedang panjang nan besar, tercipta dari butiran salju, terlihat berkilau-kilau di bawah bayangan bintang. Katanya..
"Setiap ras iblis yang menggunakan sihir harus mati !"
Astishti dan dua kawannya tidak dapat melakukan apa-apa, ketika pedang kristal raksasa itu menghujam tubuh mereka, membelah mereka bergantian, masing-masing menjadi dua bagian.
Hening... dan salju masih deras turun ke Gurun Walapra. Tidak ada suara apa-apa selain rintik-rintik butiran es yang saling bergesekan, sementara Baroma Lam dan Sumniang, serta yang lainnya merunduk menyembah dalam ketakutan.
__ADS_1
Bersambung
Dear pembaca, mohon untuk dukungan memberi like dan auto favorit novel ini agak membuat author meneruskan berkarya dengan novel lanjutan KDPU ini. Terima kasih <3