
Kemunculan ahli-ahli kunci dari empat klan di Kota Perdamaian, seperti nya selalu dinanti-nantikan oleh penduduk kota. Misalkan saja seperti yang dikisahkan tadi. Setelah kemunculan Qilin Emas secara mistis, penduduk di bagian barat kota selalu menunggu-nunggu dengan membawa keberuntungan selanjutnya yang penuh doa, semoga keberuntungan selanjutnya akan akan jatuh kepada mereka.
Umumnya, ketika ada yang merayakan pernikahan, atau kelahiran.. semua orang di selatan kota selalu berdebar-debar menanti-nantikan kemunculan Qilin Emas untuk membawa rejeki.
Sayang sekali, makin di cari-cari, maka makin tidak pernah munculah sang Qilin emas pembawa berkah itu. Lama kelamaan penduduk selatan kota mulai melupakan kejadian Zheng Wu dengan kemujuran yang dia alami. Dan menganggap itu hanya mitos semata.
***
Saat ini pusat perhatian orang-orang telah beralih dan tertuju kepada Klan Kotengu. Konon kabar berita yang beredar, Pertapa Suci dari Klan Tengu dalam waktu masa menjelang musim event Perburuan Malam Kota Perdamaian, dia akan keluar dari pertapaannya dan berkenan menemui seseorang yang beruntung di antara jutaan warga kota.
Orang yang beruntung itu dapat mengajukan atau meminta petunjuk berupa keterampilan bela diri kelas atas, teknik berkultivasi mumpuni maupun petunjuk di dalam seni sastra tinggi yang jarang muncul di Realm Magical Beast ini.
Pertapa Tengu ini konon menurut hikayat, dia adalah satu makhluk penjaga Istana Langit yang berteman dengan Dewa Er Lang yang bersama-sama menjaga istana langit dari gangguan roh jahat dan monster pengganggu yang sering menyerang tempat para dewa.
Hal ini menyebabkn kesimpulan bahwa karena merupakan makhluk langit yang bersahabat dengan Dewa er Lang, Pertapa Tengu ini memiliki banyak sekali teknik-teknik rahasia kelas dewa yang menjadi incaran banyak orang. Konon juga ketika seseorang mendapat anugerah dan menerima petunjuk dari Pertapa Tengu, niscaya kemampuan ahli ini terdengar kabar pernah menggetarkan semua Dunia Rimba Hijau Jiang Hu, baik di Realm ini maupun dunia luar di Benua Silver.
Lalu berbekal harapan dan impian yang beredar dari mulut ke mulut, orang-orang di Kota Perdamainan, kini mulai berbondong-bondong dan mengalihkan perhatiannya untuk mengunjungi Kuil Pemujaan Tiangou (Tengu) di Klan Kotengu bagian Selatan Kota.
Contohnya pada hari ini. Ketika di bagian timur kota terjadi kehebohan kematian tiga anggota Klan Hantu Timur, namun Kuil yang di bangun di Selatan Kota, tepat di dalam halaman Klan Kotengu ini betul-betul padat dengan orang-orang.
Tentu saja yang datang itu adalah ahli-ahli beladiri pengejar keabadian, termasuk juga beberapa ahli ilmu lainnya selain bela diri, yaitu kesusastraan dan seni. Di dunia seni dan bela diri, dikenal dua ilmu yatu 'Bun' dan 'Bu'. Seni dan sastra maupun ketrampilan seni bela diri.
Kamu aka di hagai jika terhitung sebagai ahli baik dalam bidang Bun atau juga Bu - seni dan sastra, atau seni ketrampilan bela diri.
***
Sejak pagi tadi, Baroma Lam dan Sumniang telah mengajak Sima Yong dan Mismaya untuk jalan-jalan ke Kuil Tiangou, dengan tujuan berdoa dan meminta berkat, sukur-sukur berjodoh dan memiliki kesempatan mendapat petunjuk dari Pertapa Tengu yang legendaris itu.
__ADS_1
Sumniang dan Baroma Lam tentu saja berharap menerima berkah petunjuk dalm bidang sastra dan seni, dan mereka membujuk Sima Yong dengan iming-iming akan memperoleh berkah petunjuk dalam teknik dan seni bela diri.
Sima Yong sendiri, sesungguhnya tidak terlalu antusias untuk mengunjungi Kuil Tiangou, namun dia tidak ingin melukai perasaan Baroma Lam dan Sumniang yang telah begitu antusias pergi untuk menerima berkat, dan mengikuti keduanya sambil melihat-lihat dan keramaian di kuil nanti.
Di kuil pemujaan Tiangou itu terlihat orang banyak antri satu persatu untuk dapat masuk dan melakukan pemujaan di dalam kuil. Sima Yong masuk kedalam ruangan, mengambil dupa dan membakar lalu memberi hormat di hadapan patung Dewa Kebajikan dan Dewa Er Lang.
Setelah meletakkan beberapa eliksir merah muda sebagai tanda persembahan, tibalah saat nya untuk meminta rejeki dan berkah dari Pendeta di Kuil.
Sima Yong memperhatikan lekat-lekat, ketika Mismaya memaksa keluar bambu penerawang dari dalam kotak kayu, lalu pendeta itu menerawang dan mencoba menerjemahkan apa arti dan maksud yang tergambar di kartu bambu itu.
Mismaya keluar dengan wajah dipenuhi mendung - pertanda ramalannya tidak terlalu bagus seperti yang gadis itu harapkan. Sima Yong sendiri tertawa di dalam hati ketika melihat Baroma Lam dan Sumniang pergi dari aula penerawang, dengan wajah bercahaya gembira.
"Tentu saja pendeta itu menerawang yang bagus-bagus untuk dua orang keturunan Kinnara itu.
Aku melihat mereka meletakkan Eliksir merah muda dalam jumlah yang cukup banyak, sehingga tentu saja petugas pencatat melaporkan berapa nilai sumbangan lalu orang tua ini akan memberi ramalan yang indah-indah kepada penyumbang berjumlah besar" pikir Sima Yong geli.
Tiba gilirannya dan Sima Yong agak ogah-ogahan untuk mengocok lalu memaksa keluar satu kartu bambu bergambar aneh, untuk diterawang pendeta tua itu.
Sima Yong telah skeptis terlebih dahulu, dengan menebak bahwa hasil ramalan yang baik-baik saja akan diberikan kepada Sima Yong, secara anak muda itu merasa dia telah memberikan eliksir merah jambu dengan nilai yang cukup besar.
Pendeta itu kembali menatap Sima Yong dalam-dalam. Katanya,
"Gambar di bambu ini tidak akan berbohong dan dia mencoba menceritakan dengan jelas tentang sesuatu di masa datang yang berhubungan dengan anda"..
"Ada dua hal penting yang dapat anda catat disini. Berita baik dan berita buruk..
Mari kita berbicara dulu tentang bambu yang menjelaskan hal baik yang menanti anda..
__ADS_1
Bambu berbicara bahwa anda memperoleh kemurahan untuk bertemu dengan Pertapa Tengu dalam waktu dekat ini. Tidak dengan jelas dikatakan dimana, namun bambu ini menjelaskan bahwa anda harus meminta petunjuk suatu seni pedang, sebelum akhirnya anda akan menghadapi pertempuran melawan musuh anda.."
Sima Yong tertegun. Dia sangat tidak percaya dengan yang namanya ramalan-ramalan seperti ini. Namun pendeta tua ini meramalkan tentang pedang dan musuh masa datang nya.
"Apakah ini berhubungan dengan Yamato no Orochi itu? ataukah?" Sima Yong menerka-nerka. Dan kesimpulannya jatuh kepada Yamato No Orochi.
"Baiklah jika ini benar adanya, jika memang aku akan bertemu Pertapa Nirwana Tengu itu, aku akan mendiskusikan teknik pedang ku dan mencoba melatih teknik terbaik sesuai saran Pertapa Tengu nanti" batin Sima Yong. Dia lalu berkata...
"Aku mengerti Pendeta.. dan selanjutnya, mohon diberi pencerahan tentang berita tidak baik yang dibisikan kartu bambu itu"kata Sima Yong merendah.
"Damai bersamamu.. semoga semua mahluk berbahagia" kata Pendeta itu. Lanjutnya...
"Bambu berbisik tentang kabar buruk adalah, anda akan kehilangan orang yang dekat dengan anda.." keadaan menjadi hening. Sima Yong seketika merasa telinganya berdengung.
Dalam hatinya yang awal-awal meragukan penerawangan pendeta Kotengu, saat ini dia tiba-tiba mendengar ramalan yang menyebutkan kematian, jelas hatinya menjadi galau.
Ketika dia memaksa si pendeta menjelaskan apakah yang dimaksud dengan kehilangan ini. Apakah tewas, ataukah seseorang yang akan pergi jauh? Semua pertanyaan anak muda itu hanya memperoleh jawaban berupa gelengan kepala dari sang pendeta.
Pendeta Kotengu itu hanya mewanti-wanti, kelak jika dia bertemu dengan Pertapa Tengu sesuai terawangan tadi, alangkah baiknya Sima Yong mencoba menanyakan hal ini kepada sang pertapa.
Sang Pendeta kemudian menutup matanya sambil duduk dalam posisi lotus, dan tidak menanggapi pertanyaan-pertanyaan Sima Yong lagi. Bahkan mulutnya menyanyikan pelan-pelan menyanyikan lagu-lagu kebajikan, yang memaksa Sima Yong keluar dari aula itu.
Di luar sana telah menanti Mismaya, Baroma Lam dan Sumniang. Namun ada perbedaan di wajah empat orang itu. Sima Yong dan Mismaya memiliki wajah yang keruh dengan mendung, sementara Baroma Lam dan Sumniang memiliki wajah yang berseri-seri.
Malam itu Sima Yong dan Mismaya menghadiri pertunjukan seni yang diselenggarakan oleh Empat Klan Mata Angin, di Paviliun Keindahan Cahaya Malam. Acara ini adalah acara pertunjukan mengawali akan berlangsungnya Perburuan Malam Hari di Reruntuhan Purba, dekat dengan Hutan Motozawa, di bagian utara kota.
Wajah dua orang ini telah kembali normal, setelah mendengar nyanyian dari permainan musik dari Kelompok Seni Kembara Dunia. Hingga acara akan berakhir, Sima Yong tak juga melihat petinggi-petinggi dari empat klan mata angin itu. Dalam hatinya bertanya-tanya, mengapa tuan rumah penyelenggara acara malahan tidak hadir?
__ADS_1
Bersambung
Dear pembaca, mohon untuk dukungan memberi like dan auto favorit novel ini agak membuat author meneruskan novel ini dengan ide-ide lebih menarik lagi.