Raja Dari Raja Pedang

Raja Dari Raja Pedang
Sebuah Salinan Di atas Kulit Lusuh


__ADS_3

  Sima Yong melihat orang tua yang berdiri di hadapannya. Dia merasa raut orang tua itu begitu mirip dengan patung yang dia beri penghormatan ketika tiba awal-awal tadi. Katanya,


"Senior.. Siapakah anda?" tanyanya singkat.


   Orang tua itu memasang wajah yang jenaka, lalu menggoda Sima Yong seperti sikap kekanakan. Katanya..


"Bukankah tadi kamu si anak muda ini bersujud dan menyembahku?


   Padahal sebenarnya aku bukan sosok seperti yang kamu sangka. Aku masih hidup di dunia fana ini" jawabnya.


"Lalu.. mengapa senior ini bersikap dan mengambil rupa seakan-akan anda adalah sebuah patung tua?" tanya Sima Yong bingung.


   Orang tua itu hanya menggaruk-garuk kepala. Sima Yong sendiri semakin menahan senyum, melihat orang tua yang bertingkah tersipu-sipu semakin serupa kanak-kanak. Katanya..


"Sesungguhnya aku lebih senang mengambil rupa sebagai patung"


"Mengapa anda senior ini lebih suka menyaru menyerupai patung?"


"Karena aku takut. Sepanjang hidupku aku selalu dikejar-kejar orang, yang semuanya selalu memohon dan meminta-minta aku memberi petunjuk agar teknik beladiri mereka lebih meningkat lagi" Sima Yong melongo mendengar kata-kata penuh kepercayaan diri itu


   Sebaliknya orang tua itu telah selesai menggaruk-garuk kepala, dan berpura-pura seperti teringat sesuatu, dia lalu menutup mulutnya dengan tangan, kemudian memasang wajah penuh kewaspadaan kearah Sima Yong. Katanya..


"Atau jangan-jangan... kamu juga salah satu diantara orang-orang yang mencari temu denganku, lalu memohon-mohon meminta petunjuk teknik bela diri dari ku?" orang tua itu terlihat berpura-pura seperti akan menjauh dari Sima Yong.


Sima Yong tentu saja tidak terima dengan tuduhan ini.


"Cih.. siapa juga yang ingin meminta petunjuk dari mu hai orang tua" kata Sima Yong, lanjutnya..


"Aku datang ke tempat ini karena mengikuti Perburuan Malam Hari Kota Perdamaian.


   Tentu saja yang aku cari adalah hadiah utama Pengetahuan Siklus Abadi dan Kebenaran... Bukan mengejar anda dan berencana memita petunjuk teknik bela diri" wajah orang tua itu seketika berubah drastis. Sima Yong melanjutkan..


"Karena anda telah ada disini sejak aku beum datang, apakah kamu si orang tua tahu dimana benda yang ku sebutkanitu di sembunyikan?" jawab Sima Yong.


Dengan bersikap misterius, orang tua tu berkata.


"Oh.. jadi benda itu yang kau cari. Well aku sendiri melihat kalau engkau memang orang pertama yang mencapai tempat ini. Tentu saja salinan Pengetahuan Siklus Abadi dan kebenaran itu berhak anda dapatkan" orang tua itu lantas merogoh sesuatu dari dalam saku nya.


   Kemudian dia dia mengangkat satu lembar kertas yang terbuat dari lembaran kulit hewan (kambing atau sapi) yang terlihat tua dan kuno. Sima Yong melihat sepintas, diatas lembaran kulit itu terdapat huruf-huruf yang kuno dan lama (dia menilai kalau tulisan itu adalah tulisan dalam huruf dan bahas Elf kuno). Sekilas dia juga menangkap ada gambar-gambar rumit yang terdapat di dalam lembaran kulit tersebut.

__ADS_1


"Nah slahkan ambil. Inilah benda yang kamu cari-cari" kata orang tua itu, ketika dia menyodorkan lembaran kulit hewan itu kepada Sima Yong. 


"Apa ini?" tanya Sima Yong bingung. Dia menolak pemberian si orang tua. Katanya..


"Aku tidak meminta apa-apa dari dirimu wahai senior tua"


   Sekarang si orang tua berbalik menjadi melongo ketika melihat Sima Yong menolak pemberiannya.. Selama ini dia merasa dirinya selalu di cari-cari, demi sepotong pemberitahuan atau pengarahan seni bela diri si pencari. Tapi anak muda ini..


Katanya dengan nada penasaran.


"Bukankah ini adalah benda yang kamu cari-cari? Mengapa sekarang kamu malahan tidak berminat untuk menerimanya?" orang tua itu lantas mengentak kakinya seperti orang kesal. Sepertinya dia gemas melihat ketololan si anak muda.


"Ini? Benda lusuh ini yang anda maksud sebagai salinan Pengetahuan Siklus Abadi dan Kebenaran?" Sima Yong balik bertanya dengan sengit. Dia memandang geli akan lembaran bahan kulit yang terlihat tua dan lusuh itu.


Plak !! Aduh !


   Sima Yong terkejut karena tahu-tahu kepalanya telah di keplak oleh si orang tua. Meski tidak berakibat luka, namun pukulan itu terasa perih di kepalanya.


   Sima Yong memandang takjub kepada orang tua itu. Selama karir dan perjalanannya menempuh keabadian, belum pernah sekalipun seseorang yang mampu menghajar dia, tanpa dia sendiri rasakan angin pukulan ataupun tak mampu dia hindari.


   Selama ini dia selalu menjadi yang terhebat dan dikagumi. Namun di hadapan orang tua ini, Sima Yong merasa dirinya menjadi seperti kanak-kanak, dengan kemampuan yang terbatas.


   Dengan menghentak-hentak kaki ke tanah orang tua itu berkata.. 


   Lihat sekarang, kamu anak muda bodoh ini menyepelekan salinan teknik yang diberikan Yamazaki Takejiro ini" orang tua itu marah-marah tidak jelas, seperti bocah sepuluh tahun yang gampang marah.


   Sima Yong menjadi terkejut. Dia mendengar si orang tua menyebut dirinya adalah Yamazaki Takejiro, sang Pertapa Tengu yang konon adalah makhluk Nirwana dari dunia dewa-dewa. Dengan terbata-bata Sima Yong bertanya,


"Tunggu sebentar senior. Janganlah kamu cepat menjadi marah dengan kata-kata ku tadi. Maafkan aku jika diriku yang muda ini teledor dan tidak berpengetahuan luas sehingga tidak mengenali anda.


Namun, aku meragukan kalau lembaran kulit hewan ini adalah salinan dari teknik yang aku cari"


   Karena sesungguhnya, berita yang beredar di luaran menyebutkan kalau salinan teknik itu, adalah sesuatu teknik yang dapat mengantar seorang ahli kekuatan jiwa untuk menembus peringkat Immortal dalam Seni Jiwa dan sihir.. Dan aku berpikir salinan itu tidak mungkin di tulis pada lembaran kulit lusuh seperti ini. Maafkan ketidak tahuan ini"


   Sima Yong membungkuk dan memberi hormat dalam-dalam kepada orang tua bernama Yamazaki Takejiro itu. Dia melihat wajah orang tua itu menjadi sedikit cerah setelah dia meminta maaf dan bersikap lebih hormat lagi. Dia melihat orang tua Yamazaki itu tidak semarah tadi, meskipun wajahnya masih diangkat setinggi langit - tapi wajah keruhnya telah berubah tenang. Sima Yong melanjutkan.. 


"Tentu saja aku membayangkan kalau salinan itu akan dimuat dalam bentuk ingatan array, di dalam sesuatu benda seperti token emas atau permata, misalnya. Aku tak menyangka salinan itu di tulis langsung pada lembaran kertas kulit yang begitu tua.


   Sekali lagi, maafkan sikap ceroboh aku sebagai orang muda tak berpengetahuan ini" Sima Yong mengucapkan permohonan maaf berulang kali. Dia melirik raut muka si orang tua.

__ADS_1


   Bahkan Sima Yong mengambil hati dengan membungkuk mirip menyembah untuk menerima rahmat. Lalu dua tangannya diangkat dekat dengan tangan Yamazaki Takejiro yang memegang salinan itu - siap-siap menerima salinan kulit kuno itu.


Wush!


Hati si anak muda menjadi lega, ketika dia merasa lembaran kulit itu tahu-tahu telah berada dalam genggaman tangannya.


"Terima kasih Senior Yamazaki" kata Sima Yong. Namun Yamazaki Takejiro itu, masih terlihat berpura-pura angkuh, dengan mengangkat wajah tinggi-tinggi seperti ingin menyentuh langit.


   Keduanya lalu hening dan diam. Beberapa saat kemudian, karena merasa suasana menjadi kaku, Sima Yong mengambil inisiatif untuk pergi dari aula itu, tapi gerakannya terhenti dengan suara Senior Yamazaki..


"Jadi kamu tidak ingin meminta petunjuk dari ku? Mengapa buru-buru pergi?"


   Sima Yong menahan langkahnya yang akan meninggalkan aula itu, dan berbalik ke arah Yamazaki. Katanya..


"Sesungguhnya aku ingin menanyakan serta mendiskusikan beberapa hal yang berhubungan dengan kemampuan dan tempurku pada anda.


   Aku juga tahu, kalau anda adalah Pertapa Tengu yang disebut-sebut orang sebagai pertapa aneh yang sering memberi arahan dan petunjuk pada ahli-ahli bela-diri.


   Namun aku melihat Senior Yamazaki dalam keadaan kurang nyaman, sehingga aku membatalkan keinginan ku untuk mendiskusikan teknik pertempuranku" kata Sima Yong.


   Dengan berpura-pura memasang wajah malas tapi senang karena di puji-puji, Senior Yamazaki berkata.


"Kamu sudah berada disini dan bertemu dengan ku.


   Pertapa Tengu tidak pernah pergi tanpa memberikan barang satu atau dua petunjuk beladiri atau seni, kepada siapapun yang pernah bertemu dengan ku.." 


   Senior Yamazaki berjalan ke salah satu dinding yang berlokasikan Nirwana, dimana terlihat Dewa Er Lang dan kawannya Dewa Anjing Tiangou, tengah bertempur melawan makhluk jahat dan siluman, di pintu Istana Langit.


"Kamu ikutlah dengan aku, pergi ke tempat mana aku selalu bersemedi.


   Ada hal-hal yang ingin aku tunjukkan kepadamu. Meski kamu merasa kalau kemampuanmu telah mumpuni di Benua Silver ini, namun ketika kamu berhadapan dengan ahli-ahl di ranah kuasi Immortal, apalagi seorang immortal, kemampuanmu seperti chakra dan lain-lain itu tiada arti.


   Ku pikir aku akan memberi petunjuk dalam seni pedang tertinggi kepadamu disana"


   Yamazaki Takejiro menghilang di balik lukisan Dewa Erlang, dan Sima Yong mengikutinya dari belakang. Tak lama kemudian, aula itu menjadi sepi, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.


Selepas dua orang itu menghilang di balik lukisan Dewa Er Lang, tiba-tiba terdengar bentakan dari pintu aula tersebut.


"Pergi kamu ! Aku telah terlebih dahulu berada di tempat ini !"

__ADS_1


Bersambung


   Dear pembaca, mohon untuk dukungan memberi like dan auto favorit novel ini akan membuat autor lebih bersemangat meneruskan penulisan novel ini dengan ide-ide yang lebih menarik lagi tentunya.


__ADS_2