Raja Dari Raja Pedang

Raja Dari Raja Pedang
Di Gerbang Timur (ii)


__ADS_3

  Redgos membentak dengan arogan, memaksa Teci untuk berhenti. Selama perjalanan ini, Teci memang selalu menutupi dirinya dalam balutan kain yang panjang, mencoba menyamarkan diri dan tidak terlihat terlalu mencolok. Apalah daya Redgos yang dilanda rasa kalut, karena memikirkan tidak akan memperoleh satu peser pun dari Eliksir yang diserahkan Baroma Lam, membuat dirinya menjadi sasaran bidikan Redgos.


"Kau makhluk raksasa.


   Lihat saja ukuran tubuhmu yang tinggi besar itu"  padahal Teci telah berusaha membungkuk dan mengecilkan tubuhnya, lalu duduk di depan kereta seolah-olah seorang sais kereta.


"Dengan ukuran sebesar itu, kau harus menambah jumlah biaya dan ongkos masuk" Kata Redgos tegas.


"Beri tambahan 10 Eliksir merah jambu" kata Redgos.


   Tentu Saja Zelk menjadi sangat terkejut melihat tindakan gegabah rekan nya itu. Jumlah Eliksir yang diberikan oleh Kinnara tadi, sesungguhnya telah melampaui dari batas yang diinginkan. 


"Mengapa bocah bodoh ini tidak meminta bagian saja dari eliksir punyaku nanti?" Jika saja Kinnara itu membawa masalah ini ke Dewan Empat Klan besar, mereka berdua akan berada dalam masalah besar pikir Zelk.


    Baru saja Zelk akan meminta Redgos untuk menyudahi tindakan sembrono itu, dia melihat Redgos telah menusuk tombak bermata golok (Guan Dao) ke arah sosok besar itu. Rupa-rupanya di dalam waktu yang amat singkat, telah terjadi debat kusir di antara dua orang itu, yang berakibat Redgos mengambil tindakan  kasar dengan menusuk anggota rombongan bertubuh besar itu.


"Terlambat sudah !" batin Zelk dengan kesal.


Wush !


   Guan Dao Redgos di sodok dengan cepat, suara jeritan kecil terdengar dari kaum wanita anggota kelompok seni itu mengiringi tikaman yang mengandung kekuatan energi khusus.


Plak - trang ! 


   Saat itu Redgos yang sudah demikian senangnya akan membunuh seseorang - setelah kesal dengan kelakuan Zelk yang terlalu serakah tadi, yang tadinya juga menjadi gembira karena dia menemukan korban yang dapat dia lampiaskan kekesalannya, mendengar suara senjata tajam yang patah


"Krak !"


   Redgos melongo ketika melihat orang besar itu menjepit mata goloknya dengan sesuatu benda asing  yang berbulu-bulu panjang, lalu menyusul suara kepala golok di ujung Guandao itu patah.


   Bukan hanya Redgos yang melongo. Zelk sendiri melongo melihat keterampilan sosok bertubuh besar dengan bulu-bulu burung itu. Tingkat kultivasi Redgos ada di ranah Alam Tanpa Batas kelas tengah. Namun hanya dengan sekali kepitan di ketiak makhluk berbulu tadi, Guan Dao itu patah menjadi dua.


"I-ini adalah kemampuan ahli kelas atas..


   B-bagaimana mungkin di kelompok artis seni ini, ada tersembunyi seniman beladiri kelas atas ini?" batin Zelk.

__ADS_1


   Ghoul itu seketika menjadi curiga..


"Bukankah kabar berita mengatakan kalau-kalau anak muda dari Kota Terminus itu akan datang bersama makhluk perkasa lainnya, seperti Griffin misalnya?


  T-tapi bukankah ini hanya satu kelompok penghibur dunia seni belaka?"


   Pikiran Zelk melanglang buana kesana kemari, mencoba mengkait-kaitkan keberadaan ahli bertubuh besar ini dengan seseorang yang menjadi target empat klan, sesuai instruksi tuan kota.


   Akan tetapi sekonyong-konyong seorang pria - tidak terbaca tingkat kultivasinya keluar dari dalam gerbong kereta dan memasang wajah ramah, teramat ramah dan langsung bercakap-cakap akrab dengan Zelk.


"Maafkan kawannya bertubuh besar ini tuan berdua.


   Sesungguh nya kawanku ini mengidap satu penyakit yang menyebabkan tubuhnya bengkak dan membesar seperti demikian.


   Tubuhnya membatu sehingga logam sekalipun - sepanjang bukan senjata roh,.. tidak nanti dapat melukai tubuhnya" pria yang baru muncul itu lantas menepuk-nepuk si badan besar, yang langsung terbatuk-batuk dengan keras, layaknya orang yang menderita suatu penyakit akut.


   Tidak berhenti sampai disitu saja, pria yang baru muncul itu langsung memperkenalkan dirinya bernama Pan Ling, yang adalah penasihat hukum dari kelompok Seni Kembara Dunia.


"Ah.. maafkan kawanku tadi.." tangan Pan Ling itu lantas dengan ringan menyisipkan sekantung kecil Eliksir merah muda, baik ke tangan Redgos maupun kepada Zelk.


   Zelk dan Redgos melirik ke dalam masing-masing kantung pemberian itu..


   Sementara Zelk juga dilanda sukacita yang mendalam. Dia ketambahan lagi seratus eliksir merah muda- tidak sebanyak jatah Redgos tapi hatinya telah puas. Jatah eliksirnya dari pemberian Borama Lam tadi telah sangat mencukupi, sehingga dia tidak mempermasalahkan nilai yang diterimanya lebih kecil dibanding Redgos.


   Perlakuan dua orang itu seketika berubah drastis. Keduanya menjadi sangat ramah, dan tidak lagi mempermasalahkan senjata Guan Dao kepunyaan Redgos yang patah tadi. 


   Mereka lantas mempersilahkan Kelompok Seni itu untuk masuk ke Kota Perdamaian tanpa mempersulitnya lagi, sambil memandang satu persatu kereta dan unta yang berjalan melewati gerbang timur.


   Pada waktu hari semakin gelap, gerbong kereta paling akhir dari rombongan seni itu pudar dari pandangan keduanya, Zelk dan Redgos tertawa girang. Keduanya menghitung nilai keuntungan mereka atas upeti yang mereka jarah dari kelompok seni Kembara dunia tadi.


   Bahkan Redgos berjanji di dalam hatinya, kapan-kapan dia akan mencari tempat kelompok kembara itu tinggal, lalu datang berkunjung dan meminta sedikit upeti tambahan lagi..


"Well, mereka sepertinya dibayar dengan upah yang sangat tinggi..


   Lihat saja dua orang tadi. Baroma Lam dan pria bernama Pan Ling itu betul-betul kaya. Mereka dengan royalnya menghamburkan eliksir merah muda tanpa takut-takut.

__ADS_1


   orang-orang seperti itu adalah orang yang benar-benar dikatakan kaya. Menghambur dan memberi tip tanpa menghitung-hitung lagi" bibir Redgos melengkung dalam senyum serakah.


   Tak lama ketika kentongan pertama berbunyi, Redgos dan Zelk dengan langkah gembira pergi pulang ke rumah mereka dengan hati senang. 


"Uang setoran ongkos masuk Kota tadi, akan di setor besok di perusahaan keuangan Klan mengingat jam seperti sekarang, Usaha Keuangan Klan Ghoul telah tutup.


   Malam ini baiklah kita berdua pergi ke rumah pelacuran Villa Bunga Meihua" ajak Zelk pada Redgos.


   Kontan saja ajakan itu diterima mengingat Redgos sendiri juga memiliki banyak eliksir merah muda dalam kantong uangnya.


"Aku akan menyewa pelacur Ye Zhen, gadis keturunan ras Fey yang telah lama ku incar itu. Ye Zhen selama ini selalu menghindari ku. Dan sekarang ketika aku memiliki banyak eliksir merah jambu ini, aku kepingin melihat apakah gadis Fey itu masih akan menolak ku" kata Redgos dengan wajah penuh dendam.


   Zelk hanya tertawa saja melihat tingkah Redgos. Karena sesungguhnya Zelk telah memiliki istri, seorang wanita ras Ghoul juga. Namun dia berpikir, sekali-kali memanjakan diri dengan perempuan lain adalah hal yang sangat menantang.


"Dan lagi, saat in aku memiliki banyak eliksir, terlalu bodoh jika aku tidak menikmati kesenangan dunia malam ini" batin Zelk.


   Keduanya berjanji akan bertemu di pintu masuk Villa Bunga Meihua, dengan terlebih dahulu minum-minum arak. Sesudahnya kesenangan mereka akan berlanjut dengan bersenang-senang dengan gadis penjual cinta di villa itu.


***


   Malam itu demikian indahnya. Rembulan dengan berani muncul ke permukaan, memberi sinarnya lembutnya yang pucat mewarnai alam raya ini. Ini adalah malam Bulan Purnama. Hati semua orang dilanda rasa gembira, mengikuti suasana malam indah penuh cahaya rembulan, dan keluar berjalan-jalan atau sekedar duduk-duduk di luar rumah menikmati keindahan purnama.


   Beberapa anak-anak gadis kecil, terlihat duduk-duduk di bawah rembulan, saling menggosok wajah mereka dengan bubuk bedak tebal, tertawa-tawa menatap purnama dan berkata keras-keras..


"Semoga wajah ku akan bercahaya cantik seperti sinar purnama ini" Ini adalah adat kebiasaan orang-orang di Benua Silver, untuk berusaha percaya akan adat istiadat bahwa duduk di bawah purnama sambil menggosok-gosok wajah dengan bedak, kedepannya wajah gadis-gadis kecil itu akan menjadi putih seterang rembulan. 


   Suasana gembira itu tidak berlaku di kamar satu hotel terbaik di Kota Perdamaian. Teci terlihat murung dan menghadap kepada Sima Yong. Hatinya masih galau dan dendam dengan perlakuan Ghoul penjaga gerbang tadi.


   Sima Yong hanya tertawa kecil lalu memberikan beberapa benda kepada Teci dan berkata. 


"Gunakan jimat fatamorgana atau jimat peledak atau jimat pencabik itu untuk melampiaskan rasa marahmu. 


   Kedua orang itu memang layak untuk memperoleh ganjarannya. Sudah terlalu lama mereka mengeruk keuntungan dari para pelintas yang memasuki Kota Perdamaian ini"


   Teci menjadi gembira hati nya ketika tuan muda merestui, bahkan membekali dirinya dengan beberapa jimat pembunuhan. Tubuh Teci lenyap di balik bayang-bayang mengendus-endus mencari tahu di mana keberadaan dua Ghoul serakah bernama Zelk dan Redgos.

__ADS_1


Bersambung


   Dear pembaca, mohon untuk dukungan memberi like dan auto favorit novel ini agak membuat author meneruskan novel ini dengan ide-ide lebih menarik lagi.


__ADS_2