Raja Dari Raja Pedang

Raja Dari Raja Pedang
Kembali Ke Dunia merah


__ADS_3


Bab ini adalah khusus kisah tentang perpisahan. Pepatah berkata bahwa tak ada pesta yang tak akan usai. Demikian juga dengan kisah anak muda Sima Yong, setelah menyelesaikan misinya melengkapi total delapan relikui abadi, dan berhasil mendapatkan relikui Bangau berkaki Satu, peninggalan Patriark Guan.


Angin musim semi bertiup lembut, hawa hangat mengalir mengikuti hembusan angin dari sisi bagian timur dunia, membuat rambut tersibak, melambai seperti dahan dan dedaunan Pohon Willow.


Saat itu Sima Yong berdiri, bertiga dengan Mismaya dan Teci - di pintu gerbang dari Kuil Pemujaan Tengu.


Anak muda itu setelah berpamitan pada Sang Pertapa YAmazaki Takejiro, setelah sebelumnya Sang Pertapa menawarkan dia untuk saat berkultivasi dan melakukan tapa penerobosan guna mencapai Immortal di Kuil Tengu itu.


Menurut Pertapa Yamazaki, untuk menerobos menjadi seorang ahli Immortal - dengan kondisi sang ahli telah menyerap 3 relikui lalu ingin menggabungkan deng lima lainnya yang sebelumnya terserap - total menjadi delapan relikui, itu akan memakan waktu antara 20 tahun sekurang- kurangnya.


Bahkan, jika keberuntungan dan kemampuan tidak berpihak, satu individu akan memakan waktu yang lebih lama lagi. Tentu saja, seorang ahli harus melakukan pembongkaran ulang ranah kultivasinya, dengn merusak lima kekuatan relikui yang telah terlebih dahulu diserapnya, kemudian melakukan meditasi dan penggabungan ulang keseluruhan delapan relikui.


Menurut Pertapa yamazaki hal ini memang sangat diperlukan untuk pondasi yang kokoh bagi praktisi ketika mencapai Immortal. Jika secara gegabah langsung menyerap tiga relikui yang akan, dan menggabungkan dengan lima yang telah berada di dalam dantiannya, niscaya resiko kegagalan terbentang di depan mata.


Ketika mendengar bahwa jangka waktu yang akan dia lakukan termasuk bongkar - pasang ulang semua relikui abadi yang dapat mencapai waktu hingga 20 tahun kedepan, si anak muda itu lantas memikirkan suatu tempat rahasia di perbatasan Portal teleportasi antara benua Penyaringan Dewa dan Benua Silver.


Tempat itulah suatu dunia ganjil yang dia namakan Dunia Merah, yang semakin unik dan aneh bersama seorang penjaga tua usia puluhan ribu yang menyebut namanya sebagai Guardian atau Penjaga.


Dengan duduk di punggung Teci sang Griffin, anak muda itu bersama Peri kecil Mismaya, melaju cepat meninggalkan Hutan Kota Perdamaian, terbang membelah langit di atas kota menuju melintasi Gurun Pasir Walapra.


Sementara ketika mereka melakukan penerbangan di atas Gurun Walapra, teringat kembali masa-masa ketika kelompok mereka bertemu kelompok seni Kembara Dunia - bibir si anak muda melengkung, tersenyum mengingat mengenang perjalanan melintasi benua Realm Magical Beast ini.


Setelah melewati Gurun Walapra, kelompok mereka terbang di atas pepohonan hutan hutan Willow, melintasi di atas kota Biramaki, tempat Klan Macan Putih.


Teci terus membentangkan sayap lebarnya, kokoh bertenaga, memanfaatkan aliran angin dengan sayap Rajawalinya mengarah ke Sungai Hutan Misterius, yang membelah Tanah yang menjadi kekuasaan Klan makhluk keturunan ular.


Siang dan malam berlalu, Teci tak juga mengenal lelah. Berbekal kekuatan garis darah Griffin makhluk surgawi, siang dan malam berlalu, dari kejauhan terlihat ujung-ujung kubah dari banunan- bangunan megah di Kota Terminus, kota tempat Klan Bangsa Burung hidup membentuk kelompok.


Di Kota Terminus ini Sima Yong mampir sebentar di toko Alros dan menemui pemiliknya Alkemis Alrin. Tentu saja sang alkemis sangatlah senang, ketika anak muda itu mengeluarkan begitu banyak bahan-bahan langka yang dia kumpulkan selama perjalanan hingga ujung Realm ini.


Semua bahan-bahan ini amatlah berguna untuk profesi-profesi alkemis sihir, juga bahan-bahan berharga yang diperlukan seorang peramu atau tabib, untuk meramu obat-obatan langka.


Ada banyak sekali pembayaran yang dilakukan oleh alkemis Alrin dengan kristal-kristal eliksir peringkat tinggi. Sima Yong lalu menyimpan hasil penjualan itu ke dalam masing-masing 3 cincin yang berkapasitas besar.

__ADS_1


Setelah berpamitan dari alkemis Alrin mereka bertiga meninggalkan kota Terminus, untuk kembali ke ujung Realm yang merupakan tempat keluar dari Hutan Misterius.


Siang berganti menjadi malam, malam lantas bergerak menjadi pagi, lalu pagi merangkak pelan menjadi sore dan gelap pun tiba. Ketika malam telah tiba, dan disaat mereka melintasi di atas Padang yang dahulu sangatlah angker dan dinamakan Padang Tengkorak.


"Semua berubah bukan" bisik Sima Yong pelan. Angin menerpa wajahnya, dingin namun rasa hangat menjalar memenuhi jiwa.


"Semua terasa lebih berwarna.


Dunia tua mengerikan itu kini terlihat normal" balas Mismaya. Keduanya berbicara, namun pikiran melayang- layang, mengembara mengingat masa-masa itu.


Suasana muram dan perasaan tertekan seperti berada di dunia tua yang akan kiamat kini lenyap. Warna kehidupan terlihat sudah.


Sementara itu, bintang-bintang dan bulan sabit memberi cahaya di Padang Tengkotak sehingga kesan sebagai Padang gersang mematikan telah berganti dengan penampakan rumput-rumput segar, semak-semak belukar, Pohon Berry rendah dan Kastanye terlihat hidup.


"Mungkin nama Padang Tengkorak sudah saatnya diganti dengan nama yang lebih indah" kata Sima Yong.


******


Dua minggu lebih perjalanan penerbangan mereka melintasi ujung Realm ini, pada akhirnya tiba di Kota dimana Kaum Peri tinggal.


Pohon-pohon hijau nan rimbun dengan ujung-ujung tajam, berlatar belakang asap mengepul dari rumah-rumah penduduk, sementara matahari terbenam memendar jingga di langit Barat.


Mismaya gadis Peri itu mencucurkan air mata ketika pada akhirnya si tuan muda bersama Teci si Griffin mengucapkan selamat tinggal. Mismaya memeluk dua orang itu dengan erat-erat.


Sementara Sima Yong menghibur Mismaya, bahwa kelak dia dengan sang Griffin akan datang mengunjungi gadis Peri itu di kota Klan Peri.


Sima Yong menyisipkan 1 cincin


yang berisi banyak sekali elixir alat transaksi peringkat tinggi, yang ketika diperiksa oleh Mismaya, membuat gadis itu tercengang.


Dengan air mata yang bercucuran dia mengucap terima kasih sedalamnya, kepada anak muda yang kini telah menghilang di balik pohon- pohon rimbun Hutan Misteri.


Sesungguhnya jauh dilubuk hati gadis peri itu, dia memendam rasa suka yang dalam kepada tuan muda nya. Akan tetapi Mismaya sadar. Hal itu amatlah tidak mungkin. Derajat si anak muda terlalu tinggi, jauh di atas langit, untuk tak mungkin digapai.


Kelak..

__ADS_1


Mismaya akan membuka satu perusahaan yang menjual barang-barang ajaib dan bahan- bahan alkemia. Dia menggunakan relasi nya seperti kakek sendok madu di kota Beruang, Alkemis Alrin di Kota Terminus dan Toko Alkimia di Kota Perdamaian bernama Asosiasi Cemara Angin.


Di masa depan, ketika waktu berlalu dan tahun berganti, di kota Kaum Peri itu terdapat sebuah asosiasi perdagangan yang sangat hebat dan memiliki nama yang disegani di seluruh Realm Magical Beast ini. Asosiasi itu bernama Asosiasi Tuan Yong, yang kepemilikannya adalah seorang peri bernama Mismaya.


******


Saat ini sang Griffin bersama dengan anak muda terlihat terbang tinggi di angkasa. Mereka melintasi tempat tinggal Suku Jinsi, terus memotong Pegunungan Hantu.


Setelah melewati perbatasan Wilayah selatan dengan Barat Daya, mereka kini terbang melintas padang rumput, dimana terlihat anak-anak gembala kambing dari negeri Tanaman Obat, melambaikan tangan dan berlari-lari gembira mengejar mereka.


Sima Yong memang sengaja meminta agar Griffin melakukan penerbangan rendah ketika melintasi Negeri tanaman obat, dia ingin melambaikan tangan kepada para anak-anak penggembala kambing itu, yang mengingatkan nya dengan Dewa Puncak Himalaya dan Relikui Busur Klan Kurcaci.


Terbang Beberapa hari, kemudian mereka memasuki kawasan Hutan Willow,


yang adalah hutan di Kawasan Barat Benua Silver.


Pemandangan hutan yang membosankan seperti tidak pernah berakhir itu, pada akhirnya beberapa hari kemudian kedua orang itu, Griffin dan Sima Yong melihat titik-titik cahaya rumah-rumah, pertanda bahwa Kota Bintang Jatuh, satu kota yang terletak di Penghujung dunia. telah tampak di depan mata.


Tak lama kemudian dua orang itu tiba di wilayah yang disebut dengan Domain Elf Abu-abu. Akan tetapi penglihatan kini atas domain yang dulunya begitu agung, menimbulkan hasrat untuk jago-jago muda, jenius-jenius Wilayah Barat.


Ketika ini semua semua orang berlomba-lomba menggali dan menjarah warisan-warisan berharga itu, dimana keadaan domain terlihat mengalami kebocoran, dan banyak sekali penjarahan terjadi.


Beruntung sekali patung Elf raksasa itu masih tetap berada pada tempatnya. Mungkin karena patung yang begitu berat dan tak mungkin untuk diangkat dan dibawa pergi, sehingga penjarah-penjarah enggan untuk membawa benda purbakala itu.


Tatkala Sima Yong membuka portal di patung itu seketika arus pergerakan antariksa meluap.


Sima Yong menunjukkan jalan di aliran arus antariksa bagi sang Griffin. Hingga pada akhirnya di satu titik yang telah ditandainya, Sima Yong mengalirkan Energi Hawa Murni guna menghentikan pergeseran arus.


Ketika arus pergerakan itu terhenti sejenak, dia bersama sang Griffin melompat memisahkan diri dari aliran yang bergerak itu, masuk ke dalam suatu dunia tersendiri.


Griffin terperangah melihat dunia yang berwarna merah itu. Keduanya lantas melakukan perjalanan cepat menuju ujung Dunia Merah.


Griffin kembali terbelalak dengan mulut terbuka lebar melihat pemandangan indah dan ganjil itu. Itulah tempat yang penuh dengan tanaman bunga mawar merah dengan hiasan ribuan peti jenazah.


Guardian tua yang berpenampilan rapuh itu tampak berdiri di depan kastil, dengan senyum tipis menghias wajahnya, seolah-olah dia berkata "Selamat datang kembali" kepada anak muda itu.

__ADS_1


Bersambung


Dear pembaca, mohon untuk dukungan memberi like dan auto favorit novel ini agak membuat author meneruskan berkarya dengan novel lanjutan RDRP ini. Terima kasih <3


__ADS_2