Raja Dari Raja Pedang

Raja Dari Raja Pedang
Malam Yang Panjang Di Gurun Walapra


__ADS_3


  Kelompok Seni Kembara Dunia adalah satu kelompok seni yang sering bepergian demi pertunjukan seni, areanya adalah dari kota ke kota di berbagai tempat di Realm Magical Beast ini. Fokus utama pertunjukan seni kelompok ini adalah mementaskan pertunjukan seni kelas atas pada panggung-panggung hiburan terbatas bagi kalangan istana, bangsawan maupun hartawan.


   Baroma Lam adalah seorang laki-laki keturunan Ras Burung Kinnara. Perlu diulangi disini bahwa Kinnara adalah makhluk Surgawi berwujud setengah manusia dan setengah burung di dalam mitology agama-agama tertentu di Asia, khususnya tertulis di banyak cerita dan di dalam kisah-kisah mitology di Asia Tenggara (termasuk Indonesia, tertuang di beberapa pahatan Candi Borobudur).


   Bersama dengan kelompoknya yang memiliki bintang utama, seorang gadis juga keturunan ras Kinnari (jika berjenis kelamin perempuan, makan Kinnara di sebut Kinnari) bernama Sumniang, Kelompok Seni Kembara Dunia ini meninggalkan Kota Terminus dan bertualang menuju Kota Perdamaian. Kabar berita mengatakan bahwa kelompok seni Kembara Dunia ini berkunjung ke Kota Perdamaian, demi memenuhi undangan Empat Klan Penguasa Mata Angin di Kota Perdamaian (penjelasan 4 klan penguasa mata angin ini akan author paparkan di baian lain).


   Kelompok seni Kembara Dunia ini selain bepergian mengandalkan Sumniang si gadis Kinari sebagai bintang utama, juga terdapat beberapa biduan dan artis lain dari keturunan ras unggas yang memiliki keahlian akrobatik atau ahli-ahli seninsuara, yang memiliki suara merdu. Misalnya seperti seorang penyanyi dari keturunan Burung Bulbul bernama Yoshodevi.


Namun biar bagaimanapun, keturunan Kinnari perempuan itu (Sumniang) tetap yang menjadi bintang utama dari kelompok seni mereka.


   Sumniang adalah gadis yang amat trampil di dalam Seni membuat Syair, bahkan menulis syair dan puisi. Dia juga seorang seniman yang ahli memainkan alat musik seperti Guzheng dan seruling. Dalam hal ini, terlebih lagi dalam hal bernyanyi dan menari, karena inilah modal utama gadis itu.


Tak salah jika sebagai keturunan Kinnari, Sumniang amatlah laris sebagai penghibur seniman dan namanya amat terkenal di kalangan bangsawan istana atau hartawan dan orang terpandang di Realm ini.


   Gadis Kinnariini memang memiliki wajah yang sangat cantik, halus tutur katanya, serta berperilaku dan tata cara sehari-harinya terkesan layaknya seorang wanita bangsawan dari alam surgawi saja.


Sebagai Keturunan Kinnari yang memiliki bentuk badan setengah unggas, Sumniang tidak berminat mengubah bagian bawah tubuhnya menjadi utuh layaknya manusia.


Dia membiarkan saja bagian bawah tubuhnya tetap terlihat seperti angsa yang terbungkus busana indah, dan membuat keseluruhan penampilan Sumaniang semakin mewah namun bersahaja. Hal itu malahan membuat dia terlihat unik ketika bernyanyi, dan membuat banyak oran tergila-gila dan mengajak gadis itu untuk menikah. Namun Sumniang lebih mencintai dunia seni dan rela mengembara untuk pertunjukan-pertunjukan spektakuler


   Dalam kisah sebelumnya, Sumniang ini pernah berjumpa dengan Sima Yong dan Mismaya di salah satu resto ternama Kota Terminus (mungkin di novel sebelumnya berjudul Kisah Dewa Pedang Utara, bab-bab akhir)

__ADS_1


   Nah di dalam perjalanan darat mereka ini - Sebagai keturunan Kinnara, Baroma Lam si pemimpin Kelompok Seni Kembara Dunia itu, tidak dapat terbang terlalu lama seperti layaknya ras unggas lainnya yang memiliki karakter dan garis darah sebagai petarung udara. Keturunan Kinnara memang berbentuk mirip unggas, namun sayap mereka lebih banyak di gunakan sebagai penghiasa semata.


   Oleh karena itu, perjalanan menuju Kota Perdamaian dilakukan menggunakan jalan darat, dengan menggunakan kereta kuda dan hewan penjelajah gurun seperti unta misalnya. Di dalam kelompok seni itu, Baroma Lam mempekerjakan Lima Ahli Beladiri dari Ras Unggas Armadyl yang memiliki kultivasi Alam Tanpa Batas peringkat menengah hingga puncak.


   Kreruk, Obydas, Epre, Hobahinh adalah Cultivator beladiri dari Ras Armadyl jenis kelamin laki-laki, sedangkan satu-satunya wanita diantara cultivator pengawal Armady ini bernama Astithi.


   Sebagai keturunan Armadyi, yaitu Dewa keadilan dan Pelindung Unggas, kelima cultivator ini sangatlah membantu perjalanan Kelompok Seni Kembara Dunia, dari kaum pencoleng atau perampok yang mencoba membegal mereka selama perjalanan bertahun-tahun.


   Akan tetapi pada malam itu, ketika mereka melintasi Gurun Pasir Walapra, suatu gurun tiada berpenghuni sebelum mencapai Kota Perdamaian, secara tiba-tiba mereka diserang oleh sekelompok makhluk yang mengenakan kain hitam, serta menyamarkan wajah mereka dengan menggunakan kerudung berwarna gelap.


   Pada awal-awal ketika kelompok perampok yang terdiri dari tiga sosok itu mencoba menyerang Kelompok Kembara Dunia, dengan mengejutkan mereka lantas terdesak dengan perlawanan dari lima Cultivator Ras Armadyl, yang memang rata-rata sangat berpengalaman di dalam pertempuran, termasuk pertempuran di malam hari.


   Kelompok perampok yang terdiri dari tiga sosok ini, seketika menjadi kepepet, tatkala lima cultivator Armadyl mengurung mereka dalam formasi Teknik Pedang Perang yang menjadi andalan ras Armadyl.  


   Melihat gelagat tidak menguntungkan seperti itu, secara tiba-tiba tiga orang perampok itu bernyanyi dalam bahasa yang aneh serta terdengar dalam bahasa yang asing. Dengan melempar semacam katalisator berupa bom kecil yang menimbulkan kepulan asap, keadaan pertempuran itu langsung berubah dengan cepat.


   Lima cultivator dari ras Armadyl itu dengan cepat di bawah tekanan tiga cultivator asing tersebut, karena gerak kecepatan tempur orang-orang ras Armadyl itu menjadi lambat.


"Sihir !. mereka menggunakan sihir !" teriak Orres, satu-satunya Cultivator perempuan dengan peringkat Alam Tanpa Batas bintang tujuh.


"Kekuatanku melemah, seolah-olah semua energi Qi ku melambat dan di sedot oleh asap hitam yang ditembakkan tiga penjahat itu" semakin panik Orres berteriak.


   Sesungguhnya bukan hanya Orres seorang yang terdesak dan mengalami hal yang sama. Empat kawannya masing-masing Kreruk, Obydas, Epre dan Hobahin juga mengalami hal yang sama.

__ADS_1


   Bahkan bukan hanya energi Qi mereka yang tersedot dan melemah saja. Di Dalam pandangan mereka, empat kawan Orres itu melihat tiga sosok berkerudung itu kini berubah menjadi raksasa, dengan badan setinggi dua puluh tombak, yang menjadi makin ganas meninju kearah mana mereka berada, menimbulkan dentuman dan ledakan pasir dimana-mana.


"Itu sihir ilusi" desis Kreruk, cultivator Armady yang memiliki kultivasi tertinggi.


"Tutup mata kalian dan jangan melihat ilusi itu. Bertempur dengan mendengar suara gerakan mereka saja" bisik Kreruk kepada empat kawannya yang lain.


   Anehnya, semua gerakan atau tindakan tiga penjahat itu sama sekali tidak pernah bersuara sama sekali atau apapun itu dalam berkomunikasi. Mereka bertempur dalam diam, seolah-olah merasa takut kalau-kalau identitas mereka akan ketahuan, jika bersuara.


   Pertempuran sengit itu berlangsung lebih dari sepeminum teh. Kini lima cultivator Amardyl kian terdesak di dalam ilusi sihir yang diciptakan oleh Tiga Ahli berkerudung gelap itu.


Sreet - sreet !


   Dua kali goresan cakar yang mengandung energi racun, menggores tubuh Krekruk, si Armadyl berperingkat paling tinggi diantara empat cultivator lainnya yang menjadi pasukan pengawal Kelompok Seni Kembara Dunia.


Buk ! Tubuh Krekuk jatuh dalam keadaan tak bernyawa, dan disusul bunyi sabetan cakar beracun lainnya dari kelompok lain perampok berkerudung gelap itu.  Empat Cultivator Armadyl semakin lemah daya juangnya setelah melihat kematian Kreruk dalam pertempuran itu.


   Ditambah lagi sebagian besar energi Qi mereka seolah terserap dan di blokir asap hitam ilusi itu, maka tidak membutuhkan waktu yang lama ketika Obydas, Epre, Hobahim dan Orres meregang nyawa di tangan dua sosok bertudung gelap itu.


   Keadaan menjadi semakin mencekam, ketika Sumniang melihat salah satu dari sosok bertudung itu mengiris tangan orang Armadyl yang telah menjadi mayat, lalu menyantapnya seperti kelinci menyantap sayuran.


   Kontan saja Sumniang berteriak sekeras-kerasnya, suaranya terdengar kemana-mana meskipun dengan cepat ditelan angin gurun. 


Bersambung

__ADS_1


   Dear pembaca, mohon untuk dukungan memberi like dan auto favorit novel ini agak membuat author meneruskan berkarya dengan novel lanjutan KDPU ini. Terima kasih <3


__ADS_2