
Acara Perburuan Malam untuk jenius-jenius dari Kota Perdamaian telah berakhir. Semua ahli-ahli muda yang masih hidup, dan yang keluar dari domain Reruntuhan Kuno, pulang dengan sukacita membawa berbagai macam reward atau hadiah yang diperoleh dari akhir acara, ketika berlutut dan bersujud kepada leluhur dan para pendahulu penghuni Realm Magical Beast di Aula Terakhir.
Sesungguhnya semua hadiah, baik senjata maupun teknik yang di bagikan di Aula Terakhir, adalah datangnya dari semua ahli-ahli terdahulu di negri itu yang memang sengaja di kumpulkan untuk masa depan, lalu di bagikan kembali kepada generasi muda di masa datang. Jadi ceritanya adalah sebagai berikut.
Ribuan bahkan belasan ribu tahun yang lalu, adalah Tiangou, suatu roh anjing hitam raksasa yang tinggal di Kahyangan, yang merupakan teman Dewa Er Lang - keduanya penjaga pintu gerbang Istana Langit, Tiangou ini memilih tinggal di dunia bernama Realm Magical Beast.
Sebagai makhluk yang berasal dari Kahyangan, tentu saja Tiangou ini memiliki banyak sekali trik dan pengetahuan yang disimpan di lengan bajunya. Pertama-tama adalah seorangan praktisi dari ras tidak ternama, yang mengalami penindasan dari ras lainnya dan berniat bunuh diri di tepi jurang yang dalam, di Hutan Bisikan Mimpi dekat Bukit Sihl.
Tiangou itu menyapa pria yang berniat membunuh diri kedalam jurang dan membujuknya untuk tidak mengakhiri hidupnya dengan sia-sia. Ketika Tiangou bertanya alasan pria itu ingin mengakhiri hidupnya, sambil menangis pria tersebut mengisahkan tentang ras minor dia yang ditindas bahkan orang-orang terkasihnya, harus menemui ajal di tangan kelompok ras dominan di Realm Magical Beast, kala itu.
Tiangou kemudian membujuk si pria, dengan iming-iming akan memberikan petunjuk dalam bidang seni beladiri, sehingga pria itu dapat meningkatkan kemampuannya, lalu membalaskan dendam atas kematian orang terkasihnya.
"Akan tetapi seperti yang kamu ketahui, aku memiliki syarat yang harus kamu penuhi. Setiap pertukaran dan pemberian nasihat-nasihat untuk mencapai kemajuan seni bela dirimu, maka kamu harus memberikan satu teknik pukulan, atau teknik pedang, atau teknik senjata, bahkan teknik seni dan kesusastraan kepadaku. Dan semua itu haruslah suatu teknik pamungkas, atau seni terbaik yang dimiliki kamu.
Karena kelak, semua ini akan dikembalikan lagi ke penghuni di Kota Perdamaian, dalam suatu event yang akan aku pikirkan nanti, yang menurutku akan diselenggarakan secara rutin di Kota Perdamaian ini"
Sepakat dengan syarat yang diajukan, pria tersebut memberikan satu teknik seni meniup seruling, yang menjadi seni turun-temurun di Klan ras burung pria tersebut. Sebagai keturunan dari ras burung kenari yang memiliki suara indah dan ahli memainkan musik, teknik yang diberikan adalah salah satu teknik bersuling yang menjadi rahasia di klan ras burung kenari.
Setelah menerima buku dari Tiangou dan melatih dirinya sesuai penjelasan di buku, pria malang dari Klan Burung Kenari melakukan balas dendam dan menghabisi orang-orang di klan yang menjadi musuh nya.
Kemudian kabar berhembus dan menceritakan kemampuan Tiangou yang selalu memberikan saran atau nasihat perbaikan teknik-teknik tertentu, membuat Tiangou ini selalu dicari-cari oleh para ahli.
Waktu berlalu dari bulan ke bulan, tahun ke tahuan ratusan tahun bahkan ribuan tahun, maka semua pengetahuan dan berbagai teknik yang dikumpulkan Tiangou ini semakin banyak lalu dia memikirkan bagaimana caranya menyalurkan semua warisan yang berlimpah ini, kembali kepada ahli-ahli dan jenius di Realm ini.
Setelah memilih namanya menjadi Yamazaki Takejiro, Tiangou yang dikenal umum sebagai Kotengu atau Tengu ini mengadakan acara lima tahunan yakni Perburuan Malam di Kota Perdamaian. Setiap peserta yang berasal dari Klan-klan ternama di Kota Perdamaian berhak untuk memperoleh warisan yang akan diberikan oleh Tiangou atau Pertapa Tengu ini dengan cuma-cuma.
Saat itu di balik sebuah lukisan di dinding Aula Terakhir, di dalam perut bumi reruntuhan kuno, Sima Yong terlihat sedang duduk dalam posisi lotus dan bercakap-cakap dengan Pertapa Yamazaki Takejiro.
__ADS_1
"Jadi aku akan menurunkan petunjuk tentang suatu seni pedang, yang belum pernah aku turunkan kepada siapapun.
Tentu saja, kamu seharusnya telah tahu bukan? setiap pertemuanku dengan ahli-ahli baik seni maupun beladiri, ketika mereka meminta petunjuk dari ku, maka sudah seharusnya orang yang menerima petunjuk itu harus menyerahkan salah satu teknik terbaiknya sebagai syarat tukar menukar yang adil" kata Yamazaki Takejiro.
"Tentu saja, pertukaran teknik ini adalah diluar dari salinan teknik yang telah aku berikan terlebih dahulu 'Pengetahuan Siklus Abdi dan Kebenaran' suatu pemahaman untuk mencapai Immortality dalam kekuatan jiwa"
Sima Yong mengiyakan. Dia sesungguhnya telah meminta agar Pertapa Yamazaki Takejiro itu, menurunkan suatu Teknik Pedang kelas atas, guna melengkapi kultivasi dan kekuatan fisiknya yang tinggi di ranah Alam Melintas Immortal level menengah. Pertapa Yamazaki mengiyakan untuk memberikan teknik terbaik dalam seni permainan pedangnya, namun Sima Yong wajib menyerahkan suatu salinan yang tidak kalah dahsyatnya dibanding teknik pedang itu.
Sima Yong lalu menyerahkan salinan penguasaan Chakra Angin yang dikenal dalam buku karya Bianfu Wang atau Raja Kelelawar di Benua Penyaringan Dewa, pada buku sebelum novel ini. Kita semua tahu, bahwa pengenalan Sima Yong dengan teknik chakra, adalah teknik angin badai yang dia sebut Chakra Bianfu itu.
Pertapa Yamazaki memeriksa slip giok yang berisi salinan penguasaan dan pengendalian Chakra Angin Badai itu menggunakan benaknya. Beberapa saat setelah dia puas dan menyatakan salinan ini adalah asli yang ditulis ulang, dia pun berkata.
"Aku melihat dirimu telah mencapai kultivasi tinggi di ranah Alam Melintas Immortal menengah - yang sulit dicari tandingannya di Tanah Magical Beast ini.
Bahkan menurutku, diluaran sana, di seluruh Benua Silver ini, anda tidak memiliki tandingannya" Kata Yamazaki Takejiro.
"Oleh karena itulah, hamba meminta kiranya senior memberikan petunjuk kepadaku tentang pengetahuan dan seni pedang tertinggi.
Dalam waktu dekat ini, hamba berniat untuk mengunjungi Bukit Sihl dan bertarung melawan makhluk Bijuu berekor delapan yang dikenal bernama Yamato no Orichi" kata Sima Yong memberi penjelasan.
Yamazaki Takejiro mengerutkan keningnya, di berkata pelan..
"Aku tidak menyangka kalau kau memiliki dendam dengan mahluk sakti itu" kata pertapa Yamazaki.
Sambil membungkuk memberi hormat, Sima Yong memberi penjelasan detail..
"Sesungguhnya, hamba memiliki niatan untuk memperoleh Relikui ajaib peninggalan Patriark dari Klan Bangau Berkaki Satu, guna melengkapi semua relikui yang telah hamba serap, untuk menerobos ke peringkat Immortal dari seni beladiri" kata Sima Yong mantap.
__ADS_1
Pertapa Yamazaki manggut-manggut lalu berkata.
"Jikalau demikian adanya, aku berpikir teknik terbaik yang pantas untuk mu adalah Seni Pedang khusus yang bernama Sembilan Langkah Pedang Tanpa Tanding"
"Aku berharap kamu akan tekun dan sabar melatih diri dalam dua teknik yang berbeda ini yakni Pengetahuan Siklus Abadi dan Kebenaran yang melatih kekuatan magis menembus peringkat Immortality, dan juga berlatih teknik pertempuran fisik dengan Sembilan Langkah Pedang Tanpa Tanding.
Pertapa Yamazaki lantas berdiri dan mengambil kuda-kuda. Tangannya terlihat kosong dan tidak memegang apa-apa, namun dia bersikap seolah-olah dirinya memegang senjata pedang. Katanya..
"Pada akhirnya, ketika kamu mencapai level tertinggi dari Sembilan Langkah Pedang Tiada Tanding ini, pedang atau apapun namanya senjata itu, tidak akan berarti lagi di tanganmu.
Namun karena kamu masih awal dengan teknik ini, maka aku mengijinkan kamu untuk menggunakan pedang sebagai senjata berlatih" kata Pertapa Yamazaki.
"Kekuatan dari teknik ini adalah pada kecepatan dan penguasaan element tidak berbentuk" kata Yamazaki.
Pertapa Yamazaki lantas bergerak pelan, dalam gerakan aneh dan tidak beraturan, bahkan di mata orang awam, apa yang dia lakukan adalah suatu gerakan kacau yang mirip gerakan orang mabuk, sembarangan memukul dan menebas seolah-olah memegang satu pedang di tangan.
Namun akibat dari gerakan yang dilakukan Pertapa Yamazaki tadi, Sima Yong bahkan merasakan hawa pedang yang jauh lebih mematikan dari pedang manapun yang pernah digunakan di dalam pertempuran. Sima Yong menatap Pertapa YAmazaki yang bergerak tadi beraturan, dan kadang-kadang mulutnya mengucapkan rangkaian teknik pedang, semua dalam gerakan tidak berurutan.
Misalnya ketika Pertapa Yamazaki mengatakan bahwa ini adalah teknik nomor dua, selanjutnya dia melakukan eksekusi gerakan pedang di teknik nomor lima- yang artinya nya seperti kacau tidak teratur.
Namun adrenalin Sima Yong seketika meningkat, rasa enthusiasm nya naik tinggi ketika mengamati gerakan-demi gerakan tidak teratur dan tak berurutan itu. Kadang kala mulutnya mengeluh pelan ketika teknik yang di peragakan Pertapa Yamazaki berubah dengan hawa pedang mengerikan. Terkadang pula dia ikut berdiri dan bergerak-gerak meniru gerakan yang diperagakan Pertapa Yamazaki.
Sima Yong larut di dalam candu akan pelajaran pedang tanpa tanding ini, sehingga lupa dengan waktu, lupa makan dan lupa akan segala-galanya. Begitulah memang jika seseorang yang telah mendedikasikan hidupnya bagi seni bela diri, terkadang mereka sampai lupa dengan segalanya, dan hanya larut di dalam kenikmatan mempelajari dalam-dalam suatu teknik, dan makin lama semakin tercandu.
Bersambung
Dear pembaca, mohon untuk dukungan memberi like dan auto favorit novel ini akan membuat autor lebih bersemangat meneruskan penulisan novel ini dengan ide-ide yang lebih menarik lagi tentunya.
__ADS_1