
Langit di Padang Gurun Terkutuk makin beranjak tinggi. SInar matahari yang pada mulanya masih malu-malu, kini terlihat terang benderang, Namun kilauan cahaya matahari pagi tidak secemerlang satu kelebatan pedang, beraura mematikan yang dikerahkan dengan rapalan mantra seorang praktisi SAGE.
"Tebasan Pedang Maut !"
Pedang berkilauan itu mengunci dada Tuan Fei Ma, bersiap untuk membongkar isi dada pria itu.
Tuan Fei Ma tidak terlihat menjadi gugup. Tangan kanannya lantas meng-ayunkan Pedang Roh Peringkat Kuasi Immortal - . Tsing !
Suara dengungan pedang Kuasi Immortal terdengar, dan semua orang menutup telinganya, tak sanggup mendengar suara menyerupai gong di malam sepi. Dunia seakan melambat, nyaris berhenti.. ketika pedang kuasi immortal miliki Tuan Fei Ma menerobos lurus, membuyarkan semua hawa pedang Tian Cheng.
"Tak mungkin !. Pedang apa itu?" hati Tian Cheng tercekat, tapi tak dapat menarik mundur sodokan pedangnya. Benturan antar dua pedang itu tak dapat dihindari.
Sekali lagi dengan tatapan ngeri, semua penonton memandang di angkasa, di mana dua pedang itu bertemu..
Duarr !
Percikan api, lidah api besar bahkan pasir berhamburan membongkar tanah berpasir di kaki tempat mana kedua SAGE itu bertempur. Penonton berlarian makin menjauh dari area arena. Keadaan seperti kacau balau.
Meskipun demikian, dua SAGE yang bertempur di udara itu tidak memperdulikan apapun yang ada di sekitar. Yang ada di pikiran mereka adalah menang dengan menggunakan teknik apapun. Dan dalam hal ini nyawa adalah taruhan duel itu. Hilang sopan santun dan basa-basi, karena pemenang adalah raja dan yang kalah adalah pecundang.
Dalam pertempuran itu, Tuan Fei Ma sangat banyak terbantukan dengan dua senjata peringkat Dao dan Kuasi immortal. Pedang Kuasi Immortal itu menambah kekuatan hawa murni Tuan Fei Ma sebanyak puluhan juta jin, sehingga dia dapat melayani Tian Cheng. Belum lagi pecut di tangan kirinya yang berulang kali mengirimkan energi panas, mengandung api.
SAGE level dua melawan SAGE level empat itu pada akhirnya menjadi seimbang. Dua kubu, negeri utara dan dataran tengah terlihat mulai was-was. Yang Utara diam-diam berharap banyak bahwa Tuan Fei Ma memenangkan duel pedang itu, sementara kubu Dataran Tengah berharap cemas, akan kemenangan Tian Cheng.
Meskipun waktu berjalan dengan sangat lambat, namun pada akhirnya matahari harus menyerah, dengan memasuki peraduannya, meninggalkan jejak-jejak jingga di langit barat. Akan tetapi pertempuran antara dua SAGE itu belum juga menunjukkan tanda-tanda siapa yang akan memenangkan pertempuran. Ribuan jurus pedang telah berlalu dan kedua SAGE itu semakin ganas terlihat.
__ADS_1
Duar !
Kembali dua pedang itu saling bertemu, ujung dengan ujung, menimbulkan percikan api besar di langit Gurun Terkutuk yang mulai gelap, terlihat indah namun sesungguhnya amat berbahaya dan mematikan.
Dua SAGE itu sama-sama terlempar ke belakang, sejauh dua puluh tombak. Keringat bercucuran di wajah mereka, pakaian mereka telah compang-camping, luka-luka goresan pedang terlihat di wajah maupun tubuh, berbaur dengan keringat sehingga tak diketahui lagi, mana air keringat dan mana darah. Semua berwarna merah.
"Apakah anda masih ingin melanjutkan? tanya Tuan Fei Ma" sambil ngos-ngosan. Dia terlihat memasukkan beberapa pil sekaligus kedalam mulutnya.
Sementara Tian Cheng juga tidak lebih baik daripada Fei Ma. Wajah dan tubuhnya penuh guratan pedang, bajunya compang-camping terbakar api dari pecut yang dilepaskan Fei Ma.
"Aku berpikir, mungkin kita dapat melanjutkan esok hari, ataukah pertarungan ini akan kita anggap seri saja?" tawar Tian cheng menatap mata Tuan Fei Ma.
Sesungguhnya Tian Cheng sendiri sangat kelelahan. Pria bernama Fei Ma itu betul-betul lawan tangguh yang pernah dia dapati selama karir sebagai ahli pedang. Bahkan dia harus mengakui bahwa meskipun memiliki kultivasi di bawah dirinya, namun stamina Tuan Fei Ma terlihat amat alot.
Tian Cheng memperhatikan, Tuan Fei Ma berulang kali menelan pil demi pil dengan borosnya, dan berdampak tenaganya tak pernah berkurang sedikitpun sejak awal duel itu. Sementara Tian Cheng sendiri, meskipun di bekali dengan pil-pil alkimia pengembali energi, namun efeknya tidaklah sehebat stamina Tuan Fei Ma..
Jika aku memaksakan diri untuk melanjutkan pertempuran melawan dia, yang ada aku akan mendapat malu. Kekuatanku menurun pelan dan pasti. Beda hal nya dengan tuan Fei Ma itu"
Beruntung bagi Tian Cheng. Tuan Fei Ma menerima tawarannya dan menganggap pertarungan mereka seri. Tian Cheng menarik nafas lega, karena pada akhirnya dia terselamatkan dari kekalahan karena kehabisan energi. Semua pil yang dibawa dari sekte nya tak ada artinya dibanding pil yang diminum Tuan Fei Ma yang kelihatannya tetap dalam kondisi fit seperti awal-awal duel.
Dengan berakhir seri pertarungan itu, meskipun merasa dikeroyok beramai-ramai, negeri-negeri utara diam-diam merasa bangga. Perwakilan mereka memenangkan dua pertarungan, dan satu pertarungan seri.
Namun walaupun demikian, tidak ada seorang yang berani terang-terangan menunjukkan kegembiraan itu. Mereka sadar, diantara tiga wilayah besar yang menjadi lawan, dua wilayah yakni Timur dan Barat amat membenci mereka. Sementara kelompok dari Dataran Tengah, adalah orang-orang yang tidak dapat ditebak arah mana mereka akan memihak.
Jiang Fai - alkemis dari Balai Harta Kota Azalea, yang adalah murid dari Sima Yong dan hal seni alkimia, buru-buru mendekati Tuan Fei Ma dan melihat kondisi pria itu. Sementara Wan Hui yang kini telah menjadi asisten Alkemis Jiang Fai, mengeluarkan obat-obatan yang langsung di pegang Alkemis Jiang Fai.
__ADS_1
Diam-diam Mao Lao Gao dari kejauhan memperhatikan Jiang Fai dengan seksama. Dia terkejut ketika memeriksa kekuatan Alkemis Jiang Fai..
"Master Jiwa SAINT level dua dan Alkemis Peringkat Sepuluh?"
Mao Lao Gao betul-betul terkejut. Dia tak menyangka sama sekali, di utara sana ada seorang Alkemis di peringkat sepuluh. "Mengapa aku baru ini melihat nya?" batin Mao Lao Gao penasaran. Seketika semua pertanyaan di dalam hatinya terjawab sudah. rupa-rupanya alkemis itulah yang menjadi kartu truf negeri-negeri di utara mencapai kultivasi peringkat tinggi dalam beberapa tahun belakangan ini.
"Aku harus menculik alkemis itu untuk dipekerjakan di Klan Barat kami" batin Mao Lao Gao licik. Keinginannya selain memperoleh gelar Dewa Pedang Benua Silver, kini bertambah dengan memiliki Alkemis Jiang Fai.
Mao Lao Gao sesungguhnya tak perlu repot-repot berpikir macam-macam untuk menculik Alkemis Jiang Fai untuk kepentingan pribadi. Disisi lain di bagian timur, Dong Bai san Raja Pedang Timur juga menatap Alkemis Jiang Fai dalam-dalam. Rencana busuk segera terancang dalam hatinya.
Yang Xiansheng si Raja Pedang Dataran Tengah, tentu saja juga teralihkan perhatiannya akan Jiang Fai sang Alkemis. Dia memperhatikan dari jauh, ketika Alkemis itu meletak kan tangan dan menjahit kembali luka-luka pedang di wajah dan sekujur tubuh Tuan Fei Ma.
"Dia bahkan seorang Healer (penyembuh) roh yang handal" batin Yang Xiansheng dengan raut wajah yang sukar di tebak.
***
Malam telah menjelang, kentongan ketiga dibunyikan dan diteriakkan petugas malam keras-keras. Namun semua orang tak dapat menutup mata barang sekedip. Semua waspada akan serangan tiba-tiba dari pihak lawan.
Ketika itu langit terlihat bersih. Bahkan awan-awan gelap berlari pergi, meninggalkan langit biru pucat bercampur gelap. Lamat-lamat terdengar suara pekikan seperti suara gajah dan suara burung. Orang-orang yang penuh rasa waspada itu menengadah dan melihat ke arah bulan berbentuk setengah sabit.
Sosok seekor gajah yang amat besar terbang dari arah bulan sabit, diiringi pekikan burung besar yang juga tak mau kalah kerasnya, memekik memecah malam yang sepi..
"Seekor gajah dan seekor Burung Phoenix?" semua mata terbuka lebar-lebar menyaksikan makhluk legenda yang baru sekali itu mereka lihat.
"Gajah suci Airavata dan Burung Phoenix !" teriak orang-orang berulang kali. Makin lama makin keras dalam suara gegap gempita.
__ADS_1
Bersambung
Dear pembaca, mohon untuk dukungan memberi like dan auto favorit novel ini akan membuat autor lebih bersemangat meneruskan penulisan novel ini dengan ide-ide yang lebih menarik lagi tentunya.