
Pagi berlari cepat menuju siang. Lalu siang berlalu lebih cepat seperti pelari , dan tak lama kemudian senja mulai datang, suhu mulai turun.
Langit belum lagi gelap, terlihat berwarna kuning bercampur jingga, burung-burung malam mulai terbang mencari-cari mangsa dan mahluk-mahluk malam memperdengarkan suara-suara alam wajtu malam.
Si anak muda yang ketika tadi pagi telah membuat delapan lubang di tanah pegunungan Sihl itu, secara tiba-tiba melayang
turun dari langit, dengan gerakan indah seperti dewa-dewa. Tak lam kemudia, dari dari cincin penyimpanan nya, dia menuangkan bergentong gentong cairan ke dalam delapan lubang kolam yang dibuat nya pagi tadi, yang seperti nya cairan dari cincin penyimpanannya seperti tak ada habis-habis nya, mengalir bergantian mengisi delapan kolam.
Jangan pernah berpikir bahwa cairan itu adalah air biasa. Itu adalah cairan khusus, yang ketika kamu mencoba-coba mendekati si anak muda, dan mencba mencium air tersebut, yakinlah seketika itu juga kepala kamu akan terasa pusing. Sesungguhnya air yang dituangkan si anak muda itu adalah ramuan memabukkan, ramuan anggur yang disuling berdasarkan resep dan salinan ramuan jaman kuno, ketika si anak muda berada di kota Biramaki.
Udara kini pekat seperti sup, penuh dengan aroma memabukkan khas minuman anggur dan alkohol yang diracik dengan khusus itu, sengaja di biarkan menyebar kemana-mana, di seluruh Pegunungan Sihl.
Dalam suasana remang-remang, dengan siaa sisa sinar Mentari ufuk Barat, si anak muda itu mengeluarkan satu alat musik yang dikenal sebagai Guzheng. Dia duduk bersila di atas perbukitan batu tertinggi dan mulai memetik lagu lagu merdu.
Irama musik yang membangkitkan semangat dan membuat jiwa terasa memberontak itu mengalir keluar dari petikan Guzheng dengan teknik Musisi Kematian (Tunis iblis).
Dia telh merencanakan untuk memainkan komposisi lagu secara berturut-turut. Mula-mula jari-jari trampil itu membuat petikan nada-nada yang membuat perasaan seperti di permainkan. Irama sedih yang membuat orang merasa rindu akan kampung halaman.
"Ketika musim gugu tiba !"
Satu-satu penonton, mulai berdatangan yaitu hewn-hewan malam, duduk, terpaku memperhatikan baik-baik musik lembut itu.
Selesai dengan komposisi pertama menyusul lagu kedua.
"Musim Dingin di Tebing Fairy Cliff"
Hawa sihir mengalir, membius namun membuat semua pendengar lagu itu merasa hati menjadi kuat, jiwa petarung bangkit.
"Belum juga terjadi sesuatu !" desisnya, ketika dia melirik sekeliling dengan sudut matanya. Sepertinya apa yang ditunggu-tunggu si anak muda belum juga datang. Padahal aroma arak dan anggur demikian membius, pekat memabukkan dan mengundang selera siapapun untuk datang menikmati malam dengan cawan anggur di tangan, diiringi petikan Guzheng profesional.
Si anak muda terlihat tetap bersabar dan melanjutkan memainkan musik Tunis iblis sambi berkata di dalam hati
"Kesabarang pada akhirnya akan berbuah manis.
Aku menunggu kedatanganmu hai makhluk besar" batinnya sambil meneruskan petikan Guzheng.
"Komposisi ke tiga ! Tatkala Musim Semi Datang !"
Seketika hawa sihir yang membawa kehangatan dan menggelitik dantian hingga bergejolak hangat terdengar. Dua Canon yang telah lewat, apakah canon ketiga juga tidak akan mebawa pengaruh? tanya si anak muda di dalam hati.
Tetap di dalam semangat, petikan canon ke empat terdengar ..
__ADS_1
"Musim Panas di Negeri Elf !" kini lagu pamungkas di petik, kekuatan jiwa Immortality langsung menyergap dari benak si anak muda.
Sudah jelas kekuatan musisi kematian bercampur hawa immortality ini tak dapat dibantah, tak dapat lagi ditentang apalagi ditolak oleh siapapun !.
Saat itu, terasa Bumi seperti bumi berguncang. Pohon-pohon bergoyang ke kir dan ke kanan. Inilah saat nya sang buruan, mahluk besar yang diinginkan oleh si anak muda, mulai menunjukkan reaksi.
Tidak ada seorangpun yang dapat melawan kekuatan Immortality di dunia ini. Sesungguhnya Lagu Musim Panas di Negeri Elf itu sengaja di petik dengan menyisipkan kekuatan sang Immortality. Mata si anak muda terbuka ...
"Akhirnya muncul juga kau !"
Lalu .. sebuah suara yang terdengar begitu tua dan lama, suara yang terdengar seakan-akan berasal dari tempat yang sangat jauh dan sangat dalam. Suara yang seperti berasal dari iblis dari neraka. Katanya
"Manusia apa maumu?" belum terlihat apa apa.
"Mahluk besar !sejak senja mulai pegi, aku dengan susahh payah membawa minuman anggur, sengaja mengajak kau untuk minum minum mendengar musik bersama dengan ku. Mengapa kau begitu lama muncul?" kata Sima Yong dingin.
Suaratua itu mendengus..
"Untuk apa kau mengganggu Kesunyian dan ketentraman tempat ini?
Apa maksud tersembunyi mu dengan memainkan lagu-lagu pembetot jiwa itu?
Apa maksud untuk mengisi kolam dengan minuman alkohol itu?" suara itu diam sebentar. Lanjutnya
"Tapi.. aku tidak takut !Telah lama sekali aku berlatuh bagaimana cara kebal dari mabuk arak seperti kealkuan leluhurku" lalu pelan-pelan dari kegelapan malam 8 pasang mata berkilat-kilat, terlihat demikian besar. Menyusul mata menyeramkan itu, muncul suatu mahlu dan memberi Hawa penindasan mengerikan.
Itu adalah delapan kepala ular yang sangat besar sekali. Anak muda itu memperhatikan penampakan mahluk besar itu, tidak takut sama sekali. Dia bahkan memperhatikan, di atas kepala 8 ular itu, terdapat simbol simbol dan lambang kejahatan.
Itulah simbol jiwa, simbol hantu, simbol kejahatan, simbol iblis, simbol dunia kematian dan simbol kehidupan sesudah kematian. Semuanya bercampur menjadi satu di dalam satu badan utuh dengan delapan ekor. Terlihat sangat mengerikan. Dia begitu besar dan serupa dengan makhluk yang datang dari kedalaman neraka dunia saja.
Senyuman tersungging, anak muda itu tidak terlihat takut sedikitpun. Sambil tetap memetik memetik Guzheng di tangannya memainkan Irama Musim Panas di Negeri Elf, dia berkata
"Hehe ... aku juga tidak akan menjadi terlalu bodoh dengan menggunakan trik atau cara-cara yang pernah dilakukan untuk ribuan tahun yang lalu.
Cerita itu bahkan telah menjadi Legenda dan mitos diketahui semua orang. Lalu untuk apa menggunakan trik yang basi seperti itu?" katanya tertawa kecil.
"Dengar baik-baik. Aku datang kesini adalah untuk menantang mu dalam pertempuran hidup dan mati. Aku tahu relikui Patriak Guan telah kau kuasai.
Sebelum kita bertarung, aku mau menghormati mu selaku pemimpin gerombolan Bijuu Benua Timur. Minumlah, nikmatilah. mungkin ini adalah anggur terakhir yang akan kau cicipi di dunia ini !"kata si anak muda menantang.
"Haha..mahluk kecil tak berguna. Ribuan ahli telah datang menantang ku, ingin merebut relikui itu. Dan ka adalah satu-satunya yang paling percaya diri" dia tertawa lalu mendengus dingin.
__ADS_1
Mahluk itu melanjutkan dengan cibiran...
"Kamu hanyalah makhluk kecil tiada arti. Ku pikir kamu cukup berani menantang Yamato no Orichi, sang Bijuu berekor delapan tiada tanding ini..
Baiklah aku akan mengikuti permainan mu" kata Yamato no Orichi arogan.
Ular besar itu pun lantas memunculkan seluruh badannya. Dia sungguh terlihat amat mengerikan. Dengan badan yang penuh dengan lumut-lumut, dan pohon-pohon kecil di sepanjang badannya. Panjang mahlu itu meski tidak seperti cerita, mencapai 8 gunung berjejeran, tapi sepertinya panjang sekali. Lalu masing-masing kepala dari sang Bijuu Yamato no Orochi itu menyesap satu kolam untuk satu kepala ular.
Waktu berlalu lambat namun semua minuman telah habis ditenggak oleh Yamato no Orochi. Si anak muda menghentikan permainan musiknya dan berkata
"Apakah kita telah dapat memulai pertarungan ini?"
Suara yang tua dan kuno itu langsung berkata
"Mari kita mulai !"
Seketika dia mengarahkan semua kekuatannya dari delapan ekornya. Dunia serasa seperti tercabik-cabik, langit terlihat seperti retak dan bumi seolah akan menjadi debu. Saat itu 8 kepala ular tersebut secara bersamaan melompat dan menerkam si anak muda.
Wush !
Anak muda itu hanya mendengus dingin. Dia melambaikan tangannya yang memegang setangkai Meihua, sebanyak delapan kali. Itulah itulah langkah ke-8 dari teknik pedang tiada tanding, suatu teknik yang memiliki 45 perubahan gerakan pedang yang berputar-putar. Langkah kedelapan adalah teknik secara khusus dibuat untuk mengalahkan siapapun yang bertempur menggunakan kekuatan sihir.
8 kembang Meihua jatuh berguguran dari Langit ketika itu juga. Ular raksasa itu terbelah menjadi 8 bagian dengan lehernya terlepas dari badan.
Dunia cepat sekali menjadi hening.
Kekuatan serangan sihir gelap yang digunakan oleh Yamato no Orochi lenyap tak tersiasa, hanya dengan delapan lambaian tangan, suatu teknik Langkah kedelapan Pedang Tanpa Tanding.
"Semua Telah Berakhir ! Pergilah dengan damai !" sekali lagi dia Melambaikan tangan. Lalu api Surgawi hitam itu terlepas dari telapak tangannya, dan percikan api hitam itu
jatuh ke potongan ular kepala delapan, membakar mereka menjadi abu.
Kisah tentang Bijuu berkepala delapan itu berakhir dalam gerakan ke delapan Sembilan Pedang Tada Tanding.
Dari sisa-sisa debu jasad sang ular, sekonyong-konyong satu benda berbentuk jubah panjang, terlempar keluar dan langsung ditangkap oleh si anak muda.
Jubah itu terlihat begitu indah, ditenun menggunakan bulu-bulu burung bangau yang motifnya terlihat hidup. Ukirn sulaman bergambar burung bangau yang terbang menuju Nirwana, terlihat seolah-olah hidup.
Itulah relikui ke-8 yang dimiliki oleh Sima Yong
Bersambung
__ADS_1
Dear pembaca, mohon untuk dukungan memberi like dan auto favorit novel ini agak membuat author meneruskan berkarya dengan novel lanjutan RDRP ini. Terima kasih <3