
"Pergi kau !
Aku peringatkan kepada kau. Kalau sampai aku mengeluarkan pedang dari sarungnya, aku tidak menjamin dirimu masih akan hidup. Pantang bagi ahli pedang Klan Murong untuk menyarungkan pedang sebelum darah tertumpah !" bentak Murong Genji kepada Lebiru Mao.
Dua anak muda calon patriark di Klan Hantu Timur dan Klan Murong itu terlihat saling bertatapan dengan hawa membunuh. Murong Genji mengeluarkan hawan membunuh seorang ahl SAGE level enam, yang dengan cepat menyapu aura kejam Lebiro Mao.
Berbalik beberapa waktu kebelakang, kira-kira sepeminum teh sebelumnya.
Saat itu, Murong Genji tengah bersusah payah mengalahkan hantu kelaparan dan hantu penasaran ketika dia akan mendekati aula terakhir ini, semua tebasan pedangnya seolah-olah hanya menggores dua mahluk hantu itu, dan tidak membuat mereka langsung mati.
Ketika dia tengah memikirkan teknik terbaik untuk mempercepat menghabisi dua hantu itu, tiba-tiba dia merasakan satu sosok berkelebat melintas, memanfaatkan situasi genting nya ketika pertempuran melawan dua hantu penasaran itu.
Kontan saja Murong Genji di landa kemurkaan. Dia yang sedianya akan terlebih dahulu mencapai aula tempat reward utama disimpan, dan bersusah payah menyingkirkan dua hantu penasaran, tahu-tahu dirinya di tikung pleh sosok itu..
"Iblis kecil Lebiro Mao" kutuk Murong Genji di dalam hati.
"Tunggu bagianmu selepas aku membereskan dua hantu penasaran ini" kata Murong Genji sambil menebas pedang di tangannya.
Gadis ini meskipun memiliki kepandaian yang tinggi, namun dia berhadapan dengan makhluk sihir yang hanya akan mempan dengan senjata sihir.
Jelas dalam pertempuran ini Murong Genji menjadi agak kerepotan. Tebasan demi tebasannya tidak seketika membuat dua hantu penasaran itu lantas mati, lenyap selamanya. Tebasan pedang fisik itu hanya menimbulkan luka-luka tak berarti, malahan makin membuat dua hantu itu semakin ganas menyerang.
Murong Genji menggertak giginya keras keras. Dia gemas dengan dua makhluk sihir yang terasa alot untuk dilenyapkan, sementara dilain pihak, pikirannya terganggu dengan Lebiro Mao yang telah menikungnya, kini terbang cepat menuju aula akhir.
Murong Genji mengemposkan semangatnya. Seketika energi emas meluap dari dantiannya, langsung membanjiri seluruh meridian dan mengalir deras ke tangan yang memegang pedang.
Energi emas adalah suatu teknik energi tertinggi dari ras Qilin, yang membuat rs ini menjadi salah satu ras di takuti ribuan tahun yang lalu. Dengan bengis gadis itu bersiul keras..
Suitt - suara pedang mencicit terdengar membahana, membuat kuping terasa ngilu.
Pedang di tangan gadis itu menebas lembut dalam teknik Pedang Qilin Emas Menembak Burung Hong (suatu teknik yang diilhami pertempuran antara Qilin melawan Phoenix ribuan tahun yang lalu).
__ADS_1
Aura pedang keemasan itu membelah dua hantu penasaran dengan sekali tebas, serupa pisau membelah buah kesemek.
Wush.. dua makhluk hantu gentayangan itu lenyap, dan sosok Murong Genji terbang cepat menyusul Lebiro Mao yang terlihat akan memasuki pintu aula terakhir.
******
"Sebaiknya kau pulang anak manja !" cibir Murong Genji sambil meraba gagang pedangnya.
Lebiro Mao terlihat berpikir keras. Akal licik apa lagi yang akan dimanfaatkan untuk memenangkan lomba perebutan salinan teknik tertinggi ini.
"Tapi Nona Murong, aku adalah seorang praktisi yang paling dahulu menginjakkan kaki di depan pintu aula ini" Lebiro Mao berusaha berkelit dan mencari-cari celah untuk kemenangannya.
"Cih ! manusia hina!
Jelas-jelas kau menikung diriku, ketika aku tengah bertempur melawan dua makhluk sihir - hantu mati penasaran itu.
Dalam hal ini, sudah seharusnya akulah yang terlebih dahulu berhak memasuki aula itu, dan kau.. kau hanya dapat masuk setelah aku puas memilih reward apa yang aku dapati di dalam sana!" jawab Murong Genji dingin. Dia bahkan telah mencabut pedang nya dan di arahkan ke leher Lebiro Mao.
Dan gadis Klan Murong itu berbeda tiga level dibanding Lebiro Mao. Patriark muda Klan Hantu Timur ini cukup sadar diri dengan kelemahannya. Sudah bagus jika Murong Genji tidak memenggal kepalanya karena menikung.
Lebiro Mao menepis pedang di lehernya dengan pelan, tanpa tenaga sama sekali.. katanya,
"Aha... Nona Murong dalam hal ini telah salah paham dengan sikapku tadi.
Sesungguhnya aku buru-buru ke pintu aula ini, adalah untuk berjaga-jaga dan melihat-lihat. Kalau-kalau ada bahaya atau apapun itu, dan aku akan membersihkan jalan Nona Murong agar lebih lancar memasuki aula terakhir untuk reward utama anda"
Lebiro Mao menjadi agak lega, setelah dia melihat gadis Klan Murong itu tidak lagi mengerahkan energi emas di pedangnya, dan dalam sikap berpura-pura dan menjilat, Lebiro Mao mempersilahkan gadis itu untuk terlebih dahulu masuk ke dalam aula terakhir.
Setelah Murong Genji masuk dan mulai berdoa di tengah aula, untuk hadiah yang akan dianugerahkan kepadanya, Lebiro Mao mencaci maki di dalam hati.
"Perempuan laknat berhati iblis ini semakin hari semakin tinggi hatinya. Dia betul-betul merendahkan kami dari Klan Hantu Timur.
__ADS_1
Tunggu saja, kelak suatu ketika setelah aku menyelesaikan pelatihan Bayangan Rembulan Sekarat hingga level sembilan, di saat itu meskipun kau menangis untuk memohon belas kasihan aku, tidak akan ada rasa iba nanti.." Lebiro Mao menatap penuh dendam ketika melihat suatu berkas cahaya panjang yang tiba-tiba muncul di tangan Murong Genji.
"Mungkin aku akan menikmati tubuhmu sebelum pada akhirnya menyantap daging mudamu, dan memanfaatkannya untuk menerobos level sepuluh Bayangan Rembulan Sekarat" batin Lebiro Mao dengan gigi gemeretak. Satu senyuman tipis muncul di bibirnya ketika membayangkan dia menikmati gadis itu dengan kasar, lalu menyantap dagingnya.
Lebiro Mao tak dapat menyembunyikan rasa cemburu yang tebal, ketika dia melihat cahaya panjang di tangan Murong Genji pada akhirnya berubah menjadi satu pedang panjang, terlihat indah berkilauan.
Gagang pedang itu terbuat dari bahan berharga emas putih. Sedangkan ketika Murong Genji mengeluarkan pedang yang menjadi reward atas pencapaiannya di aula terakhir itu, pedang bersinar seperti emas, menyelimuti keseluruhan pedang yang terlihat indah mirip pedang yang terbuat dari permata.
"Pedang Peringkat Emas Immortal !" desis Lebiro Mao dengan iri..
"Benda itu seharusnya adalah milikku, bukan milik perempuan iblis itu" caci Lebiro Mao dengan mata yang berair saking marahnya.
"Giliranmu sekarang !" kata Murong Genji setelah hadiah dari aula terakhir di tangannya, dan dalam hal ini dia amat puas.
Murong Genji mencibir dengan mengeluarkan dengusan penuh hina, ketika dia melihat suatu senjata mirip pecut, berwarna merah, pertanda itu hanyalah suatu senjata kelas Immortal paling rendah. Senjata Immortal rendah seperti ini meskipun langka, namun Lebiro Mao tak dapat menghilangkan bayangan senjata Immortal Emas yang dipegang oleh Murong Genji
Lebiro Mao hampir menangis ketika pecut merah itu dengan terpaksa akan dia bawa pulang dan dipersembahkan untuk ayahnya.
"Mungkin ayah akan kecewa ketika mendengar gadis Murong itu mendapatkan hadiah yang lebih baik dibanding diriku, sementara seharusnya pedang immortal emas itu adalah milikku" Lebiro Mao seketika mulai berpikir keras, mencari-cari cara untuk merebut pedang miliki Murong Genji.
Tak lama kemudian, makin banyak jenius-jenius klan lainnya yang datang memasuki aula itu, lalu berdoa dan memohon imbalan atas perburuan malam hari.
Lebiro Mao hampir tercekik dalam kecemburuan sekali lagi, ketika dia melihat Konamu Subaru berhasil mendapatkan sepasang pedang pendek kualitas Immortal Emas..
"Aku akan mencelakai gadis itu dan merebut Pedang Emas Immortal dari tangannya" batin Lebiro Mao.
Malam pun berlalu, dan pintu Portal Reruntuhan Kuno terbuka dengan sendirinya, dimana semua orang yang masih hidup keluar dari domain reruntuhan kuno.
Semua orang menatap iba ketika Patriark Klan Penyihir Emas Tn. Flying Claw bertanya-tanya dimana anaknya Canine Teeth berada. Bahkan ketika pintu portal akan ditutup kembali, Patriark Klan Penyihir Emas itu masih tidak percaya kalau anak nya telah tewas di dalam reruntuhan kuno.
Bersambung
__ADS_1
Dear pembaca, mohon untuk dukungan memberi like dan auto favorit novel ini akan membuat autor lebih bersemangat meneruskan penulisan novel ini dengan ide-ide yang lebih menarik lagi tentunya.