Raja Dari Raja Pedang

Raja Dari Raja Pedang
DI Gerbang Timur (i)


__ADS_3


  Kota Perdamaian adalah Kota Terbesar di Dunia Magical Beast ini. Luas kota ini, kira-kira tiga bahkan empat kali luasnya dibanding Kota Agung Yongheng - salah satu kota terbesar dan termegah di seluruh belahan Benua Silver, yang letak nya di dataran Tengah Benua.


   Kota perdamaian ini dijaga dan dikelilingi oleh benteng, dan memiliki empat pintu gerbang utama, selain tentu saja pintu-pintu kecil lainnya yang diatur oleh dewan kota. Di perlukan benteng yang mengelilingi kota yang di awasi ketat oleh empat klan utama, di sebabkan keberadaan Tuan Kota yang menjadi utusan Kaum Bijuu, bermusuhan dengan Klan Harimau Putih, sehingga Tuan Kota menganggap serius bagi Kota Perdamaian menjaga keamanan kota dari tindakan mata-mata Klan Harimau Putih.


   Sesuai dengan keberadaan Empat Klan Mata angin, maka pengaturan penjagaan di masing-masing gerbang juga di tugaskan untuk di jaga dan di awasi oleh pasukan atau tentara khusus yang adalah sebenanrya bagian dan anggota klan masing-masing. 


   Gerbang Utara dijaga oleh tentara khusus dari Klan Penyihir Emas, atau Klan Yelbeghen (Klan keturunan naga). Gerbang Timur di jaga oleh tentara dari Klan Hantu Timur (Klan kaum Ghoul).  Gerbang Selatan dijaga oleh tentara sewaan Klan Tengu, karena kebanyakan anggota klan ini tidak pernah memunculkan diri mereka di keramaian. Dan yang terakhir adalah Klan Murong (Qilin ) yang menjaga gerbang Barat kota.


***


   Hari mulai merangkak senja ketika itu angin gurun bertiup sepoi-sepoi, idak dingin dan juga tidak panas - yang membuat para penjaga di pintu gerbang timur Kota Perdamaian mulai terkantuk-kantuk. Perpaduan antara hawa panas yang ditiup angin, terbawa dari Gurun Walapra, di tambah angin semilir, memang dengan tak terasa akan membius dan membuat mata ingin terpejam.


   Zelk dan Regdos adalah dua anggota Klan Hantu Timur yang bertugas hari itu. Keduanya memang telah dilanda rasa bosan yang mendalam selama berjaga di Gerbang Timur itu. Alasannya karena sejak pagi hari, baru dua orang pelintas yang masuk ke Kota Perdamaian melalui Gerbang Timur mereka.


   Mereka tau pasti, sesungguhnya ada banyak sekali pelintas dari dalam dan dari luar yang datang dan pergi kekota Perdamaian setiap harinya. Namun mengapa pada hari ini, baru dua orang yang masuk kota dan melewati gerbang timur yang dijaga Klan Hantu Timur ini? Mereka merasa curiga kalau banyak orang yang datang berkunjung ke Kota Perdamaian, memilih masuk melalui gerbang utara yang dijaga Klan Penyihir Emas, ataupun melalui selatan yang dijaga Klan Murong.


   Hal itu mereka hitung dengan saksama, jika pelintas mengambil jalur lain berputar menghindari gerbang timur - mereka para pelintas itu memutuskan mengambil jalur atau melewati gerbang barat yang di jaga tentara Klan Tengu, hal itu adalah sesuatu yang tidak mungkin.


Gerbang Klan Tengu atau Kotengu itu itu hanya berbatasan dengan hutan belantara dan juga pekuburan kuno, bahkan dekat dengan arena kota yang dihuni oleh mahluk jahat Nekomata. Tidak mungkin para pelintas akan mencoba jalur barat yang tidak pernah dicoba untuk dilalui siapapun - kecuali petarung yang akan bertempur di Aren Kota.


"Aku menduga kalau dua klan itu, Klan Murong dan Penyihir Emas menyogok para pelintas, bahkan mungkin memungut bayaran yang sangat kecil, sehingga semua pelancong merasa nyaman dan memilih melewati gerbang yang mereka jaga, ketimbang gerbang timur kami" kata Zelk dengan nada penuh rasa cemburu.


   Sambil membuka sedikit kain seperti kerudung yang menutupi wajahnya Redgos ikut-ikutan menambahkan memanas-manasi seperti kompor panas yang akan membakar temannya.

__ADS_1


"Apakah kita akan melapor kepada komandan, ataukah kita langsung memberitahu tuan muda?" tanya Redgos, memprovokasi.


   Yang dimaksud dengan tuan muda ini adalah Lebiru Mao, anak laki-laki satu-satunya dari Patriark Klan Hantu Timur yang disebut Patriark Sigg Mao. Aturan di klan mereka, meski semua anggota klan dapat mengambil nama-nama dari hantu atau iblis terkenal, namun semuanya tidak diperkenankan menggunakan nama marga Mao. 


   Satu-satunya yang berhak menggunakan marga Mao (sama seperti ras iblis di Benua Silver) hanya Patriark dan keturunannya, yang dianggap berdarah murni.


   Redgoz tahu, Lebiru Mao sang Junior Patriark itu, bersahabat baik dengan Zelk, karena Lebiru Mao menjalin hubungan cinta dengan adik Zelk yang bernama Shulkani.


   Redgos si penjaga tahu benar, Lebiru Mao adalah satu tuan muda yang memiliki sumbu sangat pendek, artinya dia adalah sosok yang sangat mudah di sulut kemarahannya, bahkan hanya dengan kata tidak penting dan tak berdasar.


"Aku akan mempertimbangkan saranmu itu.


   Kemungkinan nanti aku akan meminta Shulkani adikku, untuk merayu Lebiru Mao untuk membuat keributan melawan Klan Murong dan Klan Penyihir Emas itu" kata Zelk. Dia menambahkan..


   Aku melihat puluhan domba gemuk yang berjalan mengarah ke arah kita" kata Zelk sambil tersenyum licik. Dia lantas membetulkan pakaian hitamnya, menutupi wajah bengisnya dengan kain kerudung hitam, sikapnya kini berubah menjadi sangar.


   Seakan tersadar dari lamunan, Redgos menatap di kejauhan sana, di tepian Gurun Walapra itu, tampak kepulan debu disertai iring-iringan unta dan kereta kuda. Bibirnya lantas membentuk lengkungan besar, senyuman itu terukir di balik kerudung hitamnya. Redgos merasa lega.. 


"Akhirnya setelah setengah hari berpanas-panas, calon mangsa kami datang dengan sendirinya tanpa diminta..


   Rezeki memang tak akan lari dikejar.." batin Redgos.


   Dari kejauhan mereka melihat ada tidak kurang dari sepuluh gerbong kereta, di sertai iring-iringan kuda dan unta yang membawa setidaknya lima puluh orang di dalamnya.


   Kian kemari kian dekatlah iring-iringan itu, dua tentara Klan Hantu Timur itu lantas mengacungkan golok di tangan mereka dengan sengaja, membuat cahaya matahari pudar berwarna aprikot bercampur coklat gandum itu memantulkan warna jingga namun tetap menyilaukan mata - itu artinya golok tersebut amatlah tajam karena berkilauan.

__ADS_1


   Dengan garang Zelk dan Redgos berdiri sambil meneriakkan kata-kata keras, meminta pemimpin rombongan iring-iringan itu keluar dan menjumpai mereka. Seorang pria berwajah halus, perilaku juga sangat sopan dan berwajah tampan keluar dari gerbong kereta, menghampiri dua tentara itu dalam sikap yang sangat sopan.


"Ah.. rupa-rupanya Tuan berdua dari Klan Hantu Timur.


   Perkenalkan namaku Baroma Lam.. Kami adalah Kelompok Seni Pengembara Dunia, yang akan tampil di acara memeriahkan Event Perburuan malam empat Klan..


   Mohon keringanan tuan-tuan memudahkan kelompok seni kami memasuki Kota Perdamaian dengan leluasa"


   Halus tutur bahasanya, dan gerakan Baroma Lam juga amatlah cepat. Selepas pria itu membungkuk memberi salam hormat, dia cepat-cepat menyusupkan sekantung Eliksir berwarna merah muda ke tangan Zelk, yang sejak awal-awal telah bertingkah dan menunjukkan seolah-olah dialah pemimpin diantara mereka berdua.


   Nafas Zelk seperti tertahan ketika melirik sejumlah besar Eliksir merah muda di dalam kantong itu. Dia menaksir jumlahnya pasti lebih dari cukup untuk kompensasi atau upeti sejumlah lima puluhan anggota kelompok seni, setelah dipotong biaya untuk Klan Hantu Timur mereka. Hati Zelk di landa rasa gembira yang tak terkira. Tapi Zelk berusaha bersikap garang, agar Tuan Baroma Lam itu tidak melihat pijaran kesenangan dan senyuma licik di bibirnya.


   Meskipun demikian, Redgos melirik dengan perasaan cemburu dan mendalam. Dia tahu, tidak sedikitpun Zelk itu akan membagi kelebihan upeti yang diberikan Baroma Lam itu kepada rekannya. Redgos seketika berpikir dengan cepat, mencari-cari celah apa yang patut dia timpakan kepada kelompok ini, dan meminta upeti lebih banyak lagi.


   Dengan hati yang mendongkol Redgos harus mengikhlaskan, ketika Zelk mengijinkan kelompok seni itu melewati pintu gerbang raksasa di Gerbang Timur Kota Perdamaian.


"Wait.. tunggu dulu !" batin Zelk Rupa-rupanya Ghoul licik ini telah melihat satu celah kecil yang dapat digunakan untuk meminta bayaran lebih dari iring-iringan kelompok seni itu.


"Kamu !.. pria yang paling besar itu. Coba kamu singkirkan kain besar yang menutupi tubuhmu" Teriak Redgos menahan iring-iringan itu, sambil menunjuk ke arah Peci sang Griffin


 


Bersambung


   Dear pembaca, mohon untuk dukungan memberi like dan auto favorit novel ini agak membuat author meneruskan novel ini dengan ide-ide lebih menarik lagi.

__ADS_1


__ADS_2