
Malam itu keramaian memenuhi pertunjukan seni bermutu tinggi sedang dilakukan di Paviliun Keindahan Cahaya Malam. Banyak sekali anggota-anggota keluarga bangsawan dari berbagai ras yang dima di Kota Perdamaian, hadir untuk menyaksikan suara surgawi dari Sumniang gadis keturunan Kinnari makhluk surgawi memamerkan tarian dan seni suaranya.
Tak lupa juga keindahan puisi Baroma Lam dan anggota-anggota Tim Kesenian Kembara Dunia, membuat Paviliun Keindahan Malam bagaikan panggung opera di masa modern sekarang ini.
Pria dan wanita hadir dalam busana-busana sutera terpilih atau setidaknya satin mahal. Jubah dan tunik buatan tangan yang dikenakan setiap undangan, pada tiap keliman atau bordiran nya menggunakan benang yang dicelup khusus, menggunakan pewarna alami seperti rempah-rempah dan bunga-bungaan - bukan pewarna umum yang di jual eceran dan digunakan untuk pembuatan busana secara masal - membuat aula pertunjukan Paviliun Keindahan Cahaya Malam bagaikan ajang pamer kekayaan di antara kaum bangsawan dan petinggi-petinggi kota.
Mantel atau jubah dalam warna-warna pilihan seperti vermillion, warna batu zamrud atau Daffodil pucat pertanda bahwa si pemakai adalah bangsawan. Setidaknya dia adalah sosok orang kaya di Kota Perdamaian.
Sima Yon berjalan di aula besar itu, sambil sesekali mengambil makanan kecil yang tidak mengandung daging - pilihannya jatuh ke roti kukus tanpa isi, yang di bentuk seperti bunga teratai lah yang dia santap. Sambil melihat-lihat, dalam hatinya bertanya-tanya,
"Mengapa para Patriark Empat Klan ini belum juga muncul? Bahkan tuan muda atau Patriark muda pun belum seorangpun yang menampakkan dirinya" pikir Sima Yong agak curiga.
Bukankah sudah seharusnya, di dalam acara pembukaan momentum besar seperti "Perburuan Di Malam Hari ini" sudah sepantas nya para Patriark Empat Klan itu hadir sebagai tuan rumah penyelenggara? Apalagi konon perburuan malam hari nanti, ada terdapat buruan utama berupa Salinan ultivasi Sihir bernama Pengetahuan Siklus Abadi dan Kebenaran? Sima Yong larut di dalam rasa herannya, dan waktu terus berjalan.
Sementara itu, jauh di sebuah tempat terpencil di sebelah utara kota, tepatnya tempat di luar benteng gerbang utara yang dijaga oleh Klan Penyihir Emas (Ras Yelbeghen), ada sebuah hutan luas yang dipenuhi tanaman Bunga Tho atau Tanaman berbunga Persik.
Hutan yang dipenuhi Pohon Tho atau Persik ini bernama Hutan Motozawa. Hutan ini kabarnya adalah hutan yang angker, dipenuhi hal-hal sihir dan mistis. Pernah sekali waktu ketika para pelintas batas yang mencoba memasuki Hutan Motozawa, tatkala akan memasuki Gerbang Utara yang dijaga Klan Penyihir Emas itu, para pelintas terpesona akan indahnya bunga Tho yang kala itu berwarna kemerahan - indah dan membius.
Karena tergoda akan pesona keindahan atau bahkan sihir yang disebarkan bunga Tho tersebut, sebagian pelintas batas yang terdiri dari pedagang antar wilayah, secara ugal-ugalan masuk ke dalam formasi hutan Motozawa.
Kenyataan yang terjadi adalah, hingga detik ini, sebagian pelintas batas yang dengan gegabah memasuki formasi Hutan Motozawa itu, tidak pernah terdengar kabar beritanya. Beredar kabar burung, bahwa pedagang pelintas batas yang lancang tersebut telah mati dan menjadi korban di altar penyembahan Klan Penyihir Emas, yang selalu melakukan ritual pemujaan terhadap Altan sang legenda penyihir emas. Altan adalah tangan kanan dari penguasa dunia bawah tanah yang artinya penguasa neraka bumi.
Sejak saat itu, tidak seorangpun dari para penyintas antar batas yang berminat memasuki Kota Perdamaian melalui Pintu Gerbang Utara. Terlebih lagi beredar kabar bahwa setiap pelintas batas yang berjenis kelamin perempuan, selalu hilang setelah melewati Pintu Gerbang Utara itu.
__ADS_1
***
Jauh di dalam Hutan Motozawa, saat itu terlihat seorang pria berbadan tinggi besar dan penampilan yang agung. Wajahnya tampan, dengan rambut berwarna hitam legam yang berhiaskan dekorasi semacam mahkota emas yang pinggirannya terdapat batu-baru Ruby dan Mutiara.
Matanya mencorong seperti mata naga, begitu dalam seperti udara musim dingin, sementara bahunya yang lebar mempertunjukkan kekuatan seperti seorang petarung handal yang patut diwaspadai.
Pria tampan ini adalah Patriark Klan Penyihir Emas yang bernama Flying Claw atau Cakar Terbang. Namanya terbilang aneh karena semua anggota Klan itu adalah keturunan ras naga berkepala dua.
Flying Claw berjalan pelan-pelan mendekati tengah Hutan Motozawa, dimana terdapat altar penyembahan kepada Altan Sang Penyihir Emas.
"Kalian dapat berhenti di batas garis merah itu" kata Flying Claw memberi perintah kepada lima orang pria lainnya yang mengikuti dia menuju altar penyembahan di Hutan Motozawa.
Anggota Klan Penyihir Emas yang terdiri dari Penatua klan serta seorang anak muda yang adalah anak sang Patriark sendiri, patuh dan seketika berhenti di batas garis merah yang di tandai Flying Claw. Titah Patriark adalah hukum. Siapa yang melanggar, hanya kematian yang akan di dapat. Bahkan terhadap anak kandung sendiri, hukum ini berlaku mutlak. Sebagai ras keturunan Yelbeghen, Flying Claw amat gemar kawin. Anak-anaknya amat banyak, mungkin ratusan bahkan mungkin ribuan.
Namun terhadap bayi yang terlahir tidak memiliki bakat, akan langsung di eksekusi dan dikorbankan di altar penyembahan ini. Itu adalah perjanjian mereka sebagai Klan Pemuja Altan sang legendaris - Penyihir Emas.
Wush !
Tak lama kemudian satu asap tebal muncul dari arah altar, dan sosok bersiluet keemasan terbentuk di depan altar. Flying Claw langsung sujud menyembah, diikuti pengikut-pengikut nya dari jarak kejauhan, di batas garis merah.
"Apa kabar berita tentang Salinan Rahasia Pengetahuan Siklus Abadi dan Kebenaran? Apakah kamu telah memastikan akan memenangkan perburuan malam dan dapat memperoleh salinan teknik immortality itu?" tanya siluet keemasan kepada Flying Claw.
Suara itu begitu kuno, terdengar mengerikan seperti suara yang datangnya dari kedalaman jurang tak tiada berbatas. Menyeramkan dan membuat bulu kuduk meremang. Altan menjawab,
"Hamba telah menyiapkan semuanya sesuai anjuran yang disarankan Yang Mulia Penyihir Emas Altan.
__ADS_1
Hamba bahkan mengutus anak kesayangan hamba, sang calon Patriark selanjutnya untuk bersaing di Perburuan Malam Hari di reruntuhan kuno nanti" jawab Flying Claw meyakinkan.
Dalam posisi bersujud, dia melirik anak kesayangannya yang diberi nama Canine Teeth atau Gigi Taring. Canine Teeth ini adalah anak nya yang ke sekian ratus, dan memiliki bakat sebagai penyihir yang sangat tinggi. Selain kultivasi beladiri yang tinggi di ranah SAGE level satu, Canine Teeth ini adalah seorang ahli sihir dengan kekuatan sihir di peringkat Master Jiwa Kuasi DAO.
Tentu saja dengan kemampuan sihir di peringkat kuasi dao ini, ditambah beberapa Artefak sihir dan Noble Phantasm, maka harapan Flying Claw sangat besar bahwa sang patriark muda akan keluar sebagai pemenang, dan menggondol salinan Pengetahuan Siklus Abadi dan Kebenaran dari Reruntuhan Kuno nanti. Flying Claw tersenyum bahagia, ketika mengingat kepandaian sang putra terkasih.
"Bagus !" kata siluet berwarna keemasan itu.
"Jiwa Altan semakin lemah. Jika tidak segera memperoleh salinan teknik Pengetahuan Siklu Abadi dan Kebenaran nanti, aku takutkan jiwa Altan akan sirna..
Kamu tahu apa artinya bukan? Ketika Altan pergi, semua kekuatan dan kemampuan sihir kamu dan anggota akan melemah, dan Klan Penyihir Emas kamu hanya akan menjadi kenangan dan lama-kelamaan terlupakan dari ingatan penghuni Kota Perdamaian" jawab siluet emas mengancam.
Flying Claw, menggigil. Dia tak rela kejayaan Klan Penyihir Emas mereka yang sejak beratus-ratus tahun lalu berjaya di Kota Perdamaian, akan sirna tergerus kekuatan lain seiring pudarnya dukungan dan junjungan mereka.
"Flying Claw tidak akan membiarkan salinan itu diperoleh orang lain. Klan Penyihir Emas akan memastikan teknik itu hanya akan diperoleh oleh anggota Penyihir Emas kami" kata Faling Claw sambil menggertakan gigi.
Aura keemasan itu hanya mengeluarkan suara mendengus. Katanya,
"Sekarang kamu dan pengikutmu dapat kembali. Jangan menimbulkan kecurigaan sedikitpun. Bukankah terlalu aneh jika kau sebagai salah satu tuan rumah tidak hadir dalam pesta pembukaan Perburuan Malam hari?"
Flying Claw menarik nafas lega. Dia sering merasa tertindas jika harus berjumpa dengan sosok roh Altan sang Penyihir Emas itu.
"Hamba mohon pamit Yang Mulia" kata Flying Claw.
Tak lama kemudian Hutan Motozawa menjadi sepi, hening dan tidak terlihat apa-apa. Yang tampak hanyalah altar penyembahan yang terlihat biasa, dan tidak menarik perhatian itu. Sosok aura keemasan itu hilang, bersamaan dengan kepergian Fling Claw dan anggota klannya ke Paviliun Keindahan Malam.
__ADS_1
Bersambung
Dear pembaca, mohon untuk dukungan memberi like dan auto favorit novel ini agak membuat author meneruskan penulisan novel ini dengan ide-ide lebih menarik lagi.