Raja Dari Raja Pedang

Raja Dari Raja Pedang
Awal Mulanya (ii)


__ADS_3

  Mantel Rami kini terlihat serupa dewa kematian, dengan pedang berwarna jingga di tangan, aura mengerikan mencuat, sekaligus bercampur aura yang terlihat agung. Pedang di tangannya mulai mencoret langit. Meski wajahnya tak terlihat, semua merasakan aura membunuh dengan mimik mengejek.


   Para praktisi Tinju Halilintar menjadi ketakutan. 


"Formasi Tinju Halilintar !" dengan sigap, praktisi tersisa membentuk satu formasi tinju. 


"Bunuh !" Tinju terkepal, energi bersatu, lalu meledak dalam satu serangan dahsyat. Mantel Rami mengerutkan kening. DIa melihat formasi itu dengan waspada. Dalam teknik tempur menggunakan formasi, bukan kemampuan satu persatu praktisi yang akan dihadapi. Ini adalah tindakan gabungan, membunuh lawan dengan kekuatan bersama-sama.


Satu Bayangan berbentuk Tinju besar menyala menerjang ke Mantel Rami. Mantel Rami waspada sambil mengibaskan pedang di tangan kiri


"Energi Es Jingga !" dia mencoret udara dengan pedang. Enrgi jingga menyilaukan muncul.


Duar ! benturan dahsyat terjadi, ledakan eksplosif terlihat dalam nyala api.


   Mantel rami mundur beberapa tombak, tangan kirinya yang menggenggam pedang terasa kesemutan. Dia diam-diam mengakui kehebatan Tinju Halilintar ini, yang dilakukan secara formasi.  Suaranya berubah menjadi semakin dingin. Katanya..


"Tak kusangka kalian memiliki sedikit kepandaian.


   Baiklah.. mari kalian lihat. Aku bertanya-tanya apakah kalian akan tahan dengan serangan berikut ini !"


   Tangannya tiba-tiba telah menggenggam seruling di tangan kanan. Dia berputar lalu dengan dramatis suling telah menempel di bibir, dan nada demi nada terdengar. 


Dunia membeku ! Bahkan bintang-bintang menghilang, muram, bintang seperti menangis mendengar nada kematian itu.


   Di geladak kapal, praktisi-praktisi bergulingan, darah keluar dari semua lubang di tubuh. Tidak membutuhkan waktu terlalu lama ketika mereka semua menjadi kesakitan, kehilangan ingatan dan mereka saling mencakar dan membunuh satu sama lain. 


   Menyeramkan, ketika mantel rami itu melayang dengan nada yang kacau membuat jantung berdegup seperti akan meledak, sementara praktisi Sekte tinju Halilintar bergelimpangan, menuai kematian.  


   Jiu De baru menyelesaikan tugas rutinnya di kamar bersama selir kesayangan. Ketika dia keluar dengan terburu-buru karena mendengar suara ribut, kenyataan di depan mata. Semua ahli praktisi yang dia bawa dari Dataran Tengah, terlihat tertidur di palka kapal. 


   Jiu De terkejut dan belum menyadari keberadaan Mantel Rami. Katanya memaki-maki, 


"Siapa manusia bernyali besar ini? 


   Mencelakai Sekte Tinju Halilintar sama dengan mengajak Sang Immortal menjadi musuh !" 


   Dia menatap pilu semua anggota sekte tergeletak bersimbah darah, mungkin telah mati. Pelan-pelan dia mengangkat kepala, melihat ke depan dimana Mantel Rami melayang menyeramkan. 


   Jiu De menyadari situasi dengan cepat... katanya,

__ADS_1


"Rupa-rupanya semua ini adalah hasil kerja seorang pencuri pedang...


   Aku masih teringat kau melarikan diri dari arena Kota Menhua, setelah dikejar praktisi Asosiasi Tuan Yong" kata Jiu De dingin.


   Mantel Rami kembali tertawa. Katanya,


"Apakah kau ketakutan Jiu De? Hari ini aku akan mengambil nyawamu. Akan ku tunjukkan pada dunia. Apa arti pembalasan" 


"Pembalasan?apa maksudmu dengan pembalasan?" tanya Jiu De. Diam-diam dia mengalirkan hawa murni ke tangannya, dan halilintar siap meledak di tangannya.


"Kau lupa ingatan ya?


   Apakah kau lupa? kalian kaki tangan Nangong Rong itu, menghabisi rakyat dan penghuni tersisa di dataran utara, belasan tahun yang lalu?" suara Mantel Rami terdengar makin menyeramkan.


   Jiu De seketika tergagap...


"K-kau?


   Kamu adalah sisa-sisa praktisi Dataran Utara Bukan?"kat Jiu De mulai merasa takut.


   Mantel Rami itu tertawa keras-keras...


"Kau tidak perlu berpura-pura bodoh.


    Hari ini hutang-hutang itu aku tagih, mulai dari kalian Sekte Tinju Halilintar !"


   Belum lagi kelar si Mantel Rami berkata-kata, dengan cepat Jiu De membentuk api halilintar di tangan. Dia melompat menerkam Mantel Rami dengan tinju api berkilat-kilat petir di tangan. mengunci Mantel Rami.


"Mati !"


Duar ! Halilintar terbelah di angkasa, mengikuti Tinju Jiu De. Tangannya memicu energi listrik.  


   Heran nya, si Mantel Rami bersikap santai seolah-olah tidak melihat ada satu energi listrik yang mengancam dirinya. Dia malahan mengayunkan pedang dengan tegas, lalu Sinar Jingga keluar bercampur dengan butir-butir es.


Duar !


   Energi Jingga membelah energi halilintar, menjadi redup hilang dalam kehampaan. Jiu De sangat terkejut. Dia panik. Ingin melarikan diri saja..


"Tolong !" teriak Jiu De ngeri. Mantel Rami itu bukan lawannya. Mantel Rami seorang ahli Alam Melintas SAGE level akhir.

__ADS_1


   Melihat Jiu De berputar dalam gerakan melarikan diri, satu dengusan dingin terdengar dari arah Mantel Rami. Menyusul dia menggores udara, tebasan yang kedua kembali menciptakan cahaya jingga yang lantas berlari cepat mengunci leher Jiu De yang malang itu.


Wush. Energi jingga menggorok batang leher Jiu De. Kepalanya bergulir, terlempar ke arah Hutan Persik. Badannya berpisah, terhempas ke palka kapal. Master sekte halilintar Jiu De meregang nyawa di langit Hutan Bunga Persik, ketika memenuhi undangan Sang Immortal Nangong Rong.   


   Keadaan lalu menjadi hening dan lengang. Si Mantel Rami melempar sapu tangan bertuliskan nama "Sekte Pedang Terbang" lalu menghilang di balik awan. Kapal roh milik Sekter Tinju Halilintar itu terbang perlahan menuju kota gerbang 1000 mimpi, seolah telah di atur otomatis menuju ke Kota Gerbang Seribu Mimpi.


   Keesokan harinya semua orang di kota gerbang seribu mimpi dikejutkan dengan kedatangan satu kapal roh penuh dengan kumpulan mayat praktisi-praktisi Sekte Tinju Halilintar. Hal yang lebih mengejutkan lagi adalah sang pemimpin dari Sekte Tinju Halilintar mati dengan kepala yang terpisah dari badannya.. kepalanya hilang, tersisa badan yang tergeletak membusuk di geladak kapal roh.


   Beredar kabar burung, bahwa ini semua adalah tanggung jawab organisasi yang menyebutkan diri mereka bernama Sekte Pedang Terbang.


"Bukankah Sekte Pedang Terbang itu adalah satu sekte Suci? mereka mereka begitu kejam" tanya orang-orang yang ramai menonton evakuasi mayat dari geladak kapal.


"Tentu saja mereka bertindak kejam karena mungkin memiliki dendam dengan pihak Sekte Tinju Halilintar!" kata yang lain.


"Bukan !. Konon Sekte Pedang Terbang itu membenci Dewa Pedang Nangong Rong" jawab yang lain.


"Wah menarik. Aku tak sabar mendengar berita terjadinya duel antara Dewa Pedang melawan Sekte Suci Pedang erbang itu!"


"Kita lihat saja nanti!" kata yang lain.


   Sementara itu, di atas Gurun Terkutuk, dari arah Pulau Es di Utara Benua, satu makhluk terlihat terbang melintasi laut, bergerak cepat menuju Dataran Tengah. Pria yang berdiri di punggung mahluk bersayap itu membacakan puisi sedih. Meski wajahnya tampan, tapi aura sedih jelas terpancar dari wajah itu. Itu adalah satu lagu kenangan..


Liriknya seperti ini,


Mengapa hati mesti bersedih


Ketika semua berangsur pergi


Bukankah satu pergi maka akan datang yang lain


Semua pengganti telah disediakan oleh langit


Jadi kamu begitu bersedih


Jadi marilah kita menari ke pantai dan pergi


Atau kamu dapat pergi ke gurun untuk gunung yang lain


Jika memang jodoh maka pasti temui pengganti seijin Langit

__ADS_1


Bersambung


Dear pembaca, mohon untuk dukungan memberi like dan auto favorit novel ini agak membuat author meneruskan berkarya dengan novel lanjutan RDRP ini. Terima kasih <3


__ADS_2