
Prelude :
Mengapa hati mesti bersedih, ketika semua berangsur pergi.
Bukankah satu pergi maka akan datang yang lain?
Semua pengganti telah disediakan oleh langit
Jadi mengapa kamu begitu bersedih?
Jadi marilah kita pergi ke pantai dan pergi...
atau kamu dapat pergi ke gurun untuk gunung yang lain.
Jika memang berjodoh, maka pasti temui pengganti lain seijin Langit..
Malam begitu pekat, namun bintang-bintang berusaha menyinari pasir di padang gurun itu, tampak seperti kedipan mutiara hitam, gelap namun mempesona.
Satu sosok tubuh melayang indah, terlihat seperti terbang dengan membawa aura magis yang membuat siapapun yang menatap langit, akan mengira sosok itu adalah dewi yang asalnya dari bulan terang yang bulat dengan halo nya di malam itu.
Tanpa perlu mengira-ngira, orang akan langsung menebak perempuan indah itu adalah seorang ahli beladiri yang memiliki kultivasi amat tinggi. SAGE level enam, itulah peringkat kultivasi perempuan yang tampak bagaikan dewi itu.
Orang banyak yang berkumpul di Padang Gurun itu, menganga dengan mata melotot, melihat keindahan mistis yang bernyanyi sebelum dia terlihat terbang turun dari rembulan, ke pasir yang dipenuhi dengan ahli-ahli pedang dari aliansi Wilayah Utara.
Sayang sekali keindahan yang membuat semua mata mengagumi SAGE itu, harus menelan kekecewaan dalam-dalam. SAGE itu mengenakan topeng dari kulit kayu yang tua, sehingga wajahnya sama sekali tak dapat dikenali. Walaupun demikian, orang dapat menebak sosok di balik topeng kayu itu, pastilah seorang perempuan yang berwajah cantik jelita.
Dari suara dan kulit halusnya saja, semua orang dapat langsung membayangkan wajah cantik di balik topeng itu. Beberapa orang lainnya yang berdiri dari arah berseberangan dari kelompok SAGE perempuan itu bahkan saling bertaruh, bahwa wajah perempuan itu pastilah amat cantik jelita.
Namun taruhan mereka seketika mereka tarik kembali, setelah seseorang mengabarkan kalau perempuan bertopeng yang mereka jadikan taruhan itu adalah Raja Pedang dari Negri Utara. Namanya adalah Zuo Feng Ying, seorang penatua perempuan dari Sekte Pedang Awan.
Konon Raja Pedang dari Utara ini adalah juga seorang yang ahli di dalam kekuatan batin atau sihir. Setiap pertempuran yang dia jalani, selalu melibatkan kekuatan sihir atau yang disebut Talisman atau Jimat sihir, yang membuat semua lawannya gentar.
__ADS_1
Tentu saja orang-orang awam yang tadinya begitu antusias untuk bertaruh tentang wajah SAGE perempuan itu, seketika menjadi keder. Siapakah yang berani secara sembrono menjadikan SAGE level enam, yang disebut Raja Pedang dan ahli Talisman sebagai bahan olok-olokan taruhan? Tidak ada seorangpun yang berani merendahkan seorang raja pedang, karena nyawa adalah taruhannya.
******
Pada waktu dan tanggal yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua jago-jago pedang di dataran utara, barat, tengah dan timur Benua Silver, jauh-jauh hari bertempat di Gurun Terkutuk yang sebenarnya memiliki nama indah The Great Sun Desert, telah ramai dipenuhi oleh ahli-ahli dari berbagai wilayah benua itu.
Namun yang cukup mengherankan adalah ketidakhadiran ahli-ahli dari wilayah tengah, khusus nya Negri Menhua yang konon memiliki ahli-ahli dengan kekuatan asing dan teknik-teknik pedang tak terduga.
Kekuatan besar dari Wilayah Timur datang menggunakan dua puluh kapal roh besar, yang memuat banyak sekali pasukan perang dari gabungan tentara aliansi Kerajaan Timur yang dipimpin oleh Kekaisaran Haiyang Timur.
Bersama puluhan ribu pasukan tentara ini, seorang Raja Pedang dari Timur bernama Dong Bai memimpin seluruh pasukan tentara dan cultivator Wilayah Timur berjumlah sepuluh ribu orang dengan tujuan menuntut keadilan atas kematian Putra Mahkota Kekaisaran Haiyang Timur bernama Pangeran Zhao Sagung.
Selama ini pihak aliansi Timur menahan diri untuk menggempur wilayah utara karena perjanjian pertempuran antara Raja Pedang dimana pihak Utara berjanji akan memberi penjelasan tentang isu yang berhembus, bahwa pangeran negeri timur itu, tewas dibawah pengaruh sihir dan Musik Kematian yang sengaja di gunakan orang-orang utara.
Raja Pedang Timur bernama Dong Bai itu khusus menggandeng seorang Magus Ahli sihir ternama dari Timur yang bernama Bai Chan Cheng. Untuk wilayah Timur sana, Bai Chan Cheng adalah penyihir nomor satu, yang kekuatan magis dan artefak sihirnya mengerikan dan pernah menggegerkan dunia jianghu di timur, ketika bertempur melawan Matriak Klan Vermillion Timur.
Sementara itu, iring-iringan kapal roh lainnya yang berasal dari dataran tengah, dipimpin oleh seorang Raja Pedang bernama Yang Xiansheng, seorang ahli pedang dari Akademi Pedang Dataran Tengah Maha Agung.
Yang Xiansheng ini sangatlah membuat semua orang menjadi gentar ketika melihat kemunculan dari kapal roh. Pria tinggi besar itu, memancarkan aura SAGE level delapan, suatu ranah kultivasi yang amat sangat tinggi dan menggetarkan jiwa.
******
Malam ketika semua orang masih terdiam menunggu aba-aba untuk bertempur, malam ketika angin gurun berhembus lembut namun terasa dingin menusuk hingga ke sumsum, malam ketika semua tangan memegang erat-erat gagang pedang, siap meledak dan bertempur kapan saja..
Ketika itu seorang ahli dari wilayah timur, tepatnya Negri Haiyang Timur meledak dalam caci maki. Namanya adalah Luo Heng, seorang SAINT peringkat menengah yang adalah panglima perang Haiyang Timur. Dia berteriak memecah sunyinya malam..
"Kalian orang-orang utara sesat, penyihir terkutuk ! Dimana penjelasan kalian akan kematian Pangeran Zao Sagung kami?"
Kontan malam itu awal pertempuran terjadi antara Luo Heng dari Haiyang Timur yang di tantang oleh Master Sekte Pedang Awan bernama Peng Fai. Kultivasi keduanya seimbang, sama-sama di ranah SAINT level tengah.
Namun teknik pedang dan hawa murni Luo Heng, sangatlah tertinggal jauh dibanding Master Peng Fai. Setelah saling bertukar pukulan dalam dua ratus jurus, pedang Master Sekte Pedang Awan dari Negeri Utara itu menggores tipis leher Luo Heng pertanda Peng Fai memberi tanda belas kasihan dengan tidak membunuhnya.
Luo Heng lantas membungkuk memberi hormat, pertanda dia mengaku kalah dan menyatakan Master Sekte Pedang Awan adalah pemenang dalam pertempuran itu. Namun sesuatu tak terduga terjadi. Ketika Master Sekte Pedang Awan itu balas membungkuk dan memberi hormat sambil menunduk, Luo Heng melakukan tindakan curang dengan mengirim senjata rahasia belati terbang, yang mengunci dada Master Peng Fai.
__ADS_1
Beruntung Master Sekte Pedang Awan mengenakan sebuah armor peringkat surgawi, yang secara otomatis melakukan tindakan defensif dan menahan serangan curang belati terbang Luo Heng.
Kontan Master Peng Fai meledak dalam amarah, dari tangannya mengalir lima energi Qi warna warni yang lantas terbang cepat menjerat leher Luo Heng, membuat lehernya harus berpisah dari tubuh panglima perang Haiyang Timur itu.
Keadaan menjadi ribut melihat tindakan pembantaian yang dilakukan Master Sekte Pedang Awan dari utara. Ketika orang-orang dari wilayah Timur mulai meledak dalam amarah, ketika tu seorang wanita cantik berpakaian sastrawan, dengan kipas di tangannya melompat keluar dari kelompok orang-orang utara.
Dengan lantang dan tidak mengenal takut, perempuan sastrawan yang kemudian diketahui bernama Meirenyu itu menyindir dengan dingin tindakan curang pihak wilayah Timur. Bahkan secara terang-terangan, Meirenyu itu menantang siapapun dari wilayah timur untuk bertukar pukulan melawan dia.
Sambil berbicara dengan lantang, Meirenyu itu mengeluarkan aura kultivasinya, yang membuat orang-orang di aliansi timur menjadi gentar.
"Alam Melintas SAGE peringkat menengah (level enam) !"
Tidak ada seorangpun di Aliansi timur yang memiliki kultivasi di ranah Melintas SAGE, dan satu-satunya SAGE adalah raja pedang mereka. Semua mencaci maki kelompok orang-orang uara yang mereka sebut iblis dan penyihir, pengguna teknik gelap guna mencapai kultivasi tinggi.
Tidak merasa takut, Bai Chan Cheng Magus atau penyihir Peringkat Master Jiwa SAINT level dua maju kedepan dan mentertawakan Meirenyu dan menantangnya bertempur.
Bai Chan Cheng menggunakan satu artefak sihir atau Noble Phantasm berbentuk tongkat yang dapat memanggil halilintar dan memulai pertempuran melawan Meirenyu. Meirenyu kelabakan rerbang kesana kemari untuk menghindar serangn halilintar yang tercurah dari langit.
Semua tentara Haiyang timur dan aliansinya, di tambah pasukan-pasukan wilayah Barat menertawakan Meirenyu yang baju nya mulai compang-camping sehingga menonjolkan lekuk-lekuk tubuhnya.
Banyak kata-kata kotor pelecehan secara verbal dilontarkan orang-orang wilayah timur dan barat, yang isinya menghina Meirenyu yang terlihat menyedihkan itu. Di lain pihak, semua pasukan wilayah utara menunjukkan muka yang seperti akan jatuh ke tanah mendengar ejek-ejekan itu. Mereka telah bersiap melompat dan bertempur mati-matian untuk menggempur tentara timur dan aliansi iblis dari barat, namun masih ditahan oleh Raja Pedang, penatua Zuo Feng Ying.
Hingga pada suatu kesempatan, Sastrawan Meirenyu itu mengeluarkan sesuatu benda dari cincinnya, itu adalah benda seperti kerang atau rumah mutiara besar berwarna hitam berkilauan. Lalu dengan tatapan dingin Sastrawan Meirenyu itu berkata kalau kematian Bai Chan Cheng telah di depan mata.
Magus bernama Bai Chan Cheng itu hanya tertawa mengejek kepada Sastrawan Meirenyu dengan benda aneh hitam yang di pegang sastrawan itu. Dia Bai Chan Cheng terlalu percaya diri dengan kemampuan Kekuatan Master Jiwa SAINT level dua, sehingga benda berbentuk kerang besar itu hanya dipandang sebelah mata.
Namun wajah Bai Chan Cheng berubah drastis ketika Sastrawan Meirenyu mulai meniup kerang hitam, yang terdengar seperti tiupan sangkakala perang, terdengar mistis dan membawa aura sihr dari ribuan tahun yang lalu.
Bai Chan Cheng berusaha melawan daya pikat tiupan sangkakala kerang hitam itu, namun dia tak berdaya akan sihir jiwa yang menariknya, yang perlahan berjalan menuju Sastrawan Meirenyu tanpa daya. Semua orang menyaksikan di depan mata, diiringi musik tiupan sangkakala bernada mistis, Bai Chan Cheng, Magus peringkat atas dari Wilayah Timur sujud kepada Sastrawan Meirenyu. yang terlihat dengan kipas di tangannya menebas leher Magus itu.
Bai Chan Chen mati tragis di bawah pengaruh dan daya pikat sihir musik kematian Sastrawan Meirenyu, yang kin terlihat seperti iblis betina, terbahak-bahak di bawah siraman rembulan, dan cucuran darah yang muncrat dari leher kosong Magus malang dari Timur.
Gurun Terkutuk semakin terasa kelam, dibawah pengaruh sihir malam yang bergulung-gulung, sisa-sisa musik yang ditiup sangkakala itu. Semua orang menggertak gigi dalam rasa ngeri melihat kekuatan sihir musik kematian yang diperagakan Meirenyu sang sastrawan dari utara.
__ADS_1
Bersambung
Dear pembaca, mohon untuk dukungan memberi like dan auto favorit novel ini akan membuat autor lebih bersemangat meneruskan penulisan novel ini dengan ide-ide yang lebih menarik lagi tentunya.