Raja Dari Raja Pedang

Raja Dari Raja Pedang
Istana Pulau Es Yang Menyedihkan


__ADS_3


Pagi yang dingin di Utara Benua Silver. Angin berhembus kencang dari arah Laut Utara membawa butir-butir es makin membeli pada tanah yang kini hanya berupa hamparan salju di atasnya.


Mungkin dahulu sekali di atas salju yang menyerupai karpet bulu lembut berwarna putih, pernah ada kehangatan dengan nyala api-api unggun, rasa hangat yang memberi kehidupan bagi makhluk-makhluk di atas tanah itu.


Tapi kini, semua telah berubah. Tidak ada lagi kehangatan dan tidak adalah lagi kehidupan ramai seperti suasana belasan tahun yang lalu. Tidak ada apa- apa lagi kecuali tanah bersalju dengan pohon-pohon Pinus berwarna putih, terbungkus salju dan meranggas di terpa angin musim dingin.


Saat itu, saking dingin membeku, bahkan hewan-hewan musim dingin pun serasa enggan keluar dari sarangnya ketika pagi masih membeku dengan suhu di bawah nol derajat itu.


Namun tidak demikian halnya dengan satu bangunan besar yang dibuat diatas tanah bersalju yang kini disebut dengan pulau es itu.


Bangunan tersebut adalah bangunan dari satu sekte tersohor bernama Sekte Pedang Awan Es, Zhang Ching Chu adalah master perempuan yang memimpin Sekte baru itu. Dia disegani di kalangan Sekte dan Klan Bintang 8 Benua Silver, karena memiliki kultivasi di ranah Saint level 8.


Seperti kita ketahui Zhang Ching Chu ini tengah menghadiri acara Pelelangan Akbar di wilayah Selatan Benua Silver. Sehingga yang tersisa di istana sekte pedang awan sini adalah Wakil Master Sekte Gu Lei, serta para penatua dan juga praktisi-praktisi kelas menengah dan kelas rendah.


Kesibukan pagi di sebuah sekte Padang umumnya adalah ketika semua orang bergegas untuk berlatih seni pedang, seni pedang ciri khas yang menjadi ciri khas teknik pedang sekte mereka.


Sekte Pedang Awan Es ini, sesungguhnya adalah kumpulan dari kaum rimba hijau dunia Wu-Lin, atau yang lebih akrab disebut kaum perampok dan penjahat yang suka membegal di hutan-hutan, merebut paksa bawang bawaan Ekspedisi atau kaum pedagang, yang tidak segan- segan menurunkan tangan kejam bagi korban yang mencoba melawan.


Nangong Rong memanfaat kan kelompok ini dengan membuat sekte tandingan, dari Sekte Pedang Awan beraliran lurus, yang pernah tersohor dari wilayah Utara.


Dia mengajarkan mereka teknik kultivasi, menggunakan racun jahat dingin yang diolah menjadi energi Es. Oleh karena berlatih dengan rajin dingin itu, semua praktisi di Sekte Pedang Awan Es, miliki perubahan wajah menjadi tidak normal.


Warna putih, kuning pucat, orange pucat, merah pucat dan biru pucat, adalah mewakili kultivasi tertinggi, hingga paling rendah di Sekte Pedang Awan Es itu.


******


Tengah semua orang berlatih serius teknik pedang pagi itu,


tiba-tiba semua dikejutkan dengan keberadaan seorang anak muda berwajah bercahaya seperti rembulan.


Rambutnya memiliki warna yang begitu terang seperti kerlip bintang. Wajahnya amat tampan, halus perpaduan ras manusia dengan ras Elf.


Jika diamati dengan baik-baik mungkin anak muda itu usianya sekitar 17 atau 18 tahun, terlihat dari kulit-kulit kencangnya.


Tubuhnya tinggi langsing, dan dia mengenakan baju yang gombrong, yang berkibar-kibar ditiup angin membawa kesan mistis. Sementara di sebelah kirinya terlihat juga 1 makhluk besar, itu adalah makhluk yang menyerupai antara perpaduan Elang, rajawali dan singa.


Semua penghuni di sekte pedang awan situ lantas mengelilingi pria muda yang dengan berani muncul tanpa undangan di sekte itu.

__ADS_1


Dia hanya berdiri kaku serupa patung di tengah halaman lapangan sekte, di atas hamparan permadani salju. Mata ahli akan melihat, ketika di berdiri .. sama sekali tidak ada jejak secuil pun diatas salju lembut itu.


Gu Lei wakil master sekte langsung melayang dari dalam bangunan, setelah diberi tanda oleh penatua pelatih pagi itu.


"Siapa kamu.. apa maksud kedatanganmu disini?" Gu Lei menyelidiki tingkat kultivasi nya...


Setelahnya dia lalu lega.


Lalu tanpa diminta, semua murid Sekte Pedang Awan Es itu mengelilingi si anak muda dalam formasi pedang. Wajah mereka rata-rata merah pucat, paling banyak biru pucat.


"Mengapa engkau datang ke sekte aku seperti seorang pencuri?" Tanya Gu Lei dingin.


Anak muda itu tidak menjawab pertanyaan Wakil Master. Gu Lei sendiri memiliki warna muka pucat kekuningan hampir mendekati putih.


Anak muda itu mengabaikan pertanyaan dari Wakil Master Gu Lei, yang ada malahan dia bertanya..


"Di mana?...." Suara nya datar memendam amarah.


"Di mana keberadaan kota yang bernama Azalea itu? dimana pula kota-kota lain yang sebelumnya berada di utara sini?


Mengapa wilayah ini sekarang berubah menjadi serupa satu pulau kosong tanpa penghuni?" nada suaranya terdengar muram.


Gu Lei seketika pecah dalam tawa. Dia merasa lucu. Bisa-bisanya seseorang muncul tiba-tiba lalu menanyakan dimana keberadaan dataran Utara sebelumnya? Katanya dengan nada merendahkan..


"Apakah engkau adalah idiot? Ataukah kamu orang baru? Yang seperti orang baru bangun dari mimpi. Kemana saja kau selama ini?" Tawa Gu Lei meledak.


Kasihan sekali Gu Lei ini. Karena dia mantan penyamun, sampai sampai dia tidak peka melihat perubahan air muka si anak muda. Dia makin menjadi dalam merendahkan anak muda itu


"Atau... Jangan- jangan Engkau adalah seorang gila yang tidak tahu kejadian sesungguhnya di dataran Utara ini.


Sini dengarkan. Tuan mu ini memberi kamu sedikit informasi. Sejak belasan tahun lalu berubah menjadi Pulau es seperti ini" kata Gu Lei dengan suara menghina.


"Ohh..." Si anak muda menunjukkan wajah berduka.


Tanya nya lagi dengan suara sedih.


"Tuan, tahukah kamu. Kemanakah perginya orang-orang di wilayah utara ini?


Lalu apakah penyebab yang membuat daratan Utara ini terpisah dari daratan besar?"

__ADS_1


Gu Lei semakin larut dan menjadi tidak mengenal takut. Dia telah mengadakan pengecekan, dan dia menyimpulkan bahwa tingkat kultivasi anak muda ini tidak lebih daripada seorang yang berada di Alam Spirit Agung. Katanya


"Hai manusia bodoh tidak tahukah kamu ketika belasan tahun lalu terjadi pertempuran antara raja pedang.


Ketika itu muncul Dewa Pedang kami bernama Nangong Rong. Dewa Pedang itulah yang memisahkan Daratan benua silver dan membuat dataran Utara ini menjadi satu pulau sendiri yang menjadi Pulau es, hanya dengan lambaian tangan. Orang bodoh seperti dirimu, tak akan memiliki kesempatan melihat Sang Immortal Dewa Pedang kami".


Dengan nada yang semakin berhati-hati dan lembut, si anak muda bertanya dengan suara datar wajahnya tidak terlihat seperti orang marah sedikitpun. Katanya,


"Apakah Nangong Rong itu yang membunuh semua orang-orang di wilayah utara sini? Jika benar demikian adanya, apakah kian juga orang-orang Utara sebelumnya?"


Gu Le tertawa semakin keras. Katanya dengan nada mengejek.


"Tentu saja kami bisa berada di tempat ini karena kami Sekte Pedang Awan Es inilah yang membunuh semua penghuni daratan Utara, setelah praktisi- praktisi pengecutnya menghilang setelah kalah telah di Gurun Terkutuk"... Suara Gu Lei tertawa menyeramkan. Dia mengingat pembantaian mereka atas orang-orang fana di pulau ini ketika itu.


Gu Lei adalah seorang penjahat dungu, yang beruntung di latih Nangong Rong. Dia sama sekali tidak menyadari tanda bahaya telah berbunyi, ketika terlihat kilatan muncul di balik bola mata si anak muda.


Lalu si anak muda itu menggumam pelan, dalam nada yang datar.


"Karena tangan kalian penuh berlumur darah rakyat fana Utara sini...


Terlebih kalian adalah kaki tangan dari nang Nangong Rong... jangan salahkan aku jika aku bertindak kejam.


Apa yang kamu tabur .. itu akan kamu tuai juga".


Dia mengangkat tangannya lalu melambaikan tangan nya seperti gerakan lembut. Seketika terjadi kekuatan pedang tak berwujud yang sangat besar. Ibarat nya ada energi pedang raksasa yang dikeluarkan panglima Langit


Kekuatan yang dahsyat itu menghempas ratusan praktisi Sekte Pedang Awan Es dalam keheningan.


Semua orang tersapu pedang tak berwujud, lenyap seketika menjadi debu. Bahkan bangunan istana Sekte Pedang Awan Es itu pun ikut-ikutan lenyap rata menjadi tanah.


Setelahnya dunia kembali sepi. Hanya hembusan angin Laut Utara yang berdesir tajam. Kejadian itu berlangsung amatlah cepat, mungkin cepatnya hanya sekitar 1 x kedipan mata.


Pulau Es kini betul-betul menjadi dataran kosong, sepi dan hening. Tidak ada apa-apa selain salju, pohon-pohon pinus berbalut es dan hembusan Angin Utara.


Udara kini bertambah dingin menyesakan percik- percik debu sisa manusia, dan juga abu bangunan yang berterbangan kemana- mana. Tidak usah menunggu lama, ketika debu itu lenyap menjadi butir es tak berarti, menyatu dengan salju abadi di Pulau tak berpenghuni itu, Pulau Es namanya.


Bersambung


Dear pembaca, mohon untuk dukungan memberi like dan auto favorit novel ini agak membuat author meneruskan berkarya dengan novel lanjutan RDRP ini. Terima kasih <3

__ADS_1


__ADS_2