
Pada malam sesudah Sima Yong memperoleh informasi tentang pertarungan di arena Kota Perdamaian, dia meninggalkan Paviliun Keindahan Malam. Malam penuh kedamaian, terlewatkan dengan cepat.
Hari itu udara di Kota Perdamaian setebal sup, lembab karena hujan baru saja membasahi kota, bau tanah dan uap melebar kemana-mana. Di sudut-sudut kota, dan juga di berbagai tempat keramaian, orang-orang penghuni Kota Perdamaian, ramai memperbincangkan kejadian sebentar malam.
Kabar beritanya, akan terjadi pertempuran sesama gladiator atau petarung, di arena kota yang telah lama sekali, absen dan tidak mengadakan pertunjukan duel terbuka hidup dan mati. Tontonan menarik seperti itu, telah lama dinanti-nantikan oleh semua orang, mengingat Nio-nio Kedua sang penguasa Arena kota, tidak pernah lagi mengadakan pertunjukan duel hidup dan mati.
Jauh di luar batas gerbang kota, di tempat yang dinamakan Arena Kota Perdamaian yang letaknya kira-kira 10 lie dari Pusat Kota, ada terdapat suatu bangunan tinggi bentuknya bulat melingkar dan tertutup kubah seperti ujung bawang, bentuk umum sebagaimana bentuk Arena biasa. Akan tetapi yang membedakan adalah bangunan itu terlihat terlalu tua, kumuh, kesan lama lama malahan aura mistis kental menyebar keluar dari dalam bangunan.
Arena di Kota Perdamaian ini, dipimpin, dan didominasi oleh seorang perempuan tua yang bernama Nio-nio kedua. Konon kabar berita mengatakan bahwa Bio-nio kedua ini adalah jelmaan atau keturunan dari Nekomata.
Nekomata sendiri adalah salah satu makhluk dari kelompok Bijuu, kelompok makhluk magical beast setingkat para dewa yang memiliki ekor lebih dari dua cabang.
Nekomata asal muasalnya adalah sosok jelmaan dari kucing raksasa yang ditemukan di Hutan Iblis nun jauh di sana, di benua yang disebut Benua Timur. Bentuk dari Nekomata adalah monster kucing hitam raksasa yang terkadang juga digambarkan memiliki sepasang sayap hitam yang sangat besar.
Mitosnya adalah kucing berekor dua ini merupakan hewan peliharaan dari Dewa Kematian yang untuk kelangsungan hidupnya dia akan menyantap mayat-mayat atau jiwa-jiwa orang mati.
Bijuu berwujud kucing ini pada awal-awal tercipta atau terbentuk dari kucing peliharaan biasa yang ketika telah kucing itu telah berusia 10 tahun, maka ekornya akan tumbuh panjang, lalu jadi bercabang menjadi dua bagian. Seiring dengan pertumbuhan serta cabang di ekor kucing yang menjadi dua tersebut kekuatan sihir sang kucing akan meningkat tinggi.
Kemampuan sihir yang paling hebat dan paling mumpuni dari makhluk Bijuu ini adalah membangkitkan orang mati. Lalu ketika mayat-hidup itu telah bangkit dan exist, sang kucing akan dengan menggerakkan ekor bercabang atau menggerakkan kaki kaki depan nya kemudian memerintah pasukan mayat hidup menjadi tentara Zombie.
Bijuu berbentuk kucing ini adalah sosok yang paling pendendam. Saking dendamnya yang tidak berkesudahan, dia akan memakan siapapun yang dibenci nya. Dengan kebencian yang tidak berkesudahan di dalam hati, walaupun individu tersebut telah mati, namun sang kucing Bijuu ini akan datang melampiaskan semua rasa dendamnya kepada keluarga atau sanak saudara dari sosok yang dia benci.
Kira-kira seperti itulah gambaran dari nekomata jelmaan kucing peliharaan, yang sekarang keturunannya adalah Nio-nio kedua, kelompok Bijuu dari transmigrasi dari Benua Timur.
Malam itu di arena pertempuran Kota Perdamaian, sesuai dengan promosi besar-besaran atau iklan yang dipasang di seluruh kota perdamaian, orang-orang berbondong-bondong datang membanjiri arena kota untuk menyaksikan pertempuran Akbar
Karcis-karcis kelas di bangku tribune hingga tiket vip untuk para penonton yang mampu membayar mahal, habis terjual. Begitu besar minat dan rasa antusias penghuni kota, untuk menyaksikan pertempuran berdarah, saling membantai.
Seperti yang dijanjikan adalah oleh pihak penyelenggara Aren, dua petarung yang akan tampil adalah Griffin sang legendaris melawan seorang ahli samurai yang asalnya dari Benua Timur.
***
Di dalam gedung bangunan arena pertempuran
Gedung yang sangat luas dan mampu menampung kira-kira 5000 orang itu, terlihat ditengah-tengahnya berbentuk arena bulat yang kini sekelilingnya dipasang semacam kerangkeng-kerangkeng besi, dengan tujuan petarung tidak dapat keluar arena, sebelum salah satu nya mati.
Penonton terlihat padat memadati kursi-kursi mulai kursi VIP yang dekat dengan arena pertempuran, hingga di bangku-bangku Tribun yang melingkar membentuk bulatan searah bentukan arena pertempuran itu.
Sementara itu, tampak terlihat pembawa acara yang memandu arena, melayang-layang terbang menggunakan sebuah karpet terbang kecil. Dia berdiri di atasnya dan berbicara dengan sangat keras menggunakan Energi Qim hingga suaranya jelas di dengar di semua penjuru.
"Inilah duel paling Akbar tahun ini di Kota perdamaian..
__ADS_1
Petarung kita hari ini adalah ... Griffin sang makhluk legendaris makhluk surgawi..
Satu makhluk yang belum pernah ditemui di manapun di Kota ini...
Saat ini, sang Griffin akan bertarung melawan seorang ahli pedang yang merupakan Samurai yang memiliki kekuatan mistis...
Dia bernama Samurai Hitam.. dari benua Timur !"
Lantang terdengar suara sang pembawa acara, dan menyusul suara tepuk tangan, sorak-sorai, gegap-gempita dari seluruh penonton yang semuanya adalah penghuni Kota.
Nyata benar, semua penonton Ini demikian haus darah, antusias menyaksikan seperti apakah wujud dan kesaktian makhluk Surgawi yang dikenal dengan Griffin itu.
"Ayah, apakah kemampuan dan kesaktian Griffin itu, demikian hebat dan layak untuk duel melawan petarung handal, sang Samurai Hitam Benua Timur itu?" bisik seorang gadis usia dua belas tahun kepada ayahnya yang duduk di kursi vip.
"Stt.. kita datang disini hanya untuk melihat pertempuran dan darah. Tidak peduli siapa yang menang, namun telah lama sekali darah tidak tumpah di arena ini" bisik sang ayah kepada putrinya. Memang sebagaimana ahli-ahli beladiri, sejak usia dini anak-anak mereka telah dilatih untuk tidak menjadi takut akan pembunuhan atau ketika melihat darah tertumpah. Kelak ketika menjadi dewasa, anak-anak ini diharapkan akan menjadi petarung handal dan tidak mengenal takut.
Di lain pihak, jauh di antara suara gegap-gempita sorak-sorai gemuruh, orang-orang memberi semangat.. ada banyak sekali kelompok-kelompok yang saling berlomba dalam taruhan, masing-masing menjagokan siapa yang akan memenangkan duel itu.
"Aku akan memasang taruhan untuk Griffin tersebut" kata seorang pria pada kawan yang duduk di sebelahnya.
Akan tetapi kawannya membantah dan berkata keras-keras.
Griffin itu sama sekali tidak diberi senjata dalam duel ini. Tidakkah kamu mendengar berita itu?
Jelas biar setebal apapun bulu badannya, dia akan menjadi makanan empuk sang ahli samurai dari benua Timur itu" jawab temannya ketus.
"Akan tetapi, aku tahu sekali. Bahwa Griffin adalah makhluk dari surga. Sudah barang tentu dia memiliki hal-hal yang ajaib yang disembunyikan di balik lengan bajunya" kata seorang gadis yang menyela, karena tak puas dengan ejekan akan kemampuan Griffin.
Sambil membalikkan badan dan menoleh ke gadis yang bersuara membantahnya tadi, si pria penghujat itu mencibir, katanya.
"Dasar kau Gadis bodoh !
Sudah jelas-jelas bahwa Griffin tidak akan diberi Senjata.
Apakah dia memiliki baju yang terdiri dari jala-jala besi baja dan tulang-tulang nya adalah kawat besi? Aku pastikan hanya dengan sekali sabetan saja, samurai hitam itu akan membelah tubuhnya menjadi dua !" dia membuang muka dengan kesal.
Pertentangan dan perdebatan terjadi di antara para penonton yang masing-masing menjagokan siapa yang akan memenangkan duel ini. Semua dikarenakan taruhan uang dalam jumlah besar, telah di pasang di kantor resmi Arena Kota yang dikelola langsung Nio-nio kedua. Tak ada yang berani membatalkan lagi akan uang taruhan yang sudah di pasang di kantor arena kota. Siapa berani melawan kekejaman sang pemilik arena?
Sementara itu di tengah-tengah arena, sang Griffin telah digiring, masuk ke dalam arena berkerangkeng. Kondisinya cukup mengenaskan untuk makhluk surgawi yang legendari. Griffin itu di rantai di lehernya, kedua kakinya pun diikat rantai dengan bola-bola berat, mencegahnya melarikan diri, ketika kesempatan itu ada.
"Hidup Griffin makhluk surgawi !" ada yang memuja...
__ADS_1
"Mati saja kau !"
"Payah ! katanya makhluk legenda. kenapa seperti pesakitan rupamu?" namun ada yang menghujat sang Griffin.
Menyusul setelah sang Griffin masuk tadi, seseorang bertubuh tinggi besar mengenakan pakaian hitam dengan pedang panjang yang berkilauan di tangan kanannya.
Seketika arena yang luas itu pecah dalam sorak-sorai, gegap-gempita terdengar lakukan jago-jago mereka. Akan tetapi jelas terlihat, sebagian besar penonton lebih memuja petarung pria berpakaian hitam, berpedang panjang Samurai.
Kabar angin berhembus bahwa sosok itu adalah samurai hitam jago pedang yang tak terkalahkan dari Benua Timur
Sang Griffin itu terlihat cukup mengenaskan, dengan baju yang dilepaskan dimana bulu bulu dan sayap sayapnya polos mencuat, tanpa mengenakan baju zirah sebagaimana petarung ketika beraksi di medan arena. Bahkan desas desus itu terbukti sudah. Setelah rantai dilepaskan dari Griffin, dia bahkan tidak di bekali dengan satu senjata apapun.
Sedikit tinggi di atas arena pertarungan antara dua petarung itu, terlihat ada satu kerangkeng kecil yang berbentuk seperti kurungan burung. Di dalam kurungan itu, terdapat seorang gadis kecil yang mengenakan pakaian indah seperti putri raja, namun wajahnya menampakan raut yang sangat berduka.
Rupa-rupanya gadis kecil itu yang menjadi hadiah utama pertarungan antara sang Griffin melawan samurai hitam dari timur. Semua dapat melihat sosok mungil itu adalah seorang peri yang wajahnya begitu manis dan menarik. Namun dia terlihat selalu meneteskan air mata.
Sekonyong-konyong pembawa acara berteriak keras mengalahkan semua keributan.
"Pertarungan antara dua petarung ini... dimulai !"
Seiring dengan teriakan dari pembawa acara yang menyebutkan bahwa pertarungan dimulai, angin dingin hawa pedang langsung meluap dari pedang panjang di tangan Samurai berbaju hitam.
Wush !
Suiit ! cicitan angin pedang terdengar mengiris udara.
Griffin mengibaskan sayapnya guna membuat blokir. Seketika angin ribut berkekuatan energi murni muncul dari kepakan sayapnya, menghalangi hawa pedang kejam yang sedianya menamatkan sang Griffin.
Duar !
Bunyi benturan seperti ledakan terdengar
Pria berbaju hitam itu tidak bergeming sama sekali, goyah pun tidak. Lain halnya dengan sang Griffin. Dengan keadaan menyedihkan, dia terlempar dan menghantam kerangkeng besi yang merupakan penjara di tengah-tengah arena"
Prang ! darah mengalir dari bibir Griffin.
Namun beda halnya dengan para penonton yang Jumlahnya ribuan. Orang-orang itu semakin gila dan kesetanan di dalam bersorak-sorai.
Bersambung
Dear pembaca, mohon untuk dukungan memberi like dan auto favorit novel ini agak membuat author meneruskan berkarya dengan novel lanjutan RDRP ini. Terima kasih <3
__ADS_1