Raja Dari Raja Pedang

Raja Dari Raja Pedang
Last Battled (vi)


__ADS_3


  Malam baru saja akan beranjak menjadi pagi. Ketika itu waktu menunjukkan kentongan kelima telah berjalan setengah putaran. Matahari sendir, belum juga timbul di ufuk timur. Dan Gurun Terkutuk, tempat yang biasanya sepi dan tidak pernah dikunjungi oleh makhluk hidup, selain para pelintas antara wilayah di Benua Silver, sungguh terasa berhawa dingin seakan-akan rasa dingin itu mampu menembus dan membongkar tulang-tulang individu apapun.


   Suasana yang terlihat mencekam dalam dingin itu, jelas membuat perasaan siapapun akan merasa tertindas, hanya karena rasa dingin itu bukan karena hawa dingin yang ditimbulkan dari iklim atau cuaca ekstrim dingin yang umum terjadi padang gurun di waktu malam dan menjelang pagi. 


   Akan tetapi hawa dingin ini berasal dari satu kekuatan Absolut, kekuatan tak terbantahkan yang memancar keluar dari Aura yang meledak-ledak dari satu tubuh manusia, yang adalah Praktisi Puncak dari semua ranah budidaya di dunia fana ini, Benua Silver. Itulah ranah Immortality. 


   Kala itu, jauh diatas sana, di antara awang-awang gelap tumpah tindih dengan gelapnya langit, jelas terlihat sang Immortality itu melayang-layang dengan pakaian indah nya, yang melambai-lambai ditiup angin sehingga membuat total penampilannya terlihat bertambah Agung, juga terasa mengerikan.


 Dia itu adalah Nangong Rong - Sang Immortality yang bertransmigrasi dari Negeri Ajaib Wonderland. Seperti kita ketahui Nangong Rong ini tiba-tiba muncul di arena pertempuran memperebutkan gelar Maha Tinggi, jago jago pedang dari seluruh pelosok Benua Silver ; Daratan Utara, Selatan, Barat, Timur dan juga dataran Tengah.


   Semua kemeriahan yang awalnya hiruk-pikuk, gegap gempita di dalam pertempuran akbar tiap ratusan tahun tersebut, kini berubah menjadi aura dalam perasaan mengerikan, tertindas dan hawa kematian setelah kemunculan Sang Immortality 


   Ketika itu, tatkala semua orang, praktisi ahli beladiri dari segala penjuru tengah melakukan gerakan paksaan bersyukur, tunduk dan sujud menyembah sosok Sang Immortal itu, sekonyong-konyong...  tanpa diharap dan tanpa diduga sama sekali, dari arah perbatasan gurun di utara sana, samar-samar terlihat penampakan satu sosok manusia yang  melayang-layang dengan tak kalah agungnya.


   Sosok yang kemudian memainkan alat musik yang lebih dikenal sebagai Guzheng atau Harpa atau juga bisa disebut kecapi itu, dengan sangat mengejutkan memainkan teknik yang dahulu sekali dikenal dengan sebutan Death Tune atau Demonic Tune (Tunis iblis - musisi iblis).


   Irama musik yang dimainkan oleh pria tua itu terasa seolah-olah air hujan yang disiramkan dari langit, jatuh nyata-nyata di suatu padang gurun kering yang puluhan tahun tidak tersentuh hujan.


   Dari petikan kecapi itu, dia memainkan lagu yang memberi ketenangan bagi hati. Bahkan jiwa semua praktisi di Padang terkutuk yang sebelumnya tertindas kekuatan Sang Immortality. seketika seperti terbebaskan. Beberapa ahli yang memiliki kultivasi tinggi, diatas SAINT tidak lagi tersungkur dalam posisi menyembah. Mereka duduk bersila dalam posisi lotus, membebaskan diri dari tawanan kekuatan Sang Immortality. 


   Kenyataan sebenarnya, hanya segelintir orang yang tahu dan kenal bahwa Elf tua yang melayang-layang itu adalah seorang bangsawan Elf yang bernama Baron Wei. Dia adalah sesepuh Elf, kaum bangsawan tersisa yang telah berumur ratusan tahun dan dikabarkan kultivasi Kekuatan Jiwa nya telah mencapai di ranah Master Jiwa Immortal.


   Menyusul suara bededum seperti bunyi guntur 'bum - bum -bum '  yang membuat  tanah di Padang Gurun Terkutuk berguncang-guncang layaknya terjadi gempa lokal.


   Tampak terlihat di belakang baru Wei, ikut berlari-lari dalam kecepatan tinggi, 10 sosok mahluk raksasa berbentuk kristal es, disis lainnya dari arah udara jelas terlihat 2 naga yang melayang-layang mengerikan "Ymir dan Ryuu !"


   Hal yang membuat heran adalah dari setiap petikan dawai Harpa atau Guzheng di tangan Baron Wei, seolah-olah jelas terlihat seperti ada energi sihir menindas, yang tidak kalah menekan dengan kekuatan Absolut. energi Sihir itu bahkan  sanggup balas menindas semua Aura dan tekanan Absolut yang dikeluarkan oleh sang Immortal Nangong Rong. 


   Tentu saja Nangong Rong ini merasa sangat terkejut. ia mengerutkan kening nya dengan hati bertanya-tanya, manakala dirinya menemui kenyataan bahwa semua aura penindasan Immortality langsung di blokir oleh pria pemain harpa itu. 


   Terkejut, takjub, penasaran, jelas-jelas melanda pikiran Nangong Rong. Dia sungguh tak percaya, ada seseorang lainnya di Benua Silver yang Fana ini, juga memiliki kekuatan Absolut di ranah Immortal. 


   Nangong Rong bertanya-tanya di dalam hatinya, 


"Tidak mungkin !...


   Bagaimana bisa ini terjadi? Ternyata ada seseorang yang berada di ranah Immortal namun masih stay dan diam di benua fana ini !"


"Tidak mungkin !" masih dengan perasaan tak percaya dengan penglihatannya,

__ADS_1


"Bagaimana mungkin dia dengan kekuatan seperti ini, kekuatan yang setara dengan kekuatan dunia para dewa, dan dia tidak terangkat untuk pindah ke negeri ajaib kami?"


   Berulang kali Nangong Rong mengusap-usap mata nya. memperhatikan aura yang keluar dari petikan Guzheng itu. "Itu adalah immortality master jiwa!" batinnya.


   Lalu merasa seakan-akan dirinya kini mendapatkan seorang lawan yang tangguh dan pantas, Nangong Rong lalu memfokuskan semua energi dan Hawa murni, dan tangannya melambai...


Wush.. ! Energi dahsyat melesat, menghantam semua kilauan yang keluar dari petikan Guzheng. Niat Nangong Rong adalah mempertontonkan kedigjayaannya, dengan melakukan penindasan teknik musik jiwa yang di mainkan oleh Baron Wei. 


Sementara itu,


   Tatkala Nanging Rong meningkatkan hawa penindasan dan energi Qi nya, di bawah sana tepatnya di Padang Gurun Terkutuk, jelas terlihat ada banyak sekali para penonton atau praktisi dan cultivator melolong dalam rasa kesakitan. Orang-orang itu merasakan dada mereka seperti akan meledak saja.


Aura kekuatan absolut melawan musik iblis, dan yang memperoleh getah bentrokan dua immortal itu adalah praktisi-praktisi lemah kultivasinya. 


   Bahkan ada banyak sekali praktisi-praktisi yang memiliki kultivasi di ranah yang rendah, di bawah Alam Spirit Agung, yang tidak kuat itu langsung kehilangan nyawa saat itu. Mereka langsung melakukan tamasya, meninggalkan dunia yang fana dan berlayar menuju pangkuan Raja neraka. 


   Namun saat itu juga Baron Wei menambah kekuatan jiwa dalam musik iblis yang dimainkan, kekuatan jiwa immortality yang tak terbantahkan itu, dan dalam nada-nada yang tercipta itu seketika kembali membuyarkan semua hawa penindasan yang di buat sang Immortality Nangong Rong. mortality 


   Melihat semua energi penindasannya buyar dengan permainan musik iblis itu, hati Nangong Rong dilanda rasa tidak puas yang sangat mendalam.


   Sebagai seorang yang sejak datang di Benua Silver dan menjadi kekuatan absolut tak terbantahkan, membuat Nangong Rong dilanda angkara murka. Dia lantas mengangkat tangan kirinya dan melambaikan tangan itu dengan indah.


Wush ! 


   Energi tersebut bergerak dengan kecepatan yang luar biasa layaknya meteor, dan mengunci dengan tujuan menghancurkan Baron Wei menjadi debut. 


   Akan tetapi, Baron Wei lantas berdiri dengan Guzheng yang tetap di tangan, dia tetap dengan air muka dan penampilan bersahaja, bahkan wajahnya terlihat menutup Mata, sementara musik-musik lembut dalam nama Demonic Tune melantun merdu menenangkan keluar dari petikan tangan miliknya. 


   Memang sesungguhnya permainan lagu kematian oleh seorang Dead Tune atau Musisi Kematian ini (Demonic Tunis)  manakala terpojok oleh musuh-musuhnya, mereka sering  musik iblis ini sering sekali memainkan melodi yang dapat membunuh semua semua musuh-musuhnya. Itulah hal paling menakutkan dan mengerikan.


   Musik iblis (Demonic Tunis) ini juga mampu memainkan melodi yang indah yang dapat menenangkan jiwa atau bahkan nada-nada tentram, selain nada-nada yang mengandung kekuatan-kekuatan dahsyat yang bersifat mematikan.


   Konon, di dalam bentrokan antara sesama musisi iblis ini, karena kedua belah pihak saling memperjuangkan diri dengan saling menyerang jiwa atau merusak jiwa satu sama lain, maka bentrokan antar sesama Musisi Kematian ini akan mengakibatkan Cedera yang sangat parah.


   NAngong Rong sendiri, sesungguhnya sangatlah terheran-heran melihat keahlian ahli Master Jiwa Immortality seperti Baron Mei. DIa sangat terheran-heran akan ketrampilan sang Elf  yang mampu memainkan Irama Kematian atau pemusik iblis yang unik ini.


   Menurut pendapat dan sepengetahuan Nangong Rong, teknik kekuatan jiwa dengan memainkan musik musik kematian seperti ini, keberadaan dan eksistensinya bahkan sudah lenyap sejak lama di Negeri Ajaib - Wonderland,


"Ini aneh. Mengapa di dunia yang miskin energi dan rendah kemampuan kultivasinya, justru teknik langka dan mematikan ini masih ada? Aku akan merebut teknik itu dan membawa pulang sebagai cindera mata" batin Nangong Rong.


   Sementara itu. melihat kesibukan Nangong Rong bertempur sesama Immortality, maka dengan tidak mau menyia-nyiakan pertempuran antara makhluk Immortality berkekuatan jiwa dengan Immortality lain yang memiliki kekuatan fisik, ...

__ADS_1


   Dua naga Ryuu itu sontak menyerang dengan kekuatan yang dahsyat sebagaimana layaknya keberadaan dan kekuatan satu tak bawaan garis darah yang tak terbantahkan sebagai makhluk legenda.


   Kala itu, semua menatap ngeri ke langit di Gurun Terkutuk, ketika Salah satu naga mengibaskan ekornya. menimbulkan suara gemuruh dan membuat langit seakan-akan terbelah menjadi dua. Kekuatan bawaan garis darah Naga Ryuu penjaga empat mata angin, dengan kejam menyelimuti dan berniat menghantam mati Nangong Rong. 


   Sementara itu makhluk naga yang satunya lagi, terlihat mengeluarkan api menyala-nyala, yang ketika disemburkan dari mulutnya seolah-olah langsung menghanguskan separuh wilayah Gurun Terkutuk. 


   Hiruk pikuk dan gemuruh berulang kali terdengar melanda gurun itu. Hewan-hewan gurun, sejak awal-awal telah menghilang mencari keselamatan diri sendiri.


   Ini adalah kejadian yang luar biasa. Dimana Makhluk Legenda dan Mitologi sang penjaga salah satu mata angin dunia, bertempur melawan makhluk Immortal.


   Sementara itu di pihak lain jauh di sebelah sana, dengan memanfaatkan kesibukan Sang Immortal bertempur melawan Demonic Tunis dan di keroyok dua Ryuu, jelas terlihat sepuluh makhluk es atau Ymir mulai membangun tembok tembok kristal es atau yang biasa disebut barrier menggunakan sihir. 


   Ymir itu membentuk kristal-kristal es ketika mereka saling bersinergi dengan kekuatan sihir aneh, membuat semacam array yang terlihat seperti tembok kristal tak berujung hingga ke langit. 


"Ayo cepat, ayo cepat !" teriak orang-orang praktisi wilayah utara, yang hanya dapat membantu dengan suara.


"Kita akan aman dari Immortal itu, begitu tembok barrier ini terbentuk sepenuh nya" bisik Baron wei menggunakan transmisi.


   Sesungguhnya banyak yang ingin membantu, namun kekuatan dan energi mereka terbatas. Hanya ahli-ahli di ranah SAGE sajalah yang pantas dan mampu membantu sepulu Ymir itu.


   Tentu saja semua hal itu tidak lepas dari mata dan intaian Nangong Rong. Dengan lirikan mata tajam, sang immortality kini mulai meledak dalam kemarahan yang meluap.


"Jangan pernah bermimpi akan lolos dari incaran ku " cibir Nangong Rong. Tangannya sibuk menangkis serangan libasan dua ekor Ryuu.


   Sampai pada titik kritis yang tak dapat ditoleransi lagi - mengingat praktisi-praktisi utara itu akan menghilang di balik barrier, sang Immortal memompa 80 bagian dari energi Hawa murni nya, energi absolut immortality. 


   Selama ini, dia masih dianggap setara, ketika melawan keroyokan dua naga legendaris, sementara di sisi lain sang Elf Demonic Tunis dengan gencar menyerang jiwa dan berusaha mencabik dirinya. 


   Ingin mengakhiri pertempuran cepat-cepat, Nangong Rong lantas mencabut satu Pedang Immortality, yang terlihat menyala-nyala seperti cahaya kilat di tangan kanan Nangong Rong.


   Dia antas mengayunkan pedang di tangan kanannya sambil berteriak dengan kekuatan yang dahsyat, sambil mengucapkan mantra-mantra dalam bahasa yang aneh dan tidak dimengerti namun samar-samar terdengar kata-kata serupa, 


"Immortality !" 


    Semua orang terbelalak, ketika hal yang luar biasa nampak. Pedang tersebut berubah menjadi cahaya kilat absolut dari serupa satu cahaya para dewa tidak terbantahkan, yang lalu membelah langit, kemudian jatuh cepat dan memenggal dua Ryuu Legendaris itu, 


Sreet !!


   Dua Ryuu itu lantas terbelah menjadi dua bagian. Tiada suara lolongan, hanya darah yang serupa hujan jatuh melanda Gurun Terkutuk.


   Baron sendiri, dilihat dari kejauhan sana, mengusap cairan yang meleleh dari bibirnya, bahkan satu dawai Guzhengnya putus akibat energi tebasan Sang Immortal. 

__ADS_1


Bersambung


   Dear pembaca, mohon untuk dukungan memberi like dan auto favorit novel ini akan membuat autor lebih bersemangat meneruskan penulisan novel ini dengan ide-ide yang lebih menarik lagi tentunya.


__ADS_2