Raja Dari Raja Pedang

Raja Dari Raja Pedang
Reruntuhan Kuno


__ADS_3

 



  Pagi belum lagi terang, ketika awan-awan putih masih berserak menutupi langit. Matahari pun masih malu-malu menampakkan diri ke dunia Magical Beast. Ketika itu di depan istana Tuan Kota - tepatnya di alun-alun Kota Perdamaian, suasana telah mulai ramai dengan banyaknya orang-orang berkumpul di Alun-alun kota.


   Jika kamu bertanya-tanya, ada apakah yang membuat orang-orang demikian antusias berkumpul pagi-pagi di alun-alun kota itu? Jawabannya adalah pada hari ini di alun-alun kota, langit terlihat indah dengan hiasan kapal roh besar, bahkan amat besar, dengan kamar bertingkat-tingkat, yang mana kapal roh itu akan mengangkut semua peserta Perburuan Malam hari, menuju lokasi Reruntuhan Purba diluar kota.


   Reruntuhan Purba yang menjadi lokasi Malam Perburuan Kota Perdamaian sebenarnya dapat dilalui dengan jalan darat biasa. Akan tetapi mengingat jika orang yang ingin menuju Reruntuhan Purba harus melewati Gerbang Utara, yang notabene juga harus melewati Hutan Motozawa, keinginan banyak orang untuk melintasi jalan darat seketika menjadi sirna.


   Sedangkan alternatif lainnya apabila orang yang berniat menggunakan jalan darat menuju reruntuhan kuno itu, dia dapat melewati pintu gerbang barat yang dijaga Klan Murong. Namun dengan melakukan perjalanan melewati Gerbang Barat, waktu akan terasa lebih lama, karena mereka harus melintasi Arena Kota, lalu melewati Makam kuno, kemudian menyusuri Telaga Orang mati, barulah Situs Reruntuhan kuno ini bisa di dapati.


   Mengapa orang-orang Kota Perdamaian tidak menggunakan teknik penerbangan untuk menuju situs reruntuhan itu? Jawabannya adalah sama seperti aturan di kota-kota pada umumnya, berlaku aturan pelarangan penerbangan selama berada di dalam kota, maupun di lokasi yang berdekatan dengan Kota.


LAgipula, arena kota yang dikuasai oleh Nio-nio kedua sang Nekomata juga menerapkan pelarangan penerbangan selama berada di kisaran Dua puluh lie dari arena di bagian barat luar Kota Perdamaian.


Pernah sekali waktu ada seorang praktisi yang tidak mengetahui aturan berlaku tadi, dan dia melakukan mode penerbangan dari Gerbang Barat Kota Perdamaian, keesokan harinya sosok itu di temukan tewas tak berbentuk, mirip seperti jenasah orang yang mati karena terkaman binatang buas harimau atau singa.


Banyak yang mendyga itu adalah perbuatan Nio-nio ke dua, sang Nekomata Bijuu ekor dua berbentuk kucing.


Pernah juga ada seorang praktisi yang lain yang tidak mengetahui aturan di Kota Perdamaian dan sekitarnya. Praktisi itu melakukan penerbangan melintasi Hutan Motozawa, daerah terlarang tempat pemujaan Klan Penyihir Emas. Beberapa hari kemudian, sosok praktisi itu di temukan tewas mengenaskan, dan orang menduga dia tewas terkena jampi-jampi seorang ahli sihir berkemampuan tinggi.


Sejak saat itu, aturan ketattentang larangan penerbangan betul-betul sangat di perhatikan oleh semua orang yang berasal dari Kota Perdamaian dan sekitarnya.


***


   Matahari semakin tinggi, dan jumlah orang-orang yang berkumpul di Alun-alun Kota juga semakin banyak. Meskipun demikian, kebanyakan diantara mereka hanyalah penonton yang datang untuk melihat keramaian, dan tidak di ijinkan untuk menaiki kapal roh itu.


   Ketika itu Sopun Mao, Patriark Klan Hantu Timur datang dengan sikap tergopoh-gopoh, menghampiri tiga patriark klan lainnya yang sejak awal hari telah berada di alun-alun kota. Terlihat mengikuti di belakangnya, Lebiru Mao anak kesayangannya yang auranya terlihat berbeda dibanding biasanya.


"Anak ini baru saja menerobos kulivasinya?" batin Murong Zhong Zhi dengan tatapan menyelidiki ke Lebiru Mao.


"Aku bahkan merasakan aura dan energi gelap begitu kental keluar dari tubuhnya, belum hilang dari aura gelap sumber kekuatannya itu ...


   Sayang sekali, pondasi kultivasinya masih belum stabil dan goyah. Anak ini jika di biarkan semakin lama dan menerobos lebih tinggi dengan kultivasi gelapnya, dia dapat menjadi saingan ketat anak Murong Genji" pikir Patriark Klan Murong itu sambil menggelengkan kepala


Sementara itu, Miyata Hifumi berbicara dengan suara dingin..


"Aku berpikir kalau-kalau anda telah melupakan tugas anda sebagai pemegang salah satu kunci pembuka situs reruntuhan kuno.." kata Miyata Hifumi ketus kepada Sopun Mao.

__ADS_1


   Dengan berusaha agar tetap terlihat membawa sikap bersalah dan upaya keras untuk tampak rendah hati, Sopun Mao meminta maaf sambil membuat alasan, kenapa dia sampai tidak dapat menghadiri acara semalam di Paviliun   Keindahan Cahaya Malam, tadi malam.


"Maafkan aku.. Tiba-tiba ada urusan penting di Klan Hantu Timur kamu. Anda tahu bukan? Belakangan klan kami di serang oleh orang berkemampuan tinggi, yang sampai saat ini, mistery siapa sosok itu belum dapat kami pecahkan.


Aku berharap semua patriak berbesar hati memaafkanku" suara Sopun Mao terdengar palsu


   Masih dengan wajah cemberut kesal, Miyata Hifumi membuang muka, diikuti dengan sikap Murong Zhong Zhi dan Flying Claw yang ikut-ikutan bersikap dingin kepada Sopun Mao.


Patriark Klan Hantu Timur itu dengan kikuk lantas naik ke atas kapal roh, diikuti Lebiru Mao yang masih terlihat seperti orang linglung. Mungkin kenaikan kultivasinya dalam dua tingkat sekaligus dalam semalam, membuat anak muda itu jadi terlihat linglung karena semua pondasi di dalam tubuh belum stabil.


***


   Sima Yong sejak pag-pagi tadi telah datang di alun-alun kota sambil melihat-lihat. Dia dengan santai menyerahkan undangan yang diperoleh dari Kelompok Seni Kembara Dunia Baroma Lam, ketika dua penjaga dari Empat Klan Mata Angin menanyakan kartu undangannya.


  Masih dalam samaran pria bernama Pan Ling, sosok anak muda itu sama sekali tidak menimbulkan kecurigaan pada semua semua orang. Semua kultivasinya betul-betul tidak terbaca sebagai ahli Alam Melintas Immortal - hanya terbaca d ranah alam melintas SAGE level menengah.


Dia bahkan dengan leluasa berjalan dan berpura-pura seorang tidak mencolok, mendekati empat patriark  itu dan mencuri dengar pembicaraan mereka.


   Sima Yong tersenyum kecil ketika mendengar mendengar Sopun Mao dimarahi Miyata Hifumi seperti anak kecil..


"Biar bagaimanapun, Miyata Hifumi ini adalah yang terkuat kultivasinya. Jelas mereka para patriak tiga klan lainnya mengindahkan kata-kata Patriak Klan Tengu itu, dan dia bersikp seolah-olah menyerupai ketua aliansi atau pemimpin diantara empat klan" batin anak muda itu.


"Kita berangkat !" teriak Miyata Hifumi memberikan aba-aba.


   Dalam hitungan detik tali-tali pengikat dari tiang-tiang besar di alun-alun dilepaskan, lalu kapal roh itu mulai bergerak. Diiringi tepuk tangan dan sorak-sorai memberi semangat, semua penonton dan pengantar peserta perburuan malam itu melambaikan tangan.


"Semoga berhasil !"


"Bawalah pulang barang terbaik dari reruntuhan itu, dan kamu akan di promosi di klan keluarga kita!" demikian suara-suara memberi semangat dari penonton di lapangan kota, yang kini terlihat mulai mengecil.


   Sima Yong memperhatikan satu demi satu peserta perburuan malam yang terdiri dari jenius-jenius berbagai usia berbagai klan di Kota Perdamaian. Utusan Empat klan utama sudah jelas yang menjadi bintang di dalam perburuan ini.


   Sima Yong memperhatikan Murong Genji yang terlihat acuh tak acuh duduk sendirian di buritan kapal, lalu Canine Teeth yang dikerumuni gadis-gadis jenius dari klan-klan kecil lainnya. Sementara di pojokan sana, Lebiru Mao masih duduk bersemedi - mungkin berusaha menstabilkan pondasi energi nya yang masih goyah dan tidak stabil setelah menerobos dua tingkat sekaligus.


"Dimana jenius dari Klan Kotengu itu? Sejak malam aku belum juga melihat siapa yang akan menjadi utusan dan bintang utama dari Klan Kotengu?" batin Sima Yong.


   Namun rasa penasaran itu tidak terlalu lama berdiam dalam hatinya. Dia melihat seorang pria muda, mungkin usia tiga puluhan awal, yang berkepala gundul dengan mengenakan jubah panjang seperti yang biasa dikenakan oleh imam-imam atau pendeta dari agama tertentu, datang mendekat ke geladak kapal dengan sikap hati-hati.


"SAGE level tujuh?" batin Sima Yong sedikit terkejut.

__ADS_1


   Fari pakaian pria muda itu, jelas-jelas dia adalah seorang pendeta muda dari Kuil Pemujaan Tengu di Klan Kotengu. Mirip dengan jubah yang dikenakan pendeta tua yang meramal masa depannya pada waktu itu.


"Siapa namanya? Apakah dia berasal dari Klan Kotengu?


   Jika benar dia dari Klan Kotengu, berarti tingkat kultivasinya hanya berbeda dua peringkat dibanding Miyata Hifumi sang Patriark klan.


"Konuma Subaru !" tegur Lebiru Mao, sang Patriark muda dari Klan Hantu Timur kepada pria berpakaian pendeta itu.


   Pria yang dipanggil Konuma Subaru itu memalingkan kepala, menatap datar ke arah Lebiru Mao. Konuma Subaru membungkuk sedikit dan menyapa..


"Saudara Lebiro Mao, anda juga telah datang rupa-rupanya" kata Konuma dengan nada rendah hati.


   Lebiru Mao ini memang satu anak muda yang terbiasa dimanja oleh ayahnya patriark klan, sehingga dalam kehidupan sosialisasinya, dia tidak pernah berbicara basa-basi. Kontan saja setelah beberapa tarikan nafas dia mengamati dan memindai Konuma Subaru, dengan gamblang dia berkata,


"Aku melihat kalau saudara Konuma ini telah meningkatkan ranah kultivasinya.. Well.. SAGE level tujuh..


   Aku menduga-duga kalau-kalau saudara Konuma ini telah memperoleh petunjuk dari sang Pertapa Tengu yang legendaris itu" kata Lebiru Mao tanpa menyembunyikan nada penuh kecemburuan.


   Konuma Subaru hanya membungkuk sedikit, lalu dalam nada rendah hati dia berkata,


"Itu semua karena kebetulan semata..


   Namun aku sendiri melihat kalau saudara Lebiru juga baru-baru ini mengalami peningkatan kultivasi bukan? Akan tetapi.. aku merasakan aroma-aroma energi kegelapan di dalamnya.."


Blam !


   Kata-kata halus namun telak menohok dari Lebiru Mao, membuat anak muda dari Klan Hantu Timur itu terdiam.. dengan terbata-bata dia berkata,


"Er.. ini.. maafkan aku saudara Konamu. Tapi aku betul-betul harus kembali bersemedi mengikuti keinginan ayahku..." anak muda ras Ghoul itu lantas ngeloyor pergi sambil mengucapkan kata-kata tidak jelas.


   Sementara itu, sayup-sayup beberapa orang berteriak keras-keras,


"Reruntuhan Kuno.."


"Kita telah sampai.."


"Siap-siap memasuki situs setelah empat patriark membuka pintu Reruntuhan itu !"


Bersambung

__ADS_1


   Dear pembaca, mohon untuk dukungan memberi like dan auto favorit novel ini akan membuat autor lebih bersemangat meneruskan penulisan novel ini dengan ide-ide yang lebih menarik lagi tentunya. 


__ADS_2