Raja Dari Raja Pedang

Raja Dari Raja Pedang
Villa Bunga Meihua di waktu malam


__ADS_3

  Kentongan ketiga 'Cu - Sie' baru saja di bunyikan oleh petugas malam (cu sie ini adalah waktu antara pukul 23.00 - 01.00). Meskipun demikian, pada beberapa bagian di Kota Perdamaian, masih saja terlihat ramai dengan kerumunan orang-orang, penuh suara hiruk pikuk kelompok-kelompok orang yang terlihat menikmati malam panjang ditemani cahaya purnama.


   Villa Bunga Meihua sebagai salah satu rumah bordil ternama di Kota Perdamaian, tentu saja tidak mau kalah dalam kemeriahannya menyambut Malam Purnama penuh.


Entah mengapa, pada malam itu, Nyonya Xie Lie mengeluarkan gadis-gadis simpanannya, yaitu mereka adalah beberapa gadis muda pendatang baru baru yang menjadi penghuni Villa Bunga Meihua di datangkan khusus dari klan-klan nun jauh yang konon memiliki permpuan-perempuan berparas menarik. GAdis-gadis pendatang baru ini, tetntu saja menjadi saingan dan bakal menyingkirkan gadis-gadis lain yang sudah terlalu lama dan terlalu tua untuk di jajakan di rumah bordil itu.


    Redgos malam itu sangat beruntung. Gadis Fey bernama Parminza itu - sejak lama sekali Redgos bermimpi untuk menjalin cinta satu malam dengan salah satu kembang tersohor dari Rumah Bordil Villa Bunga Meihua itu.


Tampaknya malam ini, gadis Fey Parminza tidak memiliki pelanggan lain dimana semua tergila-gila dengan gadis-gadis pendatang baru yang berwajah masih natural serta belum terlalu gila uang, seperti gadis-gadis lama yang cenderung mata duitan. Malam itu semua mimpi-mimpi Redgos serta semua khayalannya mendekati kenyataan. Redgos dapat memesan langsung Parminza, tanpa kendala, lalu dia memuaskan fantasy nya dengan gadis Fey yang sekian lama dia impi-impikan.


   Parminza dalam hal ini sesungguhnya tengah dilanda rasa kesal dan marah. Kedatangan gadis-gadis penghibur yang lebih muda, tentu saja membuat minat akan penjaja cinta yang terlalu lama beredar di Kota Perdamaian seperti dirinya, mengalami penurunan daya jual dimana beberapa tuan muda yang selalu memakai jasa dirinya, kini berpaling dan memilih gadis-gadis pendatang baru tersebut.


   Padahal sebagai keturunan ras Fey, Parminza tidak memiliki cacat cela sama sekali. Semua keadaan fisiknya sempurna. Fey sendiri adalah ras yang agak mirip dengan Elf - memiliki kaki jenjang, bentuk muka yang mungil serta memiliki  mata yang lebar dan mempesona laki-laki. Rambut keturunan Fey selalu lebat dalam warna hitam atau pirang emas. Namun Parminza sepertinya lupa dengan hukum alam yang tidak pernah dapat di lawan siapapun. Menua dan dapat menimbulkan rasa bosan.


Dan ketika Redgos yang jika dulu-dulu tidaklah berarti dan tidak akan dia lirik sedikitpun, apalagi dapat menggunakan jasa dirinya.. Kini dengan sedikit rasa kesal, namun bersyukur karena pada akhrinya ada yang menggunakan jasa yang dia tawarkan.


Memang di dalam perkumpulan gadis-gadis penjual cinta itu, berlaku ketentuan. Ketika seseorang gadis seperti mereka belum di sentuh satu tamu pun sampai pagi menjelang, gadis itu akan menjadi sasaran ejekan bahkan akan di buly secara bersama-sama. PArminza jelas-jelas menolak untuk tidak di sentuh pelanggan, sampai pagi menjelang.


******


   Redgos pengawal Ghoul itu meninggalkan Villa Bunga Meihua ketika kentongan keempat 'Thio - Sie' telah di bunyikan (pukul 01.00 - 03.00) sepeminum teh yang lalu (sepeminum teh sama dengan setengah jam). 


   Redgos berjalan menyusuri lorong-lorong di Kota Perdamaian, sambil membayangkan kemesraan yang dilakukan beberapa saat yang lalu. Rasanya tak ingin menyudahi kemesraan tersebut. Namun dengan tegas, Parminza mengusir Redgos ketika tahu isi kantong pria Ghoul itu telah ludes dalam beberapa jam.


"Pergilah pulang, dan cari Eliksir yang banyak, maka aku akan menjadi budakmu semalam suntuk" kata Parminza mengusir pria itu.


   Saat ini, sambil berjalan dengan rasa puas, Redgos diam-diam merancang suatu rencana. Dia akan berkunjung ke tempat Kelompok Seni Kembara Dunia menginap. Mungkin dengan sedikit menekan pria berbadan besar yang senantiasa terbungkus kain itu, maka eliksir merah jambu akan mengalir ke kantong nya. Redgos tersenyum-senyum membayangkan mudahnya memperoleh uang, hanya dengan cara menakut-nakuti orang lain.


   Saking terlalu serius memikirkan cara mendapatkan uang, Redgos tidak menyadari. Sejak tadi dirinya hanya berjalan berputar-putar di tempat, dan tidak pernah berpindah dalam jarak sepuluh langkah.


   Redgos bahkan tidak sadar ketika tiba-tiba rembulan redup, suara-suara makhluk malam menjadi terdiam, dan sesosok bayangan bersayap lebar memperhatikannya lekat-lekat dalam tatapan yang mengandung hawa membunuh.


   Sampai di satu titik ketika Redgos tersadar bahwa angin tidak bertiup dan dirinya seperti terblokir di dalam suatu ruang spasial, barulah Redgos tersadar..


"A-apa yang terjadi?

__ADS_1


   Mengapa aku seolah-olah terisolasi dari dunia luar? Bahkan suara-suara makhluk malam pun terblokir dan menyisakan sepi di tempat aku berdiri?"


   Redgos menjadi takut. Tangannya meraba belati yang selalu dia selipkan di sela-sela sepatu bot nya. Dengan menekan rasa takut, Redgos berkata keras-keras.


"Apa yang kamu lakukan?


   Siapa kamu?..." Redgos mencoba berlari, namun dia semakin sadar. Dirinya hanya berputar-putar ditempat, hanya berpindah paling jauh sepuluh langkah.


"Siluman ! iblis ! keluar kau" Redgos menunjukan ke sembarang arah dengan menggunakan belatinya.


   Suara tawa dingin terdengar memenuhi seluruh ruang spasial itu dan Redgos merasa jantungnya akan copot. Baru kali ini perjalanan hidupnya sebagai seorang ahli yang disegani dari Ghoul, merasa tertindas dan ketakutan.


   Redgos menebas kesana kemari menggunakan  belati itu, dan suara tawa mencibir semakin keras terdengar. 


   Pada akhirnya ketika Redgos, ras Ghoul itu mencucurkan keringat dingin, satu sosok yang sangat besar berdiri di hadapannya. Sosok ini tidak berbentuk seperti manusia, namun berpotongan seperti burung elang, namun memiliki kaki seperti singa. Wajah mahluk itu terlihat seperti rajawali. 


"G-griffin?" Redgos semakin ketakutan.


   Makhluk itu berkata,


   Kau merancang niat untuk menakut-nakutiku dan meminta tambahan Eliksir merah jambu?" tawa makhluk itu terdengar semakin brutal.


"K-kau adalah.." kata Redgos terbata-bata.


   Dengan memasang wajah yang semakin kejam, makhluk itu balik berkata..


"Benar sekali tebakan mu tuan penjaga gerbang. Aku adalah sosok besar yang kau coba halang-halangi tadi.."


Hening...


   Redgos tak dapat berkata-kata ketika Griffin besar itu melambaikan sayap kanannya. 


Tsing ! cahaya seperti kilat berpendar.


   Serangkum angin besar yang mengandung kekuatan pedang menebas putus leher  Redgos tanpa kesulitan sama sekali. Kepala Ghoul itu menggelinding jatuh, dan darah keluar seperti air mancur dari tubuh tak berkepala itu.

__ADS_1


   Tak lama kemudian Fatamorgana penghalang yang membatasi ruang dari dunia luar menghilang ketika Teci mengucapkan mantra. Dia menatap dingin ke arah tubuh tanpa kepala lalu berkata..


"Kematian ini belum membuatku berpuas hati. Sabar sedikit kau mahluk terkutuk di pintu neraka sana. Kawanmu yang satunya itu tak lama lagi akan menyusulmu" Teci memudar bersama malam yang semakin kelam. Griffin itu masih mencari kawan Redgos yang satunya, untuk dibunuh.


******


   Zelk lebih gila lagi dibanding Redgos. Zelk ini bahkan menginap semalaman di Villa Bunga Meihua, hingga kentongan kelima 'Bauw - Sie ' berbunyi (pukul 05.00 - 07.00).


   Tentu saja, Zelk memiliki Eliksir lebih banyak dibanding Redgos. Hal ini menyebabkan gadis-gadis pelacur di rumah bordil itu menjadi lengket seperti lem kepada Zelk. Dan Zelk tidak segan-segan menghamburkan Eliksir kepunyaannya, untuk memanjakan gadis-gadis yang membalas dengan cinta palsu itu.


   Zelk berjalan perasaan dipenuhi semacam rasa ekstasi tinggi di seluruh anggota tubuh. Demikian leganya perasaan Zelk, sampai-sampai sejak awal-awal meninggalkan rumah bordil itu, dia tidak menyadari ada satu sosok berbalut jubah, berbadan tinggi besar yang mengikutinya, hingga mendekati rumah tempat tinggalnya.


   Ayah Zelk sendiri adalah salah satu penatua di Klan Ghoul, yang memiliki kultivasi tinggi di ranah SAINT Surgawi level delapan. ini adalah peringkat yang terbilang tidak terlalu tinggi untuk menjadi seorang penatua di Klan Hantu Timur kaum Ghoul bernama Dulza. Meskipun hanya penatua kecil, namun jabatan itu membuat keluarga Zelk hidup tidak berkekurangan. 


   Cahaya matahari mulai sedikit menguning di bagian terbatas langit timur, pertanda tak lama lagi dia akan bercahaya penuh membanjiri Kota Perdamaian dengan kehangatan.


   Zelk tiba-tiba melihat sinar seperti kilat berkelebat cepat, seperti kilat dan mengunci ke batang lehernya..


"Celaka !" teriak Zelk sambil ternganga pasrah. Namun satu kekuatan besar melesat dari kejauhan, membanting tubuhnya ke tanah sehingga dia selamat dari serangan pedang dadakan tadi.


   Zelk amat terkejut dengan serangan tiba-tiba itu. Kekuatan pembokong ini adalah kemampuan serangan yang hanya dapat dilakukan oleh ahli-ahli Alam Pencerahan Suci puncak empat - yang jelas-jelas sulit dihadang oleh ahli-ahli Alam Tanpa Batas seperti dirinya.


   Zelk beruntung ketika tiba-tiba dia melihat ayahnya Dulza telah berdiri di samping nya, dengan pedang di tangan.


"Pergi ! dan bersembunyi di rumah !" titah Dulza kepada Zelk.


   Tentu saja Zelk tidak menyia-nyiakan hal ini. Dia berlari sekencang-kencangnya, menghindari dari penyerang bertubuh tinggi besar itu. Sepuluh tarikan nafas berlalu, dan Zelk melihat dari jauh, pedang di tangan ayahnya telah dekat untuk menusuk dada mahluk besar, yang tertutup jubah panjang itu.


   Zelk tertawa penuh rasa kemenangan sambil memaki,


"Rasakan mahluk terkutuk. Baru kau rasakan ketajaman pedang penatua dari Klan Hantu Timur kami".


Bersambung


   Dear pembaca, mohon untuk dukungan memberi like dan auto favorit novel ini agak membuat author meneruskan novel ini dengan ide-ide lebih menarik lagi.

__ADS_1


__ADS_2