Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Báishé


__ADS_3

"Ingatan? Ingatan apa?"


"Tentu saja ingatan anda." Sahut Ular putih.


"Aku tidak mengalami amnesia, mengapa..."


"Sepertinya kehidupan yang paling anda ingat adalah kehidupan saat di dunia itu ya." Alis Yun Yi terangkat, ia tidak mengerti dengan yang di bicarakan ular putih itu.


"Dunia mana yang kau maksudkan itu?" Ular putih tidak menyahut, ia turun dari tangan Yun Yi lalu melata ke rumah itu.


Rusa putih mendorong Yun Yi menggunakan kelapanya, untuk masuk ke dalam rumah.


"Mengapa kamu mendorong ku?"


Rusa itu berhenti mendorong Yun Yi saat Yun Yi sudah dekat dengan pintu. Yun Yi menatap kesal pada rusa itu, yang dengan acuh kembali ke halaman.


"Malah pergi begitu saja. Bahkan dia tidak minta maaf." Gerutu Yun Yi.


"Tapi, memangnya dia bisa berbicara?"


Kriet


Yun Yi mengalihkan pandangan nya saat mendengar suara puntu terbuka. Ular putih nampak sedang menunggu Yun Yi untuk masuk ke dalam rumah.


Karena penasaran, Yun Yi 0un masuk ke dalam rumah itu. Dinding dari kayu nampak menakjubkan, ruangan awal yang ia lihat adalah ruang tamu. Ada dua rak di sisi kiri dan di ujung dengan berbagai macam buku. Tirai-tirai berwarna ungu muda, dan biru.


Lalu ketika berbelok, ada tirai besar berwarna putih dengan gambar Phoenix yang ternyata penghalang antara ruangan tadi dengan tempat tidur.


Nuansa kuno memang melekat di sini, tapi Yun Yi malah merasa lebih nyaman seperti ini.


"Ini adalah kamar anda. Seilhkan beristirahat, saya akan pergi keluar dulu." Setelah mengucapkan itu, ular putih menghilang, meninggalkan Yun Yi sendiri di ruangan ini.


Karena lelah, Yun Yi pun berjalan ke arah peraduan. Berniat untuk pergi ke alam mimpi. Ketika Yun Yi membuka tirai yang mengelilingi peraduan. Ia menatap takjub pada sekumpulan merpati mainan yang terbang di atas peraduan.


Tangan nya mencoba memegang gumpalan itu, tapi gumpalan itu tidak dapat tersentuh, itu seperti asap putih yang membentuk merpati.


"Zisè, apakah ini awan?"


'Seperinya begitu, dan karena awan ini tidak hancur saat di sentuh berapa kali pun, sepertinya yang membuat ini adalah seorang ahli dalam hal ini.


Yun Yi membaringkan tubuhnya, rasa lelah nya sirna saat tubuhnya ia rebahkan di kasur.

__ADS_1


"Sangat nyaman." Gumam Yun Yi.


Yun Yi memejamkan matanya, rasa nyaman itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Mata nya tiba-tiba terbuka ketika mengingat sesuatu.


"Zisè, apakah kamu tahu mengapa Ular itu memanggil ku Dewi?" Tanya Yun Yi.


"Maaf Xiăo Jiě, saya juga tidak tahu." Bohong, sebenernya Zisè tahu mengapa Ular putih memanggil Yun Yi Dewi. Tapi ia tidak bisa memberi tahu Yun Yi, biarkan Yun Yi tahu dengan sendirinya.


Yun Yi hanya mengangguk, walau ia sedikit merasa aneh dengan suara Zisè. Mungkin karena terlalu nyaman, mata Yun Yi perlahan tertutup.


Di dalam dunia ruang, Zisè menghela nafas lega saat Yun Yi tertidur. "Untunglah."


...> > > ✧✧✧ < < <...


Raja Xin menatap sekitar nya, ia tidak dapat menemukan Yun Yi di manapun. "Yi'er, Yi'er." Sekuat apapun Raja Xin memanggil Yun Yi, ia tidak mendengar sahutan apapun.


"Apakah terpisah?"


Raja Xin mulai melangkah, jika mereka benar-benar terpisah. Raja Xin berharap semoga Yun Yi baik-baik saja.


Raja Xin terus melangkah, ia tidak tahu harus melakukan apa saat Yun Yi tidak ada di samping nya. Dirinya ikut kemari karena ingin selalu berada di samping Yun Yi, api sekarang dirinya dan Yun Yi malah terpisah.


"Yi'er selalu menyukai tanaman seperti ini, apakah aku harus memetik nya?" Raja Xin berpikir sejenak. Tidak ada salahnya kalau dia memetik beberapa herbal dan tumbuhan racun bukan.


Raja Xin melangkah, berniat mengambil tanaman itu. Sebelum Raja Xin sampai di dekat tanaman-tanaman itu, seekor Macan hitam mengahalnginya.


Grr


Macan kumbang ini termasuk hewan spiritual tingkat ungu, tingkat kedua paling atas.


"Kau menghalangi jalan Raja ini." Ujar Raja Xin sedikit kesal.


"Grr, aku tidak akan membiarkan mu untuk memetik satu herbal pun. Herbal ini milik Dewi ku." Macan itu mengambil sikap siap menyerang, lalu meloncat ke arah Raja Xin.


Dengan santai Raja Xin menghindari serangan macam hitam itu. Ia tidak membalas serangan macan itu, Raja Xin hanya terus menghindar.


Grr


Macan hitam menggeram marah, ia memperbesar tubuhnya, lalu melayang kan satu pukulan.


Raja Xin menahan nya menggunakan ranting yang ia cabut dari salah satu pohon terdekatnya.

__ADS_1


"Seekor kucing seperti mu, berani bersikap sombong di hadapan Raja Xin." Dengan dingin Raja Xin memukul kaki macan hitam menggunakan ranting kecil itu.


Tak


Grrr


Macan hitam terlihat kesakitan, kakinya terangkat satu. Ia menatap Raja Xin penuh amarah.


"Aku adalah macan hitam tingkat ungu, bukan seekor kucing!" Macan hitam merasa tidak terima di sebuah kucing oleh Raja Xi, ia kembali menyerang Raja Xin menggunakan kaki lain nya.


Tak


Sekali lagi, Raja Xin hanya memukul kaki macan hitam menggumamkan ranting kecil itu. Dan macan hitam kembali kesakitan.


Raja Xin melangkah maju, berniat menyerang macan hitam.


"Tunggu!" Sebuah suara berhasil menghentikan langkah Raja Xin. Dirinya menoleh, mendapati seekor rusa putih yang di atah tanduk nya ada ular putih bermata ungu.


"Báishé?" Gumam Raja Xin.


"Seperti nya anda masih mengingat saya, naga biru."


Raja Xin memejamkan matanya ketika Báishé menyubutnya naga biru. "Kau tidak perlu memanggil Raja ini seperti itu."


"Kenapa? Apakah anda takut kalau Dewi kami mendengar nya?" Ular putih itu berubah menjadi seorang laki-laki tampan dengan rambut putih dan mata ungu tajam.


Raja Xin hanya diam, tapi rahang nya mengetat dan tangan nya mengepal, menandakan bahwa dia sedang marah.


"Sejak dulu, anda tidak pernah menyerah untuk mengejar Dewi kami. Bahkan saat Dewi kami bereinkarnasi, kamu bahkan langsung mengejar nya." Ujar Báishé dingin.


"Jika kau tidak tahu apapun, jangan berucap sembarangan." Raja Xin berbalik, membuang ranting yang ia pegang. Matanya menatap herbal-herbal dan tumbuhan beracun yang di jaga macan hitam itu.


'Kalau ini sudah termasuk ke dalam wilayah Yi'er, itu berarti kediaman nya ada di dalam sana.' Raja Xin menatap ke kedalaman hutan dengan pohon yang berbeda dengan pohon-pohon yang ia temui sbelumnya.


Báishé maju lalu berucap. "Saya peringatkan anda, jangan berani-berani untuk masuk ke dalam jika tidak ingin terluka." Ancam Báishé.


Raja Xin tidak peduli, ia menggunakan teleportasi untuk pergi ke dalam hutan itu.


"Dia masih berani untuk mendekati Dewi ku, dasar naga s****n. Apakah dia tidak tahu, kalau penyebab Dewi di ap penghianat adalah karena membela klan naga biru."


...🔸️To Be Continued🔸️...

__ADS_1


__ADS_2