Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Kucing Putih


__ADS_3

Raja Xin menatap tidak suka ke arah Jendral Huang dan Qiou Yue.


"Jangan menatap ku seperti itu. Yun Yi adalah adik mu, jadi kenapa kau harus kesal." Qiou Yue mendengus, menaap Raja Xin bersikap seperti itu.


Tanpa mengatakan apapun, Raja Xin berjalan ke arah Yun Yi. Ia duduk di pinggir kasur, kotak yang ia bawa di simpan di meja samping peraduan.


Ketika Raja Xin mengambil satu mangkuk sup teratai, bibir Yun Yi mengerut. "Kenapa tidak daging atau nasi?" Gumamnya.


Yun Yi menatap Raja Xin. "A'Guang... Aku ingin daging." Yun Yi menggoyangkan lengan Raja Xin, matanya menatap Raja Xin penuh harap.


Raja Xin hampir saja luluh, tapi ia segera menggelengkan kepalanya. "Kau masih belum sembuh total, jadi kau makan ini dulu. Ah, atau kau ingin di buatkan sup sarang burung walet?"


Mata Yun Yi membulat. "Tidak, tidak. Aku ingin makan sup teratai saja." Lebih baik makan sup teratai dari pada sup sarang burung walet, Yun Yi tak menyukainya.


Raja Xin pun menyuapi Yun Yi dengan telaten. "Pelan-pelan, tidak usah terburu-buru."


Raja Xin melebarkan senyumnya tatkala Yun Yi makan dengan lahap. Setelah habis, Raja Xin menyimpan kembali mangkuk itu ke dalam kotak. Lalu tangannya merogoh sesuatu dari balik lengan Hanfunya.


"Apa itu?" Yun Yi menatap penasaran pada ke dua bungkusan yang baru saja Raja Xin keluarkan. Tangan kiri dan kanan Raja Xin penuh.


"Bukalah." Ujar Raja Xin. Yun Yi mengangguk lalu membuka satu persatu.


Ketika membuka bungkus pertama. "Wah, Kue mawar." Matanya berbinar, kue ini adalah salah satu makanan kesukaannya.


Dan ketika membuka bungkus ke dua. "Eh? Bunga camomile?"


"Orang-orang berkata, kue ini adalah kue yang populer di bulan ini. Aku juga belum tahu rasanya, kalau mau, cobalah." Raja Xin memajukan tangan kanan nya.


Yun Yi pun mengambil kue camomile itu, menciumnya, matanya membulat. "Wanginya sangat harum." Segera setelah Yun mengatakan itu, dia melahap hampir semua bagian kue camomile.


"Emm, enak." Ucap Yun Yi, agak tidak jelas karena mulutnya penuh.


Raja Xin merasa senang ketika Yun Yi menikmati makanan yang ia bawa. "Kalau begitu makanlah lebih banyak."


Tentu saja Yun Yi mengangguk, setelah kue di tangannya habis. Ia 6y 6 mengambil kue mawar. Dan ia menyadari sesuatu, sedari tadi Raja Xin tidak makan dan hanya terus memegangi kue itu.


"Kamu mau?" Yun Yi mengangkat kue camomile yang baru saja ia ambil, di tangan lain.


"Aa.." Raja Xin membuka y6y6mulutnya, menerima suapan dari Yun Yi. Ah... Suasana hatinya makin membaik, ia merasa ada sesuatu yang menggelitik di perutnya.

__ADS_1


Tanpa Raja Xin sadari, telinga dan lehernya me merah. Yun Yi yang melihat itu terkekeh. "Hihi. A'Guang, kamu lucu."


Alis Raja Xin terangkat. "Apanya yang lucu?"


Yun Yi menggeleng, ia menahan senyumnya. 'Sepertinya A'Guang tidak menyadarinya kalau dia tadi tersipu.'Batinnya.


Melihat kue camomile, Yun Yi menjadi teringat dengan teh camomile buatan salah satu bawahannya. "Tiba-tiba, aku ingin teh camomile." Monolog Yun Yi.


Raja Xin yang memilki pendengaran tajam, tentu saja mendengar suara kecil Yun Yi. Ia berucap, "Apa itu teh camomile?" Tanya nya.


Yun Yi sedikit kaget, dia tidak tahu kalau Raja Xin akan mendengar suaranya, padahal ia berucap dengan suara sangat kecil.


Melihat raut wajah Raja Xin, sepertinya dia meminta penjelasan. Ugh, Yun Yi tidak tahu harus menjelaskan nya bagaimana. "Ya, teh camomile. Teh yang di campur dengan bunga camomile."


"Apakah aku perlu buatkan?" Tanya Raja Xin.


"Memangnya bisa?" Yun Yi terkekeh, apakah Raja Xin ingin membuatkannya? Tapi itu tidak mungkin, dia kan seorang raja.


"Aku akan mencobanya." Ucap Raja Xin.


Mata Yun Yi menyipit. "Benarkah?" Tanya nya, merasa tidak percaya.


Setelah mengucapkan itu, kini Raja Xin berlari. Dan Yun Yi terkekeh melihat Raja Xin dengan tingkahnya.


"Bukankah banyak rumor yang berkata kalau A'Guang itu laki-laki dingin. Lalu mengapa sekarang dia terlihat sangat lucu." Tutur Yun Yi.


Meong


Ngeongab itu berhasil mengalihkan pandangan Yun Yi. Ketika ia melihat ke luar jendela. "Apakah suaranya dari luar?"


Yun Yi pun bangkit, ia segera menghampiri jendela, ketika melihat keluar, ia mendapati seekor kucing putih yang basah, tubuhnya bergetar, sepertinya kedinginan.


Karena kasihan, Yun Yi pun membawa Kucing itu, menggunakan sulur nya. Ketika kucin itu sudah ada di dalam dekapan Yun Yi, tubuhnya berhenti bergetar, kepalanya pengelus-elus lengan Yun Yi, seolah mencari kehangatan.


"Wah.. kamu sangat menggemaskan." Tangan Yun Yi terulur, ia mengelus kepala kucing putih itu.


Yun Yi mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Lalu berucap. "Zisè, bagaimana caranya membuat kucing ini agar kering? Di sini tak ada kain sama sekali."


'Xiăo Jiě, coba kau alirkan kekuatan roh mu ke tangan dan biarkan tangan mu menjadi hangat, mungkin itu dapat mengeringkan tubuh kucing. Ah, atau gunakan elemen api mu, arahkan elemen api mu ke tangan lalu simpan tanganmu di samping kucing, itu akan membuat tubuhnya kering secara perlahan.' Jelas Zisè dari dalam ruang.

__ADS_1


Yun Yi mengangguk, ia pun mulai membuat api di jari telunjuknya. Dan benar saja, ketika Yun Yi meletakan tangannya di depan kucing itu, secara perlahan tubuhnya mengering.


Ketika bulu-bulu putih itu mngering, Yun Yi menatap tidak percaya. "Sangat imut."


Karena terlalu gemas, Yun Yi menggesek pipinya dengan wajah kucing itu. Bukunya sangat lembut dan lebar. Membuat Yun Yi tidak tahan, ia ingin menggigit kucin gputih ini.


"Boleh aku memakan mu?" Tanya Yun Yi.


Meong


Seolah paham, kucin itu menggelengkan kepalanya. "Wuah, kau pintar."


Ketika tengah asik dengan kucing di tangannya, Yun Yi di buat kaget ketika pintu terbuka secara kasar.


Brak


"JiěJiě."


Tepat ketika Yun Yi berbalik, seorang gadis kecil kini memeluk pinggangnya.


"Syukullah JiěJiě sudah sadal." Kalian sudah pasti tahu siapa dia.


"Yu'er, jangan berlarian." Yun Yi pun membawa Yu Lin, mereka duduk di kasur.


"Wah JiěJiě, kucing siapa ini?" Tangan Yu Lin mengusap buku lembut kucing itu.


"Tidak tahu, tadi dia meringkuk dengan tubuh basah di luar jendela." Ujar Yun Yi.


Yu Lin mendongak, "Kalau begitu, bolehkah kita pelihala?" Tanyanya, matanya menatap Yun Yi dengan penuh harap.


Kedua sudut Yun Yi berkedut, "Ugh, sekarang tambah lagi satu makhluk yang menggemaskan." Gumamnya.


"Ya?" Yu Lin seperti mendengar suara Yun Yi, tapi ia tidak tahu JiěJiě nya itu mengucapkan apa.


"Ah tidak."


"Karena sepertinya kucing ini belum  mempunyai pemilik, jadi aku setuju untuk memeliharanya." Mendengar itu Yun Yi berseru senang.


"Yey!"

__ADS_1


🔸️To Be Continued🔸️


__ADS_2