Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Balas budi


__ADS_3

Raja Xin menatap rumah yang sudah lama tidak ia tinggali, rumah yang di bangun tepat berada di tebing yang menghadap ke laut biru secara langsung.


Sudah lama Raja Xin berencana akan merombak rumah ini, tapi sampai saat ini belum juga terlaksana.


Raja Xin membawa Yun Yi memasuki rumah, ia pergi ke kmr utama lalu membaringkan Yun Yi di sana.


Ketika Raja Xin akan pergi, tangan Yun Yi lebih dulu menghentikan nya.


Raja Xin kira Yun Yi terbangun, tapi ternyt tidak. Yun Yi memang memegang lengan nya, tapi matanya masih menutup. Raja Xin berencana melepaskan celana Yun Yi. Namun, bukannya lepas, dirinya malah tertarik ke peraduan. Jika raja Xin tdak menopang tubunya dengan ke dua tangannya, mungkin tubuhnya sudah jatuh cukup keras di atas tubuh Yun Yi.


"Aku tidak ingin tidur sendiri." Gimana Yun Yi mwmbhat Raja Xin teridam untuk beberapa saat.


"Temani..." Suara Yun Yi seperti seseorang yang tengah memelas. Tapi mata Yun Yi masih terpejam, itu berarti Yun Yi tengah bermimpi.


Entah dorongan dari mana, Raja Xin pun naik ke peraduan. Lalu tidur di samping Yun Yi. "Aku ada di sini." Raja Xin memeluk Yun Yi, kepalanya ia simpan di samping kepala Yun Yi.


Sebelum dirinya ikut menyusul ke alam mimpi, untuk beberapa saat Raja Xin mengecup kening Yun Yi.


...> > > ✧✧✧ < < <...


Tianzhi seharian ini terus mencari Yun Yi, tapi ia tidak menemukan nya, jejak terakhirnya ada di ladang bunga. Namun, auranya berhenti di sana, seolah Yun Yi menghilang begitu saja.


Tianzhi kini tengah berdiam diri di sebuah batu dekat sungai, matanya terpejam. "Aku harus mencari nya kemana lagi."


Srtt


Srtt


Tianzhi menjadi waspada, ketika dirinya mendengar sebuah suara. Dia mengubah tampilan nya, warna rambutnya menjadi hitam bola matanya pun menjadi hitam. Hanfunya ia ganti menjadi Hanfu yang umum di gunakan di dunia manusia.


"Huh, huh." Tak jauh dari tempat Tianzhi berada. Jun Shu Ren tengah memapah Ming Yuan yang terluka cukup parah. Di samping nya, Guang Luo juga terluka, tapi dia masih bisa berjalan.


Ketika mereka bertiga melihat Tianzhi, awlanya merasa waspada. Namun, melihat Tianzhi yang hanya diam. Mereka sedikit menghea nafas lega.


"Permisi, Gūniáng." Guang Luo menghampiri Tianzhi.

__ADS_1


Tianzhi menoleh lalu mengangkat alisnya. Wajahnya seolah berkata "Apa?"


"Apakah anda memiliki kemampuan media? Jika bisa, saya ingin meminta tolong untuk mengobati murid saya, sepertinya dia terkena racun." Tutur Guang Luo.


Tianzhi menatap Ming Yuan yang di tidurkan dengan kepala berada di paha Jun Shu Ren. "Saya akan mencoba."


Guang Luo tersenyum senang saat Tianzhi melangkah, menghampiri Ming Yuan. Tianzhi mengeluarkan sapu tangan nya, meletakkannya di atas kulit pergelangan tangan Ming Yuan. Lalu mulai memeriksa denyut nadi Ming Yuan.


Setelah beberapa saat, Tianzhi mengeluarkan satu set Jarum akupuntur. Lalu menusuk ujung jari Ming Yuan. Setelah nya, Tianzhi mengalirkan sedikit energi spiritual nya ke jarum akupuntur.


Tiba-tiba tubuh Ming Yuan mengejang, itu terjatu beberapa waktu. Setelah Ming Yuan kembali tenang. Tianzhi mencabut jarum akupuntur.


"Apakah di antara kalian ada yang membawa emas porselen putih?" Tianzhi bertanya.


"Saya membawanya." Guang Luo mengeluarkan gelas porselen dari cincin ruang nya, lalu menyerahkan nya pada Tianzhi.


Tianzhi menerimanya, lalu mengisinya dengan air sungai. Tianzhi meletakkan ujung jarum di dalam air. Beberapa saat kemudian, air itu berubah ke hijau-an.


"Warna hijau nya begitu pekat." Gumam Tianzhi.


Tianzhi mengangguk. "Tentu. Tidak ada penyakit yang tidak bisa di sembuhkan. Dan tidak ada racun yang tidak memiliki penawar nya."


Tianzhi mengeluarkan beberapa erbal dari cincin ruang nya. Ia menumbuknya di sebuah kayu datar yang sudah di cuci terlebih dahulu.


Di samping, Guang Luo berdiri kaku. Perkataan yang di ucapkan wanita di depannya sangat mirip dengan yang di katakan Dewi cahaya yang tertulis di buku.


'Apakah wanita ini pernah membaca buku rahasia menara Qipei?' pikir Guang Luo.


Setelah halus, Tianzhi memasukan herbal itu ke sebuah wadah. Lalu mengisinya dengan air. Dia menyimpan nya di bebatuan, lalu membakar bebatuan menggunakan apinya.


Setelah mendidih, Tianzhi mengaring nya dan membuang ampasnya. Setelah nya ia membuat gelas dari Es lalu menuangkan air itu ke dalamnya.


Csss...


Tianzhi mendiamkannya beberapa saat, lalu memberikannya pada Jun Shu Ren. "Bantu dia minum ini. Setelah nya tunggu sampai sadar."

__ADS_1


Tianzhi bangkit, berniat pergi. Namun, harus terhenti karena Guang Luo berucap.


"Saya sangat berterimakasih karena Gūniáng sudah menolong murid saya. Jadi, apa yang harus saya berikan untuk membalas budi Gūniáng?"


Tianzhi terdiam, membalas budi, ini pertama kalinya ada yang ingin membalas budi ata kebaikan yang ia berikan. Biasanya jika dirinya menolong orang, mereka hanya akan berterimakasih dan tidak pernah membahas soal balas budi.


Ah, Tianzhi sadar akan satu hal. Sekarang dirinya tengah menyamar, jadi mereka tidak tahu kalau dirinya adalah Dewi tertinggi, Dewi Cahaya.


"Hanya satu." Tianzhi menjeda ucapan nya.


"Apa itu?" Tanya Guang Luo.


"Jangan merusak wilayah yang berada di dalam segel Array. Wilayah ini adalah milik Dewi Alam." Tianzhi terdiam, ia mengingat saat dia tengah mencari Yun Yi ada seseorang yang menyebutkan kalau tempat ini di sebut reruntuhan.


"Dan satu hal lagi. Wilayah di dalam segel array bukanlah reruntuhan." Setelah mengucapkan itu, Tianzhi menghilang di udara.


"Kemampuan yang sangat menakjubkan." Sedari awal, walau penampilan wanita itu masih terlihat muda tapi auranya sangatlah agung. Ia tidak bisa melihat basis maupun tingkatan Kultivasi nya.


"Uhuk, uhuk." Guang Luo mengalihkan pandangan nya saat mendengar suara batuk.


Jun Shu Ren membantu Ming Yuan untuk duduk.


"Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Guang Luo khawatir. Ming Yuan adalah murid laki-laki satu-satunya, untuk saat ini. Jadi dia harus menjaganya dengan hati-hati.


"Ya, aku sudah merasa lebih baik dari yang tadi, guru." Ming Yuan memijit kakinya yang terasa kebas, badan nya sekarang sudah merasa jauh lebih baik dari yang tadi. Hanya saja dirinya masih merasa lemas, dan sedikit pusing saja.


"Lebih baik kita menginap di sini dulu untuk malam ini. Besok kita akan cari Yun Yi dan juga Raja Xin." Ujar Guang Luo.


"Baik guru."


Guang Luo mendirikan tenda dan Jun Shu Ren mencari kayu dan berburu hewan ke dalam hutan. Sedangkan Ming Yuan kini tengah menatap api yang menyala di bebatuan yang tidak padam walau sudah ia siram menggunakan air.


"Sepertinya ini adalah api spiritual." Gumam Ming Yuan.


"Tapi milik siapa?"

__ADS_1


...🔸️To Be Continued🔸️...


__ADS_2