Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Tabib Suci, Wen Yun


__ADS_3

Shuan Si dan Wei Zi kini telah sampai di depan salah satu penginapan yang terkenal di ibu kota Kerajaan Xin.


Orang-orang di sekitar terus menatap ke arah mereka, mungkin karena penampilan Wei Zi.


"Dia menginap di lantai berapa?" Tanya Wei Zi, matanya mengamati penginapan yang memiliki tiga lantai itu, mengabaikan tatapan orang-orang di sekitarnya.


Desain penginapan ini bisa di bilang yang paling unik, setiap lantai bangunannya di warnai dengan warna yang berbeda. Bahkan, pintu masuknya pun unik. Jika biasanya pintu penginapan selalu di buka ke dalam dan di tutup ke luar. Pintu penginapan ini justru terbuka, ketika di tarik ke atas dan menutupnya dengan menjatuhkan Pintu ke bawah.


"Penginapan ini sangat unik." Gumam Wei Zi.


Shuan Si tersenyum, ekspresi Wei Zi sama dengan ekspresi nya saat pertama kali melihat penginapan ini. Lalu menatap sekelilingnya.


"Wei Zi, apakah kamu tidak bisa mengubah kakimu menjadi kaki manusia? Orang-orang sedari tadi terus menatapmu."


"Bukan tidak bisa, hanya saja aku lebih suka dengan wujud asliku." Sahut Wei Zi.


Shuan su hanya bisa mengangguk, lalu berkata. "Ayo masuk ke dalam." Ajak nya.


Wei Zi mengangguk, walau agak kesal karena Shuan Si tidak menjawab pertanyaan yang di ajukan olehnya.


Di dalam, keadaan begitu ramai. Saat ini tengah ada pertunjukan musik dan tari di panggung yang tersedia di aula utama.


"Nah itu dia." Ujar Shuan Si ketika mibat seorang wanita dengan rambut ungu lembut.


Sekali lagi, Wei Zi mengikuti langkah Shuan Si dengan perasaan kesal, kali ini ia kesal karena sudah dua kali di tinggalkan oleh tabib istana itu.


"Permisi." Shuan Si menyapa.


Wanita dengan rambut ungu itu menoleh, wajahnya terlihat berseru ketika melihat Shuan Si.


"Saudara Shuan! Ayo silahkan duduk." Wanita itu menggeser kursi di sampingnya.


Mendapat respon positi, Wei Zi dan Shuan Si tersenyum senang. Ketika Shuan Si duduk, Wei Zi pun ikut duduk.


"Saudara Shuan, sedang ada keperluan apa kamu di sini?" Tanya wanita itu dengan ramah.


Shuan Si melirik Wei Zi, dan Wei Zi hanya mengangguk. Setelah nya Shuan Si kembali menghadap Tabib suci.


"Begini, Nona ku sedang sakit saat ini. Dan aku tidak bisa menanganinya, jika kamu berkenan bisakan kamu memeriksa Nonaku, Wen Yun?" Tanya Shuan Si, to the point.

__ADS_1


Mendengar itu Tabib suci, alias Wen Yun tersenyum. "Tentu saja. Kemarin kamu menyelamatkan hidupku. Maka kali ini giliran aku yang membantumu."


Senyum Shuan si melebar, tangannya terulur memegang kedua tangan Wen Yun. "Terimakasih." Ucap Shuan Si dengan tulus.


"Aku juga sangat berterimakasih, kerena anda mau membantu." Sambung Wei Zi.


Wen Yun menggelang sambil tersenyum. "Tidak usah terlalu formal. Aku adalah orang yang tidak suka memiliki hutang budi, karena Shuan Si sudah menolong ku, maka aku juga akan menolongnya."


"Kalau begitu, apakah kita bisa berangkat sekarang?" Tanya Shuan Si, dan Wen Yun pun mengangguk.


Wei Zi ikut menganggukkan kepalanya, ketika ia berdiri dari duduknya. Tiba-tiba ia di serang rasa kantung yang sangat. "Shua..."


Bruk


Tubuh Wei Zi terjatuh. Shuan Si yang sudah berjalan kembali berbalik, ketika mendengar suara.


"Wei Zi?!" Shuan Si berlari ke arah Wei Zi, dia memangku kepala Wei Zi, lalu memeriksa keadaannya.


"Dia tertidur?" Anya Wen Yun yang ada di samping Shuan Si.


Shuan Si mengangguk, ia menatap wajah Wei Zi yang kini terlelap. "Entah kenapa aku memiliki firasat buruk tentang hal ini." Gumamnya.


Shuan Si menghela nafasnya. "Ya." Dan mengangguk dengan lesu. Ia merangkul Wei Zi, dan Wen Yun membantunya untuk berdiri.


Lalu Wen Yun mendekat ke arah Shuan Si. "Saat ini, kita harus mencari tempat sepi. Lebih baik kita pergi ke tempat junjungamu menggunaka teleportasi." Bisiknya.


Shuan Si mengangguk setuju, ia memapah Wei Zi, di bantu oleh Wen Yun. Mereka keluar dari penginapan, lalu mencari gang yang sepi.


"Seperinya kita bisa melakukannya di sini. Ujar Wen Yun sambil mengamati sekitar.


Shuan Si mengangguk setuju. Dan setelahnya, Wen Yun mengeluarkan sebuah jimat teleportasi dari balik lengan Hanfunya. Lalu mengalirkan sedikit Qi spiritual ke tulisan kuno yang terukir di kertas biru itu.


Wush


Ketigana menghilang. Dan entah mereka sadar atau tidak, semenjak mereka keluar dari penginapan, Raja Xin yang berada di rumah makan sebrang penginapan terus mengamati mereka.


"Bukankah salah satu dari mereka adalah Shuan Si? Tapi, kenapa Shuan Si ada di sini? Bukankah di hanya di tugaskan di istana milik Xiao'er saja?" Gumam Raja Xin.


"Lalu.. apakah yang di papah oleh Shuan Si tadi adalah Wei Zi? Atau bukan?" Raja Xin kembali bergumam.

__ADS_1


Raja Xin terdiam, sambil melihat ke dalam gang tempat terakhir Shuan Si sebelum menghilang.


"Yang mulia, yang mulia apakah anda mendengarkan?" Tanya Lin Dan, Mentri keamanan kerajaan Xin.


Raja Xin tersadar, dia kembali melihat ke arah Mentri Lin sambil berucap. "Ulangi." Titahnya.


Mentri Lin tersenyum pasrah, walau dia sudah sangat lelah terus menjelaskan tentang keadaan Kerajaan Xin, dan beberapa masalah yang terjadi. Kali ini ia harus kembali menjelaskan nya, walau kesal ia tetap harus menjelaskan semuanya kembali.


"Baiklah, saya ulangi. Gerbang-gerbang yang menghubungkan dunia manusia dan dunia lain ada yang mengalami kerusakan. Alasannya karena ada beberapa kelompok yang memaksa masuk dan menyerang sisi gerbang, dan untungnya kerusakannya tidak terlalu besar. Lalu...."


Raja Xin mendengarkan semua penjelasan Mentri Lin, tapi pikirannya tidak ada di sana. Di dalam kepala Raja Xin, dia terus bertanya bagaimana keadaan gadisnya sekarang?


Apakah Xiao'er baik-baik saja?


Apakah dia kini sedang menghadapi masalah?


Apakah gadisnya makan dengan baik?


Dan masih banyak lagi.


Lalu, setelah Mentri Lin telah menyelesaikan semua penjelasan dan laporannya. Raja Xin langsung bangkit berdiri.


"Aku akan mencari solusinya, jadi kau boleh pulang sekarang." Tutur Raja Xin.


Raja Xin pergi dari sana, meninggalkan Mentri Lin yang kini menghela nafas berat.


"Sepertinya yang mulia tengah memikirkan Huang Xiăo Jiě. Yah itu wajar, yang mulia baru saja mengalami hal romantis seperti ini. Dia seperti remaja kecil yang terus memikirkan cinta pertamanya." Ujar Mentri Lin dengan suara pelan.


Ia pun ikut berdiri, dan meninggalkan rumah makan itu.


Mentri Lin tidak langsung pulang ke rumah, ia pergi ke salah satu kuil yang memiliki banyak pohon buah persik dan Plum di sekitarnya.


Dia masuk ke dalam kuil, lalu duduk di sebuah bantal bulat yangdi sediakan.


"Dewi, ku harap kau selalu memberikan berkah pada Kerajaan Xin. Mohon jaga Kerajaan tempatku lahir ini, tolong jauhkan dari semua hal yang akan membuat Kerajaan ini jatuh." Lalu setelah nya Mentri Lin bangkit lalu pergi ke luar kuil.


Setelah pintu tertutup, patung bunga anggrek yang ada di sana tiba-tiba bersinar. Dalam sekilas, ada seorang wanita cantik dengan Hanfu ungu-hijau yang tersenyum, dan setelahnya menghilang.


...🔸️To Be Continued🔸️...

__ADS_1


__ADS_2