
"i-ini..." Shuan Si melirik Yun Yi, takut-takut.
Dirinya merasa ragu.
Melihat raut Shuan Si yang seperti itu, Yun Yi tahu, kalau yang di ucapkan Wen Yun adalah kebenaran.
Yun Yi menatap Hua Wei yang masih dengan keadaan semula, pandangan yang begitu kosong.
Yun Yi menggeram marah, bahkan sampai terdengar suara gemeletuk.
"Sepertinya aku harus membunuh laki-laki itu." Tanpa sadar, Hei Sui kini mulai menguasai Yun Yi.
Ketika kakinya melangkah, sebuah tangan lebih dulu mencengkram ujung Hanfu-nya.
"Dewi, jika anda membunuhnya, anak ini akan kehilangan sosok ayahnya."
Hua Wei yang tersadar dari lamunan panjangnya mencegah Yun Yi pergi. Matanya memang tidak sekosong tadi, tapi tetap ada jurang hitam yang begitu dalam dari tatapan Hua Wei.
"Kamu tidak perlu memusingkan hal itu. Aku bisa mencarikanmu laki-laki lain." Secara perlahan, Yun Yi pun kembali sadar, sosok Hei Sui telah hilang.
"..." Tak ada tanggapan apapun dari Hua Wei, dia malah menundukkan kepalanya dan terisak kecil.
"Apakah masih ada laki-laki yang akan menerima wanita sepertiku? Apalagi, kini aku telah menjadi rubah yang cacat."
Tangisan Hua Wei cukup menggema di ruangan ini. Tangan Yun Yi terkepal kuat, ketika mendengar Isak tangis Hua Wei.
"Lalu, apa yang harus ku lakukan? Memintanya untuk bertanggung jawab atas dirimu?"
Yun Yi mendengus dingin. "Tidak mungkin!"
"Laki-laki seperti Yue Yi tidak pantas bersanding denganmu. Kamu harus menikahi laki-laki dengan sikap yang layak, bukan laki-laki b*****k seperti dia!"
Nafas Yun Yi tidak beraturan, terlalu marah.
Yun Yi menatap Hua Wei yang terus menundukkan kepalanya.
"Jangan menangis terus. Karena sekarang kamu sudah tahu, kalau kamu sekarang sedang berbadan dua, apakah kamu sudah memiliki rencana hidupmu ke depannya akan bagaimana?"
__ADS_1
Yun Yi mencoba mengontrol emosinya, dirinya menatap Hua Wei, menanti jawaban dari wanita itu.
"Mungkin saya akan meminta Kaisar utntuk bertanggung jawab atas bayi ini. Saya tidak peduli akan menerima saya atau tidak. Tapi saya harap, Kaisar akan menerima anak ini." Ujar Hua Wei. Sebelah tanannya mengusap perutnya yang mulai membuncit, di sertai senyum.
Walau bibirnya melengkung tapi matanya masih sangat gelap. Hua Wei sudah seperti boneka yang di paksa hidup.
Yun Yi menatap tidak percaya pada Hua Wei. Hua Wei yang ia kenal, adalah gadis rajin dan memegang teguh peraturan Suku siluman rubah ekor sembilan. Tapi, mengapa sekarang...
"Hua Wei, kamu tahu, kalau suku-mu memegang peraturan untuk hanya memiliki satu pasangan seumur hidup, mau itu laki-laki atau perempuan. Lalu, kenapa sekarang kamu malah ingin masuk ke dalam istana yang di penuhi selir itu?!"
Tangis Hua Wei yang awalnya sudah reda, kini kembali terdengar. "Tapi, jikasaya tidak menjadi selir Kaisar, bagaimana nasib saya dan anak ini nantinya? Saya tidak mau, kalau nanti anak saya di bilang 'anak tanpa ayah'"
"Walau begitu, apakah tidak ada laki-laki lain selain kaisar b*****k itu?!" Tanya Yun Yi, sewot.
Kepala Hua Wei semakin menunduk, tanannya masih terus memegang perutnya. "Tapi, siapa yang akan menerima saya dengan anak ini?"
Di era ini, tidak ada laki-laki yang akan menerima seorang gadis yang telah di rebut kesuciannya sebelum menikah! Mereka pasti akan berpikir ulang, karena hal ini akan sangat berpengaruh pada reputasi keluarga mereka.
Yun Yi terdiam, untuk saat ini dirinya belum menemukan laki-laki yang mungkin akan menerima Hua Wei.
"Aku akan mencarinya nanti." Pada akhirnya Yun Yi hanya bisa berkata demikian.
"Nanti setelah perut saya ini semakin membesar? Atau nanti setelah saya berhasil melahirkan di saat saya masih belum menikah?"
Yun Yi memijat area di antara kedua alisnya, belum selesai masalah Raja Xin yang rubah menjadi naga, dan masalah tentang bawahannya. Kini dirinya malah di buat semakin pusing.
"Terserah dirimu, setelah ini aku akan mengumpulkan orang-orang untuk berkudeta. Setelah aku mengalahkan kaisar itu, kamu bisa berbicara dengannya, dan sampaikan kondisimu pada laki-laki b****k itu."
Setelah Yun Yi meninggalkan ruangan ini, Isak tangis Hua Wei kembali terdengar.
...> > > ✧✧✧ < < <...
Yun Yi yang masih marah kini pergi ke kediama Zhao. Dirinya ingin mengecek para wanita yang ia bawa dari kekaisaran Siluman. Dan akan menanyai siapa saja yang akan ikut dengannya.
Setelah Yun Yi mengumpulkan semuanya di lapangan pelatihan para prajurit. Yun Yi menyampaikan semuanya yang ingin ia sampaikan, salah satunya mengenai pekerjaan seperti apa saja yang akan di lakukan jika ikut bersamanya.
Dan ternyata, wanita-wanita yang ingin ikut bersamanya lumayan banyak, walau ada beberapa orang yang terus protes.
__ADS_1
Yun Yi membebaskan para wanita yang tidak akan ikut dengannya. Terserah mereka, mah kembali ke rumah mereka masing-masing atau lainnya.
Agar lebih mudah, Yun Yi membuat sebuah portal gerbang, dan menyuruh mereka untuk masuk.
Setelah sampai di istana milik Yun Yi, Yun Yi lebih dulu memerintahkan mereka untuk beristiraha.
Karena mulai besok, Yun Yi akan membebani mereka dengan berbagai macam pekerjaan.
Ketika Yun Yi akan meninggalkan paviliun tempat para wanita itu tinggal, salah satu dari mereka berlari dengan terengah-engah ke arah dirinya.
"Gūniáng tunggu!"
Yun Yi menatap gadis di depannya, gadis itu terlihat cukup tenang, walau raut khawatir masih terpampang di wajahnya.
"Ada perlu apa?" Tanya Yun Yi setelah gadis itu selesai mengatur nafasnya.
"Gūniáng, teman saya mungkin masih berada di terowongan itu, saya mohon bantu dia, apalagi sekarang ini dia tengah mengandung."
Mendengae itu, Yun Yi malai teringat Hua Wei. "Apakah dia seorang siluman rubah ekor sembilan?"
Mendengar pertanyaan Yun Yi, gadis itu segera mengangguk. "Anda benar."
"Apakah siluman yang kamu maksud adalah Hua Wei?"
Raut wajah terkejut gadis tu tidak dapat terhalangi. "Bagaimana anda.."
Sebelum gadis itu menyelesaikan ucapannya. Yun Yi sudah lebih dulu menggenggam tangan gadis itu, dan membawanya ke istana bagian lain, dengan teleportasi.
Yun Yi membawa gadis itu ke ruang medis.
Setelah melihat sosok sahabatnya, gadis itu segera berlari menghampiri Hua Wei yang kembali melamun.
"Hua Wei, untunglah kamu baik-baik saja. Aku sangat khawatir pada kalian."
Yun Yi mengamati interaksi keduanya, walau Hua Wei masih terus diam, tapi terlihat dari wajahnya, Hua Wei merasa senang karena sahabatnya masih ingat pada dirinya.
"Aku baik-baik saja." Suara seram Hua Wei terdengar, sangat jelas bahwa dia baru saja meredakan tangisnya.
__ADS_1
"Kalau kamu baik-baik saja, mengapa suaramu seperti ini? Dan mengapa kamu sangat pucat begini?"
...🔸️To Be Continued🔸️...