Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Menemui Calon Guru


__ADS_3

Makanan pun kini sudah selesai di tata di meja makan. Jú huā langsung pergi ketika Raja Xin menatap tajam ke arahnya, jadilah tinggal Yun Yi dan Raja Xin di ruang makan ini.


Yun Yi makan dengan lahap. Beda halnya dengan Raja Xin yang masih diam.


"Kenapa kamu gak makan?" Tanya Yun Yi.


Raja Xin mengangkat mangkuk nasinya ke hadapan Yun Yi. "Ambilkan." Pinta Raja Xin.


Yun Yi menayap aneh pada Raja Xin. Mengapa nada bicara tunangannya tiba-tiba menjadi manja?


Jika Jú huā masih ada di sini, kira-kira bagaimana reaksinya ketika melihat tuannya bertingkah manja seperti ini?


"Memangnya kau tidak bisa mengambilnya sendiri?" Yun Yi menatap Raja Xin kesal.


Raja Xin menggoyang-goyangkan tangannya. "Tapi aku ingin kau yang mengambilkan makanan nya."


Yun Yi menghela nafas. Apakah semua laki-laki yang sudah bertunangan kelakuannya seperti ini? Pikirnya.


Pada akhirnya Yun Yi mengambilkan Raja Xin makanan, dia menyumpit beberapa potong daging, lalu di taruhnya di atas nasi Raja Xin.


"Nah, makan." Ucap Yun Yi, agak kasar.


Raja Xin tersenyum lebar, ia pun mulai makan. Setelah daging nya habis, Raja Xin kembali mengangkat mangkuknya. Lalu Yun Yi kembali memberikan beberapa lauk untuk Raja Xin. Dan.. seperti itu terus sampai makanan yang ada di meja habis.


Ketika Yun Yi akan membereskan mangkuk dan piring kotor. Raja Xin lebih dulu mengambilnya.


"Biar aku saja." Raja Xin pun membawa piring kotor ke dapur.


Rasa kesal yang tadi Yun Yi rasakan entah hilang ke mana. Ia menatap Raja Xin yang tengah mencuci piring bekas mereka makan.


"Ternyata seorang Raja juga bisa melakukan pekerjaan dapur." Monolog Yun Yi.


Yun Yi terkekeh pelan, ketika mengingat wajah serius yang di tampilkan Raja Xin saat memasak tadi.


"Ini benar-benar aneh. Entah kenapa aku malah semakin menyukainya." Mata Yun Yi tidak lepas dari kegiatan Raja Xin yang kini tengah merapikan dapur yang agak berantakan.

__ADS_1


Ketika Raja Xin keluar dari dapur, lalu menghampiri Yun Yi yang kini tengah memakan buah apel, enah di dapatkan dari mana.


"Sudah selesai?" Dengan mulut penuh Yun Yi bertanya ketika Raja Xin sudah duduk di sampingnya.


"Sudah." Raja Xin menyandarkan kepalanya di pundak Yun Yi.


Yun Yi menyodorkan apel yang ia gigit ke hadapan Raja Xin. "Mau?" Tawarnya.


Dengan senang hati Raja Xin menerimanya. "Manis." Gumamnya.


"Kamu mendapatkan apel ini dari mana Yun'er?" Tanya Raja Xin.


"Dunia ruang ku. Di sana ada kebun yang memilki berbagai macam buah-buahan. Jadi, aku meminta Zisè untuk memetiknya." Yun Yi menjelaskan sambil mengeluarkan satu buah apel lagi.


Ketika Yun Yi lagi-lagi sibuk memakan apelnya, Raja Xin segera berucap, agar keadaan tidak hening. "Yun'er. Barang yang kau inginkan akan tersedia besok."


"Apa tidak bisa sekarang?" Tanya Yun Yi, yang sudah tidak sabar ingin meneliti Bunga Holly Kelabu yang kemarin.


"Ada satu herbal yang masih belum matang. Dan di perkirakan nanti malam akan matang. Namun, karena Herbal ini tidak bisa langsung di petik behitu saja, jadi kita harus menunggu sampai besok." Raja Xin menjelaskan mengapa ia tidka memberikan barang yang Yun Yi inginkan, sekarang.


Dan keadaan pun menjadi hening, Yun Yi yang sibuk dengan apel nya. Lalu Raja Xin yang tengah sibuk memeluk Yun Yi dari samping.


Ketika apel ke dua Yun Yi habis, ia berkata. "A'Guang, apakah kita bisa menemui calon guruku hari ini?" Tanyanya.


Raja Xin duduk tegak, berbelok menatap Yun Yi. "Apakah harus sekarang?"


Raja Xin masih ingin berduaan dengan gadisnya seperti ini. Waktu yang mereka habiskan untuk bersuaan seperti ini akan semakin jarang karena pekerjaan nya yang semakin menumpuk.


"Ya, aku ingin sekarang. Supaya ketika acara berburu sudah di mulai nanti, kultivasi ku sudah naik." Yun Yi yakin, di acara perburuan ini akan banyak Kultivator dengan tingkat jauh di atasnya. Jadi, Yun Yi harus cepat-cepat menerobos.


"Baiklah. Ayo aku antarkan pada nya." Dengan setengah hati Raja Xin membawa Yun Yi pada calon guru Yun Yi.


Ketika keluar dari dunia ruang milik Raja Xin. Yun Yi langsung memijak rumput yang tumbuh menjulang, hampir seukuran betisnya.


"Mengapa kau membawaku ke tempat ini? Lihatlah rumputnya begitu tinggi sampai-sampai kaki ku tertutupi." Yun Yi berujar kesal. Untung saja ia memakai kaus kaki kalau tidak mungkin kakinya akan gatal-gatal.

__ADS_1


"Calon gurumh berkata. Jika kamu ingin menemui dia, aku tidak boleh ikut." Ujar Raja Xin.


"Dan apakah kamu bisa melihat sedikit pantulan cahaya di sini?" Tanya Raja Xin, menatap ke sekelilingnya.


Yun Yi pun memerhatikan araha mata Raja Xin, ia pun ikut melihat ke arah yang di pandangi Raja Xin. Memang benar, seperi ada sedikit pantulan cahaya di sekitarnya. Namun, Yun Yi tidak melihat ada benda yang dapat memantulkan cahaya matahari di sekitar sini, hanya ada pepohonan.


"Jika kamu melihatnya. Itu adalah barier pelindung yang di pasang calon gurumu." Ungkap Raja Xin.


"Memangnya beliau sedang apa sampai memasang barier pelindung seperti ini?" Yun Yi bertanya, mengungkapkan isi pikirannya.


Raja Xin menghendikkan bahunya, "Entahlah, mungkin dia sedang berkultivasi." Ujar Raja Xin, terdengar tidak peduli.


"Sepertinya calon muridku sudah datang."


Yun Yi menoleh ke asal suara. Sedangkan Raja Xin hanya diam, ia sudah tahu siapa orang yang tengah berucap itu.


Di sebrang, ada pria yang sepertinya seumuran dengan Wanran, yang memegang tongkat untuk membantunya berjalan. Di pundaknya, bertengger burung hantu dengan mata merah menawan.


"Kau benar-benar mirip dengan anak Wanran." Pria itu kembali berbica.


Alis Yun Yi menaut. "Apakah anda mengenal Kakek saya?" Tanya Yun Yi.


"Bukan hanya kenal. Aku Kakekmu dan Nenekmu adalah sahabat. Dulu kami pernah satu perguruan." Ucapan Pria itu berhasil membuat Yun Yi terkejut.


"Apakah anda kenalan yang di maksud Kakek?" Pria itu mengangguk.


Yun Yi menolehkan kepalanya ke arah Raja Xin. "A'Guang bagaimana kamu bisa mengenal sahabat Kakek?" Tanya Yun Yi.


Raja Xin yang tadinya sedang bersedekap dada sambil menutup matanya. Kini ia menatap Yun Yi, lalu dengan lembut mberbicara.


"Dia sering singgah di Kerajaan ku. Dan kami beberapa kali menjalin kerja sama." Jelas Raja Xin secara singkat.


"Itu benar, aku memang sering singgah di kerajaan nya." Pria tadi mengangguk, membenarkan ucapan Raja Xin.


"Ah ya, hampir lupa. Perkenalkan namaku adalah Guang Luo." Pria itu memperkenalkan diri sambil membuka barier pelindung yang ia pasang.

__ADS_1


...🔸️To Be Continued🔸️...


__ADS_2