
"Apa?!" Wanran dan Guan Yin semakin di buat kaget.
"Ayolah, kenapa Kakek dan Nenek terlihat sangat terkejut. Bukankah itu hanya nama panggilan?"
"Tentu saja kami kaget. Raja Xin yang di kenal sangat di dingin itu, meminta mu memanggil nya A'Guang. Itu kejadian di luer pemikiran kami!" Guan Yin nampak sewot, karena tanggapan Yun Yi yang biasa-biasa saja.
Jendral Huang hanya bisa menghela nafas. Mereka sudah sangat kaget ketika tahu kalau Raja Xin meminta Yun Yi untuk memanggil nya A'Guang. Apa lagi kalau mereka mengetahui bahwa Raja Xin sangatlah manja jika berada di dekat Yun Yi. Mungkin mereka akan berteriak lebih kencang dari ini, bahalan mungkin pingsan.
"Kakek, Nenek. Sebaiknya kita segera bergegas, takutnya ketika kita tiba di Kekaisaran Wu tengah malam." Qiou Yue berucap, menghentikan percakapan yang absurd ini.
"Kau benar." Wanran mengangguk, membenarkan ucapan Qiou Yue.
"Baiklah, kalau begitu. Kita akan langsung menuju ke belakang bukit ini." Guan Yin menunjuk bukit yang berada di belakang Kediaaman nya.
Yun Yi menoleh, "Eh? Kita akan langsung lergi? Aku kira kita akan mampir dulu ke Kediaman Kakek dan Nenek." Ujar Yun Yi, lesu.
Melihat suasana hati Yun Yi yang berubah, Jendral Huang pun berniat menghiburnya. Namun, baru saja mulutnya terbuka, Xi Lan Fen berucap agak keras, dari kereta.
"Dasar cengeng. Hanya hal kecil seperti itu kenapa kau harus sampai memasang raut seperti itu?" Xi Lan Fen berujar sinis, sangat kenara kalau ia tidak menyukai Yun Yi.
"Putri dari kekaisaran seperti mu tidak akan pernah mengerti dengan perasaan rakyat kecil seperti kami. Jadi ku harap Gūniáng¹ memakluminya." Karena terlalu kesal, Guan Yin sengaja memanggil Xi Lan Fen Gūniáng, alih-alih Huang Fūrén.
Xi Lan Fen mengepalkan tangannya, ia seharusnya sudah terbiasa dengan sikap dingin Wanran dan Guan Yin. Tapi tetap saja, ia selalu merasa kesal dan marah.
"Sepertinya anda salah mengenali orang. Saya adalah Huang Fūrén, bukan orang lain." Ucap Xi Lan Fen. Matanya berkilat, marah.
"Ku harap Huang Fūrén bisa diam!" Uajr Jendral Huang, ia memejamkan matanya, mencoba untuk tidak marah.
"Kenapa sepertinya Jendral begitu tidak suka? Padahal saya hanya berucap beberapa patah kata." Mata Xi Lan Fen menatap Jendral Huang, sendu. Sebaai seorang istri, ia ingin mendapatkan sedikit perhatian dari suaminya. Tapi ketika ia ingat kalau pernikahan mereka bukanlah atas keinginan saru sama lain, melainkan titah dari Kaisar, Xi Lan Fen mencoba mengenyahkan rasa itu.
Aura yang begitu dominan menekan Xi Lan Fen, ia merasa sesak. Matanya melihat ke arah Jendral Huang yang tengah menatapnya tajam.
"Aku sedang tidak berselera berdebat dengan mu Huang Fūrén. Jadi, anda mohon diam." Ucap Jendral Huang penuh penekanan.
Yun Yi menatap sekelilingnya, Wanran dan Guan Yin hanya diam melihat pertengkaran sepasang suami-istri ini. Qiou Yue yang hanya bisa menghela nafas pasrah. Min An dan Yu Lin yang terlihat berpura-pura tidak tahu. Tingkah mereka membuat Yun Yi mengkerut heran.
Merasakan tepukan di pundaknya, Yun Yi menoleh. Ia menatap Ayahnya dengan tatapan yang seperti mengisyaratkan 'Apa?'
__ADS_1
"Kau sudah bisa menunggangi kuda bukan?" Tanya Jendral Huang.
"Iya, bisa. Sekarang aku sudah merasa lebih baik." Sahut Yun Yi.
"Kalau begitu naiklah ke punggung Xiao Bai. Soal kamu yang ingin ke Kediaman Kakek dan Nenek, nanti kita lakukan sepulang dari kekaisaran Wu saja, bagaimana?" Yun Yi mengangguk, tidak ingin membantah.
Yun Yi segera menaiki Xiao Bai, di susul dengan Qiou Yue yang menunggangi kudanya. Min An dan Yu Lin pun kembali menaikki kereta. Di belakang kereta mereka ada kereta kuda milik Wanran dan Guan Yin.
Sedangkan Jendral Huang kini berada di barisan paling akhir, menjaga mereka semua.
"Jendral, mengapa engaku tidak di barisan depan?" Tanya Chu xi.
"Tak apa. Aku hanya ingin menenangkan diri saja." Jendral Huang sedari terus-menerus menatap Kediaman Wanran san Guan Yin. Melihat itu Chu xi mengangguk mengerti.
"Apakah anda sedang merindukan Nyonya selir?" Tanya Chu xi lagi.
"Ya. Sudah sangat lama sejak aku terkhir kali melihat senyumannya. Aku masih ingat ketika aku dan kau baru selesai berburu dari gunung, waktu itu, Hana-chan menungguku di depan gerbang kediaman ini dengan senyum indahnya." Pikiran Jendral Huang kini mengingat-ngingat kembali tentang kenangannya dengan wanita terkasihnya itu.
"Benar-benar sudah sangat lama." Gumamnya.
Chu xi hanya bisa diam, tidak tahu harus bertindak seperti apa ketika sang tuan tengah dalam keadaan seperti ini.
Kini mereka sudah sampai di depan Array teleportasi yang di maksud.
Yun Yi menatap Pola rumita yang terukir di tanah. Matamya menemukan enam batu yang tersebar di beberapa sisi. Entah kenapa ia merasa familiar dengan batu-batu itu.
'Entah kenapa aku merasa batu itu seperti memanggil ku.' Batin Yun Yi.
"Yi'er, kamu kenapa?" Lamunan Yun Yi langsung buyar ketika Jendral Huang memanggil nya.
Yun Yi menggoyangkan ke dua tangannya, "Ah, tidak apa-apa. Aku hanya sedang melihat-lihat Array ini." Ucapnya.
Jedral Huang mengangguk, ia pun melangkah ke salah satu batu yang tadi Yun Yi lihat.
"Ini masih bisa di gunakan." Ujar Jendral Huang, seperti memberi tahu seseorang.
Yun Yi memiringkan kepalanya, "Ayah sedang berbicara dengan siapa?" Tanya Yun Yi.
__ADS_1
"Dengan ku." Wanran muncul dari belakang. Ia pun melakukan hal yang sama seperti Jendral Huang, mengamati batu-batu itu.
"Baguslah, kalau begini kita tidak perlu menghabiskan waktu yang alam untuk pergi ke Kekaisaran Wu." Wanran merasa bersyukur. 'Untunglah ini masih bisa di guanakan. Kalau tidak, mungkin pinggang tua ku ini akan patah.' Batin Wanran.
Mata Yun Yi membola ketika ia mendengar suara Kakeknya, tapi yang Yun Yi lihat Kakeknya tidak mengucapkan sepatah katupun. Ia hanya mengangguk-angguk sambil mengelus janggutnya.
"A-apa itu tadi?" Gumam Yun Yi.
'Ternyata seperti ini Array teleportasi tasi itu, aku kira bentuknya akan lebih rumit lagi.' Yun Yi melihat ke samping, ia mendapati Qiou Yue yanv tengah melihat Array itu dengan seksama.
"Gēgē, apakah tadi Gēgē menggumamkan sesuatu?" Tanya Yun Yi.
Qiou Yue menatap Yun Yi bingung, "Tidak, aku tidak mengucapkan apapu." Ucap nya sambil menggelengkan kepalanya.
"Lalu tadi suara siapa?" Monolog Yun Yi.
Qiou Yue semakin bingung melihat tingkah Yun Yi yang seperti itu. "Mungkin kamu salah dengar."
Yun Yi mengangguk, "Mungkin."
Tiba-tiba ia terpikirkan sesuatu, ia menatap Qiou Yue dengan serius.
"Ada apa?" Qiou Yue semakin bingung ketika Yun Yi tiba-tiba menaapnya seperti itu.
"Gēgē, coba menggumam dalam hati." Pintanya.
Alis kanan Qiou Yue terangkat satu, "Untuk apa?"
"Lakukan saja."
Melihat Yun Yi yang begitu bersi keras, Qiou Yue pun menuruti ucapan Yun Yi.
'Kenapa sih?'
Mata Yun Yi kembali membola. Ia menatap Qiou Yue lalu bertanya. "Gēgē, apa yang kau ucapkan?"
"Aku berucap 'Kenapa sih?' begitu." Ucap Qiou Yue masih dengan perasaan bingung.
__ADS_1
'Apakah aku bisa mendengar pikiran orang lain?' Yun Yi bertanya-tanya dalam hati.
...🔸️To Be Continued🔸️...