
Da Hui Ling menatap JiěJiě nya dengan marah, bukan kah dia melukai dirinya? Lalu kenapa malah menyalahkan dirinya? Dan kenapa dia tidak meminta maaf.
"K-kau adalah JiěJiě terburuk." Da Hui Ling mencoba berdiri.
"Mufei, kamu harus di obati." Min An membantu ibunya untuk berdiri.
"Diamlah!" Da Hui Ling mendorong anaknya.
"Kau sangat berisik!"
Min An yang di bentak ibunya hanya bisa menunduk, ia harusnya sudah terbiasa dengan sikap ibunya. Namun, kenapa ia masih menangis seperti ini ketika sang ibu membentaknya.
Da Hui Ling menatap Kakak nya dengan tatapan benci, kepalanya tertunduk.
"Jika aku mati kau juga harus mati!" Desis Da Hui Ling.
Da Hui Ling melemparkan botol kaca ke arah Da Hui Long. Botol kaca itu pecah saat mengenai tulang kaki Da Hui Long dengan keras.
Prang
"Akhhh..."
Teriakan Da Hui Long menggema di ruang Aula utama, tidak ada yang maju untuk membantu Da Hui Long yang tengah terluka, semuanya diam, termasuk dayang pribadi Da Hui Long, Fei Jia.
Setelah melemparkan botol itu Da Hui Ling ambruk.
Bruk
"Mufei!" Min An berlari ke arah ibunya.
Melihat mata ibunya yang tertutup, Min An mencoba membangunkannya dengan menggoyangkan tubuh Da Hui Ling.
"Mufei, Mufei."
"Kalian cepat panggilkan tabib!" Min An berteriak ke arah pelayan yang menemaninya.
"Baik Xiăo Jiě."
Pelayan itu segera pergi dari Aula utama. Setelah kepergian pelayan itu, Aula utama menjadi hening. Namun sesekali Min An akan memanggil ibunya.
Sedangkan Da Hui Long terduduk memegangi betisnya yang mengeluarkan darah, sesekali ia meringis pelan, sangat pelan, sampai-sampai tidak ada yang menyadari nya.
__ADS_1
Entah kenapa kepala Da Hui Long terasa berat dan berdenyut, sakit.
"Uhuk uhuk."
Suara batuk dari Da Hui Long membuat sebagian atensj orang-orang yang ada di dalam ruangan tertuju padanya, termasuk Yun Yi.
Da Hui Long meraba mulutnya, matanya melotot ketika ada darah hitam yang keluar dari mulut nya.
"Da-darah?!" Pekik Da Hui Long ketakutan.
Yun Yi yang melihat itu merasa janggal, "Mungkin kah botol kaca itu berisi racun?!"
Dengan langkah cepat ia menghapiri pecahan kaca yang tidak jauh dari posisi Da Hui Long duduk.
Yun Yi mengeluarkan jarum perak yang ia beli bersama dengan Ayahnya dulu, ia menempatkan ujung jarum perak itu ke cairan berwarna biru bening yang berserakan di lantai.
Perlahan-lahan, ujung jarum perak mulai berwarna kehitaman, dan tak lama menjadi hitam pekat.
"Racun tingkat tinggi." Gumam Yun Yi.
Yun Yi menatap cairan biru itu, dengan penyesalan. "Jika saja alat-alat lab ku terbawa kemari. Aku sangat ingin meneliti cairan ini." Gumam Yun Yi sedih, sangat menyayangkan jika cairan itu di buang begitu saja.
Melihat wajah Yun Yi yang berubah menjadi murung, Raja Xin pun berjongkok di samping Yun Yi.
"A'Guanb, aku ingin meneliti racun ini, namun aku tidak memiliki alat-alat nya." Ujar Yun Yi murung.
Karena tidak tega melihat Yun Yi sedih Raja Xin pun bertanya, "Alat seperti apa yang kau perlukan?"
"Alat itu hanya aku yang tahu, kau pasti tidak akan tahu." Yun Yi menunduk, sepertinya ia harus menciptakan alat-alat labnya dulu, tapi ia harus memulainya dari mana.
"Yun'er." Ketika Raja Xin memanggilnya, Yun Yi langsun menoleh.
"Ya?"
"Kau gambarkanlah alat itu, kalau ada gambarnya aku bisa menciptakannya sekarang." Ucap Raja Xin, ia mengambil kertas dan tinta dari lengan hanfunya.
'Sebenarnya ada kantung sebesar apa yang ada di balik lengan Hanfu A'Guang?' batin Yun Yi bertanya-tanya.
"Gambarlah." Yun Yi menerima secarik kertas dan tinta itu. Dia mulai menggambar, mengabaikan Da Hui Long yang tengah sekarat yang tepat berada di sampingnya.
Jika Yun Yi tengah fokus menggambar, Min An kini tengah cemas dengan keadaan ibunya. Tabib yang di panggil pelayan tadi baru datang, dan kini mulai memeriksa Da Hui Ling.
__ADS_1
Jika kalian bertanya di mana anak Da Hui Long, Huang Mei Yan, kemarin sore dia baru saja pergi kembali ke perguruannya.
Beberapa saat kemudian, tabib itu melepaskan tangan Da Hui Ling.
"Maaf Min An Xiăo Jiě, Selir ke dua sudah tidak bisa di selamatkan lagi."
"Apa maksudmu?!" Min An berteriak tidak terima.
"Periksa dengan baik, Mufei tidak mungkin meninggalkan ku." Titah Min An pada tabib yang ada di depannya itu.
Jendral Huang menghampiri Min An, lalu menariknya untuk berdiri.
"Sudahlah Min An." Jendral Huang menggeleng, memberi peringatan pada Min An agar tidak membuat masalah.
"Ayah! Kenapa Ayah mengabaikan Mufei? Bukan kah dia juga istrimu." Min An menatap Jendral Huang dengan marah, marah karena Jendral Huang sama sekali tidak menampilkan raut wajah apapun, padahal ibunya...
"Min An ini sudah takdir, dan juga karma karena dia mencoba untuk membunuh JiěJiě mu." Ucap Jendral Huang, meninggikan suaranya.
Min An menunduk, ia tahu kalau ibunya melakukan sesuatu yang seharusnya tidak di lakukan. Tapi, sebgai seorang anak ia ingin sebuah keadilan untuk ibunya.
"Ayah bisakah ibu di makamkan di tempat pemakaman keluarga Huang?" Min An bertanya, dengan keberanian yang ia kumpulkan beberapa waktu.
"Kenapa?" Jendral Huang menatap Min An dengan aneh.
"Kau ingin ibumu di perlakukan layaknya keluarga Huang? Janan harap! Dia sudah berbuat kesalahan, dan aku sudah menjatuhi hukuman untuknya, sekarang dia bukan lagi bagian dari keluarga Huang ini." Ujar Jendral Huang.
"Tapi Ayah..." Min An menatap Jendral Huang dengan air mata yang terus turun.
Jedral Huang memijit pelipisnya pelan, "Min An, jangan membebani pikiran ku lagi. Kau tenang saja, walau ibumu sudah bukan bagian dari keluarga Huang ini, aku akan meminta Kasim Luo untuk memakamkannya dengan baik. Tapi tidak di tempat keluarga Huang." Ucap Jendral Huang, ia menghampiri Min An lalu mengelus puncuk kepala nya.
"Tolong mengertilah." Setelah mengucapkan itu Jendral Huang pergi ke arah Da Hui Long yang terus memegang kakinya.
Jendral Huang berdiri di samping Da Hui Long, matanya menatap Yun Yi dan Raja Xin sekilas. Dia kembali menatap Da Hui Long yang terus meringis.
"Mungkin ini karma kalian berdua yang di berikan Tuhan pada kalian, jadi kamu harus bersyukur karena Tuhan menghukummu dengan ringan." Ujar Jendral Huang.
Da Hui Long mengadah, dia menatap Jendral Huang dengan tatapan benci. "Huang Ji Chen, jangan bersikap seolah-olah hanya kami yang bersalah. Alasan kami melakukan ini adalah karena dirimu. Kau yang selalu mengutamakan J*l*ng itu dan anak perempuannya, membuat kami merasa itu semua tidak adil."
Jendral Huang menatap Da Hui Long dengan sengit, mengerti dengan siapa yang di sebut j*l*ng oleh Da Hui Long.
"Berani sekali kau menghina Ran Ran dengan mulut menjijikanmu!" Jendral Huang menggeram, ia menarik pedangnya. Namun...
__ADS_1
"Ayah tunggu!"
...🔸️To Be Continued🔸️...