
"Dan ketika kau baru saja mendirikan Kerajaan Xin. Pertarungan antara dirimu dan wanita itu terjadi. Setelah penetapanku menjadi Raja. Aku segera pergi ke tempat mu bertarung, tapi di sana ada sebuah tabir aneh yang sangat kuat, bahkan An She tidak dapat menembusnya."
"Aku ingin sekali tinggal di sana, tapi waktu itu aku sudah memiliki kewajiban. Aku adalah Raja, dan rakyat kerajaan Xin membutuhkanku, jadi aku tidak dapat tinggal di sisimu."
"Pertarungan antara dirimu dan wanita itu berlangsung selama dua bulan. Untungnya ada yang memasang tabir itu, jika tidak aku yakin akan ada banyak orang dan beberapa tempat yang hancur. Tapi karena tabir itu juga, kamu hanya bertarung seorang diri dan wanita itu membawa ke dua bawahannya, sangat tidak adil bukan?"
"Pada hari terakhir, aku mendapatkan kabar kalau kamu kalah. Waktu itu aku khawatir, sangat khawatir tentang keadaanmu. Jadinya aku segera bergegas pergi ke tempat mu bertarung. Namun sayangnya, saat aku sampai di sana, kamu sudah tidak ada. Aku bingung, aku tidak tahu harus apa, aku ingin melihat mu, tapi aku tidak bisa pergi ke dunia langit, aku adalah keturunan naga biru, klan yang di cap pemberontak pada penguasa teratas."
"Ada sesuatu yang membuatku kesal dan heran. Tujuh hari setelah pertarungan itu, hampir seluruh dunia berkata kalau kau adalah penghianat. Aku tidak tahu mengapa kamu bisa di cap penghianat. Pihak pengadilan istana langit mencarimu ke seluruh tempat, bahkan ke Kerajaan Xin juga. Aku masih ingat, wajah jijik dan juga takut yang di tampilkan pihak pengadilan istana langit ketika melihat ku."
"Lalu di hari ke sembilan, entah apa yang terjadi banyak rumor yang beredar kalau kamu dan wanita itu kembali bertarung. Dan yang paling tidak masuk akal adalah, Dewa agung malah mendukung wanita itu dan bukan kau."
"Lalu setelah tiga hari sejak rumor itu beredar. Secara tiba-tiba hujan turun begitu deras, bahkan anginnya pun begitu kencang. Lalu untuk pertama kalinya, petir putih, yaitu roh petir tertinggi, melayangkan petirnya ke berbagai tempat di seluruh dunia. Semesta seolah tengah marah, dan badai pun terjadi di mana-mana selama tiga hari berturut-turut."
"Namun, setelah badai selesai. Hujan malah semakin deras, tapi tidak di sertai petir ataupun angin kencang. Dan itu berlangsung selama tiga tahun. Seluruh dunia begitu hancur, karena terus di Landa hujan."
"Hujan itu bisa berhenti saat wanita itu di nobatkan menjadi Dewi Bencana. Walau hujan itu sudah tidak ada, dunia masih tetap kacau. Ada wilayah yang kekerinan, ada juga yang terus mengalami banjir."
"Tanaman tidak sesubur saat kau ada. Banyak orang yang mencarimu, dan banyak orang yang bertanya pada Dewa agung, tapi dia tidak menjawab apapun dan terlihat tidak peduli."
"Setelah hilangnya kabar tentangmu, bunga kehidupan tidak lagi mekar. Dan menyebabkan banyak nya wabah yang menyebar di beberapa wilayah di seluruh dunia."
"Lalu Kakek Hao, teman dari pendiri istana langit pergi dari dunia langit. Dia berkata, 'Semesta tidak akan berjalan seperti semestinya jika tidak ada Sang Alam.' banyak orang yang tidak mengerti dengan ucapan Kakek Hao, dan banyak orang yang menyimpulkan kalau Dewi Alam tengah sakit dan menyebabkan banyak bencana terjadi."
Perlahan, mata Raja Xin terpejam. Sepertinya dia kelelahan karena terus bercerita sepanjang waktu.
POV Yun Yi
(Sudut pandang Yun Yi)
__ADS_1
Yun Yi menatap sekitarnya, semuanya di penuhi warna putih. Tidak ada cahaya ataupun bayangan di sini, bahkan tubuh Yun Yi pun tidak memiliki bayangan. Ruangan putih tapi tidak bercahaya.
"Tempat apa ini?" Gumam Yun Yi.
"Apakah aku pingsan? Tapi mengapa aku malah pergi ke tempat seperti ini?"
"Ku dengar, jika seorang Dewa ataupun Dewi yang sudah kehilangan ingatannya. Mereka akan sangat susah mengingatnya kembali, tapi ada juga dari mereka yang mudah mengingat nya kembali. Namun, prosesnya di katakan sangat menyakitkan. Mau itu jiwa, raga, ataupun perasaan."
Suara lucu itu mengalihkan perhatian Yun Yi, ia menatap ke sekelilingnya, namun tidak menemukan siapapun.
"Lalu suara siapa itu? Suaranya sangat lucu, seperinya umurnya masih sekitar empat tahunan. Masih cadel dan menggemaskan." Monolog Yun Yi.
"Kau tahu, ini ketiga kalinya aku menangisi seorang wanita."
"Em?" Alis Yun Yi terangkat. "Apakah anak itu mengubah topiknya sekarang?"
"Yang pertama, saat ibu hampir mati. Lalu saat ibu meninggalkanku di dunia manusia. Dan yang ketiga adalah sekarang."
"Yi'er, setelah kamu mengingat masa lalu mu nanti. Apakah kamu akan meninggalkan aku seperti dia?"
"Hei adik kecil! Tadi aku bertanya padamu, lalu kenapa kamu malah bertanya hal lain?"
Yun Yi menatap sekitarnya, ia tetap tidak menemukan siapapun di sini hanya ada dirinya dan empat serba putih ini.
Karen kakinya terasa pegal, akhirnya ia duduk.
"Apakah kamu juga akan membenciku yang memiliki darah naga."
Suara itu kembali terdengar, ia mendengus, sepertinya anak ini tidak dapat mendengar suaranya. "Bagaimana aku bisa membencimu sedangkan kita belum pernah bertemu, bahkan sekarang aku hanya bisaenddngar suara mu adik kecil." Ujarnya dengan perasaan jengkel.
__ADS_1
"Ah benar, aku belum bercerita padamu kalau aku adalah salah satu keturunan dari naga biru. Leluhurku pernah membenci Dewa agung. Kau tahu kenapa?"
Kali ini Yun Yi hanya diam, suara anak ini memang lucu. Tapi juga menyebalkan. Dia bertanya apa eh suara itu malah mengalihkan topik, dan amalh berbalik bertanya.
Ia hanya diam, mendengarkan suara lucu itu yang terus bercerita.
Setelah beberapa saat kemudian, suara itu masih terdengar. "Apakah dia akan terus bercerita? Namun sampai kapan, ku rasa ini sudah tiga puluh menit lebih dia bercerita."
Entah berapa lama, Yun Yi mendengarkan suara itu. Punggungnya sampai pegal.
"Ugh."
Yun Yi bangkit dari duduknya ketika suara itu tidak terdengar lagi.
"Sebenarnya suara siapa itu, bukankah dia masih kecil, mengapa sudah mendirikan Kerajaan. Bahkan seperinya anak ini memiliki pengetahuan yang sangat luas."
"Sampai-sampai dia tahu mengenai pertarungan itu." Yun Yi kembali berujar.
Ia terdiam, ada beberapa cerita yang terdengar familiar baginya. Dan saat suara lucu itu memanggil nama Dewi Cahaya, ada sesuatu yang hangat di hatinya.
Dan ketika mendengar bahwa Dewi cahaya sedih akibat Dewa agung yang menikah tanpa ijin dari Dewi cahaya, hatinya merasa marah.
"Dewa agung..." Yun Yi kembali terdiam. "Sepertinya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya." Gumam Yun Yi.
"Tapi di mana?"
Yun Yi menggelengkan kepalanya, ia mengenyahkan pertanyaannya-pertanyaan yang hinggap di kepalanya.
"Saat ini, aku harus mencari jalan keluar untuk pergi dari tempat ini."
__ADS_1
...🔸️To Be Continued🔸️...