
Mentari pagi kini mulai terlihat dari jendela, Raja Xin yang masih duduk di meja kerjanya segera bangkit dari duduknya.
Semalaman ia tidak bisa tidur, bukan karena terlalu banyak pekerjaan. Tapi, pikirannya selalu di penuhi oleh gadisnya. Dan karena tidak ingin terlalu memikirkan gadisnya itu, ia dengan sengaja menyibukkan diri dengan tumpukan kertas yang seharusnya di kerjakan siang nanti.
Raja Xin memgang bahunya yang terasa pegal. "Sepetinya Raja ini harus berendam dan berolahraga." Gumam Raja Xin.
Setelahnya, Raja Xin segera pergi ke kediamannya. Dan setelah berendam, kini Raja Xin sedang ada di tempat pelatihan para prajurit.
Sudah banyak prajurit yang mulai berlari mengelilingi tanah luas ini. Bahkan, ada yang sedang memeriksa pedang dan peralatan lain.
Tanpa berucap apa-apa, Raja Xin ikut berlari bersama prajurit, dan itu berhasil membuat para prajurit terkejut. Ketika para prajurit akan memberi salam, Raja Xin segera menggeleng, dan mereka pun berlari bersama.
Setelah berlari, kini giliran mengangkat batu besar sambil menaikki bukit yang ada di samping tempat pelatihan. Dan Raja Xin membawa dua batu paling besar dan mulai berlari, menaikki bukit, tanpa menggunakan Qinggong-nya ataupun kekuatan spiritual-nya.
Raja Xin melakukan naik-turun bukit sebanyak sepuluh kali. Lalu setelahnya, Raja Xin berlatih pedang sendiri. Kenapa begitu? Karena tidak ada yang berani berlatih bersama Raja yang terkenal dingin itu. Bahkan alasan lainnya adalah, mungkin orang yang berlatih bersama Raja Xin akan tumbang dalam satu kali tebasan.
Ketika tengah fokus pada latihannya, tiba-tiba Shen datang dengan tergesa.
"Yang mulia, maaf mengganggu." Shen berlutut di samping Raja Xin.
Raja Xin menurunkan pedangnya, ia menyeka keringatnya. "Ada apa?" Tanya-nya.
"Ini mengenai Xiăo Jiě Huang, yang mulia."
Raja Xin berbalik, ia menatap Shen dengan wajah serius dan datar. "Kenapa dengan gadisku?!"
Aura di sekitar Raja Xin menggelap, sampai-sampai beberapa prajurit yang tak jauh darinya memundurkan langkahnya.
Shen yang berada paling dekat dengan Raja Xin, mati-matian mengkokohkan kakinya yang terasa goyah. Dengan takut-takut Shen berkata.
"Tadi.. ada kelinci roh yang datang. Dia membawa pesan bahwa..." Untuk sesaat Shen merasa ragu untuk melanjutkan perkataannya. Sekarang saja aura Raja Xin sudah membuatnya merasa sesak, apalagi kalau sampai mendengar hal ini.
"Kenapa berhenti?! Ada apa dengan gadisku?!"
__ADS_1
Shen tersentak ketika Raja Xin berkata dengan nada tinggi. Walau masih merasa ragu, tapi ia harus melaporkan hal ini.
"Pesan yang di bawa kelinci itu, mengatakan bahwa Xiăo Jiě Huang.. tidak sadarkan diri." Shen segera memejamkan matanya ketika ia sudah menyelesaikan ucapannya. Dan..
Sring
Brak
Raja Xin melempar pedangnya ke sembarang arah. Di belakang, skitar ada tujuh pohon besar dan beberapa tanaman kecil yang menjadi korban dari lemparan pedang itu. Ada satu orang prajurit yang berada tepat di belakang Raja Xin yang hampir terkena pedang itu, dia memgang dadanya lalu terjatuh ke tanah.
"Bagaimana gadisku bisa tidak sadarkan diri?!" Oksigen di sekitar Shen terasa hilang ketika dirinya di tatap dengan mata tajam itu.
"D-di dalam pesan itu. Ti-tidak memberitahukan mengapa Xiăo Jiě Huang bisa tidak sadarkan diri. Di dalam pesan itu hanya menyampaikan hal tadi dan meminta anda untuk pergi ke hutan persik, yang mulia." Untuk menjelaskan, Shen sampai-sampai harus memasang sebuah tabir di sekitarnya, dirinya terengah-engah, seperti baru saja bertarung.
Tanpa sepaah katapun, sosok Raja Xin menghilang begitu saja dari arena pelatihan. Setelah Raja Xin menghilang, Shen menghirup udara dengan serakah, pasokan udara yang ada di paru-paru nya bisa-bisa habis jika Raja Xin masih tetap ada di sana sampai detik ini.
...> > > ✧✧✧ < < <...
Brak
Di ruang tengah, Shuan Si dan Wen Yun yang tengah berdiskusi tersentak kaget ketika pintu terbuka dengan kencang. Ketika Raja Xin hendak masuk ke dalam kamar Yun Yi, Shuan Si berniat mencegahnya. Namun, ketika Raja Xin berbalik, menatap Shuan Si dengan mata birunya. Tubuh Shuan Si terasa dingin, tangannya melayang di udara. Niat menghentikan laki-laki itu menghilang begitu saja, tergantikan dengan rasa ngeri yang membuat tubuhnya tidak bisa bergerak.
Brak
Baru setelah Raja Xin menutup pintu kamar Yun Yi, Shuan Si kembali duduk di kursi sambil memegang jantungnya.
"Siapa pria itu? Mengapa begitu menakutkan?"
Shuan Si mendongak, ia menatap Wen Yun yang duduk dengan tubuh kaku. "Kamu kenapa?!" Tanya-nya.
"Shuan Si, mengapa Raja Xin ada di sini?" Bukannya menjawab, Wen Yun malah balik bertanya pada Shuan Si.
"Raja Xin? Apakah pria tadi adalah Raja Xin?!" Shuan Si tidak bisa tidak terkejut. Ternyata laki-laki tadi adalah tunangan Dewi-nya ketika berada di tubuh barunya.
__ADS_1
Itu berarti, dia adalah anak naga dari Dewa Kehancuran. Pantas saja aura di sekitarnya sangat kuat dan begitu mendominasi.
"Ya, dia adalah Raja Xin. Tapi, mengapa ia bisa ada di sini?" Tanya Wen Yun.
"Begini, aku sudah bercerita bukan. Kalau junjunganku bereinkarnasi, dan sekarang ia kembali ke dunia ini dan masuk ke dalam tubuh gadis bernama Huang Yun Yi."
Wen Yun menganggukkan kepalanya. "Lalu apa hubungannya dengan keberadaan Raja Xin?"
"Junjunganku bertunangan dengannya." Jawab Shuan Si, dan itu membuat Wen Yun terkejut.
"Apa aku terlalu lama berkultivasi sampai-sampai aku tidak mendengar hal besar seperti ini?"
Shuan Si mengangguk. Ia teringat dengan pertemuan pertamanya dengan Wen Yun. Kaika itu, Shuan Si tengah mencari herbal untuk persediaan di istana. Dan ia menemukan Wen Yun yang terluka parah, entah di serang siapa atau apa.
Waktu itu Wen Yun bercerita bahwa dirinya baru saja menyelesaikan Kultivasi tertutup nya dan di serang oleh sebuah asap hitam, dan akhirnya terluka seperti itu.
Ketika engah sibuk dengan pemikirannya masing-masing, tiba-tiba Zi Yui masuk, membawa sebuah kotak yang mengeluarkan aroma harum dari sana.
"Kalian sedang apa?" Zi Yui menghampiri dua tabib wanita itu, dan duduk di kursi kosong.
"Zi Yui, apakah kamu yang memanggil Raja Xin kemari?" Tanpa berniat menajawab pertanyaan dari Zi Yui, Shuan Si malah bertanya akan hal lain.
Maa Zi Yui membulat, ia menatap sekitarnya, mencari keberadaan seseorang. "Apa dia sudah tiba di sini?!"
Shuan Si dan Wen Yun mengangguk.
"Dia baru saja masuk ke dalam." Ujar Shuan Si sambil menunjuk pintu kamar yang tertutup.
"Bukankah, aku baru mengirimkan pesannya tadi. Mengapa Raja Xin bisa tiba begitu cepat?!"
Sepertinya Zi Yui lupa, kalau Raja Xin sudah sangat bucin terhadap Yun Yi, alias Xiao Sui.
...🔸️To Be Continued🔸️...
__ADS_1