
Raja Xin semakin takut kalau Yun Yi benar-benar akan melupakannya setelah ingatannya kembali.
"Yi'er, apakah kebersamaan kita benar-benar akan berakhir hanya sampai akhir musim gugur esok?"
"Apakah setelah musim dingin tiba aku akan sendiri lagi?"
"Apakah nantinya aku hanya bisa melihat mu dari kejauhan seperti dulu?"
"Atau apakah aku tidak akan pernah melihat mu lagi?"
Raja Xin terus berucap tidak jelas, pikirannya semakin kacau. Apakah ia harus memakai topeng tidak peduli pada Yun Yi supaya dirinya tidak terlalu berharap?
"Apakah keturunan dari Naga biru memang di takdirkan untuk tidak bisa di cintai seseorang? Apakah takdir Naga biru memang harus sendiri?"
"Apakah Naga biru tidak boleh bahagia? Tapi kenapa? Apa salah kami? Bukankah leluhur kami hanya menginggung Dewa Agung saja, tidak sampai mau membunuh nya."
"Lalu kenapa kami Naga biru harus di benci semesta?"
Raja Xin menunduk, tiba-tiba bayang-bayang saat Yun Yi meninggalkan nya tergambar di kepala Raja Xin. Mata Raja Xin memerah, ada sekumpulan air yang menggenang di mata nya.
"Ku harap itu tidak akan terjadi." Gumam Raja Xin.
...> > > ✧✧✧ < < <...
"Dewi saya memang tidak dapat menemukan keberadaan Sang Alam. Tapi salah satu peri yang melayani nya berada di dunia manusia. Jejak terakhirnya dia ada di dekat gerbang dunia siluman." Ru-an bertekuk lutut, kepalanya menunduk.
Di depan nya Shi Wen berdiri menjulang, ia menatap Ru-an dengan tajam. "Bagaimana bisa kamu tidak menemukan keberadaannya! Bukankah dia masih belum mengingat masa lalunya, lalu kenapa kau tidak bisa mencari keberadaan gadis lemah itu?!"
"Dasar tidak berguna." Sekumpulan awan yang ada di dekat nya terbang menjauh saat Shi Wen menembakkan Qi spiritual untuk meluapkan amarahnya.
"Sepertinya harus aku sendiri yang mencarinya." Shi Wen pergi dari istana nya. Dia pergi ke luar kota istana langit.
Tianzhi, sang Dewi Cahaya. Yang kebetulan sedang berjalan-jalan di kota istana langit dan kini ia tengah berada di ruang VIP sebuah ruang makan. Ia menautkan alisnya heran kala melihat Shi Wen terbang ke luar kota langit dengan tergesa-gesa.
"Ada apa dengan anak itu?" Gumamnya. Aura murni dan agung memancar dari nya. Dia menatap warga kota langit yang tengah tertawa bahagia.
"Jika Sui'er masih ada, mungkin dia akan menarikku untuk bermain di kerumunan." Gumamnya ketika melihat seorang anak kecil yang menarik temannya di tengah-tengah ramainya pasar.
__ADS_1
"Sui'er, ibunda sangat merindukanmu."
Ckelk
Tianzhi berbalik ketika mendengar pintu terbuka. "Bukankah aku sudah bilang, kalau tidak ada yang boleh ke..."
Ucapan Tianzhi terhenti ketika melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan yang ia pesan.
"Saya memberi salam untuk Dewi Agung." Dewi cahaya menundukkan kepalanya sedikit.
"Bukankah sudah ku bilang untuk membuang kebiasaan itu." Ucap Jian Yang.
"Hamba tidak berani." Tianzhi masih setia menundukkan kepalanya.
Jian Yang tidak tahu harus berkata apa, tangannya mengepal. Semenjak dirinya membawa wanita lain ke istana langit, sikap Tianzhi berubah drastis. Tianzhi yang ia kenal adalah wanita kuat yang ceria.
Saat sebelum ia membawa tertarik pada Yihua. Hubungan dirinya dan Tianzhi sangat harmonis dan romantis. Tapi ketika dirinya memberi tahu Tianzhi kalau ia ingin menikah lagi, Tianzhi berubah.
"Tianzhi jangan membuat ku marah karena ucapan formal mu." Jian Yang menarik nafasnya, ia tahu ini salahnya. Tapi sekarang ia sudah tidak bisa mengubah nya.
Yihua kini sudah melahirkan anak untuknya. Dan kalah ia men-ceraikan nya. Pasti akan ada perselisihan yang akan terjadi.
Rasa tidak suka karena Tianzhi secara terang-terangan menjauhinya membuat harinya berdenyut sakit. Bagaimana pun, dirinya sangat mencintai Tianzhi, tapi ia juga tertarik pada Yihua.
"Apakah ada peraturan kalau seorang suami tidak boleh menemui istrinya?" Jian Yang mendekat ke arah Tianzhi. Dan Tianzhi mundur.
"Jika suaminya itu baik, maka tidak ada larangan apapun. Tapi, jika suami nya berselingkuh apakah harus di perlakukan seperti suami pada umumnya?"
Sebelum Kun Jian berucap, sebuah suara lebih dulu terdengar. "JiěJiě, sebaiknya JiěJiě meminta maaf pada Dewa agung."
"Jian Yang adalah Dewa paling tinggi, seharusnya JiěJiě menghormatinya." Yihua kembali berucap.
Wajah Tianzhi semakin datar dan dingin. Ia berucap. "Jian Yang pun tidak mempermasalahkan nya, lalu kenapa wanita samping seperti mu yang protes?"
Yihua mengepalkan tangannya ketika Tianzhi menyebutnya wanita samping.
"Dan apakah anda lupa. Saya adalah Dewi tertinggi, dan kamu hanyalah Kultivator tingkat Hitam yang tidak sebanding dengan ku." Tianzhi mengangkat agunya, seolah memberi tahu bahwa dirinya adalah yang tertinggi sedangkan dia hanyalah semut kecil.
__ADS_1
Jari telunjuk Yihua terangkat. "Kamu.. kamu..!" Yihua tidak athu harus berkata apa, semua caci maki yang ada di kepalanya tidak bisa ia keluarkan karena masih ada Kun Jian di sini.
"Yihua, kau pikir siapa orang yang kau tunjuk itu?!" Jian Yang berteriak marah, ia tidak suka ketika seseorang menunjuk Tianzhi tanpa hormat.
"Ta-tapi.. Jian Ya..."
"Dan jangan menyebut namaku begitu saja. Kau bahkan bukanlah seorang Dewi. Sebaiknya kamu keluar, yang agung ini ingin bicara dengan Sang Cahaya." Jian Yang menekan Yihua menggunakan aura Dewa nya.
Tentu saja Yihua panik, dengan segera ia keluar dari ruangan menyesakkan itu.
Setelah Yihua sudah tidak terlihat. Perlahan Jian Yang kembali maju, mendekati Tianzhi.
"Zhi'er jangan menjauh." Jian Yang menatap sedih pada Tianzhi yang mundur, menjauhinya.
Tianzhi tidak mengatakan apapun, bahkan ia mengalihkan pandangan nya ke arah lain, menghindari tatapan Jian Yang.
"Apakah kamu masih belum memaafkan ku?" Jian Yang menunduk, pelupuk matanya terasa memanas.
"Aku tahu kesalahanku sangat besar. Tapi untuk saat ini, aku belum bisa menyingkirkan Yihua. Apalagi putri kita sampai saat ini masih belum di temukan." Jian Yang mencoba mengatur nafasnya, ia menahan air matanya untuk tidak meluruh.
"Anda tidak perlu mencari anak saya. Saya bisa mencarinya sendiri." Tianzhi keluar dari ruangan itu.
Kun Jian berniat menahannya, namun terhenti saat Tianzhi bersuara.
"Jika kamu menghalangi ku. Aku akan pergi dari istana langit saat ini juga." Tubuh Jian Yang menegang.
Lalu setelah pintu di tutup dari luar. Tubuh Jian Yang meluruh. "Zhi'er, aku sangat merindukan mu. Benar-benar rindu. Dadaku sangat sesak saat dirimu dengan terang-terangan menolak keberadaan ku."
"Aku tahu aku salah. Tapi tidak bisakah kamu tidak menghukum ku dengan cara ini? Hari ku sakit."
Ini semua di mulai karena dirinya yang mudah tergoda oleh kecantikan. Andai saja dulu ia tidak tergoda oleh Yihua. Mungkin saat ini dirinya dan Tianzhi tidak akan seperti ini.
Di luar, Dewi cahaya sengaja menghilangkan auranya agar tidak di rasakan siapapun bahakantidak akan terlihat oleh siapapun. Kecuali mata Kun Jian.
Dia mendengar semua tangis Jian Yang. Dia kasihan dan tidak suka mendengar tangisan Kun Jian. Namun, rasa sait hari dan tidak terima nya, akan keberadaan Yihua, lebih mendominasi.
"Aku akan memafkanmu jikalau kamu mengusir wanita itu A'Jian."
__ADS_1
...🔸️To Be Continued🔸️...