Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Yun Yi terluka


__ADS_3

Wang Lan terengah-engah, pelipisnya sudah di penuhi keringat. Dari tadi walau mereka terus menebas akar-akar itu, tapi tidak ada habisnya. Akar-akar itu terus muncul lagi dan lagi.


Di depannya Yun Yi masih terus menyerang, sepertinya dia masih belum merasa kelelahan. Dan Wang Lan masih belum menyadari perubahan mata Yun Yi. Karena sedari tadi Yun Yi terus berada di depannya, jadi Wang Lan maupun Mei Liu belum melihat perubahan mata Yun Yi.


Tiba-tiba, Qiou Yue muncul. Dia berlari menggunakan Qinggong nya.


"Liu'er."


"Shào Yé Huang." Wang Lan bergumam lega. Akhirnya ada yang bisa membantu mereka.


Qiou Yue berjongkok di hadapan Mei Liu. "Liu'er, apakah kamu tidak apa-apa?"


Wang Lan kini menyadari sesuatu, Qiou Yue memanggil JiěJiě nya 'Liu'er'!!


Wang Lan menatap pasangan itu, sebelumnya Qiou Yue tidak memanggil JiěJiě nya dengan sebutan itu, tapi... Sejak kapan...


Bruk


Lamunan Wang Lan terpecahkan kala mendengar suara. Matanya melotot kaget ketika melihat tubuh Yun Yi yang kini ambruk di tanah, terlihat seperti ada beberapa luka, bahu kirinya, darahnya mengalir deras.


"Mèimèi!" Sebelum Wang Lan melangkah, Qiou Yue sudah lebih dulu berlari menghampiri Yun Yi.


Kepala Yun Yi di simpan di paha Qiou Yue, Qiou Yue menepuk-nepuk pipi Yun Yi pelan. "Yi'er, Yi'er. Bangun, Yi'er bangun."


Qiou Yue menjadi panik ketika darah dari bahu Yun Yi semakin banyak. Kepalanya berbalik. "Liu'er, apakah kamu mempunyai pil untuk menghentikan pendarahan?" Tanyanya.


Mei Liu menggeleng lemah, dia menunduk, sedih. Seharusnya ia membawa pil itu, kenapa ia harus kelupaan.


Qiou Yue tidak mengatakan apapun, merobek sebagian Hanfunya, lalu mulai mengikat bahu Yun Yi dengan kencang, supaya menekan pendarahannya.


"Shào Yé." Qiou Yue mengangkat kepalanya ketika Wang Lan berucap.


"Apa?"


Wang Lan tidak menjawab, melainkan menunjuk akar-akar yang seperti bergetar ketakutan, akar-akar itu seperti sedang melihat darah Yun Yi. Tapi, kenapa akar-akar itu bergetar?


"Aku merasa mereka akut dengan darah Yun Yi." Qiou Yue membenarkan ucapkan Wang Lan, di lihat secara sepintas, para akar itu seperti hidup, dan mereka benar-benar terlihat sedang ketakutan. Tapi, kenapa mereka harus takut dengan darah Yun Yi?


Tak

__ADS_1


Tak


Tak


Terdengar suara langkah kuda, mereka pun menoleh. Dan ternyata itu adalah Jendral Huang dan Mentri Gu.


Mata Jendral Huang membulat ketika melihat Yun Yi yang terbaring, bayang-bayang saat Yun Yi hampir tidak selamat pada waktu dulu melintas di otaknya.


Bruk


Jendral Huang turun dari kuda dengan tergesa-gesa, ia menghapiri Qiou Yue yang masih memangku Yun Yi.


"Qiou Yue ada apa dengan Yi'er, mengapa ia bisa terluka seperti ini?" Jendral Huang bertanya dengan cemas.


Wang Lan maju, lalu berucap. "Ijin menjawab Jendral."


"Tadi saya dan Xiăo Jiě Huang tengah melawan tanaman itu dan juga akar-akar yang ada di sana." Wang Lan mengarahakan tangannya ke arah tanaman yang sudah tergeletak di tanah, lalu menggesernya ke arah akar-akar yang masih berhimpitan dan bergetar.


"Sepertinya Xiăo Jiě Huang terkena beberapa serangan jadi terluka." Ketika Wang Lan mengucapkan itu, para akar malah bergoyang-goyang, seolah berkata 'tidak'. Mereka yang melihat itu pun merasa aneh.


"Mengal mereka seperti itu?" Mentri Gu yang berdiri di belakang, di samping Mei Liu pun bertanya.


"Itu tidak penting, sekarang kita harus pergi ke luar hutan terlebih dulu."


Semua orang mengalihkan pandangan mereka ke arah Zisè yang baru keluar dari Cincin.


"Siapa kau?!" Mentri Gu dan Wang Lan bersikap waspada dengan kemunculan Zisè yang begitu mendadak.


"Kalian tidak perlu tahu siapa aku, tapi satu hal yang pasti, aku adalah salah satu bawahna Xiăo Jiě Huang." Ujar Zisè.


"Dari pada diam, lebih baik kalian segera mendekat ke arahku. Aku akan membawa kalian langsun ke luar dari sini." Zisè melanjutkan ucapannya sambil membentuk array.


"Xiăo Jiě harus segera di obati." Gumam Zisè.


Sebenarnya bisa saja Zisè membawa Yun Yi ke dalam ruang untuk di obati, tapi keadaannya tidaklah memungkinkan.


Walau masih ragu, Qiou Yue tetap berdiri dengan Yun Yi yang berada dalam gendongannya. Ia menatap Zisè dengan dingin. "Jika kau berbohong, detik itu juga aku akan menebasmu."


Zisè hanya bisa menghela nafas, ya.. harus bagaimana lagi. Yun Yi belum pernah menunjukan dirinya, jadi ia harus sabar dan tidak boleh marah hanya karena hal seperti ini.

__ADS_1


Ketika semuanya sudah berada dalam lingkaran, Zisè pun memjamkan mata.


Wush


Dan merekapun menghilang dari sana. Tanpa mereka sadari, ada sesosok pria yang sedari tadi diam di tengah-tengah akar. Ketika semua orang sudah pergi, ia pun keluar. Melangkahkan kalinya ke arah darah Yun Yi yang berserakan.


"Jika An She mengetahui ini. Apakah dia kan marah padaku?" Gumam pria itu


Pria itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak ingin An She marah. Aku harus segera menemuinya dan menjelaskannya. Perintah dari orang itu saat ini bukanlah yang terpenting, pokonya aku harus segera menemui An She."


Pria itu pun menghilang bersamaan dengan tanaman, akar, bahkan kekacauan yang tadi hilang, termasuk darah Yun Yi.


...> > > ✧✧✧ < < <...


Kini semua orang tengah menunggu Yun Yi yang sedang di periksa.


Wush


Raja Xin tiba-tiba muncul dari udara, matanya yang hitam memancarkan aura intimidasi yang membuat semua orang yang ada di sana sesak. Bahkan Zisè pun ikut sesak.


"Mengapa gadis ku bisa terluka?" Tanya Raja Xin.


Raja Xin marah pada semua orang dan juga marah pada dirinya sendiri, mengapa ia malah menugaskan penjaga bayangannya denan hal lain, sehingga membuat Yun Yi terluka seperti ini.


"Raja Xin tolong anda tenang. Nanti akan saya jelaskan ketika Yun Yi sudah selesai di periksa." Tutur Jendral Huang. Ia takut Raja Xin mengamuk di sini. Nanti bisa-bisa penginapan ini hancur.


Raja Xin menarik nafas, mencoba menenangkan diri. Ia tidak boleh meluapkan amarahnya di sini. Di dalam sana gadisnya masih di periksa.


Ckelk


Pintu pun terbuka, menampilkan pria paruh baya yang membawa sebuah kotak kayu.


"Mengapa yang memeriksanya adalah seorang pria?!" Teriak Raja Xin ketika tabib itu baru saja menutup pintu.


Jendral Huang menghela nafasnya, "Tabib wanita sekarang sedang tidak ada di sini, dari pada menunggu tabib wanita, lebih baik di periksa oleh tabib yang ada." Ucap Jendral Huang.


"Lain kali, kau harus menghubungiku terlebih dahulu. Biar aku membawa Tabib wanita dari kerajaan ku." Ujar Raja Xin dingin. Matanya menatap Tabib itu dengan tajam.


...🔸️To Be Continued🔸️...

__ADS_1


__ADS_2