Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Mimpi bukan Mimpi


__ADS_3

"Yun'er!" Raja Xin mengguncang tubuh. Jantung Raja Xin berdetak kencang ketika Yun Yi mengeluarkan air matanya.


"Mimpinya seburuk apa sampai kau menangis seperti ini?"


"Yun'er bangun." Raja Xin kembali mengguncang tubuh Yun Yi.


Mata Yun Yi terbuka secara tiba-tiba.


"Hah, hah, hah." Nafasnya terengah-engah.


"Yun'er ada apa? Apakah ada yang sakit? Apa kau butuh sesuatu?" Tanya Raja Xin ketika Yun Yi malah terdiam dengan pandangan kosong.


"Ah." Yun Yi menatap sekelilingnya agak linglung. Ia menggeleng pelan, lalu memijat keningnya yang berdenyut.


"Minumlah dulu." Raja Xin memberi Yun Yi satu gelas air, Yun Yi menerima gelas itu, ia malah kembali diam sambil melihat permukaan air yang ada di dalam gelas.


Jantungnya masih terasa sesak seperti tadi, sangat sesak sampai Yun Yi merasa sulit untuk bernafas. Mengingat mimpi itu, mata Yun Yi terasa panas. Ia ingin menangis, tapi tidak tahu apa alasannya.


Melihat Yun Yi yang kembali terdiam, Raja Xin sedikit cemas. "Yun'er ada apa?"


Yun Yi hanya menggeleng, lalu meminum airnya.


"Apakah ada yang sakit?" Yun Yi kembali menggeleng.


"Lalu kenapa?" Tanya Raja Xin cemas.


"A'Guang..." Melihat Yun Yi yang terlihat sedih, Raja Xin segera menarik Yun Yi ke dalam pelukannya.


"Kenapa hm?" Raja Xin mengelus rambut Yun Yi.


"Hiks." Yun Yi terisak.


"Apakah kamu bermimpi buruk?" Yun Yi mengangguk, ia semakin  mengeratkan pelukannya.


"Hiks, hiks." Tangis Yun Yi semakin mengencang. Raja Xin hanya bisa menepuk punggung Yun Yi pelan, membiarkan Yun Yi meluapkan emosinya.


"Jika ingin menangis, menanhislah. Jangan di tahan." Ujar Raja Xin ketika Yun Yi menahan isakanya.


"Huaa... Hiks." Tangis Yun Yi semakin kencang, dadanya terasa sesak, tapi ia tidak tahu mengapa bisa begitu. Ada sesuatu yang aneh yang ia rasakan.


"Pa-padahal hanya mimpi, ta-tapi kenapa aku malah sedih?" Ucap Yun Yi di sela-sela tangisnya.


Raja Xin semakin mengeratkan pelukannya. 'Sepertinya Yun'er masih belum tahu kalau itu bukanlah mimpi.' Batin Raja Xin


Tangis Yun Yi terhenti, ia mendongak. "Kalau bukan mimpi, lalu apa?"


Pertanyaan yang di ajukan Yun Yi membuat Pupil mata Raja Xin melebar. "A-apa maksudmu?"


"Bukankah tadi kau berkata kalau aku belum tahu kalau itu mimpi." Tutur Yun Yi.


"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku memikirkan itu?"

__ADS_1


"Kamu membatin?" Bukannya menjawab, Yun Yi malah balik bertanya.


Raja Xin memegang ke dua sisi lengan Yun Yi. "Apakah kamu dapat mendengar pikiran orang lain?"


Raja Xin teringat akan catatan yang mengatakan kalau Dewi Alam selalu tahu isi pikiran orang lain, jadi apakah sekarang gadisnya bisa mendengar pikirannya?


Yun Yi mengangguk kaku, "I-iya, aku bisa mendengar nya."


"Apa yang kau lihat di dalam mimpimu itu?" Mendengar itu alis Yun Yi terangkat.


Walau begitu ia pun berucap, "Aku bermimpi kalau aku terluka, lalu..." Yun Yi menceritakan semua yang ia lihat di mimpinya.


Raja Xin terdiam, itu berarti Yun Yi bermimpi tentang dirinya di masa lalu saat pertarungan itu.


"Apa kau melihat alasan mengapa kau bisa terluka?" Yun Yi menggeleng.


Raja Xin terdiam, itu berarti Yun Yi masih belum mengingat semua kejadian saat pertarungan itu, dan mengenai Dewa Agung... Apakah itu menjadi alasan mengapa Yun Yi tiba-tiba menangis?


"A'Guang, kenapa kau malah diam? Lalu apa maksud dari aku belum tau kalau..." Sebelum Yun Yi menyelesaikan perkataannya, Raja Xin lebih dulu menyela.


Raja Xin menghela nafasnya. "Aku tidak bisa memberi tahu mu sekarang, aku juga harus meminta ijin pada tabib itu." Ujar nya.


"Tabib itu?"


"Huft." Raja Xin menghela nafasnya. "Intinya yang kau sangka mimpi itu bukan mimpi." Setelah mengucapkan itu Raja Xin bangkit dari duduknya.


"Aku akan mengabari yang lain kalau kau sudah sembuh."


...> > > ✧✧✧ < < <...


Meong


Yun menunduk, ia tersenyum. "Bai Mei? Bagaimana kau bisa ada di sini?"


Yun Yi berjongkok, lalu menggendong Bai Mei. "Apakah A'Guang yang membawamu ke sini?"


Meong


Seolah mengerti dengan ucapan Yun Yi, Bai Mei mengeong.


Yun Yi terkekeh kecil. "Kau sangat menggemaskan."


"Rasa gelisahku langsung hilang begitu saja ketika mendengar suara manis mu." Yun Yi mendusel hidungnya di kepala Bai Mei.


"Bai Mei menurutmu, apakah mimpi itu memang bukan mimpi? Lalu kalau bukan mimpi..." Yun Yi mendongak, ia merenung, memikirkan maksud perkataan Raja Xin.


Ckelk


"Ayah masuk ya."


Yun Yi menoleh, lalu mengangguk.

__ADS_1


"Apakah kamu sudah merasa lebih baik?" Tanya Jendral Huang.


"Ya, aku baik." Yun Yi mengangguk. "Di mana Gēgē dan yang lain?"


Jendral Huang duduk di sebrang Yun Yi. "Gēgē mu sedang membantu Raja Xin menangani masalah Kerajaan ini."


"Memangnya kemana bawahan A'Guang? Kenapa harus meminta Gēgē untuk membantunya."


Jedral Huang tersenyum kecil, "Mungkin saja ada yang ingin di bicarakan."


"Apakah kamu lapar?" Tanya Jendral Huang mengingat kalau Yun Yi baru sadar beberapa jam yang lalu.


"Tidak."


Kamar Raja Xin menjadi hening, mereka sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


Mata Jendral Huang menatap bulan yang mulai tertutupi awan. "Karena sekarang sudah semakin malam. Lebih baik kamu segera tidur. Ayah pamit dulu."


"Baik." Yun Yi menatap Jendral Huang, ia merasa ada yang aneh dengan Ayahnya itu.


Ketika Jendral Huang akan menutup pintu, Yun Yi mencegahnya. "Ayah, apa semuanya baik-baik saja?"


"Baik kok." Jendral Huang tersenyum.


"Sudah, cepatlah tidur." Jendral Huang menutup pintu.


Yun Yi terdiam di tempat, ia menatap pintu yang sudah tertutup. Ia merasa ada yang aneh dengan Ayahnya, tapi apa?


...> > > ✧✧✧ < < <...


Ru-an kini tengah berkeliling di Kekaisaran Xi. Ia merasa ada jejak Dewi Lam di sini, walau samar. Langkahnya terhenti di depan gerbang, di samping gerbang tertulis 'Huang'.


"Sepertinya aura itu berasal dari dalam." Gumam Ru-an.


Ia masuk ke dalam, mengamati sekitar. "Ada banyak jejak yang di tinggalkan Dewi Alam." Ujar Ru-an ketika melihat lantai yang ia pijak.


"Apakah dia sempat datang kemari? Atau dia sekarang tinggal di sini?"


"Aku harus segera menemukannya, kalau aku terlalu lama, Dewi ku (Dewi Bencana) bisa marah."


Ru-an kembali menelusuri lorong-lorong Huang Fu. Langkahnya terhenti di depan sebuah kamar.


"Aura di sini terasa lebih pekat di bandingkan dengan di tempat lain."


Kriet


Ru-an memajamkan matanya ketika menghirup aroma yang familiar. "Ini benar-benar wangi yang di tinggalkan Dewi Alam."


Ru-an menatap peraduan yang terlihat rapi. Ia berjalan mendekat. "Apakah dia tinggal di sini?"


...🔸️To Be Continued🔸️...

__ADS_1


__ADS_2