
"Wle..."
Yun Yi merasa lucu dengan tingkah gadis yang ada di pelukannya ini. Tangannya terangkat, lalu menepuk puncuk kepala gadis berambut pink itu.
Puk puk puk
"Jangan seperti itu." Ujar Yun Yi, memberi nasehat.
Gadis itu mengangguk, walau dengan wajah cemberut. "Hmp, baiklah."
Gadis itu menenggelamkan kepalanya di perut Yun Yi, ke dua kakinya bertekuk di tanah.
"Apakah kamu bisa membantuku?" Tanya Yun Yi.
"Apakah ini tentang teknik seni bela diri anda?" Tanya balik, gadis berambut pink itu.
Yun Yi mengangguk membenarkan di sertai senyum kecil.
Gadis berambut pink itu terdiam, dia menopang dagunya, bergumam kecil.
"Mmmn..."
"Saya bisa melakukannya, akan tetapi, kita harus mencari tempat yang sangat... Luas dan jauh dari pemukiman. Teknik bela diri anda dapat menghancurkan apa saja yang berada di sekitarnya, jadi kita harus memilih tempat yang jauh dari orang-orang. Lalu saa tidak bisa mempraktekan semuanya sekaligus, seni bela diri seorang Dewi sangat susah di lakukan dalam satu waktu. Selain merusak dantian, efek negatif lainnya adalah kami yang memeragakan ini akan berubah menjadi manusia biasa tanpa Kultivasi dan kekuatan lainnya." Jelas Gadis pink itu.
Yun Yi mengangguk tanda mengerti. "Kalau begitu, aku sudah tahu di mana tempat yang bisa kita pakai." Yun Yi teringat dengan ladang bunga yang ada di hutan dalam wilayah Array, sekaligus hutan tempat dulu ia tinggal.
"Tapi, pertama-tama.. aku ingin tahu siapa namamu?" Dalam sepersekian detik, ada pancaran kesedihan dari mata gadis pink. Namun, satu detik kemudian dia tersenyum, lantas berdiri.
"Perkenalkan nama saya Annchi." Ucapnya sambil membungkukkan setengah badannya.
"Nama yang cantik." Sahut Yun Yi.
Senyum di wajah Annchi semakin melebar ketika mendengar ucapan Yun Yi. "Terimakasih Dewi-ku." Seru Annchi sambil kembali memeluk Yun Yi.
Setelah acara berpelukan selesai, Yun Yi, Annchi, An She dan Jendral Li, kini tengah bersiap untuk pergi ke luar.
Awalnya Jendral Li tidak akan ikut, karena tidak ada yang melatih para prajurit. Namun, ketika Jendral Tu, salah satu Jendral besar di istana, datang. Dan akhirnya, Jendral Li meminta Jendral Tu untuk menggantikannya dalam melatih para prajurit, sedangkan dirinya akan ikut bersama Yun Yi.
__ADS_1
Setelah semuanya siap, mereka langsung berangkat, mengikuti Yun Yi, ke reruntuhan. Mereka menggunakan gerbang teleportasi, yang di pasang di istana belakang, yang bisa membawa mereka kemana saja.
Wush wush wush
Satu persatu mereka masuk ke dalam pintu, saat membuka mata, mereka sudah ada di depan sebuah tanah kosong yang cukup luas.
"Dewi-ku, apakah tempat yang anda maksud adalah tempat ini?" Tanya Annchi, ia merasa familiar dengan tempat ini.
"Ya." Yun Yi mengangguk, lalu mengibaskan tangannya, array yang di pasang tiba-tiba menghilang, dan menampilkan sebuah gerbang biru dengan banyak ukiran kuno di setiap tiang.
"Ayo masuk." Yun Yi melangkah, jika orang-orang di belakangnya merasa takjub, bedahal yang dengan dirinya. Yun Yi merasa aneh pada dirinya sendiri, mengapa tadi ia mengalirkan Qi spiritual kegelapan? Lalu bagaimana array itu tiba-tiba menghilang begitu saja, Yun Yi tidak pernah berpikir untuk melakukan hal tadi, akan tetapi tangannya malah bergerak sendiri.
Walau begitu, Yun Yi melangkah, memasuki gerbang besar itu, mengikuti kata hatinya.
Setelah semuanya memasuki gerbang, kini mereka tiba di hutan yang di penuhi pohon persik.
"Tunggu." Annchi terdiam, ia kenal dengan tempat ini, ini adalah tempat di mana Dewi-nya singgah ketika sedang ada masalah, atau kalau sedang dalam suasana hati buruk.
Annchi melesat ke depan, meninggalkan orang-orang ang menatapnya bingung, terutama Yun Yi.
"Ikuti Annchi." Intrupsi Yun Yi.
Mereka berhenti ketika Annchi berhenti. Di depan, ada sebuah rumah sederhana dengan sebuah pohon bunga Wisteria yang besar. Di bawah pohon itu, ada rusa biru yang tengah tertidur.
Yun Yi melangkah, mendekati Annchi yang terdiam.
Puk puk puk
Ketika sampai di samping Annchi, Yun Yi menepuk pundak peri cantik itu.
"Annchi." Panggilnya.
Annchi terperejat, ia mendongak menatap Yun Yi yang berdiri di sampingnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Yun Yi.
Untuk beberapa saat, Annchi mengedipkan matanya, lalu berucap. "Ah, tidak. Aku tidak apa-apa."
__ADS_1
Yun Yi merasa heran ketika melihat mata Annchi yang sedikit berair.
"Apa kamu menangis?"
Annchi menggeleng, akan tetapi pipinya mulai basah, karena air mata. "Ti-tidak."
"Apakah ada yang salah dengan tempat ini?" Tanya Yun Yi untuk ke sekian kalinya.
Dan untuk ke dua kalinya, Annchi menggeleng. Namun, Isak tangisnya terdengar.
"Hiks." Satu isakan yang cukup keras berhasil lolos dari mulut Annchi.
Yun Yi merasa bingung dengan situasi ini, ia ingin bertanya 'kenapa?'. Akan tetapi, melihat Annchi yang menangis seperti ini, Yun Yi berinisiatif membawa Annchi ke dalam pelukannya.
"Hiks, hiks." Isakan Annchi semakin kencang. Dan Yun Yi hanya bisa mengusap kepala Annchi, mencoba menenangkannya.
"Aku, aku teringat akan kejadian hari itu. Wa-waktu itu, hiks, anda di papah An She, hiks, dengan keadaan penuh luka. Hiks, bahkan, perut anda, hiks, terus me-mengeluarkan, hiks darah." Annchi berucap terbata-bata, ia masih belum berhenti menangis, dan bahkan tangisannya semakin kencang, saat selesai berucap.
"Tidak perlu memaksakan diri, kamu bisa menceritakannya lain kali." Tutur Yun Yi, tangannya masih setia mengusap kepala Annchi.
Annchi menggeleng damal pelukan Yun Yi, lalu beberapa saat kemudian dia kembali bersuara. "Wa-waktu itu, hiks, saya pikir, hiks, anda tidak akan selamat."
Annchi menarik nafasnya, mencoba menenangkan dirinya. "Setelah di obati, saya merasa senang karena anda pulih. Akan tetapi...hiks, wanita itu malah menantang anda lagi, hiks, bahkan dia dengan berani membunuh saudara-saudara ku, hiks. Di sana Anda sangat marah, sehingga...hiks, sehingga anda menerima tantangan itu, hiks." Annchi kembali berucap.
Dan untuk beberapa waktu, ia terdiam. Dan kemudian kembali lagi berkata. "Saya tidak bisa ikut, karena anda bertarung di luar hutan ini, dan hanya An She yang ikut. Awalnya saya merasa tenang-tenang saja, saya terus berdoa sambil memegang gelang pemberian anda. Lalu..hiks, Báishé datang dengan tergesa, dia berkata bahwa anda, hiks, anda..."
Mendengar tangis Annchi yang semakin mengencang, Yun Yi mengeratkan pelukannya.
Puk puk
Tangannya menepuk punggung Annchi, berusaha membuatnya tenang. Walau begitu, mata Yun Yi menatap kosong ke arah depan.
Cerita yang dia dengar entah kenapa membuat hatinya bergejolak, tapi juga membuatnya merasa hampa. Seperti ada sesuatu yang hilang.
Ia memang sudah mengingat semua saat dirinya bertarung dengan Shi Wen, akan tetapi ia tidak ingat bahwa itu terjadi karena Shi Wen menantangnya.
Wajahnya mendongak ketika mendengar desisisan kecil dari salah satu dahan pohon bunga Wisteria. Mata Yun Yi bertemu dengan mata ungu dari ular kecil yang melingkar di dahan kecil yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
Nging ..
...🔸️To Be Continued🔸️...