
Mata itu terbuka, sang pemilik mata emas itu mendadak berdiri kaku.
"Sui'er, kamu kembali." Air matanya tidak bisa di tahan. Ia menangis haru, akhirnya setelah ratusan tahun, seseorang yang di nantikan telah kembali.
"Sui'er, tunggu ibunda." Tianzhi, Dewi Cahaya, keluar dari tempat Kultivasi. Dia pergi ke kamarnya dengan tergesa-gesa.
Tianzhi berjongkok, mengambil sebuah kotak dari bawah peraduan. Senyuman nya begitu indah. Saat berbalik, ia di kagetkan dengan keberadaan Jian Yang. Senyum nya menghilang, tergantikan dengan raut tanpa ekspresi.
"Sedang apa Dewa agung di kamar saya?"
"Apakah aku tidak di ijinkan untuk masuk ke kamar mu?" Bukannya menjawab, Jian Yang malah balik bertanya.
Tianzhi tidak menjawab, ia berjalan melewati Jian Yang begitu saja. Namun, sebuah angan besar menahan nya.
"Kamu hendak pergi ke mana?" Tanya Jian Yang.
"Kemana saya pergi, apakah itu hal penting bagi anda?" Jian Yang mengangguk dengan tegas, "Tentu."
"Lalu, saya dan wanita samping itu, siapa yang lebih penting?" Tianzhi kembali bertanya.
"Tentu saja dirimu." Jawab Jian Yang tanpa pikir panjang, suaranya tegas menandakan bahwa ia berkata dengan sungguh-sungguh.
"Kalau begitu, putuskan hubungan mu dengan nya." Jian Yang terdiam, kepalanya tertunduk.
Lalu setelah beberapa saat ia kembali mengangkat kepalanya. "Zhi'er, kamu tahu, ibuku akan marah jika aku melakukan nya."
"Tidak perlu membawa-bawa nama Ratu sebelumnya. Bukankah tinggal berkata kalau anda tdak bisa melepas wanita samping itu, karena anda sudah..."
"Tidak!" Sebelum Tianzhi menyelesaikan ucapannya, Jian Yang lebih dulu menyela.
"Kamu tahu kalau hanya ada kamu di sini, Zhi'er." Jian Yang menekan dada nya beberapa kali.
"Aku sudah mengatakan nya beberapa kali, di awal aku memang tertarik pada wanita itu. Tapi aku tidak pernah berpikir untuk menikahinya. Tapi Zhi'er, entah apa yang terjadi, ibu memaksaku untuk menikahi wanita itu. Kau pun tahu kalau aku tidak bisa menolak permintaan ibuku, karena dia selalu mengancam dengan nyawanya sendiri." Tutur Jian Yang.
"Aku sudah bosan mendengar perkataan mu yang seperti ini. Jika memang kamu tidak mencintai nya, lalu kenapa tidak lepas dia?"
"Zhi'er... Tolong mengeti, sudah ku bilang, ibu selalu..."
"Aku juga bilang! Jangan membawa-bawa nama Ratu sebelumnya." Nafas Tianzhi memburu, matanya memerah.
Dengan kesal ia melepas genggaman Jian Yang. Lalu berlari keluar.
__ADS_1
"Zhi'er tunggu."
Terlambat, Tianzhi sudah tidak ada di kediaman nya lagi. Bahkan sekarang, Tianzhi sudah pergi ke dunia manusia.
Mata Jian Yang menatap sendu ke ruangan ini. Dulu ruangan ini selalu nampak indah dan nyaman untuk di tinggali. Namun sekarang, kesan kamar ini terlihat biasa-biasa saja. Seperti tidak ada gairah apapun.
"Apakah kamu masih akan tetap menjauhi ku jika aku belum melepaskan wanita itu?"
"Apakah ini akan berlangsung selamanya?"
"Sepertinya, aku harus segera mencari cara untuk bisa lepas dari wanita itu. Pertama-tama, buat ibunda tidak menyukai nya."
Seketika, Jian Yang, sang Dewa agung menghilang.
...> > > ✧✧✧ < < <...
Raja Xin menatap pintu di depan nya, ia ragu apakah harus masuk ke dalam atau tidak. Ini bukan kediaman Huang. Ini adalah kediaman yang di buat langsung oleh Dewi Cahaya.
Yun Yi sudah masuk ke dalam, dan mungkin sekarang tengah beristirahat. Dan Raja Xin yakin, Dewi Cahaya sudah merasakan aura Yun Yi.
Pada akhirnya, Raja Xin duduk di kursi teras rumah. Ia menatap langit biru dengan kosong.
Ia tidak mengira akan terjadi hal seperti ini, awalnya ia kira waktunya dan Yun Yi akan selesai sampai musim dingin, nanti.
Tapi sekarang..., Yun Yi bahkan sudah menemukan rumah kecilnya dulu. Dan ia yakin, Yun Yi sudah mendapatkan beberapa ingatan nya.
Membayangkan saat Yun Yi di bawa pergi oleh Dewi Cahaya saja sudah membuatnya sesak, apalagi jika.. Yun Yi sudah mengingat semuanya dan membenci dirinya yang keturunan Naga biru seperti Dewa-dewa yang lain nya.
Raja Xin menggeleng, mencoba mengenyahkan pemikiran buruk. "Bukankah kamu adalah seorang Raja, mengapa kamu sekarang malah lemah, Xin." Gumam Raja Xin.
Andai Yun Yi bukan keturunan Dewi itu, mungkin ia tidak akan terlalu di benci oleh Yun Yi.
Andai dirinya adalah manusia biasa, mungkin ia masih memiliki kesempatan untuk menemui Yun Yi lagi.
Kriet
Lamunan Raja Xin seketika buyar ketika pintu di samping nya di buka. Menampilkan Yun Yi yang berdiri dengan wajah mengantuk.
Raja Xin segera menghampiri Yun Yi. Lalu mendudukkan nya di salah satu kursi. "Apakah masih mengantuk?"
Raja Xin merapihkan rambut Yun Yi yang berantakan. Ia melepas jepit dan tusuk rambut lain nya. Lalu mulai menyisir rambut Yun Yi menggumamkan tangan dan jarinya.
__ADS_1
"A'Guang? Aku kira siapa." Yun Yi memeluk Raja Xin, ia menenggelamkan wajahnya di perut rata Raja Xin.
"Ada delapan." Gumam Yun Yi.
Mata Raja Xin mengerjap, "Apakah kamu mengatakan sesuatu?"
Yun Yi menggelengkan kepalanya yang masih berada di perut Raja Xin. Raja Xin mengusap puncuk kepala Yun Yi.
"Apakah masih ingin pergi tidur?" Untuk kedua kalinya Yun Yi menggeleng. Dan itu membuat Raja Xin kegelian.
"A'Guang." Yun Yi mengangkat wajahnya, menatap Raja Xin.
"Hm? Apa kamu perlu sesuatu?" Karena dagu Yun Yi ada di perut Raja Xin, ketika Yun Yi menggeleng lagi, Raja Xin kembali merasa geli.
"Jangan menggeleng di perutku, itu geli." Raja Xin menepuk-nepuk kepala Yun Yi pelan. "Lalu apa?" Tanya nya.
"Tadi, ada seekor ular putih yang melata ke tangan ku ketika aku memegang bunga itu." Yun Yi menunjuk bunga Wisteria yang ada di halaman.
"Lalu...?"
"Aneh nya dia terus memanggil ku Dewi, dia juga bersikap seolah aku tengah lupa ingatan." 'Dan dia mengungkit dunia ku dulu.' lanjutnya dalam hati.
"Bukankah, kamu memang lupa ingatan?" Yun Yi terdiam, dia lupa kalau dirinya yang memasuki tubuh ini kini sedang berpura-pura hilang ingatan.
"E... Itu, benar juga ya.. hehe." Yun Yi menggaruk tengkuknya kaku.
Raja Xin terdiam. 'ular putih yang di maksud apakah dia Báishé?'
Jika itu benar-benar Báishé, ia pasti mengungkit tentang Yun Yi saat menjadi Xiao Sui dulu. Tapi Raja Xin merasa aneh dengan Yun Yi, dia terlihat panik.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Raja Xin mengusap keringat yang mengalir di dahi Yun Yi.
"Ya, aku tidak apa-apa. Hanya merasa gerah sedikit." Sahut Yun Yi yang mencoba untuk tidak terlihat gugup.
"Aku antar kamu ke pemandian agar..."
"Kamu berani!!"
Sebuah suara berhasil mengalihkan etensi pasangan itu.
...🔸️To Be Continued🔸️...
__ADS_1