
Yun Yi bernafas lega ketika mereka sudah sampai di kota Kekaisaran Wu. Ketika mereka akan memesan penginapan, ternyata semua penginapan yang ada di kota Kekaisaran Wu sudah penuh. Kini mereka kembali ke luar kota, mendirikan tendah di hutan dekat kota.
Yun Yi meregangkan tubuhnya, pinggangnya terasa pegal karena terus duduk di kuda. Kereta kuda yang ia buat sudah ia hilangkan, takut akan membuat geger kota.
Yun Yi menghampiri Jendral Huang, "Ayah, apa benar-benar tidak ada penginapan lagi?" Tanya Yun Yi.
"Apakah kamu ingin tidur di penginapan?" Jendral Huang bertanya balik.
Yun Yi menganggukkan kepalanya, "Tubuhku masih terasa pegal walau sudah tidur di tenda."
'Dan aku tidak mungkin tidur di dalam ruang jika Yu Lin terus mengikuti ku.' Lanjutnya dalam hati.
"Maaf kan Ayah karena tidak memesan penginapan dari jauh-jauh hari." Jendral Huang berucap penuh sesal. Ia tidak pernah terpikirkan untuk memesan penginapan dari hari berikutnya, ia lupa jika dalam acara perburuan tahun ini akan banyak orang yang datang dari dunia lain. Jadi, tentunya penginapan akan penuh.
"Ayah tidak perlu meminta maaf." Yun Yi menggeleng, ini bukanlah salah Jendral Huang.
Ketika mereka sedang berbicara, tiba-tiba ada banyak prajurit yang berhenti tak jauh dari tempat mereka.
Mata Yun Yi menyipit ketika melihat laki-laki dengan Hanfu berwarna hitam dengan cirak naga. Auranya terasa sangat agung, sampai para prajurit menunduk.
'Sepertinya aku kenal dengan laki-laki itu.' Batin Yun Yi.
Ketika laki-laki itu semakin dekat, sudut bibir Yun Yi terngkat.
"Pantas saja." Monolog nya.
Raja Xin semakin mempercepat langkahnya, rasa rindunya pada gadisnya bekitu membeludak. Sedari tadi senyuman nya tidak pernah luntur.
Wanran dan Guan Yin yang baru saja keluar dari tenda membulatkan matanya.
"Istriku, apakah aku tidak salah melihat? Mengapa manusia es seperti Raja Xin tersenyum begitu lebar?" Wanran terus memandangi Raja Xin yang tersenyum ke arah Yun Yi.
"Tidak, kau tidak salah lihat. Raja Es itu memang tersenyum ke arah cuxu kesayangan kita." Ucap Guan Yin.
Ketika Raja Xin sudah di depan Yun Yi, niatnya ia akan memeluk gadis kecilnya itu. Tapi Qiou Yue langsung menarik Yun Yi, sehingga Raja Xin hanya memeluk angin.
"Apa yang anda lakukan?" Raja Xin menatap penuh permusuhan.
Qiou Yue pun membalasnya, "Aku hanya melakukan sesuatu yang memang harus di lakukan."
__ADS_1
Raja Xin menatap tidak suka ke arah Qiou Yue, dengan gerakan vepat ia menarik Yun Yi ke dalam dekapannya.
"Sebaiknya anda segera pergi menemui Chen Lu, Shào Yé Huang." Uvap Raja Xin penuh penekanan, serta mengusir Qiou Yue secara tidak langsung.
Qiou Yue mendengus, ia tidak suka kalau Yun Yi di peluk seperti itu oleh Raja Xin.
"Anda dan Yun Yi masih bersetatus tunangan. Jadi, sebaiknya anda tidak mememluk Yun Yi sembarangan, Raja Xin." Ucap Qiou Yue.
Raja Xin melayangkan tatapan penuh ejejan pada Qiou Yue. "Katakan saja kalau kau merasa cemburu, karena anda tidak dapat memeluk Yun Yi." Ujar nya.
"A'Guang." Yun Yi menepuk tangan Raja Xin, untuk melepaskan pelukannya.
"Ya ada apa Yun'er?" Raja Xin menundukan kepalanya, menatap Yun Yi yang tingginya hanya se dadanya saja, lalu melepaskan pelukannya.
"Jangan membuat keributan." Ucap Yun Yi setelah Raja Xin melepaskan pelukannya.
"Memangnya siapa yang membuat keributan?" Yun Yi menatap Raja Xin penuh peringatan.
"Iya, iya." Raja Xin dengan cepat mengangguk, takut kalau Yun Yi marah padanya.
Jendral Huang menghampiri Raja Xin, lalu bertanya. "Ada perlu apa Raja Xin datang kemari?"
Yun Yi menunjuk dirinya, "Menejmputku?" Tanga Yun Yi yang di angguki Raja Xin.
"Benar. Salah satu bayanganku melapor, kalau kamu dan keluarga mu tidak mendapat penginapan. Jadi aku segera pergi mencarimu." Jelas Raja Xin.
"Lalu apa keluarga ku juga akan ikut bersama dengan ku?" Tanya Yun Yi. Ia menatap semua orang yang ada di sana. Mereka juga pasti ingin tidur di tempat yang lebih baik.
Mengerti akan ke khawatiran Yun Yi, Raja Xin berkata. "Kau tidak perlu khawatir, mereka juga akan ikut. Kebetulan aku menyewa satu penginapan besar."
Yun Yi tersenyum senang. Ia menepuk pundak Raja Xin. "Itu bagus. Kalau begitu mari segera berangkat."
Yun Yi berbalik, lalu berjalan ke arah tendanya. Raja Xin mengikuti Yun Yi dari belakang.
"Kenapa kamu mengikuti ku?" Tanya Yun Yi.
"Aku akan membantumu." Sahut Raja Xin dengan semyumnya.
Yun Yi mengangguk-angguk, "Kalau begitu mohon bantuannya."
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu Yun Yi mulai berkemas. Tentu saja Raja Xin ikut membantu. Setelah selesai berkemas barang miliknya, Yun Yi pun membantu Wanran dan Guan Yin. Dal lagi-lagi Raja Xin ikut membantu.
Setelah semua orang siap, Raja Xin memimpin semuanya ke penginapan yang di maksud. Sesampainya di sana, Yun Yi di buat takjub dengan halaman penginapan itu. Banyak pohon yang di tanam, serta berbagai macam bunga di berbagai tempat.
Bahkan ada...
"Wah... Ada bunga Wisteria." Langkah Yun Yi pun berbelok, menghampiri bunga Wisteria yang tumbuh indah.
Di belakang Yun Yi, Raja Xin melebarkan senyumnya ketika melihat Yun Yi yang sebahagia itu.
"Sepertinya kamu sangat menyukai bunga Wisteria ya, Yun'er." Ujar Raja Xin.
"Tidak hanya bunga Wisteria, aku sangat menyukai berbagai macam bunga. Sperti Chrysanthemum, poppy, lili, rose, dan semuanya." Ujar Yun Yi dengan semangat.
Raja Xin menganggukkan kepalanya, lalu ia menatap Yun Yi. "Lalu bunga apa yang paling kau sukai?" Tanya Raja Xin.
Yun Yi mendongak menatap tiap bunga Wisteria yang ada di atasnya, satu tangannya menggapai bunga itu.
"Kalau yang palin aku suakai adalah bunga yang berwarna ungu, atau bunga dengan wangi yang lembut." Ucap Yun Yi.
Yun Yi menjadi teringat dengan bunga mawar putih yang di tanam ibunya di zaman modern. Apakah dia tumbuh dengan baik?
Melihat Yun Yi yang tiba-tiba terdiam, Raja Xin menjadi heran.
"Yun'er, ada apa?" Tanya nya.
Yun Yi mengggeleng sambil tersenyum. "Aku hanya teringat mawar putih yang dulu aku tanam, tapi aku tidak ingat di mana aku menanamnya." Ucap Yun Yi. Penuh kebohongan.
Raja Xin kini mengerti, ia tahu kalau Yun Yi mengalami hilang ingatan akibat racun yang dulu pernah hampir membuat Yun Yi tiada.
"Apakah kamu mulai mengingat sesuatu?" Tanya Raja Xin ketika sadar kalau Yun Yi mengatakan 'teringat'.
"Mungkin." Yun Yi mengangkat bahunya.
"Itu hanya inatan sekilas saja." Lanjutnya.
Raja Xin mengangguk, "Baguslah jika kamu mulai mengingat sesuatu. Aku yakin keluarga mu akan senang ketika mengetahui ini." Ia mengusap puncuk kepala Yun Yi.
Raja Xin menatap Yun Yi lalu menatap sekitarnya yang sudah sepi. "Yun'er, bisakah aku memelukmu?"
__ADS_1
...🔸️To Be Continued🔸️...