Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Familiar


__ADS_3

"huh." Raja Xin mendengus. Yang awalnya raja Xin duduk di samping Zi Yui, kini ia pindah ke samping Yun Yi.


Tak lama, datanglah para pelayan yang membawa berbagai jenis makanan.


"Yi'er cobalah. Makanan di sini semuanya enak. Aku yakin kamu suka." Ujar Raj Xin ia mengambil satu paha Ayam lalu menyodorkan nya ke depan mulut Yun Yi.


Yun Yi terdiam, matanya mengerjap. 'Qpakah A'Guang ingin menyuapi ku? Di tempat yang banyak orang seperti ini?'


Ia menatap sekitar, banyak pasang mata yang tengah memperhatikan mereka.


"Kenapa hanya diam saja? Ayo buka mulutnya." Raja Xin masih tetap mengangkat ayam itu.


"A'Guang, banyak yang melihat." Ucap Yun Yi memberi kode.


"Biarkan saja, mereka kan punya mata." Sahut Raja Xin acuh.


"Bagaimana kalau kita makan masing-masing saja?" Raja Xin langsun menggeleng dengan keras.


"Tidak." Bantahnya.


"Huft." Helaan nafas Yun Yi terdengar, dengan pasrah ia pun menerima suapan Raja Xin.


Ini pertama kalinya Yun Yi di suapi oleh seseorang di depan umum, rasanya sedikit malu, tapi juga senang.


Sedangkan Zi Yui menatap mereka dengan datar. Raja Xin dan Yun Yi adalah pasangan baru, dan dirinya dan An She sudah menjalani kebersamaan sebagai sepasang kekasih sudah lebih dari seratus tahun.


Tapi sikap An She masih dingin dan An She terkadang tidak suka sesuatu yang romantis. "Andai An She mau di suapi seperti ini." Gumam Zi Yui, ia memasukan satu sendok sup wortel kedalam mulutnya. Jika biasanya sup wortel terasa sangat enak, entah kenapa sekarang rasanya hambar bahkan sedikit pahit.


Di belakang meja yang di tempati Yun Yi Raja Xin dan Zi Yui. Seorang perempuan dengan Hanfu hijau yang duduk epat di belakang Zi Yui mendengar semua perkataan Zi Yui.


"Apakah aku terlalu abai padanya?" Gumam nya.


Perempuan itu berdiri, tepat setelah ia berdiri, seseorang dari arah lain tengah berjalan sempoyongan.


Bruk


Mereka pun bertabrakan, pria yang di tabrak perempuan Hanfu hijau itu meringis, tercium bau arak dari helaan nafasnya.


"Bisakah kamu melihat-lihat ketika akan berjalan! Kau sangat ceroboh sampai menabrak orang lain." Pria itu bangkit, ia menatap wajah perempuan Hanfu hijau itu seksama.


"Wajahmu aneh, kau manusia atau apa?" Tanya pria itu.


Perempuan Hanfu hijau itu segera menutup wajah nya menggunakan tangannya.


"Wajahmu sangat jelek! Kenapa perempuan jelek seperti mu ada di sini?" Pria itu kembali bertanya.


"Eh? Jelek dari mananya? Bukankah wajahnya sangat cantik?"


"Tunggu, kalau begitu dia pasti salah satu bawahan Dewi Alam."


"Itu benar, salah satu ciri bawahan Dewi Alam adalah wajah aslinya akan terlihat aneh atau jelek di mata manusia biasa. Tapi jika manusia itu sudah sampai tahan prajurit orde pertama dia akan dapat melihat wajah aslinya."

__ADS_1


"Kalau dia benar-benar salah satu bawahan Dewi Alam, kita harus mendekatinya."


"Benar, kita harus memintanya mengantar kita menemui Dewi alam."


"Benar, kita harus tahu apakah penyebab tanah tidak subur di dunia kita karena Dewi Alam yang sedang sakit atau bukan."


"Eh, atau seperti yang di katakan pangeran ke tujuh, bahwa Dewi alam tidak lagi hidup."


Satu ruangan di lantai dua menjadi sangat ricuh, mereka saling dorong demi mendekati perempuan ber-Hanfu hijau itu.


"Hei, jangan dorong."


"Aku duluan yang akan bertanya."


"Kau, kau bawahannya Dewi alam bukan?"


"Katakan padanya untuk menyebarkan kesuburan pada tanah."


"Benar, tanah kamu menjadi rusak karena tidak dapat kesuburan darinya."


"Di mana Dewi alam sekarang."


"Ijinkan kamu menemuinya."


Perempuan itu terlihat kewalahan, dia terus di lempari pertanyaan dan pernyataan.


Mata Zi Yui melotot ketika ia mengenali siapa perempuan itu.


Zi Yui mendorong orang-orang yang menarik Hanfu An She. Tubuhnya yang kecil dapat dengan mudah menerobos kerumunan. Tangan kecilnya menarik-narik ujung Hanfu An She.


Merasakan tarikan dari ujung Hanfu nya, An She menunduk. 'Sejak kapan Zi Yui ada di situ?'


"An'er, menunduk." Ujar Zi Yui.


"Apa?" Karena terlalu bising, dan dirinya yang terus terdorong, An She tidak dapat mendengar dengan jelas perkataan Zi Yui.


"Menunduk, menunduk." Zi Yui menaik turunkan tangannya dari atas ke bawah.


An She pun menunduk, setelah itu tubuhnya menegang kala Zi Yui memeluknya. Lalu tiba-tiba cahaya kuning kebiruan memenuhi rumah makan AuJun.


Karena cahaya itu orang-orang yang berteriak dan menarik Hanfu An She tiba-tiba terbengong. Setelah cahaya itu hilang, orang-orang itu mengerjakan matanya.


"Eh? Kenapa aku bisa ada di sini?"


"Kenapa kita berkumpul di sini?"


"Ayo bubar-bubar."


"Aneh ya, kenapa kita bisa berkumpul seperti tadi?"


"Benar, kenapa yah?"

__ADS_1


Orang-orang itu terlihat linglung. Salah satu dari mereka menunduk, lalu melihat seorang anak kecil yang sepertinya beumur delapan tahun dengan telinga kelinci tengah memeluk seorang wanita yang seperinya adalah ibunya.


"Mereka kenapa?" Setelah bergumam, orang itu segera meninggalkan Zi Yui dan An She.


Zi Yui bernafas lega ketika gerombolan itu sudah bubar. Ia melepaskan pelukannya, lalu merogoh lengan Hanfu kecilnya.


"An'er, gunakan ini." Ucapnya menyodorkan, satu porselen kecil.


"Lain kali kalau, ingin pergi keluar, kamu harus meminum eleksir penyamar dulu." Ujar Zi Yui memberi nasehat.


"Aku lupa." Sahut An She dengan wajah datar.


Di belakang, Yun Yi menatap punggung perempuan itu. Hanfu dan anting yang di kenakan perempuan itu sepertinya dia pernah melihatnya di suatu tempat.


Lalu... Adegan saat Zi Yui memeluk perempuan itu, Yun Yi juga merasa familiar. Tiba-tiba, kepalanya terasa pusing dan berat.


Nging.......


Telinganya pun berdengung. Yun Yi menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan rasa pusingnya.


Bukannya hilang, Yun Yi merasa wajah nya terasa panas terutama hidungnya, bersamaan dengan itu matanya memburam.


"Yi'er, Yi'er." Suara Raja Xin teramat sangat kecil.


Bruk


Tubuh Yun Yi luruh, ia duduk di lantai. Pundaknya terasa di pegangi oleh tangan besar yang hangat.


Ia melihat wajah Raja Xin yang tengah khawatir padanya.


'Apakah aku akan pingsan?' batinnya bersuara.


'Tapi kenapa begitu lama. Mataku masih tetap terbuka, dan rasa sakit nya semakin berambah.'


Sesuatu mengalir dari dalam hidungnya, Yun Yi merasa amis ketika cairan itu masuk ke dalam bibirnya.


"Yi'er kamu kenapa?" Suara Raja Xin kembali terdengar. Namun suaranya semakin mengecil, tubuhnya akan ambruk ke lantai aklau saja Raja Xin tidak menahannya.


Ia merasa tubuhnya melayang. Lalu terdengar suara marah seseorang.


"Kenapa aku tidak bisa menggunakan teleportasi?!"


'Apakah itu suara A'Guang? Dia sepertinya tengah khawatir padaku.'


'Ugh, rasa sakitnya terus bertambah. Tapi kenapa aku masih tetap sadar?'


Air mata Yun Yi turun akibat rasa sakit yang amat sangat yang ia rasakan.


'Kenapa begitu sakit?'


...🔸️To Be Continued🔸️...

__ADS_1


__ADS_2