Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Xiao Sui


__ADS_3

Ketika Yun Yi dan yang lainnya sampai di sebuah gazebo, mereka di sambut oleh para pelayan. Pelayan itu mengantarkan mereka ke kamarnya masing-masing.


Yun Yi menatap lorong-lorong yang di penuhi tanaman gantung. Mulut Yun Yi membentuk kurva tipis ketika lagi-lagi mendengar batin para pelayan.


'Sepertinya nona ini adalah tunangan yang mulia Raja. Dia sangat cantik, kalau yang mulia Raja dan Huang Xiăo Jiě berdiri berdampingan, pasti mereka akan terlihat serasi.'


'Wah, nona itu cantik sekali. Pantas saja yang mulia Raja jatuh hati padanya.'


"Xiăo Jiě, ini adalah kamar anda." Yun Yi mengangguk pada pelayan itu, setelah itu pelayan itu ijin pamit.


"Lan Mei mari masuk ke dalam. Aku ingin segera membersihkan diri." Ajak Yun Yi.


Lan Mei mengangguk, ketika ia membuka pintu.


"Salam pada Xiăo Jiě."


Ternyata kamar itu tidak kosong, sudah ada empat pelayan yang tengah menunggunya.


Salah satu dari mereka maju ke hadapan Yun Yi. "Xiăo Jiě, mari saya antar. Anda pasti ingin segera membersihkan diri."


Yun Yi di tuntun ke ruangan yang cukup unik, lorong dengan tirai putih transparan, dan tiang berwarna coklat tua. Tak lama Yun Yi di arahkan ke sebuah kolam kecil dengan pancuran naga, asap mengepul dari air di dalam kolam, terdapat kelopak bunga mawar di kolam dan satu bunga teratai di tengah.


"Nona, anda ingin menggunakan wewangian apa pada airnya?" Tanya seorang pelayan yang terlihat lebih muda dari yang lain.


"Jika ada lavender, aku ingin menggunakan itu." Ucap Yun Yi.


Pelayan itu mengangguk, lalu mundur.


Yun Yi masuk ke dalam kolam, lalu duduk di salah satu sudut. Dia merendam sebagian tubuhnya. Hangatnya air membuat Yun Yi merasa tenang.


Mata Yun Yi yang tadinya tertutup menjadi terbuka. "Setelah menuangkan wewangian, kalian boleh keluar. Aku tidak suka di bantu saat mandi."


Para pelayan mengangguk. "Baik Xiăo Jiě."


Setelah kepergian para pelayan. Yun Yi kembali memejamkan matanya, menikmati hangatnya air.


...> > > ✧✧✧ < < <...


Raja Xin kini tengah membaca buku-buku mengenai situasi kerajaannya. Fokus Raja Xin teralihkan ketika salah satu bayangan nya masuk.


"Ada apa?" Tanya Raja Xin.


"Saya ingin melaporkan tentang tanda yang di cari yang mulia."


"Apakah tanda teratai itu?"

__ADS_1


Pria berpakaian serba hitam itu terlihat mengangguk. "Menurut informasi yang saya dapatkan, tanda teratai di balik daun telinga itu hanya Dewi Alam yang mempunyainya. Apalagi jika tanda teratai itu terlihat sangat mirip dengan teratai aslinya. Walau ada yang menirukan tanda itu, tanda yang di tiru tidak akan berbentuk sempurna."


Mendengar penjelasan dari bawahannya Raja Xin terdiam.


"Raja, saya juga mendapatkan satu informasi lainnya."


Raja Xin menoleh, "Apa?"


"Salah satu dari kami bertemu denan Ru-an, roh petir hitam. Sepertinya dia tengah mencari sesuatu, tapi kamu tidak dapat menebak apa yang tengah ia cari."


"Di mana?" Raja Xin menegakkan badannya.


"Di dunia ini Raja, dunia manusia."


Mendengar itu Raja Xin kembali terdiam, "Untuk apa bawahan paling tinggi Dewi Bencana turun ke dunia manusia?" Gumam Raja Xin.


"Kau boleh kembali." Bayangan itu seketika menghilang, menyisakan Raja Xin yang tengah melamun.


"Jika kamu benar-benar Dewi Alam,apakah setelah kamu mengingat semuanya kamu akan meninggalkan ku?"


Raja Xin menghembuskan nafasnya, setelah nya, Raja Xin kembali membaca laporan-laporan yang belum ia baca.


...> > > ✧✧✧ < < <...


Kini semua orang tengah makan bersama, Putri Wang pun sudah pulih, dan sekarang Yun Yi tengah mengobrol dengan Putri Wang.


"Terimakasih Xiăo Jiě Huang sudah mengkhawatirkan saya."


Yun Yi mengangguk lalu kembali makan, daging yang ada di depannya tidak bisa ia abaikan, karena rasa daging ini baru ia rasakan dan sangat enak.


"Yun Yi, aku berencana untuk membawamu ke suatu tempat. Apakah kamu mau?" Tanya Guang Luo.


"Ke mana guru?"


"Aku tidak bisa memberi tahu sekarang, tapi jika kau ikut, aku akan memberi tahumu nanti." Ujar Guang Luo.


Yun Yi teridam sejenak, ia tidak ada kegiatan khusus di Huang Fu. Dan lagi ia harus ingin menjelajah dan mencari tahu tentang dunia ini. Jadi, jika ia ikut bersama Guang Luo, itu bukanlah ide yang buruk.


"Baiklah, aku akan ikut."


Mendengar itu Guang Luo tersenyum cerah. Lalu berucap, "Aku juga berencana mencari murid lain, aku butuh dua murid lagi untuk bisa mengikuti acara pembukaan reruntuhan kuno di barat."


"Memangnya harus mempunyai tiga murid untuk mengikuti acara itu?" Tanya Jendral Huang yang sedari tadi menyimak.


Guang Luo mengangguk, "Itu benar, salah satu syaratnya adalah harus mempunyai tiga murid." Ucapnya.

__ADS_1


"Di barat di tempat apa?" Kini giliran Wanran yang bertanya.


"Kau ingat tidak dengan Gua Kun yang di bicarakan guru kita dahulu?" Tanya Guang Luo.


Wanran mengangguk, "Ingat."


"Ternyata di dalam gua itu terdapat fortal ke sebuah reruntuhan, di katakan reruntuhan itu adalah bekas pertarungan antara Shi Wen sang Dewi Bencana dan Xiao Sui sang Dewi Alam."


Yun Yi yang tadinya sedang memakan daging mendadak merasa pusing ketika Guang Luo menyebut nama 'Xiao Sui'.


"Jika begitu, aku juga ingin ikut." Tutur Qiou Yue dengan semangat.


"Tidak bisa, yang bisa ikut hanyalah pengembara yang memiliki tiga murid dan muridnya saja. Ada juga persyaratan yang lainnya yang sangat susah untuk di penuhi." Jelas Guang Luo.


Qiou Yue mendadak sedih. "Padahal aku ingin melihat seperti apa rentuntuhan bekas pertarungan ke dua Dewi hebat itu. Aku yakin, akan banyak batu kristal yang terbentuk dari sisa-sisa pertarungan itu." Ujar nya.


"Para pengembara lain juga mengatakan, di sana sepertinya ada salah satu senjata Dewi Alam yang jatuh." Ucap Guang Luo.


"Apa?!" Hampir semua orang berseru kaget.


"Kalian sangat berisik." Ujar Raja Xin yang baru saja datang.


Semua orang bangkit dari duduknya. "Salam pada Raja Xin."


Bruk


"Yun'er!"


"Yi'er!"


"Yun Yi!"


Yun Yi yang ikut berdiri tiba-tiba terjatuh begitu saja, tidak sadarkan diri.


Dengan tergesa-gesa, Raja Xin memangku Yun Yi lalu segera keluar dari ruang makan. Ketika melihat darah yang mengalir dari hidung Yun Yi, Raja Xin semakin cemas.


"Yun'er, bertahanlah."


"Ada apa denganmu? Mengapa akhir-akhir ini kamu sangat suka membuatku khawatir."


"Yun'er, bukalah matamu."


Sepanjang jalan Raja Xin terus bergumam tidak tentu. Ketika sampai di kamarnya, ia segera memerintahkan Shen untuk memanggil tabib wanita. Tak lama setelah Shen pergi, muncullan tabib wanita, tapi tidak dengan Shen.


"Yang Mulia, anda bisa bergeser sedikit. Saya akan memeriksa keadaan Xiăo Jiě Huang." Ujar Tabib wanita itu.

__ADS_1


Raja Xin yang tadinya berjongkok di dekat kepala Yun Yi kini mundur beberapa langkah, membiarkan Tabib wanita itu memeriksa Yun Yi.


...🔸️To Be Continued🔸️...


__ADS_2