
"Yi'er benda apa ini?" Jendral Huang yang baru saja selesai meng-introgasi ular itu, di buat takjub dengan benda aneh yang baru ia lihat pertama kalinya ini.
Yun Yi menoleh, ia mendapati Jendral Huang dan Qiou Yue yang menatap kereta kuda buatannya dengan pandangan aneh.
"Ini kereta kuda Ayah, tapi aku mengubahnya di beberapa sisi." Jelas Yun Yi secara singkat.
'Bohong itu.' dari dalam cincin ruang, Zisè mencibir.
Yun Yi menoleh ke kanan dan ke kiri. Namun, ia tidak mendapati keberadaan Zisè.
'Tidak perlu capek-capek mencari ku. Aku di sini, di dalam ruang.' suara Zisè kembali terdengan di telinga Yun Yi.
'Dan Xiăo Jiě tidak perlu menyahuttiku dengan ucapan. Cukup gumamkan dalam hati, aku dengar kok.' Zisè kembali berbicara, ia paham dengan kebingungan Yun Yi.
'Memangnya bisa?' Tanya Yun Yi, berucap dalam hati.
'Bisa. Xiăo Jiě dan aku kan sudah terjalin kontrak.'
Yun Yi mengangguk-angguk, sekarang ia paham mengapa bisa mendengar suara Zisè.
'Zisè, ada hal yang ingin ku tanyakan.' ujarnya.
'Aku tahu kok. Xiăo Jiě pasti ingin bertanya tentang mengapa Xiăo Jiě bisa mendengar suara pikiran orang lain. Nanti akan ku jawab jika Xiăo Jiě masuk ke dunia ruang, sekarang lebih baik Xiăo Jiě tidak terdiam seperti ini.'
"Yi'er." Mendengar namanya di sebut, Yun Yi menoleh.
"Ya? Ada apa Ayah?" Tanya nya.
"Apakah kamu menciptakan ini dari sulur?" Jendral Huang menatap tiap-tiap sulur yang berdampingan itu.
Ia pun memegangnya, lalu berucap. "Sepertinya kereta kuda ini cukup kokoh."
Qiou Yue yang juga memerhatikan kereta kuda Yun Yi pun bertanya. "Yi'er bagaimana caranya kita untuk masuk ke dalam?"
"Mudah kok." Yun Yi memeganv hendel pintu. "Cukup seperti ini." Lalu menariknya, "Dan.. tada." Yun Yi membuka pintu keretanya.
Jendral Huang dan Qiou Yue mengangguk, "Sangat praktis." Ujar Jendral Huang.
"Ayah, apa yang Ayah tanyakan pada ular tadi?" Tanya Yun Yi, penasaran.
"Hanya bertanya bagaimana bisa ia berada di sini. Dan dia malah bilang 'tidak tahu'." Jelas Jendral Huang.
"Sangat aneh." Yun Yi bermonolog.
Qiou Yue mengangguk, mengiyakan. "Memang aneh."
"Kalau begitu Ayah dan Qiou Yue akan menghampiri lara prajurit dulu." Jendral Huang dan Qiou Yue pun meninggalkan Yun Yi dan Lan Mei.
__ADS_1
Melihat Lan Mei yang terlihat kesusahan membawa selimut dan bantal di tangannya. "Lan Mei masukkan bantalnya." Titah Yun Yi.
"Baik." Lan Mei pun mulai menata bantal dan selimutnya di ranjang kecil yang ada di dalam kereta.
"Mèimèi, air nya datang." Zhu Yang berlari membawa satu ember air hanagt beserta kain putih.
Di belakangnya ada satu pelayan yang memebawa satu kotak yang sepertinya berisi makanan, dan satu pelayan ayang membawa satu teko dan gelasnya.
"Salam kepada Er'Xiăo Jiě Huang." Zhu Yang dan dua pelayan yang lainnya membungkuk, memberi salam pada Yun Yi.
Yun Yi mengangguk, "Berdiri."
"Kenapa kalian membawa ini?" Tanya Yun Yi.
"Nubi yang memintanya Xiăo Jiě." Ujar Lan Mei.
Yun Yi memiringkan kepalanya, "Untuk apa?" Tanya Yun Yi.
"Tentu saja untuk Xiăo Jiě pakai." Lan Mei mengambil ember air yang di pegang oleh Zhu Yang.
"Xiăo Jiě, mari cuci muka anda dulu." Ketika Lan Mei akan duduk di tanah.
"Lan Mei tunggu." Lan Mei mematung, menunggu apa yang akan Nonanya lakukan.
Yun Yi kembali menggunakan sulurnya, dia memebentuk sebuah kursi panjang, lengkap dengan mejanya.
"Ini lebih baik." Yun Yi tersenyum puas akan hasilnya.
"Nah, ayo duduk." Ajak Yun Yi.
Lan Mei pun meletakkan embernya di meja, lalu berucap. "Xiăo Jiě sangat hebat, anda bahkan bisa menciptakan meja." Lan Mei menatap kagum pada meja dan kursi itu. Walau terbuat dari sulur, tapi kursi itu nyaman untuk di duduki.
"Kalian letakkan saja di sini, dan sebaiknya kalian kembali ke pekerjaan masing-masing." Yun Yi memberi instruksi.
"Baik Xiăo Jiě." Zhu Yang dan ke dua pelayan pun kembali ke tempat mereka.
Setelah Lan Mei selesai membersihkan beberapa bagian tubuh yang agak kotor, Lan Mei menyimpan kain itu di ember, lalu berucap. "Xiăo Jiě, apakah anda ingin berganti pakaian?" Tanya Lan Mei.
Yun Yi menggeleng, "aku ingin makan." Ujar nya.
Lan Mei mengangguk, lalu mulai mengeluarkan makanan yang berada dalam kotak. Ketika Yun Yi baru saja memakan satu huap, terlihat Yu Lin yang berlari ke arahnya, dan di ikuti Min An di belakangnya.
"JiěJiě."
Setelah berada di depan Yun Yi, Yu Lin menyentuh lutunya, nafasnya memburu, akubat berlari. Mata Yu Lin mengarah ke satu gelas yang berisi air, dengan cepat ia mengambil nya lalu menegaknya sekaligus.
"Huah, segar."
__ADS_1
"Yun Yi mengeluarkan sapu tangan dari cincin nya, lalu mengelap keringat Yu Lin dengan perlahan, "Mengapa kamu berlarian, Lin'er?" Tanya Yun Yi di sela-sela pekerjaannya.
"Tidak apa, aku hanya bellali dali tempat membosankan itu." Ujar Yu Lin.
"Belali?" Yun Yi terdiam, mencoba memahami kata yang di ucapkan Yu Lin.
Yu Lin cemberut, "JiěJiě.."
"Ya, kenapa?" Tanya Yun Yi, masih belum memahami situasi.
"Jangan mengejekku." Yu Lin menghentakkan kakinya, wajahnya masih cemberut.
Alis Yun Yi menaut, "Memangnya siapa yang mengejek mu?"
Yu Lin tidak menajawab, dia mengalihkan wajahnya ke samping "Hmp." Tangannya bersedekap.
Min An maju, menengahi. "JiěJiě," Min An agak ragu ketika memanggil Yun Yi 'JiěJiě'.
"Yang di maksud Yu Lin itu berlari, bukan belali." Ujar nya.
Mulut Yun Yi terbuka, pantas saja Yu Lin nampak marah. Ia menengok ke arah Yu Lin.
"Lin'er, maafkan JiěJiě. Tadi JiěJiě tidak bermaksud mengejek mu. Maaf ya." Yun Yi memegang tangan Yu Lin.
Yu Lin menoleh, ia memang kesal, tapi tidak se kesal itu juga sih.
"Lain kali JiěJiě tidak boleh begitu ya." Yu Lin berbicara, seperti sedang memberi nasehat.
Yun Yi menggigit bibir bawahnya, menahan gemas. "Baik." Ucap Yun Yi.
Yu Lin pun ikut duduk di samping Yun Yi, sedangkan Min An duduk di sebrang Yun Yi.
Yu Lin membuka mulutnya, sambil berbicara. "JiěJiě, suapi. Aa.."
Yun Yi pun mengambil satu potong daging, lalu menyuapi Yu Lin. Yun Yi melirik Min An yang tengah menatap Yu Lin. Dia kembali mengambil satu potong daging, tapi kali ini ia mengarahkannya ke Min An.
"Buka mulutmu." Ujar Yun Yi, sumpit itu mengambang di udara.
"E?" Min An yang tadinya tengah menatap Yu Lin, kini menatap Yun Yi penuh tanya.
"Ayo buka mulutmu, kau juga pasti ingin makan ini?" Ucapan Yun Yi memang tepat sasaran, namun Min An masih ragu untuk menerimanya.
"Kenapa malah diam? Ayo buka mulutmu. Tanganku sudah akan pegal." Yun Yi menggoyangkan sumpitnya. Min An pun menerimanya.
"Hup, bagus." Yun Yi tersenyum, entah kenapa hatinya merasa senang. Sama halnya dengan Min An, hatinya berbunga. Ini adalah pertama kalinya ia di suapi seseorang.
...🔸️To Be Continued🔸️...
__ADS_1