Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Iris Merah


__ADS_3

"Ka-kamu memanggil ku apa?"


Yun Yi tersenyum, "Sepertinya anak kecil di ingatan ku itu benar-benar dirimu. Hihi." Yun Yi tertawa kecil dan itu membuat wajah Raja Xin memerah.


"K-kenapa kamu tertawa?!" Raja Xin sewot.


Dan Yun Yi malah semakin tertawa melihat wajah kesal sekaligus malu Raja Xin. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Raja Xin seperti ini.


Setelah tawa nya reda, wajah Yun Yi menjadi serius. Dan itu malah membuat jantung Raja Xin berdetak kencang, gugup.


"A'Guang, walau orang-orang di dunia langit sangat membenci Klan mu, tapi aku tidak. Menurut ku Klan naga biru tidak salah, ini hanyalah masalah sepele, namun terlalu di besar-besarkan." Ujar Yun Yi dengan tegas.


"Ja-jadi, kamu tidak membenci ku?" Yun Yi menggeleng.


Raja Xin tersenyum, awalnya bayang-bayang saat Yun Yi membenci nya lalu meninggalkan nya selalu menempel di kepala Raja Xin. Sekarang ia senang, karena Yun Yi masih ada di samping nya.


Raja Xin menjatuhkan dirinya di depan Yun Yi, ia duduk di tanah lalu memeluk kaki Yun Yi, dengan senyuman yang semakin lebar.


Yun Yi terdiam kaku, ia merasa pernah mengalami hal ini. "A'Guang, apakah dulu kamu pernah melakukan hal seperti ini padaku?" Tanya Yun Yi.


"Tidak." Raja Xin menggeleng. "Namun, aku pernah dengan tidak sengaja menabrak kaki mu saat sebelum upacara penobatan mu dulu, di mulai."


Mendengar itu, Yun Yi mencoba mengingat-ingat nya, namun tidak bisa. "Mengapa tidak bisa?"


Raja Xin mendongak, menatap Yun Yi yang sedang keheranan. "Apanya yang tidak bisa?"


"Aku mencoba mengingat kejadian yang kamu ceritakan tadi, tapi tidak bisa." Mendengar itu Raja Xin berdiri lalu menaato Yun Yi dengan serius.


"Jangan memaksakan diri, tabib bilang kamu harus mengingat nya sendiri jangan di paksakan, itu akan membuatmu sakit." Ujar Raja Xin.


"Baik-baik." Yun Yi hanya mengangguk.

__ADS_1


"E... Yi'er." Panggil Raja Xin. Yun Yi pun mendongak. "Hm?"


"Jadi, aku harus memanggilmu apa sekarang?" Raja Xin menggaruk tengkuk nya, perbedaan umur antara dirinya dan Yun Yi terpaut jauh. Yun Yi yang berumur enam ratus tahun lebih, dan dirinya yang akan memasuki umur empat ratus satu tahun.


Mengingat itu membuat Raja Xin merasa canggung, apalagi dengan kedudukan Yun Yi sebagai Dewi. Sedangkan dirinya hanya seorang Raja yang memiliki darah Naga biru. Hanya itu saja yang bisa di banggakan darinya.


"Itu terserah mu, mau memanggilku apa. Aku juga akan memanggil mu A'Guang jika ada di depan umum. Namun, jika hanya kita dan beberapa orang kepercayaan kita saja. Aku berencana memanggilmu A'Jian." Yun Yi dengan sengaja memakan kata terakhirnya, dan..


"Uhuk! Uhuk!" Raja Xin tersedak air liurnya sendiri setelah mendengar ucapan Yun Yi.


"Sepertinya kamu sangat terkejut." Ujar Yun Yi denga santai.


Yun Yi berjalan, menjauh dari Raja Xin. Di belakang, Raja Xin menatap punggung Yun Yi. Aura yang kini di keluarkan Yun Yi semakin murni dan begitu memikat. Dan hanya beberapa langkah lagi sampai Yun Yi mengingat semuanya dan menjadi seperti dulu.


Setelah ini, Raja Xin yakin. Yun Yi tidak akan memerlukan apapun. Karena mulai sekarang, para peri akan banyak menjaga Yun Yi secara terang-terangan. Apalagi ada Báishé, si ular suci.


Báishé bukan siluman, bukan manusia, bukan hewan bukan juga peri dan bukan iblis. Báishé tercipta dari darah murni Yun Yi dan energi Yin Yang, yang berada di jurang Di. Jurang Di, tercipta dari tebasan pedang Dewa Agung pertama saat bertarung dengan naga purba pada era purba.


Selain Báishé, ada rusa biru yang di cintai banyak roh spiritual. Dia adalah hewan tunggangan pertama yang Yun Yi miliki. Rusa biru adalah hewan terlangka di dunia pada era ini.


"Berkeliling, ular putih berkata kalau aku menetap di sini. Ingatanku akan kembali. Jadi, aku ingin berkeliling untuk mendapatkan ingatan ku." Ujar Yun Yi.


Raja Xin mengangguk mengerti, setelahnya keadaan menjadi hening. Yun Yi dan Raja Xin sibuk memperhatikan sekitar. Jika Yun Yi memperhatikan sekitarnya untuk membuatnya ingat dengan masa lalu nya. Maka Raja Xin menatap sekitar untuk melihat tempat yang dulu Yun Yi gunakan untuk bertarung dengan wanita itu.


Sebuah pertanyaan melintas di kepala Raja Xin. "Yi'er, apakah aku boleh memanggilmu Xiao'er saat tidak ada orang?"


Yun Yi terdiam untuk beberapa saat. "Apakah Xiao di panggil dari nama Xiao Sui?" Tanya Yun Yi.


"Benar." Raja Xin mengangguk.


"Ya.. boleh juga. Itu terserah padamu."

__ADS_1


Yun Yi Kembali melanjutkan langkah nya.


Yun Yi menatap hamparan bunga, tempat ini benar-benar sama persis dengan apa yang ia mimpikan dulu.


Yun Yi sekarang semakin yakin, kalau mimpi itu adalah sepenggal dari bagian ingatan nya. Yun Yi terus berjalan, sesuai ingatan nya di mimpi.


Langkahnya terhenti tepat di depan bunga Iris merah. Seingatnya kumpulan mayat itu ada di dekat bunga iris merah, tapi Yun Yi tidak mendapat ingatan apapun.


"A'Jian." Raja Xin yang di panggil segera berlari menghampiri Yun Yi.


"Apa ada yang bisa ku bantu?" Entah kenapa Yun Yi merasa aneh dengan sikap Raja Xin.


'Baiakna dulu hal itu.' Yun Yi menepis semua pertanyaan yang hinggap di kepalanya. Lalu berucap.


"Coba kamu seolah-olah tengah melawan seseorang yang akan membunuh mu di dekat bunga Iris merah."


Raja Xin mengangguk patuh, dalam waktu sekejap, wajah Raja Xin yang ramah menghilang begitu saja, tergantikan dengan raut dingin nya yang tak tersentuh.


"Perbedaan yangsangat jauh." Gumam Yun Yi yang melihat perubahan ekspresi wajah Raja Xin.


Yun Yi mengamati gerakan Raja Xin, di lihat bagaimana pun, Raja Xin benar-benar erlihat sedang menghadapi musuh. Bahkan tebasan nya memotong pohon yang jauh dari tempat nya berpijak.


Sudah cukup lama Raja Xin bermain peran, tapi dirinya masih belum mendapatkan ingatan apapun. "Apa yangs salah?"


Melihat Raja Xin yang belum berhenti, Yun Yi merasa iba. Apalagi cuaca hari ini cukup panas.


"A'Jian berhenti." Ujar Yun Yi.


Raja Xin segera berhenti ketika Yun Yi menyuruhnya berhenti, ia mengahmpiri Yun Yi dengan awjah penuh tanya. "Apakah kamu sudah mengingat sesuatu tentang kejadian di sini?"


Yun Yi menggeleng. "Tidak. Mungkin aku salah tempat."

__ADS_1


Raja Xin terdiam, ia menatap bunga iris yang berwarna-warni di sisi lain. "Apa mungkin bunga iris nya bukan yang di sini, tapi bunga iris yang itu?" Raja Xin menunjuk bunga iris itu.


...🔸️To Be Continued🔸️...


__ADS_2