Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Gulungan Pemanggil Hewan roh


__ADS_3

Setelah makan, Raja Xin langsung pamit. Terjadi kekacauan di dunia manusia karena kejadian bangkitnya Hei Sui. Salah satunya kerajaan Xin.


"Xiao'er, maafkan aku karena tidak dapat menemani mu lebih lama lagi."


"Tidak perlu minta maaf, aku tahu sebagai Raja, kamu memiliki banyak pekerjaan." Yun Yi tersenyum, mencoba meyakinkan Raja Xin.


Raja Xin terlihat merogoh sesuatu, Lalau ia memberikan sebuah gulungan pada Yun Yi. "Gunakan ini, ini adalah gulungan pemanggil Hewan roh. Jika kamu dalam keadaan bahaya, kamu bisa meneteskan darahmu ke atas pola array yang terukir di dalam gulungan ini." Jelasnya.


Yun Yi menerima gulungan itu, ia menatap gulungan itu dengan bingung. "Hewan roh? Sepertinya aku pernah mendengarnya di suatu tempat." Gumam Yun Yi.


Raja Xin yang berada dekat dengan Yun Yi, tentu ia dapat mendengar gumaman Yun Yi. 'Tentu saja, hewan roh adalah mahluk ciptaan mu.' Batin Raja Xin, tanpa dapat di dengar oleh Yun Yi.


"Kalau begitu, aku pamit. Kamu jaga diri baik-baik." Raja Xin mengusak rambut atas Yun Yi.


Yun Yi mengangguk, sebuah kurva kecil terbentuk di sudut bibirnya. Lalu setelahnya, sosok Raja Xin menghilang di udara. Yun Yi menundukkan kepalanya, menatap gulungan tingkat suci yang di berikan Raja Xin.


"Di dunia atas, gulungan ini bahkan di jaga ketat. Namun, kamu memberikannya padaku begitu saja. Aku benar-benar senang." Ia memasukan gulungan itu ke dalam ruang.


Yun Yi berbalik, ia berniat berkeliling istana ini.


"Hao, antar aku berkeliling istana. Dan An She, untuk saat ini kamu boleh beristirahat." Kedua wanita yang di sebut Yun Yi menganggukkan kepalanya.


Hao mengikuti langkah Yun Yi dari belakang. Kini Yun Yi berniat melihat-lihat keadaan di dalam istana terlebih dahulu.


Dari mulai, aula utama, ruang perjamuan, tempat pengadilan, ruang penyimpanan senjata, ruang penyimpanan obat dan racun, dan masih banyak lagi.


Sedari tadi Yun Yi sudah berusaha untuk mengingat apa saja, akan tetapi, semakin di paksakan, Yun Yi malah semakin susah untuk mengingat sesuatu.


"Dayang Hao, mari pergi ke arena pelatihan." Ajak Yun Yi.


Dayang Hao mengangguk, ia berjalan terlebih dahulu. Menuntun Yun Yi untuk pergi ke arena latihan.


"Dewi, ini adalah arena pelatihan yang ada di istana ini."


Yun Yi menatap tanah luas yang ada di depannya, arena ini cukup besar, bahkan lebih besar dari arena pelatihan keluarga Huang.


Terdapat banyak prajurit yang tengah di latih oleh seorang pria setengah baya yang memiliki aura paling kuat di antara yang lainnya.


"Dayang Hao, apakah pria tua itu adalah seorang Jendral?" Tanya Yun Yi.


Mendengar cara bicara Dewi-nya yang agak...


Hao hanya bisa tersenyum maklum.

__ADS_1


'Kalau Dewi berubah menjadi Hei Sui, kan memang selalu seperti ini.' Pikirnya.


Dan tentu saja Yun Yi mendengar itu, dia hanya bisa diam. Namun, di kepalanya Yun Yi bertanya-tanya.


'Kalau aku sedang berada dalam wujud asliku, memangnya seperti apa?'


Dayang Hao membungkukkan badannya, lantas berkata. "Benar, Dewi-ku."


"Panggil dia, untukku." Titah Yun Yi.


Dayang Hao terlihat kebingungan, akan tetapi tidak berbau bertanya, alasan apa yang di miliki Yun Yi, sehingga harus memanggil Jendral besar Li.


Hao segera menghampiri Jendral Li, sedangkan Yun Yi kini mendudukkan dirinya di salah satu bangku yang tersedia di sana.


Di arena latihan, terdapat beberapa pasang bangku, dengan meja bundar di tengahnya. Dan Yun Yi duduk, di kursi paling dekat dengan gerbang.


Tak lama, Dayang Hao kembali bersama dengan Jendral Li.


"Dewi." Hao membungkukkan badannya ketika berada di depan Yun Yi, dan Yun Yi hanya memberi anggukkan, sebagai tanggapan nya.


Setelah Datang Hao pergi ke sisi Yun Yi, Jendral Li maju lalu memberi salam.


"Kamu boleh berdiri." Ujar Yun Yi.


Yun Yi mengangguk membenarkan, lalu berkata. "Ya. Aku ingin bertanya."


Jendral Li diam, dia dengan fokus mendengarkan ucapan junjungannya yang baru kembali itu.


"Apa kau ingat ciri khas bertarung ku di masa lalu seperti apa?" Tanya Yun Yi.


Untuk beberapa saat Jendral Li terdiam, memahami pertanyaan yang di berikan Yun Yi.


"Ya saya tahu." Ucapnya kemudian.


Yun Yi tersenyum puas saat Jendral Li menjawab seperti itu. "Kalau begitu, kamu tiru gerakan nya." Titah Yun Yi.


Jendral Li terdiam kaku, matanya bergerak gelisah. Yun Yi merasa heran dengan tanggapan Jendral Li yang di luar perkiraannya.


"Kenapa?"


Jendral Lu menatap Yun Yi dengan gugup. "Dewi-ku, di karenakan gerakan anda begitu lincah dan rumit. Saya tidak bisa mempraktekkan-nya, orang yang hapal semua teknik seni beladiri anda hanyalah peri permata." Tuturnya.


"Peri permata?" Sebutan itu terasa tidak asing di telinga Yun Yi. Akan tetapi, ia tidak dapat mengingat siapa dia.

__ADS_1


Dan Jendral Li melihat tingkah Yun Yi yang seperti itu. 'Sepertinya, Dewi-ku belum memiliki semua ingatan dari masa lalunya.' pikirnya.


Yun Yi tersenyum pahit ketika mendengar nada mengasihani dari pikiran Jendral Li. Dia merasa marah dan kesal.


'Bukankah ini hanya masalah kecil, mengapa Tuan marah?' Setelah beberapa hari tak mendengar suara Zisè, akhirnya kini Zisè muncul.


'Diam, saat ini aku sedang kesal, dan jangan membuatku tambah kesal, atau kau akan tahu akibatnya nanti!' Yun Yi memberi peringatan.


'Haha.' Bukannya merasa takut, Zisè malah tertawa. 'Tuan, jika anda dalam wujud Hei Sui, ternyata sangat mudah marah ya.'


'Diam!'


Yun Yi menarik nafasnya, mencoba menghilangkan rasa kesal yang menumpuk di lubuk hatinya.


"Di mana peri permata sekarang?"


Jendral Li membuka mulutnya, bersiap menjawab pertanyaan Yun Yi. Namun sebelum itu terjadi...


"Saya di sini."


Tiba-tiba seorang gadis dengan rambut pink dan Hanfu pink-putih, muncul di dekat gerbang arena latihan.


Mata bulat yang menyipit karena terus tersenyum, dengan lesung pipi di pipi kirinya.


Krincing krincing


Perhiasan yang di pakai di rambutnya berbunyi ketika gadis itu berlari ke arah Yun Yi.


"Dewi..."


Pluk


Gadis itu langsung memeluk Yun Yi, tubuh Yun Yi sedikit limbung. Namun untungnya tidak sampai jatuh.


"Lancang!" Jendral Li menarik gadis itu untuk melepaskan pelukannya pada Yun Yi.


"Tidak...!" Gadis berambut pink itu menggeleng, bukannya melepaskan tangannya, dia malah semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Yun Yi.


"Jendral Li, biarkan saja." Yun Yi menggelengkan kepalanya, bermaksud memerintahkan Jendral Li untuk melepaskan tangannya dari Hanfu gadis itu.


Gadis berambut pink itu menengok ke belakang, ke arah Jendral Li. Lalu menjulurkan lidahnya.


"Wle..."

__ADS_1


...🔸️To Be Continued🔸️...


__ADS_2