
Yun Yi menatap aneh ke sekelilingnya,tempat yang sangat asing baginya. Begitu banyak awan, tunggu, kenapa ia bisa berdiri di atas awan?
"An She." Suara itu mengalihkan perhatian Yun Yi.
Di depan nya ada gadis yang sedang menyiram bunga. Ia melambai-lambaikan tangannya.
"Apakah dia melihat ke arah ku?" Yun Yi merasa gadis itu sedang melihat ke arah nya. Ketika Yun Yi akan mengeluarkan suara,
Wush
Ada seseorang yang melewatinya, Yun Yi menatap gadis yang melewatinya. Dia seperti kenal dengan pontur tubuhnya, sepertinya pernah melihatnya di suatu tempat.
"Tunggu, bukankah gadis itu adalah orang yang sama dengan yang ada di mimpiku dulu?" Yun Yi menatap ke arah gadis yang sedang menyiram, dan ketiga orang di sampingnya berputar-putar, Yun Yi juga mengenalinya.
"Benar, mereka adalah orang ang sama denan mimpiku sebelumnya. Tapi, mengapa aku memimpikan mereka?" Monolog nya.
"An She ayo pergi ke dunia manusia. Aku ingin berjalan-jalan di pasar." Gadis yang tadi melewatinya kini tengah memeluk lengan gadis yang di panggil An She.
"Dewi, anda tidak boleh pergi ke dunia manusia terlalu sering. Anda adalah Dewi." An She menggeleng, lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Ayolah An She." Gadis yang di panggil Dewi itu kembali merengek.
Yun Yi yang tadinya tengah fokus melihat mereka berdua, ia kaget ketika melihat banyaknya anak panah yang mengarah ke kedua gadis itu.
"Awas!!"
.
.
.
Setelah selesai membuat salep, Raja Xin mengusir semua orang dari ruangan Yun Yi. Kini Raja Xin tengah duduk di pinggir kasur, sambil mengoleskan salep pada beberapa bagian tubuh Yun Yi yang terluka.
Ketika Raja Xin tengah mengoleskan salep itu pada leher bagian atas Yun Yi, ia melihat kalau di balik telinga Yun Yi ada sebuah tanda yang berbentuk bunga Teratai.
"Ugh."
Lenguhan itu berhasil membuat Raja Xin mengalihkan pandangannya. Ia melihat tidur Yun Yi yang tengah gelisah. Bahkan sampai berkeringat.
"Yun'er," Raja Xin memegang sebelah angan Yun Yi.
"Yun'er, tak apa." Ujar Raja Xin ketika melihat kening Yun Yi yang semakin mengkerut. Raja Xin mengusap area antara alis Yun Yi.
__ADS_1
"Tidurlah dengan nyenyak." Kini Raja Xin duduk di lantai, ia membelai kepala Yun Yi.
"Tenanglah."
"Sepertinya kamu mimpi buruk." Ucap Raja Xin.
"Awas!!" Yun Yi langsung terduduk, Raja Xin pun panik ketika Yun Yi langsung terbangun.
"Yun'er." Panggilan Raja Xin tak di tanggapi. Yun Yi terus diam, matanya seolah-olah kosong.
"Yun'er." Sekali lagi Raja Xin memanggil Yun Yi. Tapi, lagi-lagi Yun Yi hanya diam.
"Yun'er, Yun'er." Raja Xin mengguncang tubuh Yun Yi pelan.
Yun Yi pun tersadar, ia menatap linglung ke arah sekitar. "Di mana aku?" Gumamnya.
"Di penginapan, kamh pingsan ketika tengah melawan para akar itu." Raja Xin beranjak, lalu mengambil segelas air.
"Minumlah terlebih dahulu."
Yun Yi pun meminumnya, tapi dia masih terlihat linglung. Raja Xin malah semakin cemas.
"Hei, jangan melamun. Apakah kamu mau sesuatu?" Raja Xin merapikan rambut Yun Yi yang cukup berantakan.
Raja Xin tersenyum, ia bangkit dari duduknya. "Tunggu sebentar, biar aku bawakan makanan."
Melihat Raja Xin yang kini telah keluar dari kamar. Yun Yi kembali mengingat mimpi itu. "Mengapa aku memimpikan mereka lagi?"
Cklek
Pintu pun terbuka, Yun Yi kira yang datang adalah Raja Xin. Api ternyata itu adalah Ayah dan Gēgē nya.
"Yi'er." Qiou Yue dan Jendral Huang berlari, menghampiri Yun Yi.
"Yi'er, apakah ada yang sakit?" Jendral Huang menatap Yun Yi dengan cemas.
Yun Yi tersenyum, ia menggeleng. "Tidak, aku sekarang baik-baik saja."
"Syukurlah." Qiou Yue bernafas lega.
"Tapi Yi'er, bagaimana bisa ada banyak tanaman dan akar aneh di sana?"tanya Jendral Huang ketika mengingat tanaman aneh yang sudah tergeletak di tanah.
"Aku pun tidak tahu, tapi ada satu hal. Di sana kamu menemukan Kristal pengendali, tapi Kristal itu tiba-tiba pecah, dan datanglah mereka."
__ADS_1
Jendral Huang terdiam, Kristal pengendali adalah salah satu benda berharga di seluruh dunia. Tapi mengapa bisa ada di sana? Dan kenapa bisa pecah?
Kristal pengendali tidak dapat pecah, kecuali pemilik dari kristal itu yang memecahkan nya. Dan jika benar, di sana ada kristal pengendali. Siapa yang menyimpannya di sana? Tidak mungkin di buang bukan.
"Dan Ayah, ada satu hal lagi." Yun Yi mengeluarkan batu tadi.
Bak
Beruntung kamar Yun Yi ada di lantai satu, jika di lantai dua. Mungkin lantainya akan pecah akibat tidak dapat menahan beban dari batu itu.
"Batu besar dari mana ini?" Jendral Huang menatap aneh Yun Yi, mengapa Yun Yi membawa batu ini dan bukannya hewan buruan.
"Ketika kami baru saja memasuki tingkat satu, ada kelinci yang di serang harimau. Dan sepertinya harimau itu terkena racun, setelah di selidiki, sepertinya harimau itu teracuni oleh sesuatu yang di simpan di batu ini." Jelas Yun Yi.
"Dan lumut yang tumbuh di batu ini sangat aneh, pirasat ku mengatakan kalau harimau itu mengamuk akibat lumut ini." Tutur Yun Yi.
"Jadi, aku membawanya untuk di teliti." Lanjutnya.
Jendral ahuabg mengangguk, sekarang ia mengerti mengapa Yun Yi membawa betu besar ini.
"Lakukanlah seperti ya g kau inginkan. Tapi jangan sampai terluka lagi seperti ini." Jendral Huang memegang tangan Yun Yi yang baru saja di olesi salep.
"Pasti sakit." Qiou Yue merasa marah pada dirinya sendiri, bukan hanya Mei Liu yang terluka, tapi juga adiknya. Seharusnya ia ikut bersama mereka, dan bukan bersama Chen Lu, putra mahkota Kekaisaran Xi.
"Tidak kok." Lalu Yun Yi melanjutkannya dalam hati. 'Aku sudah terbiasa.'
Mata Yun Yi mengedar, ia tak melihat Mei Liu di sini. Apa masih di obati? "Oh ya, di mana JiěJiě?"
Alis Jendral Huang terangkat satu. "Mei Yan? Dia mungkin masih bersama teman seperguruan ya untuk berburu." Ujar Jendral Huang.
"Bukan, tapi JiěJiě Mei Liu." Qiou Yue dan Jendral Huang membulatkan matanya ketika mendengar Yun Yi manggil Mei Liu dengan 'Jiejie'.
"JiěJiě?!" Seru Jendral Huang dan Qiou Yue secara bersamaan.
Yun Yi menatap aneh ke arah Jendral Huang dan Qiou Yue. "Mengapa kalian terlihat terkejut? Bukankah Xiăo Jiě Mei Liu akan menjadi Kakak iparku nanti? Jadi tak masalah bukan kalau aku memanggilnya JiěJiě." Tutur Yun Yi.
"Ya memang tidak masalah. Tapi kau jarang memanggil Mei Yan dengan embel-embel JiěJiě, dan sekarang kamu memanggil Mei Liu JiěJiě." Ucap Qiou Yue.
Yun Yi Hanya menghendikkan bahunya.
Ckelk
"Sedang apa kalian di sini?" Suara dingin itu berhasil mengalihkan perhatian ke tiga orang itu.
__ADS_1
...🔸️To Be Continued🔸️...