Reinkarnasi Sang Dewi Alam

Reinkarnasi Sang Dewi Alam
Memasak


__ADS_3

"Lalu bagaimana dengan Tetua Ji Ge?" Zisè kembali bertanya.


"A'Guang bilang, ia akan mengurursnya jadi aku tidak perlu repot-repot." Jelas Yun Yi singkat.


"Setelah datang kemari, kau malah menjadi gadis pemalas." Ejek Zisè.


Bukannya tersinggung, Yun Yi malah mengangguk, membenarkan ucapan Zisè.


"Xiăo Jiě tidak marah?" Zisè agak heran, kenapa Yun Yi sepertinya tidak keberatan dengan julukan 'gadis pemalas'.


Yun Yi menggeleng, "ku akui, kalau sekarang aku menjadi gadis pemalas. Namun, di bandingkan bekerja setiap waktu, dengan menikmati waktu seperti ini, sangatlah berbanding terjauh. Dulu aku sering mengeluh, karena terlalu lelah. Tapi sekarang, Ayahku tidak akan membiarkan ku kelelahan. Jadi.. tak apa bukan jika aku menjadi wanita pemalas?" Yun Yi berkata panjang lebar.


Zisè menarik sudut bibirnya, ia mengangguk, paham. "Tidak apa-apa kok. Di kehidupan ini Xiăo Jiě boleh menjadi gadis pemalas. Namun, aku ingin memberi saran. Walau Xiăo Jiě ingin menjadi gadis pemalas, Xiăo Jiě harus tetap mengembangkan Kultivasi Xiăo Jiě." Ujar Zisè.


"Walau kemampuan beladiri Xiăo Jiě sangat hebat, tapi di bandingkan dengan Kultivator tibgkat tinggi, kekuatan fisik bisa langsung di tepis begitu saja." Lanjutnya.


Yun Yi mengangguk, paham. "Oh ya, sudah berapa lama aku di sini?" Yun Yi bangkit dari duduknya, ia lupa kalau harus beristirahat. Karena esok, ia akan menemui Kakek dan Nenek nya, sekaligus kembali melanjutkan perjalanan.


"Xiăo Jiě tidak perlu khawatir. Perbedaan waktu di sini dengan dunia nyata cukup jauh." Papar Zisè, memberi tahu.


"Memangnya se jauh apa?" Tanya Yun Yi.


"Satu Jam di sini sama dengat satu detik di dunia nyata." Zisè memberi jawaban yang tidak terduga.


Mata Yun Yi membola, "Perbedaannya bukan jauh lagi. Tapi, sangat jauh." Ucap Yun Yi, kaget sekaligus takjub.


"Lalu aku sudah berapa jam di sini?" Tanya Yun Yi.


Zisè menyahut, "Baru duam jam."


"Itu berarti aku baru dua detik meninggalkan kamar." Monolog Yun Yi.


"Bagaimana kalau Xiăo Jiě berkultivasi di sini. Qi spiritual di sini sangat murni, itu dapat mempercepat kenaikkan Kultivasi Xiăo Jiě." Zisè memberi usul.


Yun Yi menoleh, "Bukan ide yang buruk."


"Kalau begitu akan aku carikan buku-buku Kultivasi untuk mu."


Belum sempat Yun Yi mengangguk, Zisè sudah terlebih dulu berlari ke arah kastil.

__ADS_1


"Ya.. biarkan saja lah." Monolog Yun Yi.


"Aku harus mencari tempat yang nyaman untuk berkultivasi." Lanjutnya.


Yun Yi terdiam sejenak, "Apakah aku harus mencoba menggunakan Qinggong?"


Lalu Yun Yi mulai menggunakan Qinggong nya. Untuk lompatan pertama Yun Yi agak talut, namun setelah beberapa saat, ia akhirnya terbiasa. Yun Yi terus mencari tempat yang menurutnya bagus dan tenang.


Entah sudah berapa lama Yun Yi berlari, akhirnya ia menemukan batu pipih di samping air terjun di belakang bukit.


Yun Yi bersila, memposisikan dirinya untuk berkultivasi. Yun Yi mulai menyerap Qi spiritual yang ada di sekitarnya. Aliran hangat terus mengalir di meridian Yun Yi.


Tak lama Yun Yi akhirna menembus ke orde ke tiga di Ranah awal.


"Akhirnya aku menerobos." Yun Yi berseru senang.


Bersamaan dengan itu, Zisè tiba dengan tumpukkan buku yang menutupi wajahnya.  Zisè menyodorkan buku-buku itu ke arah Yun Yi, "Xi-xiăo Jiě ini bukunya."


Yun Yi mengangguk, menerima buku-buku itu. "Kalau begitu, kau jangan berisik ya." Pinta Yun Yi.


"Aku ingin membaca dengan suasana tenang." Lanjutnya, memberikan alasan.


...> > > ✧✧✧ < < <...


Matahari pagi pun kini telah menyapa, Yun Yi yang biasanya bangun siang kini ia sudah siap untuk pergi ke kediaman Kakek dan Nenek nya.


Lan Mei yang baru saja masuk, ia kaget karena nonanya sudah duduk di meja makan, sepertinya menunggu dirinya.


"Nubi tidak menyangka Xiăo Jiě akan bangun cepat pagi ini." Lan Mei berucap, dia masih tidak percaya kalau Yun Yi sudah bangun pagi-pagi.


"Mungkin aku terlalu tidak sabar untuk menemui Kakek dan Nenek." Yun Yi menyahut.


Lan Mei mengangguk mengerti, "Xiăo Jiě ingin makan dengan apa pagi ini." Tanya Lan Mei.


"Apakah Ayah sudah bangun?" Tanya Yun Yi, ingin tahu.


"Sudah. Jendral Huang dan Shào Yé, sekarang tengah mempersiapkan beberapa perbekelan untuk nanti ." Jelas Lan Mei.


"Kalau begitu mari kita turun. Aku juga ingin membantu." Ajak Yun Yi.

__ADS_1


Yun Yi dan Lan Mei pun turun, di bawah sudah hampir semua keluarga Huang berkumpul, hanya tinggal beberapa orang saja yang belum berkumpul.


Yun Yi segera menghampiri Jendral Huang dan Qiou Yue. "Pagi Ayah, pagi Gēgē." Sapanya.


"Selamat pagi Yi'er." Ucap Jendral Huang dan Qiou Yue secara bersamaan.


"Apakah ada yang bisa ku bantu?" Yun Yi melihat sekitar, mencarin pekerjaan yang belum selesai.


Paham kalau Yun Yi ingin membantu Jendral Huang pun berbicara, "Yi'er kau tidak perlu membantu di sini. Ini pekerjaan laki-laki."


Mendengar nada larangan yang keluar dari mulut Ayahnya, Yun Yi hanga bisa mengangguk. Ia terpikirkan satu hal.


"Ayah, apa semuanya sudah makan pagi?" Tanya Yun Yi.


Jendral Huang menggeleng, "Belum. Memangnya kenapa?" Tanya Jendral Huang, balik.


"Begini.. karena semuanya belum makan, aku akan memasak untuk semua orang, tentunya di bantu para koki juga." Ujar Yun Yi.


"Apakah nantinya kamu tidak akan kelelahan?" Jendral Huang bertanya, khawatir.


Yun Yi tersenyum, senang karena Jendral Huang mengkhawatirkan nya. "Tidak Ayah. Ini hanya memasak bukan bertarung." Ucap Yun Yi.


"Jadi Ayah, biarkan aku memasak yah?" Lanjutnya, bertanya. Yun Yi menatap Jendral Huang dengan mata memohon.


Jendral Huang, yang tidak tahan segera mengangguk. "Baiklah, baiklah."


"Kalau begitu aku pergi ke dapur dulu Ayah. Bye-bye."


Yun Yi pergi ke dalur penginapan ini, meninggalkan Jendral Huang dan Qiou Yue yang tengah kebingungan dengan kata 'Bye-bye' yang di ucapkan Yun Yi.


Yun Yi bersenandung ria, Lan Mei mengikutinya di nelakang. Sesampainya di sana, ia langsung meminta para koki untuk membantu nya memasak.


Hari ini Yun Yi akan membuat makanan dari abad 21. Menu yang pertama adalah Nasi goreng, lalu menu ke dua sekaligus teman makan Nasi goreng adalah Ayah tepung pedas. Untuk minumannya, karena ini masih pagi, jadi Yun Yi akan menyiapkan susu hangat.


Kini dapur penginapan sangat rusuh, walau hanya memasak dua menu, tapi mereka memasak untuk satu keluarga Huang. Jadi, porsinya pun besar.


Para koki pun penasaran, masakan apa yang saat ini sedang mereka masak. Dari wanginya saja sudah membuat perut mereka berbunyi.


Setelah selesai memasak, Yun Yi meminta para pelayan untuk menyimpannya ke depan. Dan di dapur masih tersisa agak banyak, jadi Yun Yi memberikannya pada orang-orang yang ada di dapur.

__ADS_1


...🔸️To Be Continued🔸️...


__ADS_2