
Setelah memeriksa Yun Yi, Tabib wanita itu tidak berbicara apapun. Ia hanya mengambil kertas, lalu menuliskan sesuatu. Setelah beberapa saat, Tabib wanita itu menyerahkan kertas itu pada Raja Xin.
"Kalau begitu saya pamit terlebih dahulu, masih banyak orang yang menunggu saya." Pamit Tabib wanita itu.
Sebelum Raja Xin berucap, Tabib wanita itu telah pergi dari kamar Raja Xin. Tak lama, Shen datang bersama Tabib wanita yang lain.
"Shen, mengapa kau membawa Tabib lagi?" Tanya Raja Xin.
"Maksud yang mulia?" Shen bertanya, tidak mengerti dengan yang di ucapkan Raja Xin.
"Bukankah tadi kau sudah membawa Tabib lain, lalu sekarang mengapa kau membawa Tabib ini?" Tanya Raja Xin.
"Maaf yang mulia, saya baru saja datang membawa Tabib ini." Ucap Shen.
"Baru datang? Lalu tadi siapa?" Shen menganggukkan kepalanya, lalu menghendikkan bahunya. Sangat berani bukan?
Deg
Sekelebat kejadian saat Yun Yi di racun melintas di kepala Raja Xin. Ia segera berbalik, lalu memeriksa denyut nadi Yun Yi.
"Huft." Raja menghela nafas lega ketika tidak terdapat kejanggalan di denyut nadi Yun Yi.
Raja Xin mengamati kertas yang ia pegang. Karena penasaran, Raja Xin membaca isi kertas itu.
"Jika anda sudah mencari informasi tentang tanda teratai yang ada di balik telinga Xiăo Jiě Huang, maka itu adalah kebenarannya. Dan tolong rahasiakan tentang tanda ini, keadaan Xiăo Jiě Huang baik-baik saja. Ini adalah gejala biasa bagi seorang Dewi yang kehilangan ingatannya, gejala seperti ini akan terus di alami, ini adalah pertanda bahwa sang Dewi secara perlahan mulai ingat dengan masa lalunya.
Saya juga meminta tolong, jaga Xiăo Jiě Huang dari Sang Bencana, Shi Wen. Jangan sampai perempuan itu menemukan keberadaan sang Alam, sebelum ingatan Xiăo Jiě Huang kembali. Dari An She, pendamping Sang Alam, untuk Sang anak Naga Dewa Kehancuran."
Ketika membaca kalimat terakhir, tangan Raja Xin sedikit bergetar. "Shen, bawa pergi tabib itu. Bubarkan semua pelayan dekat istana ini. Dan segera kembali ke sini." Titah Raja Xin.
Walau tidak mengerti, Shen hanya mengangguk lalu membawa Tabib itu keluar.
Setelah kepergian Shen, Raja Xin segera membakar kertas itu menggunakan Elemen apinya.
"Siapa dia? Mengapa bisa tahu tentang ku?" Raja Xin mengingat-ingat wajah Tabib wanita yang memeriksa Yun Yi.
"Sepertinya dia menyamar." Ujar Raja Xin ketika mengingat wajah Tabib wanita itu.
Tak lama, Shen datang kembali. Di kamar Raja Xin sudah ada bawahan lainnya selain Shen.
__ADS_1
"Aku punya tugas untuk kalian." Ucap Raja Xin.
"Kamu siap menerima perintah." Seru semua bawahan Raja Xin.
"Cari tahu Tabib wanita yang tadi memeriksa gadis ku. Lalu cari tahu tentang Dewi alam, semua tentang nya termasuk bawahan, musuh, kesukaan dan sesuatu yang tidak ia suka."
"Lalu dua orang dari kalian, akan bertugas dengan bayangan lainnya untuk menjaga gadis ku." Bayangan lainnya di sini adalah penjaga bayangan yang sekarang tengah menjaga Yun Yi dari kegelapan.
"Lalu siapa di antara kalian yang melihat Ru-an?" Tanya Raja Xin.
"Saya." Salah satu dari bayangan Raja Xin muncul.
"Di mana kau bertemu dengannya?"
Bayangan itu menunduk. "Saat itu saya tidak sengaja melihat Ru-an yang baru saja keluar dari hutan tempat berburu kemarin. Ketika saya akan pergi, dia menghampiri saya secara tiba-tiba, dia bertanya tentang siapa yang mengalahkan tanaman Bao yang ada di hutan, dan saya jawab tidak tahu." Jelasnya.
"Tanaman Bao?" Gumam Raja Xin.
"Ijin menjawab Raja." Shen maju, ia mengangkat pandangannya.
Setelah Raja Xin mengangguk, Shen menjawab. "Sepertinya tanaman yang di maksud Ru-an adalah tanaman yang Xiăo Jiě Huang kalahkan. Karena Ru-an meninggalkan jejak di dekat tanaman raksasa itu."
Mendengar itu, Raja Xin semakin yakin dan percaya kalau tunangannya adalah Reinkarnasi dari Sang Dewi Alam. Jika benar begitu, Ia harus meningkatkan Kultivasi dan kekuasaan nya untuk bisa bersanding bersama gadisnya itu.
...> > > ✧✧✧ < < <...
Gong ke empat¹ sudah berbunyi, tapi Yun Yi masih belum bangun. Raja Xin sedari tadi masih setia menunggu, Jendral Huang dan yang lainnya tidak ia ijinkan masuk.
Tangan Raja Xin terus mengelus punggung tangan Yun Yi. "Yun'er, kapan kau bangun?"
"Aku rindu." Raja Xin membenamkan kepalanya di sela-sela tangan dan pinggang Yun Yi.
Baru saja memejamkan matanya, Raja Xin terduduk ketika merasakan tangan Yun Yi yang mulai mendingin. "Yun'er..."
Tapi anehnya, pelipis dan leher Yun Yi berkeringat. Ketika tangan Raja Xin memegang kening Yun Yi, tidak panas maupun dingin.
"Yun'er, kamu kenapa?" Raja Xin semakin panik ketika Yun Yi terlihat gelisah.
"Apakah kamu bermimpi buruk?" Raja Xin mengusap keringat di pelipis Yun Yi menggunakan lengan Hanfunya.
__ADS_1
Di alam bawah sadar Yun Yi.
Yun Yi membuka matany, ia merasa tubuhnya remuk, semuanya sakit.
"Ugh, kenapa semuanya sakit."
"Dewi"
Teriakan itu membuat Yun Yi kaget, ia menoleh. Mendapati seorang wanita dengan Hanfu hijau yang tengah menangis.
"Dewi, aku senang kamu baik-baik saja. Wanita itu sangat kejam, hanya karena sebuah kedudukan dia sampai menyerang Dewi habis-habisan." Ujar wanita itu, sedari tadi wanita itu terus menumpahkan air mata.Tangan wanita itu menelusuri luka-luka Yun Yi.
'Luka?' batin Yun Yi. Ia baru menyadari kalau beberapa bagian tubuhnya terluka, bahkan Hanfu biru yang ia kenakan sobek.
"Jangan menangis, aku baik-baik saja." Yun Yi kaget ketika ia berucap demikian, ia tidak berniat berkata seperti itu, tapi bibirnya seolah berbicara sendiri.
"Apanya yang baik-baik saja. Lihatlah luka ini." Wanita ber-Hanfu hijau itu menunjuk luka tusuk di perut kanan nya.
"Saya yakin sekarang anda tengah menahan rasa sakit."
Yun Yi kembali menatap tubuhnya, shak akan ia memakai Hanfu berwarna biru? Dan kenapa ia bisa terluka seperti ini?
Yun Yi berniat duduk, tapi ketika ia menggerakkan tangannya, rasanya sangat sakit. "Shh." Ia mendesis kecil.
"Dewi, apakah tangan ada sakit?" Wanita ber-Hanfu hijau itu menggulung lengan Hanfu Yun Yi. Dan ketika membalikkan lengan nya, urat-urat di tangan Yun Yi perlahan berubah ke-unguan.
"De-dewi, tangan anda." Yun Yi pun sama kagetnya dengan wanita di depannya. Ini terlihat seperti luka dalam, tapi juga seperti di racuni.
"Anda tidak mungkin di racuni bukan? Tubuh milik Dewi adalah tubuh paling unik, mengapa bisa teracuni seperti ini?"
Air mata wanita hanfu hijau itu semakin deras, dengan tangan gemetar Wanita itu memeriksa denyut nadi Yun Yi.
"Hiks." Isak itu berhasil lolos, tangis wanita itu semakin kencang.
"Apakah Dewa Agung membantu Dewi Bencana untuk meracuni anda?" Gumam Wanita itu.
Ketika mendengar kata 'Dewa Agung', tubuh Yun Yi menegang. Ada rasa pedih dan sesak di dadanya, seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya.
"Mengapa?" Gumamnya tanpa sadar.
__ADS_1
Perlahan... Semuanya menjadi gelap, menyisakan rasa sesak di dadanya.
...🔸️To Be Continued🔸️...